
Yang belum kasi jempol di bab sebelumnya, tolong jempolin dulu ya🙏
Happy reading♥️
_____
E P I L O G
Siapa yang menyangka, hidup Raya yang dulu terombang-ambing saat baru pulang dari Luar Negeri, sekarang justru berada didalam kehidupan yang nyaris mendekati kata sempurna.
Bagaimana tidak, jika menelisik kebelakang tentang riwayat hidupnya, ia sempat terpuruk saat keadaan keluarganya diuji oleh kesulitan yang beruntun.
Ia nyaris tak bisa membantu Ayahnya yang berada dibalik jeruji besi sebab kasus fitnah penggelapan dana perusahaan. Disaat bersamaan pula, Ibunya harus dirawat di Rumah Sakit karena serangan jantung mendadak. Sementara dirinya sendiri, selain tak punya cukup uang, ia pun minim pengetahuan tentang negaranya sendiri. Ia juga tak memiliki teman yang dapat membantunya keluar dari zona itu, bahkan sanak-saudara ikut menjauhinya yang sudah terperosok kedalam lubang.
Semua orang yang dikenalnya, berlagak tak acuh dan jauh dari kata peduli.
Keadaan itupun terlewati, berganti dengan kebahagiaan yang juga tidak pernah diduganya sama sekali. Pernikahannya dengan seorang pria yang ia cintai dan ternyata juga sangat mencintainya.
Meskipun diawal pernikahannya ia kembali diuji, serta begitu banyak airmata yang sudah tercurah, tapi nyatanya ia masih bisa bertahan sampai saat ini.
Semua itu tak luput dari betapa sayangnya Tuhan padanya, serta dukungan orang-orang yang mengasihinya.
Orangtuanya yang selalu mendukungnya.
Serta sekarang ada suaminya. Pria yang memiliki sejuta kasih sayang dan cinta luar biasa kepadanya.
Keluarga yang telah menjauh pun digantikan ketika ia memasuki rumah suaminya, tak lupa pula hadiah tambahan berupa teman dan rekan baru yang menjadi pelengkap dalam hidupnya.
Semua yang sempat terenggut dari hidupnya, secara perlahan dikembalikan Tuhan kepadanya dalam bentuk yang lebih baik.
Semua yang membuatnya terpuruk, lambat-laun digantikan dengan kebahagiaan baru yang begitu nikmatnya.
Perjalanan hidupnya, terkadang begitu sulit untuk ia tafsirkan.
Namun, selalu ada pelajaran dibalik semua yang menimpa. Sesuatu yang selalu ia yakini, bahwa semua yang terjadi hari ini pasti akan terlewati.
Mungkin hari ini ia merasakan susah, tapi karena keyakinannya yang kuat, ia bangkit dan meyakinkan lagi bahwa semua itu pasti akan terlewati.
Begitupun bila hari ini ia merasakan kebahagiaan yang berlimpah, semua itupun pasti akan terlewati pula.
Semua yang terjadi, membuatnya banyak belajar bersyukur. Memahami, bahwa semua yang ia alami tidak ada yang luput dari pantauanNya dan akan kembali padaNya.
Semua yang ia miliki sampai hari ini adalah jawaban dari yang kuasa, bahwa hari-hari suramnya telah berlalu.
Dan semua yang dulu menjauh, sudah digantikan dengan yang lebih baik.
Siapa yang menyangka jika sekarang ia justru berada disini, di Resort keluarga sang suami?!
Resort itu pun sudah ditata sedemikian rupa dengan desain yang mentereng. Konsep yang digunakan adalah outdoor dan mengarah langsung ke view pantai yang terbentang.
Ia berada ditengah-tengah keluarga Prawiraharja yang bersahaja. Bukan sebagai pengasuh, tapi sebagai istri dari salah satu keturunan Prawiraharja yang termahsyur sebab garis keturunannya.
Ia bahkan baru tahu hari ini, jika suaminya memiliki garis keturunan dan dijuluki sebagai pemilik 'darah biru'.
Semua keluarga Nev, berkumpul pada hari ini, di momen yang sama yakni pesta perayaan hari jadinya yang ke 25 tahun atau seperempat abad.
Ia merasa tersanjung, terkesima dan apalah lagi istilah lainnya itu, ketika mengetahui hampir sebagian besar dari mereka-- yang bahkan harus menyeberangi samudera demi mendatangi dan menemuinya pada hari ini.
