PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
90 - Meratapi


__ADS_3

"Cepatlah, Bian!" kata Nev dari jok belakang pada Bian yang sekarang mengemudikan mobilnya. Padahal mobil itu sudah melaju dengan kecepatan diatas rata-rata, tapi Nev tetap meminta Bian untuk mengemudi lebih kencang lagi.


Jangan tanyakan perasaan Nev saat ini, karena amarah, kesedihan, penyesalan dan kekalutan bergabung menjadi satu dan berputar-putar dikepalanya.


Nev memandangi tubuh lemah Raya yang berada dipangkuannya, dia membelai wajah sang istri sambil menahan isakannya.


"Bertahan, ya..." lirihnya tercekat. Tak tahu harus mengatakan apa lagi karena semangatnya pun sudah terbang entah kemana.


"Bian! Kau bisa menyetir, tidak? Atau kau turun saja disini !!!" Akhirnya Nev hanya bisa melampiaskan keputus-asaannya pada Bian. Untungnya Bian hanya diam tak menjawab, lebih memilih fokus berkendara.


Mobil itu tiba di Rumah Sakit, Nev tidak membutuhkan brankar karena dia sendiri yang menggendong tubuh Raya lalu membawanya langsung ke ruang IGD. Sebelumnya Bian sudah menelepon Adrian dan Dokter Obgyn yang biasa menangani Raya, sehingga kedatangan mereka sudah ditunggu disana.


Saat tubuh Raya sudah berada di ruang IGD untuk mendapat tindakan, Nev beserta Adrian diminta untuk menunggu diluar ruangan.


Nev terduduk dilantai dengan mata yang basah, dia menyugar rambutnya dengan kasar lalu mencengkram kepalanya sendiri. Penampilannya sekarang jauh dari kata rapi, bahkan kemeja yang ia gunakan tampak lusuh bercampur darah istrinya.


"Maafkan aku, Pa..." lirih Nev dengan tubuhnya yang masih bergetar hebat. Dia menunduk dengan kedua tangan meremass kepala.


"Nev..." akhirnya Adrian menghampiri Nev dan berdiri disamping tubuh menantunya yang telah luruh di lantai. "Kejadian ini diluar dugaan kita semua, tidak ada yang mau Raya dalam keadaan seperti ini," imbuhnya bijak.


Nev mengadah pada sang mertua.


"Ampuni aku, Pa. Aku belum bisa menjaga Raya dengan baik." Lalu Nev bersimpuh di kaki Adrian yang membuat mertuanya itu terhenyak kaget.


"Nev, bangun... jangan seperti ini, Papa tidak menyalahkanmu," Adrian membantu Nev berdiri dengan memegang kedua pundak pria itu.


"Lebih baik kita doakan yang terbaik untuk Raya, semoga Raya dan kandungannya tidak apa-apa. Kau juga harus semangat. Dan harus kuat menerima apapun yang akan terjadi ..." lirih Adrian mencoba lebih tegar daripada menantunya.


Nev menyeka sudut matanya yang basah. "Iya, Pa. Bagaimana kondisi Mama?" tanyanya kemudian.


"Mama belum tahu mengenai ini, Papa belum berani mengatakannya karena kondisi Mama belum stabil, apalagi saat tahu Raya tidak ada diruangannya tadi. Tapi, yang cukup Mama ketahui sekarang adalah kamu yang sudah menemukan Raya, itu saja pasti sudah cukup membuat Mama lega," terang Adrian.


Nev mengangguk. Bersamaan dengan itu, dokter pun keluar dari ruangan IGD dan menatapnya bergantian dengan Adrian.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" sambut Nev langsung.

__ADS_1


Dokter menatap Nev dengan sendu. "Saat ini kondisi Ibu Raya sangat lemah dan juga ... Ibu Raya mengalami keguguran karena sempat mengalami pendarahan hebat dan syok yang berlebihan," terang Dokter dengan wajah iba.


"Setelah ini, kami akan melakukan tindakan kuretase, karena ini keguguran yang tak terhindarkan, maka ada pendarahan dan mulut rahim juga terbuka. Jaringan kehamilan masih utuh di dalam rahim tapi kehamilannya sudah tidak bisa dipertahankan dan perlu dikeluarkan," imbuhnya.


Nev terdiam, rasanya pandangannya pun sudah tak fokus lagi, entah kenapa pernyataan Dokter semakin menambah nyeri di hatinya yang sudah terkoyak.


Begitu pula dengan Adrian, Papa Raya itu tampak terhenyak mendengar ulasan yang Dokter berikan, raut wajahnya dipenuhi kabut kesedihan dan khawatir yang terpancar jelas.


"A-apa saya ... sudah bisa menemui istri saya? Apa dia sudah sadar?" tanya Nev dengan suaranya yang lemah dan tercekat.


"Ibu Raya sudah sadar, tapi kami harus segera menghentikan pendarahannya dengan proses kuret. Jadi, mohon maaf jika saat ini Bapak belum bisa menemuinya. Saya permisi dulu, kami akan menyiapkan keperluan untuk proses kuret nya sekarang." Dokter itu pun berlalu.


