PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Ingin Melepaskan


__ADS_3

"Aarav, kamu marah?" tanya Rahelsa yang sudah berada dibelakang kursi roda Aarav.


"Marah? Kenapa aku harus marah?" Aarav balik bertanya sembari tertawa sumbang. "Apa aku berhak marah? Kamu bebas untuk dekat dengan siapapun. Aku tidak berhak mengatur zona pertemananmu," sambungnya.


"Rav... lebih baik kita pulang saja, ya."


"Kenapa? Kamu malu karena kedatanganku ke kampus kamu?"


Rahelsa menghela nafas sejenak, kemudian dia kembali berjongkok didepan kursi roda Aarav. Lelaki itu membuang pandangan ke arah samping dan Rahelsa menggenggam kedua tangan Aarav.


"Aku gak punya hubungan apa-apa dengan cowok manapun, kecuali sama kamu. Kamu jangan marah lagi ya."


"Aku gak marah."


"Cemburu?" terka Rahelsa.


"Els...." Aarav menatap Rahelsa sembari berdecak lidah.


"Iya, iya... kamu mana mungkin cemburu sama aku."


Aarav terdiam beberapa saat demi menatapi Rahelsa yang berujar demikian.


Melihat Aarav diam, Rahelsa pun kembali mengajaknya bicara. "Daripada diem-dieman... kita pulang aja, ya."


"Aku bosan di rumah." Aarav masih menatap Rahelsa lekat.


"Oke, kamu mau kemana? Aku akan temani kemanapun kamu mau."


"Yakin? Apa gak malu jalan sama aku?"


"Kamu ngomong apa, sih? Aku justru senang bisa jalan bareng kamu... kita jarang bisa seperti ini." Rahelsa tertunduk sembari melepaskan tangan Aarav secara perlahan.


"Kalau kamu senang, ayo kita pergi sekarang."


______


Aarav dan Rahelsa pergi bersama dengan mobil yang dikendarai gadis itu. Hari beranjak sore saat mereka tiba disebuah tempat yang Aarav tunjukkan.


"Ini tempat apa, Aarav?" tanya Rahelsa saat mereka tiba disebuah bangunan berdesain klasik.


"Ini tempat diadakannya pameran lukisan," kata Aarav sembari mengeluarkan secarik surat undangan sebagai akses masuk ke dalam gallery lukisan yang ia maksudkan.


"Ternyata kamu mau mengajak aku datang ke pameran ini bersama-sama," gumam Rahelsa, ia tersenyum cantik, tidak pernah menyangka jika Aarav mengajaknya ke gallery seperti ini.

__ADS_1


Rahelsa tertegun beberapa saat, sampai Aarav menyentuh lengannya dengan jari telunjuk lelaki itu. "Kok melamun? Ayo bantu aku!" katanya tersenyum kecil.


Gadis itu tersadar. "Eh... iya," jawabnya seraya membuka seatbelt, lalu berlanjut membantu Aarav turun dari mobil hingga lelaki itu menaiki kursi rodanya kembali.


"Kayaknya aku salah kostum deh. Tahu begini tadi aku bawa gaun atau dress yang cocok untuk menghadiri undangan ini," gumam Rahelsa sembari memperhatikan penampilannya yang hanya mengenakan blus sederhana, berbanding terbalik dengan penampilan Aarav yang memang tampak rapi dan klimis. Ah pantas saja... ternyata kesini Aarav mengajaknya.


"Kamu pakai apa aja tetap cantik, Els..." kata Aarav sambil lalu.


Rahelsa terpana, apa ia tidak salah dengar tadi? Aarav memujinya cantik? Rasanya ia ingin berjoget kegirangan, tapi ia cukup sadar situasi dan kondisi. Dan sekarang ia pun harus mengejar Aarav yang sudah mendorong kursi roda sampai di ambang pintu masuk.


Mereka mulai masuk setelah menyerahkan barcode undangan pameran di Gallery tersebut.


"Kenapa kamu mengajak aku kesini? Apa kamu tertarik dengan lukisan?" tanya Rahelsa.


"Ya, beberapa tahun ini aku mendalami seni lukis. Belajar secara otodidak."


"Aku kok gak pernah tahu ya." Rahelsa mencebik, merasa melewatkan sesuatu yang Aarav gemari.


Aarav tersenyum tipis. "Karena sejak pindah kesini dan kondisiku mulai membaik...aku gak punya kesibukan apapun, sementara kamu kan sibuk sekolah terus dilanjut sibuk daftar kuliah, ditambah lagi kamu juga udah jarang kunjungi aku sekarang."


"Maaf..."


"Maaf kenapa?"


"Maaf karena aku melewatkan hal ini, maaf juga karena aku jarang mengunjungi kamu akhir-akhir ini."


Mereka melihat beberapa lukisan yang menampilkan berbagai gaya dan seni luar biasa. Sampai akhirnya mereka tiba disebuah koridor yanv cukup lengang.


"Kamu suka melukis apa?" tanya Rahelsa.


