
Airish tidak tahu apa yang sudah diperbuat Abrine di belakangnya. Pun ia tak menuntut kakaknya untuk melakukan apapun sebab ia juga takut jika Abrine akan melakukan tindak kekerasan sehingga menimbulkan permasalahan baru nantinya.
Hari ini Airish kembali kuliah seperti biasanya. Semuanya tampak aman dan baik-baik saja. Dua orang bodyguard masih bertugas menjaganya meski ia berlagak tak tahu menahu. Sepertinya para penjaga itu ditugaskan sang papa untuk menjaganya dari jarak jauh tanpa sepengetahuannya. Ya, terbukti papanya tak mengatakan apapun mengenai hal ini. Ia juga menyadari kehadiran dua orang bodyguard ini dari Abrine, bukan dari Papa atau sang Mama.
Hari ini tugas kuliah menumpuk. Menjelang kelulusan yang hanya menghitung bulan, bukannya membuat waktunya sedikit senggang malah direpotkan dengan tugas yang semakin hari semakin banyak.
Ia melirik arloji di pergelangan tangan dan ternyata hari sudah nyaris melewati siang hampir sore. Pukul 4 sore kurang lima belas menit.
Setidaknya, kehadiran dua orang bodyguard yang berdiri tak jauh dari posisi kelasnya-- sedikit membuatnya tenang tanpa takut jika ada orang yang tak diinginkannya. Mr. Rolland.
Siang tadi ia sudah melewatkan makan siang dan sekarang perutnya benar-benar terasa keroncongan.
Akhirnya, usai mata kuliah terakhir, ia pun memilih berjalan ke cafetaria kampus demi mengganjal perut bersama Bianca. Usai makan siang yang tertunda, Bianca undur diri untuk langsung ke agensi. Sementara dirinya lebih memilih melanjutkan mencari materi di perpustakaan kampus mumpung hari masih terang.
Begitu memasuki ruang perpustakaan, ia merasa baik-baik saja. Masih ada beberapa mahasiswa lain yang juga menghabiskan waktu disana.
Ia melewati rak-rak tinggi berisi ribuan bahkan jutaan buku yang tampak tersusun rapi sesuai dengan bagiannya masing-masing. Tentu tujuannya adalah ke bagian seni dan musik.
Beberapa lama berkutat dengan buku-buku pilihannya di sudut perpustakaan, Airish melupakan waktu. Ya, ia terlalu larut dalam tugas dan bacaannya karena tadi ia juga sempat mengambil sebuah novel untuk dibaca. Dalam hati selalu merasa gantung apabila tidak menuntaskan bacaan jadi ia memaksakan membaca sampai tuntas karena kebetulan novel yang dipilihnya juga tak terlalu tebal.
Karena keteledorannya akan waktu, Airish baru sadar jika diluar sudah gelap. Malam. Ah, ia melihat arloji dan ternyata sudah pukul tujuh. Mendadak ia merasa gelisah. Ia langsung menatap pintu ruang perpustakaan yang masih terbuka, untungnya masih tampak dua orang bodyguard nya disana. Airish menghela nafas merasa lega. Hingga ketakutannya yang sempat datang pun musnah sudah.
Dikumpulkannya beberapa buku yang tadi ia pinjam dari rak, ditumpuk menjadi satu. Gegas ia ingin mengembalikan ke posisi semula karena begitulah peraturannya.
Ia merangsek ke bagian seni, menyusun buku yang sempat dipinjamnya. Kemudian berjalan lagi ke bagian novel romance dan memulangkan novel yang tadi dibacanya.
Selesai. Fiuh ....
Tapi, entah kenapa sekarang perasaanya malah was-was, seperti tengah diintai seseorang. Ia melirik pada pintu perpustakaan yang cukup jauh dari jangkauannya sekarang dan ternyata pintu itu tertutup rapat.
