
Nev masih tersenyum menatap Raya. Namun ucapan Raya yang selanjutnya, cukup membuat Nev heran.
"Sebaiknya, kamu jangan meneruskan perasaan itu..." kata Raya.
"Why? (Kenapa?)" tanya Nev lirih.
Raya menggeleng, wajahnya terlihat menahan kepedihan.
"Karena, aku... aku akan menikah, du-dua bulan lagi." ucap Raya terbata.
Sementara Nev, terhenyak mendengar kenyataan itu. Dia pun tersenyum getir, dia mengira Raya sedang memberi lelucon konyol yang tak lucu sama sekali.
"Aku salah mendengar kan? Kamu pasti mau mengerjaiku, kan? Hahaha..." Nev tertawa sumbang dengan wajahnya yang telah pias.
Raya menggeleng untuk kesekian kalinya, dia tak sanggup berkata apapun lagi, dia menoleh kearah lain, mencoba mengabaikan wajah Nev yang sudah terhalang kabut kesenduan.
"Raya, kamu bercanda..." Nev kembali tertawa sembari membungkukkan badan dan menumpukan kedua siku di pangkuannya, lalu pria itupun mencengkram kepalanya dengan telapak tangan.
"Aku tidak bercanda," kata Raya menekankan kata-katanya. "Aku dan Reka memang akan menikah," lanjutnya pelan.
"Reka?" Nev kembali menegakkan tubuh untuk menatap Raya, sementara wanita itu tak berani membalas tatapan mata kecokelatan milik Nev yang terlihat seperti menginterogasinya.
Nev menggeleng keras, "Tidak, kamu tidak boleh menikah dengannya..." lirihnya sembari memegang kedua pundak Raya agar tetap menghadap kepadanya.
Raya tak kuasa menahan airmatanya lagi, sehingga tetesan itu mulai luruh di permukaan pipinya. Nev terenyuh melihat itu, air mata Raya seolah mengatakan bahwa Raya pun tak menginginkan pernikahannya dengan Reka terjadi.
"Kamu tidak mencintainya, Raya!" kata Nev dengan keras, mencoba menyadarkan Raya dengan perasaannya sendiri.
"Aku sudah menerima lamaran keluarganya kemarin, lamaran resminya akan dilakukan minggu depan," terang Raya sambil terisak.
Nev terdiam, baru saja semuanya terasa indah saat dia bisa mengungkapkan perasaannya pada Raya. Dia tidak memaksa Raya untuk menerima ataupun membalas cintanya. Baginya, dengan Raya mengetahui perasaannya saja sudah lebih dari cukup.
Kalaupun Raya belum mencintainya, Nev akan membuat peluang agar Raya bisa memiliki rasa itu suatu saat nanti, Nev ingin semuanya datang perlahan dan tidak terburu-buru. Dia pun tidak akan memaksa Raya.
Tapi, mendengar kenyataan yang baru Raya sampaikan, Nev merasa angan-angannya untuk mendapatkan cinta Raya adalah angan yang terlalu tinggi. Sekarang Nev tak menginginkan balasan itu, yang Nev inginkan justru hanya melihat Raya bahagia.
Raya terisak disebelahnya, sementara Nev sendiri juga merasa kenyataan ini begitu getir.
"Kalau kamu menikah dengan orang yang kamu cintai, mungkin aku akan melepaskanmu pergi bersama orang itu, tapi Reka? Aku tahu kamu tidak mencintainya, Raya. Bagaimana bisa aku membiarkan pernikahan ini terjadi?" tanyanya pada Raya yang sudah menutup wajah dengan telapak tangan.
"Lihat aku, Raya..." Nev memegang kedua pundak Raya lagi. "Jawablah! apa aku harus membiarkanmu menikah dengannya?" tanyanya menahan emosi.
__ADS_1
Raya menatap Nev dengan sendu. "Aku-aku tidak tahu..." kata Raya dan Nev membawa tubuh Raya dalam dekapannya.
Raya semakin menangis di dalam rengkuhan tubuh Nev. Dia terisak didada bidang pria itu, membuatnya menyesal tentang keputusan yang telah diambilnya kemarin, dia memberi jawaban yang salah pada semua orang. Jawaban yang bertolak belakang dengan hatinya.
Raya tidak pernah tahu, semesta justru mempertemukannya dengan Nev disaat kondisinya sudah begini. Dia mengira tidak akan pernah bertemu Nev lagi. Dia mengira akan membuka lembaran hidup baru dengan Reka dan perlahan-lahan akan melupakan Nev.
Sebenarnya, sekarang Raya sedang dalam tahap mengikhlaskan Nev untuk bahagia bersama Feli, tapi kenapa kini kenyataannya berbanding terbalik? Sementara, dia tidak mungkin menarik kembali semua kata-katanya pada orangtuanya dan orangtua Reka, tentunya.
Raya dapat merasakan Nev mengelus pucuk kepalanya dengan kasih sayang, membuatnya semakin menenggelamkan wajah dalam rengkuhan pria itu.
Raya ingin waktu berhenti disini saja, jangan ada yang mengganggu kenyamanannya ini, dia ingin terus begini seandainya bisa.
Tanpa Raya sadari, dia telah ikut melingkarkan kedua tangannya di perut pria ini, mencari posisi ternyaman sembari terus memikirkan keadaan yang tidak sesuai ekspektasinya.
