PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
64 - Dan terjadilah


__ADS_3

Nev sama Raya yang mau malam pertama, tapi kok othor yang gugup 🤣🤣🤣🤣


Happy Reading aja ya, guys❤️


Maafkan, Othor gak pengalaman nulis 21+++ jadi tolong dimaklumi jika kurang🔥😁


Terkadang praktek emang lebih mudah daripada teori🤣


Warning!!! Bocil skip ya yaaa🙏


..._____________...


"Kenapa kita kesini, Nev?" Tanya Raya gugup pada Nev yang mulai mematikan deru mesin mobilnya di slot parkiran sebuah hotel ternama.


"Pertanyaan macam apa itu?" Nev tersenyum miring dan membuka seatbeltnya.


Raya terdiam, dia meneguk salivanya yang terasa kering dengan susah payah.


Nev mendekat ke arahnya, dekat dan sangat dekat, membuat Raya sulit bernafas atau bisa dikatakan jika saat ini Raya sedang menahan nafasnya.


Gugup, itu adalah hal pertama yang Raya rasakan. Namun, ada yang lebih parah dari pada kegugupannya itu, yakni Raya takut jantungnya semakin mencelos-- karena setiap Nev berada didekatnya jantungnya itu akan selalu berdetak diluar batas normal.


"Ng--ngapain?" tanya Raya pada Nev yang sudah dalam jarak tak wajar, karena Raya bahkan bisa mencium aroma aftershave milik Nev.


Nev tiba-tiba sedikit merunduk, membuat Raya semakin tercekat dengan pikiran yang sudah kemana-kemana. Matanya bahkan berkedip-kedip tidak karuan. Tapi, yang dilakukan Nev justru hanya melepaskan seatbelt milik Raya lalu terkekeh didepan wajah wanita itu.


"Kamu pikir aku mau ngapain?" goda Nev dan Raya segera membuang pandangan ke arah luar jendela mobil, karena Nev selalu senang mengerjainya seperti ini.


Nev keluar dari mobil, mengitari sisi mobil dan membukakan pintunya untuk Raya.


"Ayo, turunlah..." kata Nev pelan, seraya mengulurkan tangan pada Raya agar wanita yang telah menjadi istrinya itu menyambutnya.


Raya memberengut, karena senyum jahil di bibir Nev masih tersungging jelas seolah mengejeknya. Tak urung, Raya pun turun juga sembari menyambut uluran tangan Nev itu.


Mereka berjalan memasuki hotel. Karena hari sudah mulai larut, suasana pun tak terlalu ramai. Untunglah, sebab Raya cukup risih melihat pandangan beberapa orang saat melihatnya memasuki hotel dengan gaun pengantin yang masih melekat lengkap ditubuhnya.


Raya masih berpikir keras, kenapa Nev harus membawanya ke hotel sekarang, bukankah mereka punya rumah? Apa malam ini benar-benar akan dihabiskan dihotel hanya berdua saja?


Oh matilah aku... begitulah batin Raya merasakan gugup yang berlebihan. Pasalnya, baru kali ini dia masuk ke hotel bersama seorang pria yang bukan siapa-siapanya. Ah, ralat... pria itu telah menjadi suaminya.


"Come on," Nev tiba-tiba menggandeng tangan Raya, membawanya menuju lift.


Nev menatap Raya yang banyak diam, sesungguhnya Nev tahu jika Raya saat ini pasti sangat gugup-- sama seperti dirinya, tapi Nev mencoba bersikap biasa saja, walau bagaimanapun saat ini dialah yang menjadi pemimpin didepan Raya.


Beberapa menit kemudian, lift yang mengantar mereka pun berhenti dan berdenting tepat di lantai 27. Raya masih diam sembari meremass tangannya sendiri.


"Ayo," Nev kembali menarik tangan Raya dan wanita itu hanya menurut saja bagai kerbau yang dicocok hidungnya.


Mereka menyusuri koridor hotel dan masuk ke dalam satu-satunya kamar yang ada di lorong itu.


Nev menempelkan keycard dan terbukalah pintu kamar president suite yang dipesannya.


"Kamu mau mandi?" Lagi-lagi suara Nev mengejutkan Raya yang masih terbengong didalam kamar dengan ranjang king size itu.


"I-iya," jawab Raya.


"Oke, aku siapkan airnya." kata Nev singkat sembari mengelus pucuk kepala Raya dan berangsur ke pintu pojok yang Raya yakini adalah sebuah bathroom.


Raya segera tersadar dari kebengongannya, dia setengah berlari mengejar Nev yang sudah menghilang disebalik pintu kamar mandi.


"Nev, aku bisa sendiri..." katanya melihat Nev yang sudah memutar kran air panas dekat bathub.

