
"Iya, aku menikah dengan Nev..." kata Raya serius.
Reka tersenyum kecut mendengar ucapan wanita yang duduk disampingnya itu. Kemudian menganggukkan kepala sebagai tanggapan untuk Raya, sementara Sahara memilih pergi dari sana karena merasa Reka sudah tahu kebenarannya sekarang.
Kini, tinggallah Raya dan Reka yang duduk diteras rumah itu.
Setelah hening beberapa saat, Reka menoleh untuk menatap Raya. "Apa kamu bahagia menikah dengannya, Ray?" tanyanya.
"Ya, kami bahagia..." jawabnya singkat.
"Baiklah, aku ikut bahagia jika kamu bahagia. Dengan begini, tidak ada lagi beban pikiran yang ku pikul tentangmu," kata Reka.
"Hmm..."
"Aku pamit pulang, Ray. Jika suatu saat kamu butuh bantuanku, aku siap membantu kamu."
Raya hanya mengangguki ucapan Reka itu. Kemudian pria itu bangkit dari posisi duduknya, namun masih tetap menatapi Raya.
"Raya ..."
"Ya?"
"Apabila suatu saat kamu merasa tidak bahagia, ataupun Nev menyakitimu... datanglah padaku."
Ucapan Reka itu cukup membuat Raya terhenyak, kenapa Reka harus mengucapkan kalimat seperti itu? Apa sebesar itu harapan Reka untuk bersama Raya? Jika melihat dari segi perasaan, tampaknya Reka tidak mungkin memiliki rasa yang sangat besar untuk Raya, kan?
"Ka, jangan mengatakan hal yang tidak baik. Doakan saja aku terus berbahagia, bisa kan?" kata Raya tersenyum.
Reka hanya menatap Raya dengan wajah sendu, lalu dia menundukkan kepalanya lesu. Tak berapa lama, dia benar-benar beranjak dan pergi dari hadapan Raya, memasuki mobilnya dan berlalu begitu saja.
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Raya mendapat telepon dari kepala tukang yang merenovasi rumah, Pak Tama. Pak Tama mengatakan jika ada beberapa barang yang kurang dan harus dibeli hari ini juga agar bisa segera dipasang.
Sebenarnya hari ini Raya dalam mode malas kemana-mana, jadi dia memesan barang-barang itu melalui online saja.
Setelah selesai dengan hal itu, Raya turun dari kamarnya dan mendapati sang Mama yang tengah memasak dan dibantu salah seorang ART yang bekerja dikediaman orangtuanya itu.
"Ray, makan yuk..." kata Sahara sembari menyajikan masakannya yang sudah siap diatas meja.
Namun, belum sempat Raya menjawab ucapan sang Mama dia langsung berlari menuju wastafel dan menuntaskan rasa mualnya disana.
Sahara tampak terkejut, karena biasanya Raya tidak pernah mengalami morning sickness seperti ini. Sahara menghampiri Raya yang masih berdiri diambang wastafel sembari membersihkan mulutnya.
"Kenapa, Nak? Biasanya gak mual gitu, kan?" tanya Sahara agak khawatir.
"Iya, Ma. Kadang mual juga kalau mencium aroma-aroma tertentu," kata Raya.
"Mama masak apa?" tanya Raya karena belum sempat melihat masakan yang tadi dihidangkan sang Mama.
"Ikan asam pedas," jawab Sahara.
Entah kenapa mendengar itu, membuat Raya membayangkan bentuk dan rasanya, sesaat kemudian dia kembali mual dan muntah di wastafel.
"Ya ampun... kayaknya Mama salah masak menu hari ini," ucap Sahara pelan.
Raya kembali menyiram wastafel dan membersihkan mulutnya dengan segera.
"Ma, Raya balik ke kamar, ya..." kata Raya lesu.
Sahara mengangguk dan menatap iba pada sang anak.
Sampai tengah hari, Raya tidak kunjung turun hingga akhirnya Sahara menyusulnya ke kamar.
"Raya, makan dulu, Nak..." kata Sahara mengetuk pintu kamar Raya.
Raya membuka pintu kamar, wajahnya lesu dan tak bersemangat tapi dia tetap tersenyum pada sang Mama.
"Kayaknya Raya gak bisa makan, deh, Ma..." ucap Raya dari ambang pintu.