Sebenarnya acara ini juga bukan hanya pesta ulang tahunnya saja, tapi ini sekaligus merangkap-- acara privat keluarga Prawiraharja-- yang belum sepenuhnya tahu dan mengenal sosoknya yang menjadi pendamping seorang Nevan Prawiraharja.
Pernikahannya dan Nev yang mendadak saat itu, tidak bisa dihadiri hampir 80% keluarga suaminya yang banyak berada di luar kota bahkan di luar Negara. Sehingga, saat inilah semuanya baru bisa berkumpul di Resort yang memang milik keluarga besar Prawiraharja.
Ia bisa melihat bagaimana keluarga Nev yang low profile.
Mereka tidak menanyakan asal-usul, penghasilan, serta pencapaian orang lain.
Mereka tidak banyak menuntut soal keturunan, karena tidak terlalu fanatik dengan hal-hal semacam itu.
Mereka bisa membaur dengan siapa saja, dari kalangan bawah hingga kalangan petinggi kerajaan.
Penampilan mereka berkelas tapi tidak berlebihan.
Mereka tidak akan membahas hal yang tidak penting dan menjurus pada menyakiti perasaan orang lain.
Sejauh telinga mendengar, ia cukup tahu jika pembahasan mereka hanyalah tentang tema hari ini. Pesta.
Pesta yang kekeluargaan dan hanya akan menemukan kebersamaan yang hangat, pembahasan ringan yang konyol, serta hobi-hobi yang mungkin akan mereka lakukan bersama-sama selagi masih berada di kota yang sama.
__ADS_1
Ia merasa semakin beruntung berada ditengah-tengah keluarga ini.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Nenek Nev mempunyai dua anak, mereka kembar, ialah Ayah dan Tante Nev. Ayah Nev, Arjuna Prawiraharja, sudah lebih dulu menghadap Sang Khalik disaat karirnya sedang berada di puncak.
Sedangkan Tante Nev, bernama Aruni. Tante Aruni wanita yang cantik, tapi sayang... Tante Aruni tidak menikah sampai usianya sekarang genap 47 tahun. Menurut Nev, Tante Aruni pernah mengalami patah hati saat muda dan memutuskan untuk hidup melajang selamanya. Semua keluarga menghargai keputusan Tante Aruni dan tidak ada yang menjudge-nya, beliau justru semakin matang dengan karirnya sekarang sebagai seorang perancang busana di Negeri mode dunia, Paris, Prancis.
Maka dari itu, tidak salah jika Nev menjadi cucu satu-satunya dari garis keturunan sang Nenek, karena memang Nev tidak memiliki saudara lainnya. Almarhum Ibu Nev menderita penyakit saat Nev berumur 3 tahun, membuat orangtua Nev memutuskan tidak akan memiliki anak lagi.
Dari pihak lainnya, Nenek Nev mempunyai saudara bernama Nenek Shania. Nenek Shania mempunyai 3 anak. Om Daren, Tante Yesi dan Tante Ika. Dari ketiganya pula, Nev mempunyai saudara sepupu beda Nenek.
Mereka semua juga ikut berkumpul dan meramaikan pesta hari ini. Raka, Satria, Serlin adalah anak Om Daren. Marcel dan Mishel adalah anak kembar Tante Yesi. Sementara Tante Ika, hanya memiliki satu anak bernama Jovi.
Semua sepupu Nev itu memiliki karir yang cemerlang, ada yang menjadi pengusaha, dosen, dokter bahkan ada yang menjadi pelukis. Mereka datang membawa anak-anak mereka dan menyebabkan suasana semakin ramai dan ceria.
Mama dan Papa Raya juga dibuat menjadi tamu istimewa diantara semua keluarga Nev yang hadir.
Pesta ini juga dihadiri oleh Dokter Kania, beliau datang bersama keluarganya kesini.
Jimmy dan Nimas juga datang, tentu pasangan baru itu tak mau ketinggalan.
Bryan menunda kepulangannya ke London, dia datang bersama Viona malam ini dan ikut meramaikan pesta.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
"Sekarang... apa harapan yang kamu inginkan?" Nev merangkulnya didepan semua orang yang mengelilingi meja berisikan banyak makanan serta sebuah cake yang paling mencolok dari panganan lainnya.