"Astaga...." gumamnya tercekat. Ia paling benci berada dalam keadaan senyap dan membuatnya jadi seperti ada di film-film horor. Lalu, kemana perginya dua orang bodyguard yang tadi menjaganya?
"Kemana mereka?" Mendadak ia merasa kalut, mulai terdengar degup jantungnya sendiri yang tak beraturan. Ia ketakutan. Hantu atau orang sama saja membuatnya takut disaat seperti ini. Ia ingin segera pergi beranjak keluar dari area perpustakaan.
Ia berjalan cepat, entah kenapa sekarang ia justru merasa langkah kakinya jadi berat, belum lagi lampu ruangan yang mendadak kurang Watt membuat jadi kurang pencahayaan. Demi apapun, adegan yang sedang ia lakoni sekarang persis seperti di film horor tentang pembunuhan.
Bergerak lurus, melewati beberapa rak tinggi menjulang yang berisi buku-buku. Padahal rasanya ia sudah melangkah terlalu jauh tapi belum juga dicapainya pintu keluar itu meski sudah nampak dipelupuk matanya.
Mendadak ia berlari, dan setelah itu ia justru mendengar langkah kaki. Bukan langkahnya sendiri tapi ada orang lain yang mengikuti persis dibelakangnya. Ia tak berani menoleh, bahkan untuk melirik pun tak berani. Ia terus melangkah melewati lorong-lorong rak buku hingga terdengar seseorang memanggil namanya.
"Airish...."
__ADS_1
Sekali lagi ia tak berani menoleh, ia justru ingin menangis sekarang. Ini semua terasa bagai mimpi buruk. Ini semua karena kesalahannya sendiri karena lupa waktu. Harusnya tadi ia meninggalkan kegiatan membaca novel itu atau meminjamnya saja dan membaca dikamarnya yang nyaman. Agar ia tak terjebak dalam situasi seperti ini.
"Airish..." Lagi, namanya dipanggil. Apa hantu dapat mengetahui namanya. Atau, justru ini suara manusia yang tak ingin dia temui. Rolland? Apa pria tua itu kembali mendatangi kampusnya? Melacaknya sampai di perpustakaan dan menunggunya sampai momen sepi seperti ini terjadi hingga bisa leluasa menerornya kembali. Atau justru... ingin menculiknya?
Ia sudah meraih handle pintu dengan nafas yang ngos-ngosan karena berlari. Ruangan perpustakaan sangat besar dan kini ia sudah tiba diambang pintu. Siap untuk membuka pintu yang entah kenapa tadi terbuka sekarang malah tertutup.
Srekkkk
Belum sempat ia menekan kenop, pundaknya sudah dipegang dan mengharuskan tubuhnya untuk berputar mengarah ke belakang. Demi apapun, siapapun, tolong selamatkan dia. Ia ingin menjerit namun sulit. Entahlah kenapa semua tidak bisa diandalkan disaat genting seperti ini termasuk dirinya sendiri pun tak bisa menyelamatkan diri.
Ia memejam barang sejenak, tak siap menatap siapa lawan yang ada dihadapannya. Sudah jelas bukan jika tadi perasaannya tak salah. Ia memang diikuti. Ada langkah yang mengejarnya dan mencoba menyamai larinya.
"Airish...."
Bukan, ini bukan suara Rolland tapi....
"Kamu gak apa-apa? Kenapa malah lari waktu saya mau menghampiri kamu?"
Deg....
Suara ini....
Seketika itu juga Airish membuka matanya dan langsung menghidu oksigen sebanyak-banyaknya akibat merasa lega luar biasa. Tapi, tubuhnya sudah terlanjur lemas. Ia terduduk dilantai. Tepatnya di ambang pintu perpustakaan.
"Jadi, kamu pikir saya hantu?"
Pertanyaan Zio tak dijawab Airish, ia mengaduk-aduk jus jeruk dihadapannya dengan sebuah sedo tan.
