
Selama masa kehamilan, bukan hanya Raya yang dimanjakan oleh seluruh keluarga, tetapi suami Raya yang telah mendapat predikat 'si Tuan Manja' pun semakin manja saja.
Jika Raya dibelikan sesuatu oleh Nenek, Nev selalu ingin juga dan tidak mau kalah. Justru terkadang Raya sampai merasa bahwa suaminya telah menjadi saingannya sendiri.
Namun, kali ini Raya juga dituntut untuk bersabar dengan kelakuan absurd Nev karena walau bagaimanapun Nev seperti itu juga karena terlalu simpati terhadap kehamilan yang sedang Raya alami.
Yang paling membuat Raya kesal ialah saat orang lain yang mengunjunginya membawakan oleh-oleh berupa makanan. Bukan apa-apa, tentu Raya senang dengan hal itu. Tetapi, Nev selalu minta dibawakan hal yang sama seperti yang diperuntukkan untuk Raya.
Oke, Raya bisa menerima itu juga. Sayangnya, rasa kesal itu terbentuk tatkala Nev yang sudah meminta dibawakan panganan, justru tak jadi menyentuh secuilpun makanan itu lalu meminta Raya yang menghabiskan semua sekaligus.
Seperti saat ini, Sahara sengaja mengirimkan soto medan untuk Raya dan Nev ikut-ikutan minta makanan yang sama.
Sahara yang paham kondisi Nev pun membuatkan porsi jumbo untuk dimakan Raya dan Nev berbarengan. Tapi ketika makanan itu sampai dirumah lewat jasa kurir, Raya lah yang dipaksa Nev untuk menghabiskannya karena Nev tidak berselera sama sekali.
"Ya sudah, aku bagi ke Yana dan Bi Asih saja..." ucap Raya karena merasa tak akan sanggup menghabiskan semuanya.
Nev menggeleng. "Kamu yang harus habiskan itu, karena itu pesanan aku dan aku mau yang kamu mewakili aku untuk memakannya," kata Nev dengan wajah tak berdosa.
"Aku gak sanggup ngabisinnya, Nev!" protes Raya berdecak kesal.
Nev menatapnya serius. "Kamu harus ingat, anak kita ada tiga... tiga! Mereka harus kebagian semua dan gak boleh berebut, gak boleh juga sampai kekurangan!" ucap Nev dengan mata berkaca-kaca, berharap Raya tersentuh dengan ucapannya itu.
Mungkin sekarang badan Raya sudah tak berbentuk lagi, karena selain hamil triplets, porsi makannya pun terpaksa bertambah dan menjadi lebih banyak.
__ADS_1
"Kamu mengerjai aku, Nev!" ucap Raya berdecak lidah dan Nev menggeleng lemah seolah tidak melakukan itu dengan sengaja.
Hari-hari berganti dan masa-masa kehamilan simpatik yang di derita Nev lambat-laun mulai menghilang.
Kehamilan Raya memasuki bulan ke lima dan perutnya yang hamil kembar tiga itu justru sudah terlihat sebesar kehamilan 9 bulan.
Raya kewalahan untuk menopang tubuhnya dan terkadang membuatnya tak percaya diri didepan suaminya.
"Nev, aku benar-benar seperti angka 8 sekarang," ucapnya didepan cermin yang memperlihatkan seluruh tubuhnya.
Nev terkekeh pelan, kemudian berjalan kearah Raya dan memeluk tubuh bigsize itu dari belakang.
"Mau kamu seperti angka 8 atau angka 100 sekalipun, aku gak peduli. Yang aku pedulikan adalah kesehatan kamu dan calon anak-anak kita," kata Nev dengan senyuman lebar.
"Tapi, Nev... kalau sehabis melahirkan badanku tidak bisa kembali seperti semula, bagaimana?" keluh Raya dengan bibir mencebik.
Raya menyerbu Nev dengan banyak pukulan dibadan pria itu, tapi tetap saja Nev seakan tak bergeming dengan ulah yang Raya lakukan terhadap tubuh tegapnya.
"Coba lihat penampilan kamu, kamu semakin matang dan tampan diusia kamu sekarang. Sedangkan aku? Aku bakal jadi wanita yang tidak sempurna, Nev." Raya mengadah pada Nev yang memiliki tinggi lebih menjulang dari pada tubuh sang istri.
Nev mengusak rambut Raya sekilas. "Siapa bilang? Kamu itu istri yang paling sempurna untuk aku. Kalaupun nanti berat badan kamu gak balik seperti semula, no problem... dimata aku kamu tetap wanita yang sama."
__ADS_1
"Tapi Nev..."
"Tutup pembahasan tentang ini, ya. Gak semua hal dinilai dari bobot tubuh, salah satunya perasaan aku. Oke?"
Raya cemberut dengan bibir yang dimajukan beberapa senti, membuat Nev terkekeh kemudian dan melayangkan kecupan bertubi-tubi di pipi chubby sang istri.
"Aku berangkat meeting dulu ya, kalau meetingnya sudah selesai aku langsung pulang ke rumah."
Raya mengangguk namun tetap dengan wajah ditekuk.
"Beri aku senyuman!" titah Nev sebelum benar-benar beranjak.
Raya memaksakan senyumnya dihadapan sang suami.
"Good girl..." Nev mengacak rambut Raya lagi kemudian beralih ke perut istrinya.
"Hai... kalian sedang apa? Jagain Mama ya, Papa pergi sebentar. Sebentar saja, cup ... cup ... cup ..."
Nev mengecup perut Raya tiga kali sebagai isyarat memberi ciuman pada ketiga anaknya.
Seperginya Nev, Raya kembali pada pekerjaannya yakni mendesain gambar interior ruangan dan rumah.
Selama masa kehamilan, profesi idaman Raya sebagai arsitek terpaksa harus ditunda dulu, selain karena perintah Nev yang overprotect, Raya juga sangat berhati-hati dalam menjaga kehamilannya kali ini, karena dia takut gagal lagi.
__ADS_1
Jadi, Raya pun memutuskan tetap menggambar desain dirumah. Sudah cukup banyak desain yang ditimbunnya. Tapi menurutnya tidak akan ada yang sia-sia, karena gambar-gambar itu nantinya bisa ia jadikan sebuah refrensi kepada para konsumen yang ingin memakai jasanya sebagai arsitek.
...Next? Berikan hadiah dulu yuk... othor butuh kopi yang buanyakk... hehehe kode nih😅😅😅...