Sahara mengangguk. "Kamu mau makan apa? Kita makan diluar saja yuk, yang penting perut kamu diisi," saran Sahara menenangkan Raya.
Mata Raya langsung berbinar-binar, sedetik kemudian dia mengangguk setuju atas usul sang Mama.
__ADS_1
Akhirnya mereka sepakat untuk makan di Restoran kesukaan keluarga mereka. Restoran itu tidak mewah, hanya saja makanannya enak dan higienis, tempatnya juga nyaman.
Sahara dan Raya pergi berdua diantarkan oleh supir.
Sesampai di Restoran itu, Raya memesan beberapa makanan dan menyantapnya bersama sang Mama.
"Ma, Raya ke toilet dulu ya..." kata Raya yang diangguki oleh Sahara.
Raya pergi ke toilet dan selesai dari sana dia ingin kembali ke mejanya namun dia menabrak tubuh seseorang dari arah berlawanan.
"Aw... maaf," kata Raya.
"Tidak, tidak... aku yang minta maaf, aku terburu-buru tadi," jawab seorang wanita yang bertubrukan dengan tubuh Raya. Wanita itu pun tersenyum sekilas pada Raya, kemudian dia mengambil handbag-nya yang terjatuh di lantai.
"Sekali lagi aku minta maaf ya..." kata Raya.
Wanita itu mengangguk kemudian matanya menyipit menatap Raya.
"Kalau tidak salah, kamu... istrinya Nevan kan?" kata wanita itu seolah mengenali Raya.
Raya mengernyit kemudian mengangguk. "Kamu mengenal suamiku?" tanya Raya.
"Ya, kami mengenal cukup dekat, hanya saja Nev tidak mengundangku saat kalian menikah," kata wanita itu sedikit tertawa pelan.
Raya hanya tersenyum kecil mendengar ucapan sang wanita yang mengatakan mengenal suaminya dengan cukup dekat.
"Kenalkan, aku Luisa..." Wanita itu mengulurkan jemarinya yang lentik kearah Raya.
Raya tersenyum kikuk kemudian menyambut juga uluran tangan wanita bernama Luisa itu.
"Raya," sahut Raya menyebutkan namanya.
"Ya, aku tahu namamu. Nev banyak cerita tentangmu," kata Luisa dengan senyumnya yang mengembang.
"Nev bercerita tentangku padamu?" tanya Raya heran sambil tertawa kecut.
Luisa mengangguk-anggukkan kepalanya secara berulang.
"Kamu sama siapa disini? Ku dengar Nev sedang di luar kota," kata Luisa berlagak akrab.
"Aku bersama Mamaku," kata Raya akhirnya.
"Oh, berdua saja?"
Raya mengangguk. "Aku permisi, ya..." kata Raya ingin menghindar, entah kenapa dia tak tertarik berlama-lama dengan Luisa.
Raya hendak pergi dari sana, tapi Luisa kembali bersuara.
"Apa boleh aku bergabung di mejamu? Aku tidak dapat meja disini..." kata Luisa memelas sembari melihat kesekeliling ruangan.
Raya ikut melihat ruangan Restoran yang terlihat ramai, namun ada beberapa tempat yang masih kosong, kenapa Luisa mengatakan tidak mendapat meja?
"Aku pikir disana kosong, ternyata itu sudah di booking orang lain," kata Luisa seolah menjawab pertanyaan dibenak Raya.
"Maaf, aku sedang membahas masalah penting dengan Mamaku. Aku tidak mengizinkanmu bergabung di mejaku," tolak Raya tegas.
Luisa tersenyum kecil, entah kenapa Raya merasa senyuman itu penuh suatu maksud yang terselubung.
"Baiklah, maaf ya sudah mengganggumu," kata Luisa.
Raya mengangguk.
"Mungkin lain kali kita bisa berkenalan dengan cara yang lebih baik lagi. Ah, mungkin lain waktu dan bersama Nev..." ucap Luisa lagi.
Entah kenapa Raya tak suka mendengar wanita ini menyebut nama suaminya. Benar-benar tak suka.
"Aku sudah tahu namamu dan ku rasa cukup sampai disitu saja," kata Raya dan langsung beranjak pergi.
Luisa tersenyum miring menatap kepergian Raya, kemudian dia pun berlalu dari Restoran itu.
Apa cukup segini saja usaha Luisa hari ini? Belum, masih ada banyak kesempatan untuk membuat kejutan.
