PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
62 - Tawaran yang tak diduga


__ADS_3

Nev tidak mungkin menolak tawaran Adrian yang terdengar konyol tapi serius itu. Apalagi memang inilah yang dia inginkan.


Namun, Nev ingin kedua orangtua Raya tahu tentang statusnya yang pernah gagal dalam berumah tangga. Walaupun hal itu tidak banyak diketahui publik, tapi Nev ingin memulai semuanya dari keterbukaan pada kedua orangtua Raya.


Mobil yang Nev kendarai pun bergerak mengikuti mobil Adrian yang lebih dulu berada didepannya. Tujuan mereka saat ini adalah kediaman orangtua Raya. Mereka akan membahas tawaran dari Adrian yang terdengar tak main-main itu.


Nev menghela nafas panjang sebelum menuruni mobilnya, dia turun dan mengikuti langkah ketiga orang didepannya yang telah memasuki rumah.


Nev ingin menanyakan pada Raya tentang apa yang sebenarnya terjadi, namun sepertinya dia sungkan untuk menanyakan hal itu didepan kedua orangtua Raya.


Tapi ada satu kesimpulan yang Nev yakini setelah mendengar tawaran Adrian tadi, yaitu pernikahan Raya dan Reka besok, batal dilaksanakan.


Itu cukup membuat Nev percaya diri untuk mengambil hati Raya, mungkin Raya akan menerimanya walau dalam bentuk pelarian pun, tak masalah bagi Nev.-begitulah batin Nev berkata.


Nev dipersilahkan masuk oleh kedua orangtua Raya, sesekali dia melirik Raya yang memasang senyum kecil, namun dia tak berani menanyakan apa maksud dibalik senyuman wanita itu.


"Langsung saja, ya, Nev..." Adrian memulai pembicaraannya dengan duduk bersandar di sofa dengan nyamannya.


Mendengar suara Ayah Raya itu, membuat Nev sedikit nervous.


"Jadi begini, Raya dan Reka batal menikah besok," kata Adrian langsung pada pointnya.


"Karena kamu pernah menanyakan soal jadi menantu saya, jadi kejadian ini membuat saya langsung mengingat kamu,"


Nev sedikit tersenyum kecil mendengar penuturan Adrian yang terlalu terus-terang itu.


"Saya tidak tahu apakah saat itu kamu hanya bercanda atau serius, tapi, saya mempertimbangkan kamu sejak saat itu,"


"...yah, bukan berarti saya menjadikan kamu cadangan akibat kejadian ini, entah kenapa setelah pertemuan kita waktu itu saya jadi kepikiran...tentang kamu yang jadi menantu saya," pungkas Adrian sembari terkekeh.


"Entah kebetulan atau apa, ucapan itu memang seperti doa yang mujarab. Dan yang dihati saya menjadi seperti harapan yang besar,"


"..lalu, bagaimana keputusanmu, Nev?" tanya Adrian, tak memberi Nev waktu untuk berpikir.


Walaupun, sebenarnya Nev memang tak perlu berpikir dua kali untuk tawaran ini.


"Sebenarnya saya tipikal orang yang serius dalam perkataan saya, Om. Jadi waktu itu saya sangat serius mengatakan ingin menjadi menantu, Om."


Adrian menyeringai mendengar ungkapan dari bibir Nev.


"...dan saya mengatakan itu juga karena saya sadar kalau anak perempuan om hanya Raya saja. Jadi kesimpulannya...." Nev menatap Raya sekilas dan gadis itu tertunduk tanpa bisa dilihat bagaimana ekspresinya. "Jadi, saya tidak mungkin menolak tawaran yang Om berikan hari ini," sambung Nev yakin.


"Bagus," Adrian mengangguk-anggukkan kepalanya dengan berulang.


"Hanya saja, saya ingin terbuka tentang status saya, Om..." kata Nev.


"Status?" tanya Adrian mengernyit.


"Ya, sebelumnya saya pernah menikah..." aku Nev.


Adrian dan Sahara saling berpandangan satu sama lain.


"Tapi kami sudah resmi berpisah," sambung Nev. Lalu Nev pun menceritakan tentang masa lalunya, tentunya hanya garis besarnya saja, tidak menjurus pada aib rumah tangganya.


Untungnya, Nev sudah sempat menceritakan pada Sahara tentang kelumpuhan kakinya waktu itu, jadi saat Nev menceritakan awalmula perselisihannya dengan Feli, Sahara tidak terlalu terkejut, Sahara pun langsung mengaitkan sendiri-- tentang tragedi kecelakaan Nev dengan rumah tangga Nev yang gagal. Intinya, Sahara menemukan kesimpulan tanpa Nev utarakan lebih lanjut.


Hanya saja, kedua orangtua Raya itu cukup terkejut mengetahui jika Nev adalah Mantan suami Feli, yang mereka kenal sebagai anak dari salah satu pelayan mereka dulu.


