
Sementara itu, sambil menunggu para siswa yang menjalankan hukuman, para siswa yang masih berada di tenda harus mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api unggun malam nanti.
Aarav mulai mencoba mendekati Bu Siska dan Abrine hanya memutar bola matanya melihat tingkah tengil sang Kakak.
"Bu, biar aku aja yang angkat kayunya..." kata Aarav mengambil alih kayu-kayu yang sudah dikumpulkan Bu Siska dalam satu tempat.
"Saya bisa kok, Rav. Kamu cari kayu yang lain saja," kata Bu Siska.
Aarav mengangguk tak ingin membantah, sampai Aarav menumpuk kayu yang sudah ia kumpulkan, Bu Siska belum juga siap mengangkat kayunya ke samping tenda mereka.
"Sini, Bu... Aku bantu, aku sudah siap mencari kayu," kata Aarav dan langsung mengambil alih kayu yang diangkat Bu Siska dengan susah payah.
"Gimana keadaan Ayah, ibu?" tanya Aarav, karena ia ingat Bu Siska pernah mengatakan jika Ayahnya sedang sakit, hal itulah yang membuat Bu Siska bertengkar dengan pacarnya tempo hari karena uang untuk membayar hutang pacarnya, digunakan untuk membiayai pengobatan sang Ayah.
"Alhamdulillah keadaan Ayah saya sudah membaik, terima kasih."
"Bu... kalau ibu membutuhkan bantuan apapun, jangan sungkan memberitahunya padaku," kata Aarav pasang badan.
Bu Siska tertawa pelan. "Iya, Rav. Kamu jangan ikut memikirkan masalah saya, tugas kamu sekolah saja yang baik," katanya.
Aarav menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi aku serius ingin membantu ibu."
"Memangnya kamu mau membantu dalam hal apa, Rav?"
"Jika Ibu butuh pertolongan apapun, segeralah hubungi aku. Aku bisa diandalkan dalam keadaan darurat," kata Aarav jumawa.
Bu Siska ikut tersenyum pada Aarav. "Terima kasih ya, kamu siswa yang baik. Mudah-mudahan saya masih bisa menghandle masalah saya sendiri, Aarav. Jangan jadikan ini menjadi beban kamu, ya. Mohon doakan saja semoga semuanya bisa saya lewati," ujar bu Siska bijak.
"Hmm, kalau soal mendoakan setiap hari juga saya doain ibu biar jadi jodoh saya," gumam Aarav pelan.
"Kamu bilang apa, Rav?"
"Ng-nggak, Bu.... pasti saya doakan Ibu, kok," sahut Aarav cengengesan.
#####
Airish dan Zio sudah mengumpulkan dua bendera dan kini waktu sudah menunjukkan pukul 02:30 siang.
"Kita balik aja apa gimana, Rish?" tanya Zio menoleh pada Airish disampingnya.
Airish mengangguk, mereka sudah terlalu jauh masuk kedalam hutan dan jika mereka kembali sekarang pasti ketika tiba di perkemahan waktu akan menunjukkan pukul 4 sore--sesuai perjanjian awal.
"Ya sudah, kita balik aja," Zio mengacak rambut Airish sekilas, entah kenapa Airish pun diam saja dan tidak protes dengan perlakuan Zio kepadanya. Sedikit banyak, Airish mulai merasa nyaman berada didekat Zio, entahlah kenapa perasaannya sekarang seperti ini, namun ia mengakui jika Zio mempunyai jiwa melindungi yang tinggi, sehingga lambat laun membuat jiwa kegadisannya luluh meski rasa itu datangnya secara perlahan-lahan.
Saat mereka ingin kembali, Zio melihat ada sandi disisi kiri yang menandakan jika ada sebuah bendera lagi yang bisa mereka dapatkan disana.
"Rish, aku ambil bendera dulu disana," kata Zio menunjuk sebuah pohon yang cukup tinggi, namun letak bendera yang akan diambil hanya setinggi tubuh Zio, diikatkan diranting pohon besar itu.