Raya kembali ke mejanya dengan wajah cemberut, ucapan Luisa sedikit banyak mempengaruhi mood nya.
__ADS_1
"Kenapa lama, Ray?" tanya Sahara menatapi wajah Raya yang tampak kusut.
"Nggak apa-apa, Ma. Tadi ketemu seseorang aja," jawabnya.
"Siapa?"
"Teman Nev,"
"Oh..."
Raya dan Sahara pun melanjutkan sesi makan siang mereka yang tertunda.
"Abis ini kita kemana lagi, Ray?" tanya Sahara sembari meminum air putihnya.
"Kita ke toko buku ya, Ma. Raya mau beli buku resep kue," jawab Raya.
"Oke."
Setelah itu, mereka pun tiba di toko buku dan mulai memilih beberapa buku resep yang diinginkan.
"Ma ... Raya kesana dulu, ya." kata Raya merujuk pada satu rak buku yang lain.
Sahara mengangguk.
Raya mengamati begitu banyak buku-buku yang tersusun rapi, kemudian dia menuju Rak yang khusus memajang tentang dunia parenting, mungkin Raya memerlukan satu atau dua buku itu karena tak lama lagi dia akan menjadi seorang ibu.
Raya memilah-milah buku, sampai suara celetukan seseorang membuatnya mengalihkan atensi.
"Kita ketemu lagi..."
Raya menoleh pada sumber suara dan mendapati Luisa disana.
Raya tersenyum kecut, dia merasa Luisa sengaja mengikutinya kali ini dan Raya adalah wanita yang blak-blakan jika tidak suka dengan sikap orang lain yang dia rasa tengah mengganggunya.
"Kamu sengaja ngikutin aku?" tanya Raya to the point.
Luisa tertawa kecil. "Aku? Ngikutin kamu? Ya ampun, gak lah. Aku lagi cari buku juga untuk kado ulang tahun temenku," kilah Luisa.
Raya memutar bola matanya, jengah. Dia mengabaikan Luisa yang berdiri disampingnya, dia kembali memilah buku dan bersikap seolah tak ada orang lain disana.
Luisa juga berlagak mencari buku, entah benar atau tidak alasannya tadi, tapi Raya merasa benar-benar tak suka dengan keberadaan Luisa yang seperti sengaja mendekatinya.
Raya memilih satu buku tentang kehamilan dan satu buku lagi tentang tata cara mendidik anak sesuai umur.
"Kamu beli buku seperti itu untuk apa?" tanya Luisa pada Raya. Padahal Raya sudah mencoba mengabaikannya, kenapa dia terus menanyai Raya?
Baiklah, akan aku ladeni semua pertanyaanmu, Nona. - Batin Raya kesal.
"Buku ini aku beli agar nanti bisa mengajarkan tata krama yang baik untuk anakku," ucap Raya, sebenarnya dia niat menyindir Luisa.
"Oh, iya itu bagus..." sahut Luisa.
Raya diam dan mulai melihat lagi buku mana yang akan dia beli.
"Memangnya kamu dan Nev memutuskan untuk punya anak, ya?" Kembali Luisa melemparkan pertanyaan yang membuat hati Raya jengkel.
"Ya tentu saja..." kata Raya menahan kesal.
"Oh, aku pikir Nev akan sulit memiliki keturunan," pancing Luisa.
Raya menatap Luisa aneh. "Maksudmu?" tanyanya.
"Ya, Nev kan pernah mengalami kelumpuhan, siapa tahu setelah itu dia tidak bisa---"
"Tidak bisa apa? Aku sedang hamil anaknya!" jawab Raya dengan kekesalan yang tertahan.
Namun, jawaban Raya itu cukup membuat Luisa terdiam lama. Entah apa yang dipikirkan Luisa sekarang saat mengetahui Raya tengah mengandung anak Nev.
Raya segera beranjak dari hadapan Luisa, tak ingin berlama-lama lagi meladeni wanita seperti itu. Sementara Luisa masih bergeming ditempatnya.
...Bersambung ......
Yang bilang Luisa bakal kerja sama sama Feli untuk menghancurkan Raya dan Nev. Itu gak bener ya...βοΈπ
__ADS_1
...Ayo vote, favorite, like dan tinggalkan komentar kalian. Kalau mau marahin Luisa, dia akan menerimanya dengan lapang dada, kokπ π π ...