"Aku tidak ingin apa-apa lagi, Nev! Dengan adanya Mama, Papa, Kamu, Nenek serta semua keluarga kamu yang juga sudah menjadi keluargaku sekarang, aku udah merasa lengkap dan tidak menginginkan apa-apa lagi," ucapnya dengan air mata kebahagiaan yang mulai membasahi pipi.
Semua orang terdengar bersorak senang dan ada yang ikut terharu dengan kalimatnya.
"Tapi, jika Aku masih diberi kesempatan... aku ingin merasakan bagaimana menjadi seorang ibu. Aku ingin mengandung anak kamu, Nev..." sambungnya sambil menggenggam tangan Nev lebih erat.
Nev mengangguk, bersamaan dengan itu suara yang meng-Aamiin-kan ucapannya pun terdengar.
"Semoga harapan kamu terkabul ya, Sayang." Nev mengecup dahinya didepan semua orang yang hadir, kemudian tanpa pernah disangka, Nev memakaikannya sebuah kalung berbandul huruf N yang sangat manis.
Ia terkesima, lalu menunggu Nev selesai dengan kegiatan memakaikan kalung itu.
"Nev..." ia sampai kehabisan kata untuk bertanya pada Nev tentang hadiah susulan ini.
Semua orang yang hadir semakin bersorak senang. Ia merasa malu sendiri dengan perlakuan manis suaminya itu.
Tak berapa lama, mereka kedatangan tamu spesial yang tidak terduga.
"Maaf kami datangnya sedikit telat," celetuk seseorang yang baru saja tiba dan suara itu terdengar sangat familiar diindera pendengarannya.
"Reka...Citra..." Ia sampai meninggalkan Nev disisi meja demi menyambut kedatangan dua orang yang tampak mengenakan pakaian yang serasi itu.
Reka dan Citra terkekeh saat melihatnya dengan raut tercengang, kemudian Reka pun mengulurkan jemari kepadanya.
"Nev mengundang kami," kata Reka dan ia mengangguk, bahkan ia lupa mengundang Reka dan Citra sementara suaminya yang sibuk justru mengingat orang-orang yang dikenalinya.
"Selamat ulang tahun, semoga kebahagiaan selalu melingkupi hidup kamu." Reka tersenyum tulus.
"Makasih, Ka..." ucapnya, masih mencerna keadaan antara Reka dan Citra yang ia lihat bergandengan tangan, mesra.
Lalu ia beralih pada Citra yang sudah kembali langsing, pertemuan terakhirnya dengan wanita itu adalah saat Citra masih berbadan dua dengan bobot tubuh yang lumayan berisi.
Ia mengira Citra akan menyampaikan selamat seperti yang Reka lakukan tadi, ternyata Citra justru memeluk tubuhnya dengan akrab.
"Aku yakin, apapun harapan kamu dihari ini... pasti akan terkabulkan, karena kamu adalah salah satu wanita baik yang pernah hadir dalam kehidupanku. Terima kasih Raya, selamat ulang tahun," bisik Citra tepat ditelinganya.
Ia merasa terharu, ia mengurai pelukan yang Citra lakukan padanya. Lalu ia pun menatap Citra lekat-lekat.
Hanya satu pertanyaan yang ada dikepalanya saat ini.
"Apa kalian kembali bersama?" tanyanya serius, karena ia tak mendengar lagi kabar keduanya sejak Nev menyerahkan alamat Citra pada Reka waktu itu.
Citra mengangguk. "Aku dan Reka sudah menikah, tapi resepsinya akan diadakan bulan depan, semua persiapan sudah rampung," kata Citra mantap.
Ia mendesahh lega. Ternyata usahanya dan Nev tidak sia-sia untuk meyakinkan Reka dan Citra tentang perasaan mereka masing-masing, hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk kembali bersama.
"Selamat untuk kalian," ucapnya tulus dan Reka mengangguki ucapan itu.
Citra mengelus pundaknya sekilas. "Sekali lagi makasih, Raya. Maaf kami baru bisa memberitahu dan bertemu kamu sekarang karena waktu Reka menemuiku saat itu, kami langsung sibuk mengurus perceraianku dengan mantan suamiku. Aku juga sibuk mengurus bayiku jadi belum sempat kemana-mana."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, ayo bergabung di meja makan. Kami semua akan makan malam."