"Bagaimana menurut Mama?" Adrian menatap istrinya.


Sahara tersenyum lembut. Dia sudah memahami situasi Nev.


"Saat Mama menikah dengan Papa Raya, status Mama saat itu juga janda tanpa anak... Jadi, Mama tidak keberatan dengan status Nev, yang penting dia sudah tidak terikat pernikahan dengan siapapun saat ini," kata Sahara bijak.


Adrian mengangguk, sedikit banyak ucapan Sahara membuatnya memahami keadaan Nev-- bahwa tidak semua rumah tangga akan berujung dengan baik, ada satu atau dua diantaranya yang memang harus berakhir walaupun sudah dipertahankan sedemikian rupa.


"Coba tanyakan pada Raya, dia yang akan menikah," kata Sahara lagi.


Raya yang tertunduk pun mengadahkan kepala, bersamaan dengan itu ketiga orang dihadapannya tengah menatapnya lekat-- menantikan jawabannya dengan harap-harap cemas.

__ADS_1


"Jangan mengambil keputusan karena terpaksa lagi, Nak..." kata Sahara mengingatkan Raya.


Raya tertunduk kembali, namun kemudian dia mulai bersuara. "Raya... mau menikah dengan Nev, Ma, Pa.." kata Raya dengan suara terendah.


Kalau tidak memikirkan kedua orangtua Raya yang ada didepannya, mungkin saat mendengar jawaban Raya itu Nev akan berlonjak kegirangan, namun untungnya, dia masih bisa mengendalikan diri sekarang.


Adrian menghela nafas lega, begitupun Sahara. Sejujurnya Sahara sudah bisa menebak jika ada sesuatu diantara Raya dan Nev.


"Baiklah, besok kalian akan menikah," kata Adrian tenang.


"Besok, Om?" tanya Nev terkejut.


"Ya, iya. Kan di surat undangan, besok Raya memang menikah. Jadi Om tidak usah menelpon satu persatu relasi yang Om undang untuk mengatakan pernikahan Raya batal, karena Raya tetap akan menikah besok sama kamu."


"...kenapa? Kamu gak siap menikah besok?" lanjut Adrian.


"Siap, Om..." jawab Nev penuh keyakinan.


"Nah, itu baru lelaki sejati," kata Adrian terkekeh dan disahuti oleh kekehan Sahara.


Nev akhirnya ikut tertawa sembari melirik Raya yang mengulumm senyum diseberangnya.


"Pakai yang sudah ada aja, ya. Capek harus ngurus ulang lagi.. waktunya juga sudah gak memungkinkan. Udah disediakan ini..." kata Sahara menimpali.


"Tapi Tant..." Nev ingin menolak, karena gengsinya cukup tinggi jika harus menggunakan rancangan yang disiapkan oleh keluarga Reka.


"Kenapa?" tanya Sahara heran.


"Soal gedung, dekor dan WO, karena sudah terlanjur, ya gak apa-apa... tapi soal yang lainnya biar orang-orang saya yang mengatur," kata Nev mencoba bernegosiasi, paling tidak dia harus punya harga diri, dia tidak mau memakai sesuatu tanpa usaha dan dia pun berniat membayar serta mengganti semua yang telah di dp keluarga Reka.


"Waktunya mepet, Nev..." kata Raya mulai mengeluarkan suara.


"Tenanglah, semuanya pasti sempat." ucap Nev dengan lembut meyakinkan Raya.


Adrian pun menyerahkan semua keputusan ditangan Nev, karena Nev yang akan menikah.


Nev mulai sibuk menelepon orang-orangnya, untuk menyiapkan keperluannya menikah besok.


Nenek memutuskan untuk langsung mengunjungi rumah orangtua Raya setelah Nev memberitahunya.


Menjelang sore, orang-orang suruhan Nev mulai berdatangan kerumah orangtua Raya. Hampir semuanya membawakan barang-barang yang ternyata adalah seserahan yang tertunda untuk Raya, itu semua tentunya ulah Nenek Nev yang begitu antusias, sehingga mengingatkan Nev tentang hal itu.


Disaat orang-orang sibuk mengatur barang-barang, Nev melihat Raya dan menyapanya dengan malu-malu. Ya, entah kenapa sekarang dia merasa malu pada wanita itu--padahal besok mereka benar-benar akan menikah.


"Ada apa?" tanya Raya yang selalu bersikap tenang, entah apa yang ada dipikiran Raya sekarang.


"Aku mau bicara," kata Nev sembari menggaruk pelipisnya sendiri, dengan salah tingkah.


"Ya, bicara saja," kata Raya masih fokus menatapi orang-orang yang berlalu lalang untuk mengangsurkan barang ke ruangan pojok.


"Tidak disini..." kata Nev pelan.


Raya menatap Nev, "Oke, disana saja..." kata Raya menunjuk teras belakang rumahnya.