__ADS_1


Nev menoleh demi melihat istrinya itu, "Tak apa, dulu kamu sudah sering menyiapkan air mandiku, ku rasa tak masalah jika sekarang aku yang melakukannya untukmu," jawab Nev sembari membubuhkan beberapa tetes aromatherapi ke dalam bathub.


Raya terdiam, kemudian Nev menuju ke tempat dimana Raya berdiri.


"Sebentar lagi airnya siap, mandilah.." bisik Nev sembari mengerlingkan matanya pada Raya.


Raya memegang dadanya yang semakin berdegup melihat tingkah Nev itu.


"Ka-kamu tidak mandi?" tanya Raya spontan. Dan entah kenapa setelah menanyakan hal itu dia merasa terlalu bodoh karena Nev menjawabnya dengan sangat cepat.


"Memangnya kamu mau mandi bersamaku?" goda Nev dan Raya menyesali pertanyaan bodohnya tadi.


Raya menggigit bibirnya sembari menggeleng kecil.


Nev terkekeh lagi, entah kenapa Raya menangkap bahwa kekehan Nev selalu saja terkesan mengejeknya.


"Mandilah, aku akan menelepon seseorang untuk menyiapkan baju ganti kita," kata Nev beranjak keluar dari area kamar mandi.


Seperginya Nev, barulah Raya bisa bernafas dengan lega. Tapi, itu tak berlangsung lama karena sekarang dia memiliki problem baru.


"Astaga... kenapa gaun ini harus memiliki resleting dibelakang tubuh, kan jadi sulit membukanya..." Raya menepuk jidatnya sendiri.


Beberapa kali Raya mencoba membuka resleting gaunnya sendiri namun tetap sulit, resleting itu hanya turun sepertiganya saja, tidak bisa terbuka seutuhnya.


"Aaaaa... Mama..." jerit Raya tertahan.


Dengan perasaan yang campur aduk, akhirnya Raya mengintip dari sebalik pintu dan hanya menampilkan kepalanya saja untuk memanggil Nev yang dia lihat terduduk di sofa sembari memainkan ponselnya.


"Nev..." panggil Raya lirih.


Nev segera mengadah, mengalihkan atensinya dari ponsel dan menatap Raya yang tampak menyembulkaan kepalanya di ambang pintu.


"Kenapa? Ada masalah?" Nev berjalan mendekat kearah Raya.


Nev tersenyum kecil, kemudian mendorong pintu kamar mandi. Dia meminta Raya berbalik agar bisa mencapai resleting gaun yang ada dibalik punggung wanita itu.


Nev tidak mengucapkan satu patah katapun, dia membantu membuka resleting gaun Raya sampai kancingnya terbuka seluruhnya.


Dan masalah Raya dengan gaunnya pun selesai. Tapi, sekarang Nev lah yang merasa punya masalah baru-- sebab baru saja menatap punggung terbuka milik Raya didepan matanya.


"Sudah," kata Nev dengan suara tercekat menahan has rat.


"Thanks, Nev..." Raya berbalik badan sembari memegangi gaunnya agar tidak melorot jatuh dihadapan Nev.


"Ya-ya sudah, mandilah," kata Nev mencoba mengalihkan pikirannya yang sudah melanglang buana karena melihat punggung seputih salju milik Raya.


Raya mengangguk, kemudian saat Nev keluar dari kamar mandi, dia segera melakukan kegiatan mandinya.


20 menit kemudian, Raya telah siap dengan rutinitas mandinya ditengah malam. Dia memakai jubah mandinya dan menatap Nev yang berselonjor di sofa.


"Nev, baju gantinya sudah ada?" tanya Raya.


Nev menatap Raya yang baru selesai mandi dengan rambut basahnya itu, ditambah lagi Raya hanya mengenakan bathrobe untuk menutupi tubuhnya sebelum mengenakan pakaian gantinya. Demi apapun, sekarang Nev sedang meredam sesuatu dalam dirinya agar tidak menyerang Raya secara tiba-tiba. 😁


"Baju gantinya ada disana," kata Nev singkat sembari membuka ikat pinggangnya sendiri.


Raya melihat kegiatan Nev itu dan menjadi gugup kembali.


"Nev, ka-kamu ma-mau ngapain?" tanya Raya mengulurkan kedua tangan seperti tameng untuk mencegah Nev yang hendak berjalan ke arahnya.


Nev tersenyum miring, "Aku mau mandi, boleh kan?" tanya Nev dengan suaranya yang terdengar parau.

__ADS_1


Raya pun menyadari kekeliruannya, dia sudah berpikir yang tidak-tidak, menyebabkan wajahnya memerah. Tapi kemudian dia mengangguk-anggukkan kepala sebagai jawaban untuk pertanyaan Nev itu.


