PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
59 - Cocoknya jadi menantu


__ADS_3

Nev menunggu kepulangan Raya sembari mengobrol santai bersama Sahara di teras rumah. Mereka membicarakan tentang pekerjaan dan keseharian Nev.


Sahara menilai Nev adalah lelaki yang mandiri dan pintar. Nev juga memiliki kehidupan yang mapan, dan tak lupa, bonusnya adalah Nev mempunyai visual yang menawan.


"Jadi kamu sempat mengalami kelumpuhan kaki, Nev?" tanya Sahara dan Nev mengangguk.


"Sekarang kamu sudah sehat itu sebuah keajaiban sekali... apa kamu berobat ke Luar Negeri?" tanya Sahara dengan respon yang terlihat antusias.


"Saya tidak berobat ke Luar Negeri, Tant. Syukurnya, kelumpuhan saya itu memang tidak pemanen, jadi bisa sembuh sewaktu-waktu. Saya juga tidak menyangka sekarang telah sehat kembali, karena saya sempat merasa pesimis untuk sembuh,"


"Kamu masih muda, jangan kehilangan kepercayaan diri," kata Sahara menyemangati Nev.


Nev tersenyum sekilas dengan ucapan Sahara.


"Oh iya, ngomong-ngomong kamu sudah menikah?" tanya Sahara lagi.


Saat Nev ingin menjawab, ternyata Raya dan Adrian telah tiba dirumah-- secara otomatis perhatiannya dan Sahara pun tertuju ke arah pagar rumah-- dimana Raya tengah memasuki pekarangan rumah bersama Adrian yang tampak baru selesai membayar argo taxi.


"Nev..." kata Raya dengan sikap syok melihat Nev berada diteras rumah bersama sang Mama. Raya takut Nev melakukan hal yanb tidak-tidak untuk membatalkan pernikahannya dengan Reka. Dikepala Raya saat ini penuh kecurigaan atas keberadaan Nev dirumahnya.


Nev tersenyum lembut menatap Raya yanv tampak diam.


"Ada tamu, Ma?" sapa Adrian dibelakang tubuh Raya, lalu langsung menuju ke teras untuk melihat Nev lebih dekat.


"Gimana, Pa? Apa sudah selesai urusannya?" tanya Sahara pada suaminya.


Adrian mengangguk, "Siapa, Ma?" tanya Adrian merujuk pada seorang pria muda yang ada diantara mereka.


"Ini Nev, Pa. Itu loh, yang waktu itu Mama ceritain pernah nolongin Mama waktu pulang dari notaris," kata Sahara dan Adrian mengulurkan tangannya pada Nev dengan senyuman ramah.


"Saya Nev, Pak." kata Nev menyambut uluran tangan Adrian.


"Saya Adrian, Terima kasih ya kamu menolong istri saya tempo hari," kata Adrian.


Nev mengangguk sopan.


"Dan ternyata Nev mengenal Raya loh, Pa," kata Sahara dan ketiganya melihat ke arah Raya yang berdiri mematung diambang teras tanpa suara.


"Jadi kamu kesini mau menemui Raya?" goda Adrian dengan senyuman melengkung.


Nev tertunduk malu sembari menggosok tengkuknya sendiri.


"Raya, mau sampai kapan berdiri disana?" kata Adrian menyindir sikap bengong Raya.

__ADS_1


"Iya, Pa." kata Raya tersadar dan buru-buru masuk ke dalam rumah tanpa menyapa Nev lebih lanjut, dia tahu cerita mengenai seorang pria yang menolong sang Mama dari aksi pencopetan, tapi dia tidak menyangka jika pria itu adalah Nev.


Nev tertegun melihat sikap Raya yang memasuki rumah begitu saja. Apa ada yang salah?


"Mama meminta Nev makan siang disini bersama kita, Pa." kata Sahara pada Adrian.


"Ya, ya, bagus itu. Ayo masuk Nev. kita makan siang bersama-sama," ucap pria setengah baya itu sembari mengiringi Nev untuk masuk kedalam rumah.


Sebenarnya Nev merasa teramat segan dan canggung, dia lebih memilih menemui klien atau investor yang arrogant-- ketimbang bertemu kedua orangtua Raya dalam kondisi seperti ini. Bagaimana tidak canggung, dia bahkan tidak mempersiapkan apapun untuk menemui kedua orangtua Raya.


Jika saja Nev tahu kejadiannya akan begini, mungkin dia akan membawakan banyak bingkisan sebagai bentuk penyapaan yang sopan untuk pertemuan pertamanya dengan orangtua Raya.


Nev terlalu kalut, sehingga menghampiri rumah Raya tanpa berpikir ke arah sini. Apalagi dia juga tak menyangka bahwa wanita yang pernah ditolongnya adalah Mama Raya. Meskipun kejadian itu membuatnya punya nilai plus dimata Sahara, tapi tetap saja bagi Nev itu bukanlah hal yang patut dibanggakan.


Sampai diruang makan, Nev melihat Raya yang tengah sibuk menyusun piring di meja makan. Raya juga mencuri-curi pandang untuk menatapnya, namun tidak ada kata atau kalimat yang keluar dari bibir wanita itu. Raya tampak tetap fokus dengan kegiatannya.


"Ayo silahkan duduk, Nev." kata Adrian yang sudah menarik kursi, diikuti oleh Sahara disebelahnya.