Kedua orang itu mengangguk.
Saat ia hendak melangkah kembali ke meja, ia merasakan pusing yang luar biasa dan sesaat kemudian ia ambruk tepat di pijakan yang sama.
Ia masih bisa mendengar suara riuh orang-orang dari area meja makan. Ia juga sempat mendengar suaminya yang memekikkan namanya, namun sedetik kemudian semua berubah gelap.
...♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️...
"Sayang..." Nev sudah didepannya, menggenggam jemarinya dengan wajah pias.
"Aku dimana, Nev?" tanyanya sembari memegang dahi yang sedikit terasa pusing.
"Di rumah sakit, di samping Resort."
Ah ya, ia mengingat momen ambruknya dihadapan Citra dan Reka tadi.
Belum sempat ia berkata apapun lagi, seorang Dokter datang kehadapan mereka berdua.
"Pak Nev, Ibu Raya..."
"Bagaimana, Dok? Istri saya sakit apa?" tanya Nev dengan raut khawatir.
Dokter itu tersenyum kecil. "Ibu Raya bukan sedang sakit tapi hamil," ucap sang Dokter.
"A-apa?" Nev tergagap, memandang dokter, lalu bergantian memandang kearahnya.
"Kalau mau lebih jelasnya, silahkan ke poli kandungan dan temui dokter Obgyn. Sekalian di USG saja," saran sang Dokter.
Ia sampai sulit berkata-kata, ia memang merasakan kejanggalan pada tubuhnya, tapi ia tidak mau berharap lebih karena akan menimbulkan ekspektasi yang berlebihan pula.
Nev menatapnya lekat.
"Sayang, apa kamu gak ngerasa kalau lagi hamil?"
"Aku memang sudah terlambat datang bulan, Nev!" akunya lemah.
"Ah, pantas sholatnya belum ada bolong. Terus kenapa gak di cek?" tanya Nev.
"Aku takut gak sesuai harapan, karena terkadang juga telat-telat dikit," ujarnya.
"Bulan ini udah telat berapa hari?" tanya Nev.
Ia menggeleng. "Lupa... kayaknya dari bulan kemarin enggak datang bulan," jawabnya jujur.
Nev menghela nafas panjang. "Jadi ini yang buat kamu sensi sama aku," keluh Nev terkekeh.
Ia hanya bisa menggigit bibir karena kehabisan kata untuk menyahuti ucapan Nev yang mungkin saja benar.
Tak berapa lama, mereka sudah ada di poli kandungan, memeriksa keadaan janin, usia janin dan melakukan USG.
"Benar, ibu Raya sedang mengandung. Usia kehamilan memasuki 4 Minggu ya, Pak. Dan coba kita lihat disini..." Dokter itu menunjuk pada layar USG dengan raut wajah semringah.
"Disini ada tiga titik... selamat ya, Ibu, Pak... janinnya triplets," sambung Dokter itu lagi.
Ia dan Nev saling memandang satu sama lain. Jika Dokter menatap mereka dengan raut bahagia, mereka berdua hanya tercengang mendengar penuturan sang Dokter.
"Ma-maksud Dokter, bayinya... bayinya ada tiga?" Akhirnya Nev yang lebih dulu bertanya dengan polos dan suara yang tersendat.
"Iya, Pak. Ibu Raya mengandung bayi kembar tiga."
Dan setelah Dokter mengucapkan kata itu, Nev bersorak riang.
"Sayang, bayinya tiga.." kekeh Nev riang.
Ia mengangguk dan merasa speechless dengan hal itu.
"Kamu dengar kan sayang? Bayinya tiga... tiga, Sayang..."
"Iya Nev, iya..."
"Hahaha, ternyata benih premiumku benar-benar membuahi dengan dahsyat." kekeh Nev sembari memeluknya lagi dengan erat.
Ia ikut terkekeh, tapi Dokter yang baru saja memeriksanya justru lebih tertawa lebih kencang karena mendengar dan melihat tingkah Nev yang baru saja bersorak senang dengan kalimat absurdnya itu.
..._______The End_______...
__ADS_1
Next aku kasi part bonus.... jangan lupa dijempolin ya guys,♥️♥️♥️♥️