Nev melewati tubuhnya begitu saja, kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Raya mencari pakaian gantinya yang berada dalam paperbag diatas meja.


Raya menemukan sebuah setelan piyama satin berwarna maroon, syukurlah tu tidak terlalu terbuka-- walaupun hanya dilengkapi celana pendek.


Setelah itu, Raya mulai mengeringkan rambutnya secara manual menggunakan handuk.


Saat Raya ingin memakai baju gantinya, dia bingung sendiri karena keadaan membuatnya harus mengganti baju didalam kamar ini saja, sebab Nev masih berada didalam kamar mandi.


"Baiklah, Nev pasti masih lama," gumamnya pelan sembari membuka ikatan bathrobe nya.


Namun, perhitungan Raya salah kaprah, karena saat bathrobe nya baru saja tertanggal dari tubuh, pintu kamar mandi terbuka dari dalam, membuatnya terlonjak kaget dan menutupi tubuh polosnya dengan sembarangan menggunakan piyama yang berada ditangannya.


Nev keluar dari kamar mandi, mengenakan jubah mandi yang mirip dengan yang tadi digunakan Raya, bedanya mungkin jubah Nev lebih besar.


Nev melihat Raya yang kaku dengan sorot mata gugup dipojok kamar. Dan keadaan Raya? Sangat meresahkan untuk jiwa kelelakian Nev.


"Kamu sudah mendapat baju gantinya?" Nev berjalan mendekat pada Raya yang sadar akan kondisi tubuhnya saat ini.


Habislah aku.. batin Raya.


Raya mengangguki pertanyaan Nev, kedua tangannya tentu tidak bisa menutupi seluruh bagian terbuka dari tubuhnya. Raya tahu jika saat ini Nev pasti bisa melihat kondisinya yang memprihatinkan ini.


Nev semakin mendekat dan membuat posisi Raya yang sudah berada dipojok semakin terpojok.


Raya bersandar di dinding, sementara Nev mengungkung tubuh Raya dengan kedua tangan Nev yang bertumpu di dinding.


Nev menatap Raya secara intens, tapi bukan Raya namanya jika berani membalas tatap mata tajam milik Nev itu.


"Nev, biarkan aku memakai bajuku..." kata Raya sembari memalingkan wajah ke samping.


"Untuk apa dipakai, kalau nanti ku buka lagi, heh.." kata Nev dengan gampangnya.


Raya tercekat sendiri, sepertinya keadaan ini memang harus dihadapinya, karena mau tak mau dia dan Nev memanglah sudah menikah. Jika tidak sekarang, besok atau lusa dia tetap harus menghadapi Nev, bukan?


Baiklah...


Raya pun memberanikan diri untuk menatap mata Nev.


Baru saja Raya ingin mengucapkan sepatah kata, tapi Nev tidak memberinya kesempatan lagi untuk mengelak.


Nev mengecup bibirnya dengan secepat kilat, membuat matanya membola dan tubuhnya hampir limbung dengan serangan buaian yang tiba-tiba itu.


Nev melepaskan ciumannya, menyadari keterkejutan Raya. Kemudian Nev menatap Raya dalam-dalam, Nev meraih kedua tangan Raya yang masih memegang piyama yang belum sempat dipakai.


Nev melepaskan piyama itu dari tangan Raya, membawa tangan Raya untuk melingkar di lehernya.


Dengan satu gerakan, Nev kembali mencium bibir Raya dengan perasaan mendalam yang penuh kasih sayang.


Raya terlarut dalam suasana ini, ciuman Nev melambungkannya, menciptakan jutaan kebahagiaan di sel-sel syarafnya. Menyalurkan has rat di setiap pembuluh darahnya, hingga jutaan kupu-kupu terasa berterbangan didalam perutnya, menggelitiki jiwa yang mendamba pria yang selalu ada dipikirannya.


Dengan jutaan dorongan keinginan dalam tubuhnya, justru Raya semakin mengalungkan tangannya di leher Nev, membuatnya sedikit berjinjit demi mengimbangi tinggi tubuh sang suami.


"Nev..." lirih Raya disela-sela ciuman mereka, tapi Nev tidak mengindahkan itu, justru semakin mengeratkan pelukannya sembari mengelus punggung terbuka milik Raya. Punggung yang sejak tadi lebih dulu menggodanya.


Nev melepas pagu tannya di bibir sang istri, menatap mata Raya lagi untuk kesekian kalinya.


"I love you," kata Nev lirih dengan wajahnya yang juga sudah memerah.

__ADS_1


"Me too," kata Raya dan Nev menggendong tubuh Raya menuju ranjangnya.


...Bersambung ......


__ADS_2