Raya berjalan lebih dulu didepan Nev, Nev mengikuti dari belakang dengan degup jantung yang berdetak kencang tidak karuan.


Diteras belakang rumah, ada ayunan kayu dan Raya mendudukkan diri disana, Nev pun menyusul untuk duduk disebelah Raya.


"Kamu serius mau menikah denganku besok?" tanya Nev hati-hati.


"Kamu sendiri serius, tidak?" Raya balik bertanya.


"Aku sangat serius, tapi aku tidak menyangka akan secepat ini..." jawab Nev.


"Berarti kamu belum siap?" tanya Raya.


"Aku siap, Raya.. detik ini pun aku siap.. aku cuma gak nyangka kejadiannya akan begini." kata Nev.


Raya terkekeh kecil, membuat Nev terkesima dengan hal itu.

__ADS_1


"Ada yang lucu?" tanya Nev serius pada Raya yang masih mengulumm senyum.


"Gak... gak apa-apa," Raya membekap mulutnya yang akan tertawa keras, namun Nev melihat sesuatu yang berkilau di jari Raya.


Nev segera mengambil tangan Raya, melihat jelas bahwa di jari Raya masih ada cincin pertunangan Raya dengan Reka.


"Kamu belum melepasnya.." kata Nev lirih sembari memegang tangan Raya dan memperlihatkan yang dia maksudkan pada Raya.


Raya tersenyum kecil, "Maaf, aku lupa melepasnya... kamu bisa bantu melepaskannya sekarang," kata Raya menyerahkan jarinya pada Nev.


Nev tertegun, kemudian ikut tersenyum lalu melepas perlahan cincin dari jari manis tangan Raya.


"Mau diapakan cincinnya?" tanya Nev setelah cincinnya berada digenggamannya.


"Gak tau, terserah kamu aja," kata Raya.


Nev memasukkan cincin pemberian Reka itu dalam saku kemejanya. Kemudian beralih mengambil sesuatu dari kantong celana bahannya.


Sebuah kotak bludru berwarna biru gelap sudah terpampang didepan wajah Raya. Lalu Nev membukanya, ada sebuah cincin bermata sedang terselip disana, sangat elegant dan berkilau.


Raya terkekeh pelan melihat itu, entah kapan Nev membelinya, karena sedari tadi Raya dan Nev berada dirumah, kan?


"Kapan kamu membelinya?" tanya Raya masih terkekeh kecil.


"Tadi pagi," kata Nev.


"Hah?"


"Awalnya aku berniat menculik kamu, lalu setelah itu aku akan memaksa kamu untuk menikah denganku, jadi aku membeli cincin ini..." aku Nev jujur.


Raya tertawa kencang, seperti mengolok ucapan Nev itu.


"Aku tahu itu berlebihan, cibir aku sesukamu saja." kata Nev tak acuh, dia mengambil tangan Raya dan memasangkan cincin pilihannya di jari manis Raya.


Raya melihat ulah Nev itu, dia membiarkannya saja. Sebenarnya hatinya diliputi rasa haru dan bahagia, sampai dia tidak bisa mengutarakan perasaannya hari ini.


Semua begitu mendadak dan cincin yang sudah disediakan Nev untuknya, semacam pertanda dari semesta bahwa memang dia akan mengenakan cincin ini, meski tidak dengan cara paksa seperti yang Nev utarakan tadi.


"Sedikit kebesaran, nanti kita perbaiki..." kata Nev mengelus cincin yang sudah tersemat dijari Raya.


"Terima kasih," lirih Raya.


"Kenapa harus berterima kasih? Dan kenapa memasang wajah seperti itu?" tanya Nev yang melihat wajah Raya berubah sendu.


Raya menggeleng pelan.


"Kamu sedih? Kamu tidak bahagia akan menikah denganku?" tanya Nev.


Raya kembali menggeleng.


"Cibir aku seperti tadi, tertawai saja aku yang bodoh...yang penting jangan bersedih seperti ini," kata Nev berusaha menenangkan Raya yang sudah tampak berkaca-kaca.


Raya menitikkan airmatanya, membuat Nev kalang kabut karena mengira Raya terpaksa menerimanya.


"Kamu kenapa?" tanya Nev dengan suara tercekat.


"Aku hanya tidak menyangka akan menikah denganmu," kata Raya.


"Kamu terpaksa?" tanya Nev lagi.


Raya terkekeh pelan, namun airmatanya terus menderu keluar karena rasa haru.


"Aku gak terpaksa, aku menerima kamu." kata Raya.


"Lalu kenapa menangis?" Nev masih kalut melihat Raya yang tadinya tertawa, sekarang justru menangis.


"Aku terharu, ini air mata kebahagiaan..." kata Raya.


"Oh astaga, kamu membuatku takut..." ucap Nev sembari menggenggam tangan Raya dengan erat.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2