Setelah beberapa saat, proses kuretase pada Raya pun dilakukan. Proses itu tak memerlukan waktu yang terlalu lama.


Nev dan Adrian menunggui didepan ruangan, sementara Bian undur diri untuk mengurus keperluan di kantor polisi karena tadi dialah selaku pelapor atas tindakan Feli dan Roro.


Beberapa waktu kemudian, Dokter mengatakan jika Raya sudah bisa ditemui karena proses kuretase sudah selesai dilakukan.


Adrian pun membiarkan Nev yang masuk lebih dulu menemui Raya.


Raya memang sudah sadar tapi dia tampak diam, dia menatap Nev sesaat, kemudian pandangannya lurus kearah yang lain.


"Maafkan aku, ini semua karenaku.." kata Nev penuh penyesalan disela-sela pelukannya pada Raya.


"Sayang, apa yang kamu rasakan sekarang? Ayo marahlah padaku, jangan diam seperti ini..." kata Nev mengiba.


Raya meneteskan airmatanya, namun tak juga menjawab ucapan sang suami. Pikirannnya kosong sejak mengetahui bahwa dia mengalami keguguran.


Nev menatap Raya dalam-dalam. "Apa lagi yang dilakukan Feli ke kamu? Apa dia memukul kamu?" Nev kembali terisak, entah kenapa dia menjadi pria cengeng yang gampang menangis sekarang.


Mendengar nama Feli, akhirnya Raya menyuarakan pikirannya.


"Apa salahku sama Feli?" gumam Raya pelan.


"Ya?" Nev mendengar gumaman Raya yang tak begitu jelas.

__ADS_1


"Kenapa Feli begitu membenciku? Kenapa dia membuatku kehilangan calon anakku? Kenapa, Nev? Kenapa?" tiba-tiba Raya histeris dan mendorong tubuh Nev menjauh.


"Apa salahku sama Feli?" tanya Raya lagi, ia menatap nyalang pada Nev.


Nev tahu sekarang perasaan istrinya tengah terguncang, dia berusaha memeluk Raya lagi demi memberi wanitanya ketenangan.


Raya terisak didalam dekapan suaminya, dia memukul-mukul dada Nev dengan beruntun dan Nev membiarkan itu.


Setelah hening beberapa saat, Raya mulai lebih tenang dan Nev menangkup kedua sisi wajah istrinya.


"Sayang, dengarkan aku ... kamu harus kuat, ya. Apapun yang terjadi sekarang adalah cobaan untuk kita berdua. Ini ujian, kita harus bisa melewatinya supaya kita menjadi lebih baik lagi. Kita harus saling menguatkan satu sama lain, aku juga terpukul dengan semua ini. Tapi aku akan lebih sedih jika kamu terus seperti ini," kata Nev bijak.


"Tapi Nev, anakku... dia seharusnya masih ada disini.." kata Raya lirih sembari meraba perutnya sendiri.


Nev ikut membelai perut Raya, kemudian menatap Raya lekat. "Sekarang dia sudah di surga, Sayang... percayalah pasti ini yang terbaik untuknya," ucapnya dengan lembut.


Airmata Raya yang menganak sungai di pelupuk mata kembali membanjiri pipinya sendiri. Nev mengusap airmata Raya dengan ibu jarinya lalu mengecup pucuk kepala sang istri dengan penuh perasaan.


"Walau aku tahu ini akan sulit, tapi aku tetap akan mengatakannya... ikhlas ya, kita berdua harus mengikhlaskannya..." kata Nev dan kembali membawa tubuh Raya kedalam dekapannya.


Beberapa menit kemudian, Adrian ikut masuk untuk melihat keadaan Raya di dalam ruangan.


"Papa..." lirih Raya menyadari kehadiran sang Ayah.


Adrian pun memaksakan untuk tersenyum dihadapan Raya. "Papa lega kamu sudah berkumpul lagi dengan kami, Nak," ucapnya.


"Tapi ... janinnya--"


"Ikhlas ya, Nak..." potong Adrian cepat, kemudian menghampiri sisi ranjang. Nev beringsut menjauh dan Adrian menggantikan Nev untuk memeluk tubuh puteri semata wayangnya.


"Percayalah, pasti akan ada hal baik yang akan menggantikannya, Nak. Hikmah dibalik semua ini sudah menanti kamu dihari selanjutnya. Kamu harus tetap tegar ya," ucap Adrian sembari mengelus surai rambut Raya yang tergerai.


Raya mengangguk, sedikit banyak ucapan suami dan Papanya cukup bisa menenangkan pikirannya. Walau untuk ikhlas masih terasa sangat sulit.


...Bersambung ......

__ADS_1


...Jangan lupa tekan Love, Like, Vote dan berikan hadiah. Ketik komentar yang berkesan ya🙏♥️♥️♥️♥️...


__ADS_2