"Aku suka lukisan abstrak kayak gini..." Aarav menunjuk lukisan yang sedang dia tatapi, lukisan itu berbentuk mata lentik, seperti mata wanita dan didalam lensa mata itu terdapat seseorang, sulit untuk diartikan karena lukisan itu seperti memiliki kiasan tersendiri-- semacam rahasia yang dipendam oleh pelukisnya.


"Bagus, tapi aku gak bisa mengartikan maksud lukisan ini." Rahelsa tersenyum kecil.


"Dari sudut pandangku yang masih amatir, lukisan ini sepertinya mengatakan bahwa mata adalah jendela hati."


"Maksudnya?"


"Kalau kamu ingin tahu isi hati seseorang, kamu bisa melihatnya lewat jendela hati orang tersebut. Dari matanya!" jelas Aarav.


Rahelsa menyengir. "Gitu, ya? Kalau gitu... coba kamu bilang isi hati aku... kamu perhatikan jawabannya yang ada dimata aku!" kelakar Rahelsa sambil terkikik.


"Aku gak perlu memperhatikannya, Els," kata Aarav mengulumm senyum.

__ADS_1


"Kenapa?" Rahelsa heran.


"Karena tanpa diperhatikan udah kelihatan kalau dimata kamu itu ada..."


"Ada apa?"


"Ada bola matanya!" jawab Aarav sambil terkekeh, Rahelsa pun manyun.


"Coba sekarang giliran kamu yang lihat dimata aku..." Aarav menuntun tangan Rahelsa agar memegang kedua sisi wajahnya. Sebenarnya Rahelsa canggung dengan hal ini, tapi ia juga ingin memastikan apa isi hati Aarav, sehingga ia tidak menolak prilaku Aarav itu.


Kini, kedua tangan Rahelsa berada dikiri-kanan pipi Aarav sembari menatap netra kecokelatan pria itu. Jantungnya terasa bermanufer dan ingin mencelos-- dibawah intimidasi tatapan Aarav yang terasa menghujamnya.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Aarav serius.


"Aku gak tahu," kata Rahelsa sembari mengalihkan pandangan matanya. Ia tidak bisa berlama-lama menatap Aarav dalam posisi yang terbilang intens seperti ini. Apalagi dikoridor yang mereka kunjungi sekarang, kini hanya ada mereka berdua saja, entah kemana tamu yang lainnya, sehingga dunia terasa terhenti disini bagi Rahelsa.


"Bilang dong apa yang kamu lihat!" desak Aarav.


"Aku takut salah mengartikan," kata Rahelsa menatap ke arah lantai.


"Els... dimata aku, kamu bisa mendapat jawaban tentang perasaan aku."


Rahelsa mengedipkan matanya, mencerna kalimat Aarav.


"... aku sayang sama kamu. Kamu bisa melihat itu dimata aku. Aku gak membatalkan rencana pernikahan kita karena aku juga menginginkannya," kata Aarav terus terang.


"...tapi, aku gak mau kamu menyesali semuanya dikemudian hari. Aku gak bisa memberi kamu apapun. Aku juga gak tahu kapan aku sembuh. Aku.... gak pantas untuk kamu, Els. Karena rasa sayangku yang begitu besar sama kamu itulah ... aku mau melepaskan kamu agar kamu bisa bahagia bersama orang lain," imbuh Aarav.


Tanpa bisa dikendalikan, airmata Rahelsa menitik begitu saja, baru kali ini ia merasa sikap Aarav begitu hangat padanya. Dan baru sekarang pula ia tahu perasaan lelaki ini terhadapnya. Ia merasa terharu, tapi kenapa ucapan jujur Aarav justru membuatnya bersedih dan menangis.


"Jadi, kamu benar-benar mau melepas aku? Jika kamu memang menyayangi aku seharusnya kamu gak ngelakuin ini, Rav!" kata Rahelsa terisak.


"Sebenarnya aku gak mau mengatakan hal ini. Aku lebih memilih kamu membenci aku saja. Tapi, aku rasa kamu harus tahu bahwa aku ngelakuin ini karena aku sayang sama kamu..."


Rahelsa menggeleng. "Aku terima resikonya, Rav. Apapun yang terjadi meski entah kapan kamu sembuh... aku makin gak bisa ngelepas kamu setelah tahu semua ini."


"Mungkin kamu bisa bilang itu sekarang, kamu bisa nerima aku sekarang. Tapi, dikedepan hari, seiring berjalannya waktu kamu akan bosan melewati hari bersama pria lumpuh seperti aku."


"Enggak... aku akan menerima kamu Aarav!" tegas Rahelsa sambil menangis.


"Carilah laki-laki yang bisa melindungi kamu. Bukan lelaki seperti aku yang justru meminta perlindungan kamu."


Rahelsa terduduk, dia meletakkan kepalanya dipangkuan Aarav sambil menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Kamu udah tahu segalanya, sekarang saatnya kita saling melepaskan. Aku harap kamu ngerti bahwa aku ngelakuin ini karena aku sayang sama kamu, aku mau kamu dapat yang terbaik dan itu bukan aku." Aarav mengelus rambut Rahelsa yang berada dipangkuannya.


******


__ADS_2