Nev mengikuti jejak pria paruh baya itu-- dengan duduk diseberangnya. Bersamaan dengan itu, Raya juga ikut duduk di satu-satunya kursi makan yang tersisa yakni disebelah Nev.


Raya gegas mengambilkan nasi untuk kedua orangtuanya. Sehingga, semuanya memang makan dengan nasi yang diambilkan oleh Raya, termasuk Nev.


"Terima kasih," kata Nev pada Raya yang mengangsurkan piring berisi nasi padanya.


Baru kali ini Nev merasa canggung untuk makan bersama Raya, mungkin karena diseberangnya ada kedua orangtua Raya yang tengah memperhatikan interaksinya dengan Raya. Entahlah.


"Briliant Group, Pak." kata Nev.


"Oh berarti mengenal Raya disana, ya?" tanya Adrian lagi. "Tempo hari ada seorang pria yang mengunjungi saya katanya rekan kerja Raya di Briliant Group, dia menanyakan alamat rumah Raya pada saya. Dia sampai datang ke polres, loh," pungkasnya.


"Siapa?" tanya Nev heran.


"Siapa ya namanya, lupa saya. Rian atau Dian, kamu kenal?"


Nev tersenyum kecil, menyadari yang dimaksud Adrian adalah Bian.


"Iya, Pak. Mungkin maksud Bapak itu Bian."


"Yah, itu.... Bian, tapi kenapa yang datang kesini justru kamu bukan si Bian? Seingat saya yang nanya alamat rumah kemarin itu ya si Bian Bian itu lah," kata Adrian terkekeh.


"Iya, Pak. Sebelumnya Bian sudah ingin kesini, tapi saya mewakilinya," kilah Nev.


Adrian pun manggut-manggut mengerti.

__ADS_1


Sementara Raya sudah tahu darimana awalnya Nev tahu kediaman barunya, tentulah dari Bian yang menyelidiki sampai bertandang ke Polres.


"Jangan panggil 'Pak'. Bukannya menolak tua, tapi saya jadi merasa kamu seperti asisten saya, gak cocok..." kelakar Adrian.


"Jadi cocoknya apa, Pa?" timpal Sahara serius.


"Cocoknya sih jadi menantu," kata Adrian berseloroh.


Dan secara bersamaan Raya dan Nev tersedak makanan mereka masing-masing.


Sahara dan Adrian saling tatap dengan penuh arti.


"Maksud Mama, cocoknya dipanggil apa, gitu... bukan cocoknya jadi apa," kata Sahara menjelaskan kekeliruan kalimatnya.


Adrian justru terkekeh. "Hahaha, Maaf-maaf, Nev. Saya salah mengartikan ucapan Mama Raya, tadi. Panggil 'Om' saja, ya." pungkasnya.


Nev ikut terkekeh, "Memangnya boleh kalau saya jadi menantu, Om?" tanya Nev to the point dan justru membahas hal yang seharusnya tidak dibahas sejak awal tadi.


Raya menyikut Nev dan Nev hanya tersenyum menawan tanpa menoleh ke arah Raya, membuat Raya tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menundukkan kepala sambil memijat kening. Duh...


"Ya boleh saja, kalau Anak gadis Om ada dua. Soalnya Raya sudah bertunangan, Nev. Hahaha," Ternyata Adrian menjawab Nev dengan ikut tertawa, semacam berkelakar.


Nev tersenyum kecut menyadari ucapan Adrian yang ada benarnya, bahwa Raya memang telah bertunangan, kan?


"Jadi Raya sudah bertunangan, Om?" tanya Nev berlagak bodoh sembari menatap Raya dengan tatapan intinimdasinya.


"Iya, Nev. Kamu telat..." Adrian tersenyum kecil, lalu mengambil gelas air dan meminum itu.


Nev merasa tenggorokannya ikut kering, dia meraih gelas dan ikut meminum air sampai tandas dalam sekali tegukan.


"Nanti kamu datang ke pernikahan Raya ya, Nev. Berikan alamat kamu, nanti akan ada yang mengantar undangannya kesana," kata Sahara menimpali-- sembari tersenyum.


"Hmm, saya tidak bisa berjanji, Tant..." kata Nev yang tak bisa menutupi rasa sedih diraut wajah dan nada suaranya.


Mereka melanjutkan acara makan sampai selesai. Seusai makan, Nev ingin segera pulang karena bertemu Raya hari ini sudah cukup membuatnya bahagia walau Raya terkesan menutup diri dan tak banyak bicara untuk menanggapinya.


Nev pun menjaga sikap didepan kedua orangtua Raya, dia tidak ingin memaksakan untuk bicara empat mata dengan Raya.


Dan melalui kunjungannya kali ini kerumah Raya, akhirnya dia bisa tahu bahwa Raya tetap tidak membatalkan pernikahan itu. Raya dan Reka akan tetap menikah, itulah kesimpulan yang dia dapatkan hari ini.


Ternyata Raya tak mengindahkan peringatan Nev tempo hari, buktinya Raya tidak mengatakan pada orangtuanya tentang pembatalan itu.


Raya benar-benar tak mau mengecewakan kedua orangtuanya, itulah yang Nev pahami disini.

__ADS_1


Jika keputusan Raya begitu, apa lagi yang harus Nev perbuat? Haruskah dia benar-benar datang ke pernikahan Raya nanti?


...Bersambung......


__ADS_2