"Zi, kita balik aja, kaki aku juga udah pegal semua," keluh Airish.
"Iya, kamu tunggu disini dulu, jangan kemana-mana aku ambil benderanya disana," ucap Zio menunjuk arah yang ia maksud.
Airish mengangguk, ia menunggu Zio yang berjalan pelan menghampiri pohon dimana terdapat bendera yang ingin diambil.
__ADS_1
Dalam sekali gapai, Zio sudah bisa mengambil bendera itu, sayangnya kakinya sedikit terperosok karena tanah yang ia injak itu cukup licin.
"Arkh," Zio meringis menahan kakinya yang keseleo mendadak.
Airish berlari menghampiri Zio. "Kamu gak apa-apa?" tanya Airish dengan ekspresi khawatir.
"Kayaknya kaki aku terkilir," kata Zio menahan sakit.
Airish dengan sigap memapah tubuh tinggi Zio, mereka pun duduk di sebuah batang pohon tumbang-- yang tak jauh dari tempat semula.
"Zi, kok bisa gini, sih? Kamu terlalu bersemangat, nih!" gerutu Airish, gadis itu membuka ranselnya untuk mencari kotak P3K, untungnya sang Mama sempat mengingatkannya untuk membawa benda itu.
Zio hanya diam mendengar omelan Airish, sambil sesekali meringis karena kakinya bukan cuma keseleo melainkan terdapat luka juga sebab terkena akar - akaran pohon yang terdapat di tempat kejadian tadi.
"Buka sepatunya, ya..." kata Airish mulai membantu untuk membuka sebelah sepatu Zio, untuk merilekskan kaki cowok itu.
Pertama - tama, Airish ingin mengobati luka yang ada didekat betis Zio terlebih dahulu. Karena Zio hanya mengenakan celana sepanjang lutut, alhasil luka di betisnya cukup lumayan karena bagian itu tidak tertutup kain celana sedikitpun.
Airish mengambil kapas yang sudah ia bubuhi dengan alkohol, dengan perlahan Airish membersihkan seputaran luka yang ada dikaki Zio.
"Ahh..." Zio merasa kapas beralkohol itu justru membuat lukanya semakin terasa perih.
"Tahan ya, ini memang sedikit perih," kata Airish pelan.
Zio pun diam dan hanya memperhatikan Airish yang nampak telaten membersihkan lukanya, lambat laun ia sudah tak merasakan perih lagi namun ia berpura-pura merasa keperihan karena senang melihat raut cemas diwajah cewek itu.
"Udah, sekarang aku kasih betadine, ya..." celoteh Airish lagi.
"Rish..."
"Hmmm," sahut Airish sembari fokus pada kaki Zio yang sekarang berada dipangkuannya.
"Maafin aku, ya."
"Maaf, maaf kenapa?" tanya Airish yang sesekali menatap wajah Zio sambil mengoles salep.
"Seharusnya aku yang menjaga kamu, malah kamu yang jagain aku," kata Zio tak enak hati.
Airish hanya tersenyum kecil dan memilih tak menjawab ucapan Zio itu.
"Coba sekarang kamu berdiri," kata Airish mengalihkan topik.
Zio mencoba berdiri, namun hanya bisa bertumpu pada satu kakinya yang sehat, karena kakinya yang terkilir benar-benar tidak bisa diajak kompromi karena rasa sakitnya.
"Kayaknya sepulang dari sini mesti dibawa ke tukang urut, Zi..." kata Airish.
Zio mengangguk. "Ya, sepertinya..."
"Kalau balik ke camp, bisa gak?" tanya Airish dan Zio mengangguk.
"Ya udah, sekarang kita balik ya sebelum semakin sore dan hutan ini semakin gelap."
Bukan tanpa sebab Airish berkata seperti itu, selain ia memang mempunyai jiwa yang penakut, di hutan memang akan lebih cepat gelap daripada area luar hutan. Di jam ini saja sudah banyak suara binatang yang bersahut-sahutan, membuat nyali Airish ciut seketika, belum lagi Zio yang dalam keadaan begini, yang sudah pasti tak bisa melindunginya.