Raya bahkan bisa mendengar degup jantung Nev yang beritme cepat--mungkin sama seperti degupannya juga, padahal kini mereka tengah duduk diam tanpa mengucapkan kata apapun lagi, tapi detak jantung mereka seolah bersahut-sahutan satu sama lain, dan itu berdetak dengan cepatnya-- seolah tengah berlari dari kejauhan.
Raya mengadah pada Nev, dan Nev yang menyadari ada pergerakan-- ikut menunduk untuk menatap Raya. Mereka seolah tertegun satu sama lain, dengan tatapan yang mengunci dan tak ingin teralihkan.
Nev menatap wajah Raya yang telah basah karena airmata. Sementara Raya pun melihat keadaan wajah Nev yang tampak sendu namun tak mengurangi eksistensi ketampanannya.
Perlahan mereka sama-sama larut dalam posisi yang semakin memangkas jarak, namun sepersekian detik berikutnya-- Raya menoleh ke arah lain, membuang pandangan, seolah menghindari Nev dengan sangat jelas.
"Aku harus pulang," potong Raya cepat, dia terbawa suasana dan harus segera mengakhiri ini sebelum semuanya semakin sulit untuk dilupakan nanti.
Raya beringsut menjauh dari tubuh Nev, dia menyeka airmatanya yang belum mengering sepenuhnya karena diterpa angin.
Nev kembali menegakkan tubuh. "Aku akan mengantarmu," kata Nev berusaha setenang mungkin.
"Tidak usah," kata Raya menolak.
"Raya, biar--"
Lagi-lagi Raya memotong kalimat Nev yang belum selesai itu. "Aku ingin sendiri," kata Raya sembari membalikkan badannya ke arah yang berlawanan.
Nev berdiri dari duduknya, dia bukan lagi lelaki yang hanya bisa pasrah, lalu akan membiarkan Raya pergi begitu saja. Sekarang dia akan mencegah Raya, bagaimana pun caranya.
"Beri aku alasan yang kuat, maka aku akan menggagalkan pernikahan itu dengan caraku." kata Nev lantang yang berhasil membuat Raya menghentikan langkahnya.
Raya terdiam, dia kembali mengeluarkan airmata, tapi dia tidak menoleh sedikitpun pada Nev yang berdiri dibelakangnya.
"Perasaanku juga alasan yang kuat untuk menggagalkan pernikahan itu, Raya. Tapi itu tidak akan ada artinya jika kamu tidak memiliki rasa yang sama sepertiku,"
__ADS_1
Raya tak bergeming. Ini semua terlalu menyesakkan dadanya.
"Jadi, beri tahu aku bagaimana perasaanmu, agar aku tahu apa yang harus ku lakukan selanjutnya," pungkas Nev melirih, dia menunggu dan menantikan jawaban Raya yang berdiri tak jauh dari posisinya itu.
Raya memejamkan matanya, dia ingin sekali mengatakan pada Nev bahwa dia pun memiliki perasaan yang sama. Tapi, dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Nev jika dia jujur mengenai hal itu. Dia takut Nev benar-benar akan nekat menggagalkan rencana pernikahannya. Walau sebenarnya itu adalah harapannya juga, tapi dia tidak tega jika harus menghancurkan harapan kedua orangtuanya.
Raya kembali melangkah, mulutnya kelu dan nyalinya pun ciut-- tak berani menyampaikan perasaannya pada Nev. Dia memilih diam dan pergi dari tempat itu.
Nev meneriaki nama Raya berulang kali, tapi wanita itu tidak menghentikan langkah sedikitpun.
Diujung jalan, Nev melihat Raya menyetop taxi dan menaikinya dengan tergesa.
Nev hanya bisa menendang udara, meluapkan kemarahannya dengan kenyataan yang terjadi.
Kecewa? Tentu saja. Apa yang harus Nev lakukan sekarang? Dia tidak tahu, pikirannya kalut dan saat ini tidak bisa berpikir jernih sedikipun.
Akhirnya Nev memutuskan untuk pulang daripada menghabiskan waktu dipinggir jalan seperti orang gila yang tak tahu arah. Dia menaiki Taxi dan tiba dirumahnya setengah jam kemudian.
Nenek menyambut kepulangannya, wanita tua itu pasti sudah tahu apa yang tadi Nev lakukan terhadap Raya di cafe.
Nenek tersenyum melihat Nev yang telah bisa berjalan.
"Nenek bahagia sekali kamu bisa kembali berjalan, Nev..." kata Nenek semringah.
Tapi, tatapan Nenek yang bahagia itu tak bertahan lama, karena tiba-tiba pandangannya berubah menjadi tatapan bingung-- sebab melihat raut wajah Nev yang terlihat kacau.
Nenek langsung menghubungkan kemurungan Nev dengan pertemuannya dengan Raya di cafe tadi.
Apa terjadi sesuatu dengannya dan Raya?
Nenek mengira Nev pasti sudah mengungkapkan perasaannya pada Raya, tapi kenapa wajah Nev terlihat kusut? Apa Raya menolaknya?
"Nev, apa Raya menolakmu?" tanya Nenek dengan hati-hati.
Nev tersenyum getir, "Raya bahkan tidak menjawabnya, Nek..." kata Nev tak acuh.
"Maksudnya? Kenapa kamu terlihat kacau begini?" tanya Nenek semakin penasaran.
Nev menggeleng lemah, "Raya akan menikah, Nek. Nev telat, Nev terlambat menemuinya." katanya dengan suara terendah.
...Bersambung ......
__ADS_1