"Maaf, ya. Saya gak maksud ngagetin kamu." Tangan Zio terulur dan mengusap pelan rambut lurus milik calon istrinya itu.
Airish membeku dalam posisi tak bergerak. Ya, yang tadi mengejarnya di perpustakaan adalah Zio yang baru saja tiba di Jerman hari ini. Niatnya, Zio mau memberi kejutan pada Airish, nyatanya gadis itu memang terkejut namun tak sesuai dengan ekspektasinya-- karena begitu dihampiri Zio-- Airish malah berlari ketakutan, menyebabkan mereka seperti sedang kejar-kejaran, mungkin karena efek kekalutan dan takut-- akibat beberapa kali mendapat teror dari Rolland. Jadi, Zio tak heran jika respon Airish akan sedramatis ini.
"Ya udah, sekarang kita makan dulu... abis itu saya anter pulang ke apart."
"Hmm..." Airish masih lesu, walau sebenarnya ia amat senang dengan hadirnya Zio disisinya. Tapi, semangatnya sudah terbang entah kemana, menyisakan seonggok tubuh yang tampak tak bergaira h.
"Kamu masih terkejut, ya?" Zio masih saja menanyai Airish, ia sebenarnya menyesal karena kejadian ini. Seharusnya tadi dia menelepon Airish dulu atau memberi kabar mengenai kedatangannya ke kampus.
Sayangnya niat untuk memberi surprise lebih menggebu. Para bodyguard yang sudah tahu siapa diri Zio pun beringsut mundur karena percaya jika Airish akan aman bersama pemuda itu. Sayangnya semuanya keliru. Ketakutan Airish lebih mendominasi hingga menyebabkan keadaan jadi horor sendiri.
"Maaf ya..." lirih Airish.
__ADS_1
"Loh, kok, kamu yang minta maaf. Saya yang salah."
"Aku terlalu lebay kayaknya!"
Zio tersenyum tipis. "Gak apa-apa, wajar kamu takut karena beberapa kejadian yang menimpa kamu belakangan hari. Kata para bodyguard... kemarin pria itu juga sempat berkunjung ke kampus kamu, kan?"
Airish mengangguk pelan.
"Ya udah, kamu tenangin diri. Jangan memikirkan itu. Nanti biar saya usut masalah ini dibantu sama Om Nev. Kamu fokus aja sama pernikahan kita!"
"Pernikahan?" ulang Airish.
"Ya, kan, kamu udah setuju pernikahan kita dipercepat. Bunda sama Papi saya juga udah disini. Tapi, mungkin besok baru bisa temui kedua orangtua kamu karena kita baru aja tiba satu jam yang lalu. Gak apa-apa, kan?"
"Iya," jawab Airish singkat dengan perasaan terkesima.
"Ya udah makan, gih. Nanti keburu dingin."
"Hmmm..."
Airish menatap Zio yang mulai menyendok makanan. Matanya tak lepas memandangi pemuda kharismatik ini. Zio selalu santai dan tenang menghadapi masalah, berbanding terbalik dengan sikap dirinya yang terkesan terburu-buru dan selalu tidak berpikir panjang.
"Zi...."
"Ya?"
"Makasih banyak, ya."
"H-huh? Makasih?"
"Iya, makasih udah mau cinta sama aku."
Zio tertegun dengan kalimat Airish.
"Aku beruntung, Zi."
"Rish, jangan ngomong gini, ya."
"Kenapa?" Airish melongo.
"Kesannya kayak kamu doang yang beruntung. Padahal saya jauh lebih beruntung karena akhirnya kamu mau menerima saya setelah bertahun-tahun..."
__ADS_1
"Ya udah, kalo gitu fix kita sama-sama beruntung." Airish nyengir, menunjukkan deretan gigi putihnya dan Zio kembali mengelus puncak kepala Airish dengan penuh kelembutan dan rasa kasih sayang.
*******