__ADS_1
Airish membantu memapah tubuh Zio, walau itu cukup berat bagi postur tubuhnya yang lebih kecil dari cowok itu, namun hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membantu Zio agar mereka segera meninggalkan area hutan yang membuat bulu kuduk merinding.
Airish juga cukup gugup dalam posisi seperti ini bersama cowok itu.
"Rish, makasih ya..." ucap Zio menoleh pada Airish disisinya yang berjarak sangat dekat dengannya saat ini.
Airish mengangguk dengan wajah yang merah padam. Bagaimana tidak, ia tak pernah berada dalam posisi dan jarak sedekat ini bersama cowok yang tidak memiliki hubungan saudara dengannya. Belum lagi keadaan ini memaksanya untuk memegangi lengan Zio, ia semakin grogi saja.
Detak jantung keduanya terasa bersahut-sahutan dengan kecang, posisi ini sangat absurd untuk mereka berdua. Meski mereka sama-sama menyadari jika tak memiliki hubungan apapun, tapi jiwa muda dan rasa yang mulai tercipta dari masing-masing hati diantara mereka seakan bergelora karena insiden ini.
"Rish," panggil Zio.
"Hmm," sahut Airish tak berani menatap Zio.
"Kalau nanti kita sudah cukup umur, kamu harus menikah denganku, ya!"
Mata Airish membola. Apa kata Zio tadi? Harus? Harus menikah dengannya?
"Kamu apaan sih!" kata Airish membuang pandangan ke arah lain.
"Papi sama Bunda aku juga saling suka pas mereka SMA, tapi keduanya gak pernah mengutarakan perasaan masing-masing, sampai mereka dipertemukan lagi saat sudah cukup umur dan mereka memutuskan untuk menikah," terang Zio.
"Lalu?"
"Aku berharap kita juga seperti itu, karena aku suka sama kamu, Airish..." lirih Zio.
Airish terdiam, ia tidak tahu apa yang akan ia sampaikan pada cowok disebelah tubuhnya ini.
"Kamu apa-an sih, Zi! Papi sama Bunda kamu kan saling suka. Kalau kita kan enggak."
"Jadi kamu beneran gak suka sama aku? Benci banget, gitu?"
"Ya gak benci juga sih!" kata Airish cuek.
"Terus? Gak suka banget, ya?"
"Gak gitu juga, gimana ya..."
"Ya kalau gitu tandanya kamu juga suka."
Airish diam beberapa saat, ia tak bisa menampik semua perkataan Zio. Kalaupun ia tak suka seharusnya ia bisa menyanggah ucapan Zio namun nyatanya ia hanya diam.
"Janji ya, Rish!" kata Zio penuh harap.
"Zi, perjalanan kita masih panjang, kita juga masih sekolah, kita bakal ngelewati fase lain. Kita akan kuliah dan bertemu orang baru, lalu kita akan bekerja mungkin. Bisa aja kita juga dipisahkan jarak dan waktu, semua itu bisa merubah perasaan seseorang. Jiwa kita juga masih labil, aku yakin seiring berjalannya waktu dan lingkungan baru yang nanti akan kamu temui, lambat laun rasa suka kamu sama aku juga akan terkikis dengan sedirinya. Jadi, aku gak mau menjanjikan apapun," papar Airish bijak.
"Kalau kamu gak bisa berjanji, aku saja yang berjanji. Aku hanya akan menikah dengan kamu. Jika bukan kamu, aku gak mau!" kata Zio yakin.
"Kenapa kamu seyakin itu? Apa kamu sesuka itu sama aku?"
Zio mengangguk mantap dan Airish hanya tersenyum kecil untuk menanggapinya. Bagi Airish, Zio pasti akan mengingkari janjinya apalagi kelak akan banyak gadis lain yang akan ditemui dan dikenal oleh cowok itu.
****
__ADS_1