PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Bertemu lagi


__ADS_3

"Hai Airish, nice to meet you," sapa Rolland sambil menyunggingkan senyum tipis.


Airish tergugu ditempatnya, masih urung untuk melangkah. Sampai suara Dosennya kembali terdengar.


"Airish, are you oke?"


"Ya, ya."


"Ayo sapa Mr. Rolland! Dia baru saja menyapamu."


"Huh? Ya hallo, Mr..." Airish tak berani menatap wajah pria itu. Rolland terbilang tampan diusianya yang memang tak muda lagi. Tapi, Airish sama sekali tidak tertarik dengan wajah yang mampu memikat banyak gadis itu. Airish tahu bahwa pria ini sangat berbahaya, bahkan sudah sampai melacak kampusnya dan datang sendiri untuk bertemu dengannya.


Airish yakin, alasan Rolland datang mengunjungi kampusnya bukanlah untuk mencari mahasiswa berbakat untuk digaet ke agensi melainkan untuk menemuinya.


"Ada apa, Airish?" tanya Eddie, Dosennya.


"Saya hanya ingin meminta persetujuan dan arahan anda mengenai bab ini selaku dosen pembimbing saya, Sir." Airish memilih mengabaikan sorot tajam dari Rolland yang menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki seolah tengah me-ne-lan-jang-i-nya.


Airish fokus pada tujuannya datang ke ruang ini untuk menemui sang dosen. Setelah urusannya selesai dan sedikit bercakap-cakap dengan Eddie dan mengabaikan Rolland, Airish segera beranjak dan ingin angkat kaki dari ruangan itu secepatnya.


Airish menutup pintu ruang kesenian dan kembali berjalan dengan cepat menyusuri koridor yang masih sama seperti awal kedatangannya--sepi dan senyap.


Lagi-lagi Airish bergidik, dan semakin kalut kala seseorang dengan suara bariton memanggil namanya.


"Airish...."


Airish tak ingin menoleh karena ia tahu pemilik suara itu.


"Airish...." Suara itu kembali memanggilnya dengan nada yang terlampau tenang padahal Airish kini sudah berlarian sepanjang koridor untuk menghindari Mr. Rolland yang mengejarnya.


_____


Fiuhhh


Airish menghela nafas lega ketika ia sudah tiba di keramaian. Ia memasuki kelasnya kembali dan mengikuti semua pembelajaran hari ini meski sebenarnya pikirannya kurang fokus. Seusai jam kuliah, Airish keluar dari area kampus dan mendapati Abrine didepan gerbang.


"Kak..."


Abrine menoleh, gadis itu duduk di kap depan sebuah mobil tua.--entah milik siapa.


"Sudah pulang?"


"Kakak menjemputku?"


"Hmm, naiklah."


"Ini mobil siapa?" tanya Airish ingin tahu.


"Raymond. Naiklah! Kakak mau bicara denganmu, Airish." Setelah mengatakan itu Abrine naik dibagian jok pengemudi. Airish memang belum bisa menggunakan mobil, ia tak punya nyali, itu sebabnya ia ke kampus selalu menggunakan bis, taksi, atau diantar Papa Nev seperti pagi tadi.


"Kakak diminta Papa menjemputku?" tanya Airish setelah menduduki kabin.


"Bukan, tapi kakak mendengar sesuatu tentangmu."


"Sesuatu?" Airish mengernyit dalam.


"Airish, harusnya kamu bilang sama kakak apa masalahmu saat ini."

__ADS_1


"Aku gak paham." Airish menjawab dengan polosnya.


"Soal pria tua yang mengirimimu paket!"


"Aah, itu...." Airish mengangguk-anggukkan kepalanya sudah mengerti kemana pembicaraan ini. Tapi, tunggu dulu. Darimana kakaknya tahu mengenai hal ini?


"Kakak tahu darimana?"


"Kakak gak sengaja dengar percakapan Papa sama dua orang bodyguard."


"Apa?"


"Iya, Papa sewa dua bodyguard untuk jagain kamu mulai hari ini. Apa kamu gak sadar diikutin ke kampus sama dua orang itu?"


"Enggak," jawab Airish lagi-lagi dengan polosnya.


Abrine menghela nafas panjang. "Kamu lihat mobil dibelakang kita. Itu penjaga kamu."


Seketika itu juga Airish menoleh ke arah belakang dan melihat sebuah mobil hitam yang berada tepat di belakang mobil yang kini ia tempati.


"Ya ampun, kenapa sampai gini..." kata Airish pelan, ia tak tahu kenapa masalahnya menjadi sangat rumit, sampai menyertakan para penjaga untuk melindunginya.


"Gak masalah, ini karena Papa protect sama kamu."


"Terus, kakak kenapa jemput aku?"


"Kamu kasi tahu kakak dimana letak agensi pria tua itu!"


"Kak? Kakak mau apa?"


"What? Kakak gak salah? Ini beresiko."


"Ini satu-satunya cara biar kamu aman, orang kayak dia harus dikasi pelajaran dan disingkirkan."


Airish menghela nafas panjang. "Kak, gak semua masalah bisa selesai dengan kekerasan. Aku gak mau kakak sampai bersangkutan sama kepolisian lagi. Papa pasti marah dan kecewa sama kakak!"


Abrine tersenyum tipis.


"Udah, kamu kasi tahu aja alamatnya dimana. Ini biar jadi urusan kakak. Ah iya, Zio mau kesini ya?" Abrine sengaja mengalihkan topik yang mungkin lebih membuat adiknya tertarik.


"Ya, dalam Minggu ini, sih."


"Ya udah, kamu siapin diri aja. Kedatangan Zio kali ini untuk acara pernikahan kamu, kan?"


Airish mengangguk.


"Abis kamu kasi tahu alamatnya, kakak anter kamu ke apartemen. Ah ya, kakak minta nomor tua bangka itu, ada?"


"Udah aku blokir." Airish mengendikkan bahu cuek.


"Didaftar blokir pasti ada. Kakak mau minta nomornya sekarang." Abrine menyerahkan ponselnya pada Airish, agar adiknya menyimpan nomor Rolland disana.


___


Setelah tahu alamat agensi Rolland, Abrine segera mengantarkan adiknya kembali ke Apartmen.


Yang diikuti bodyguard hanya Airish sedangkan dia, tidak. Jadi, dia bisa menjalankan misi ini tanpa sepengetahuan siapapun, kecuali Raymond--sahabatnya yang akan membantunya menjalankan hal yang sudah ia rencanakan.

__ADS_1


Abrine berhenti disebuah Rest Area yang menyediakan toilet umum. Kemudian dia menyiapkan dirinya dengan penampilan baru. Bercermin menatap pantulan diri.


"Oke, aku memang cantik!" gumamnya memuji diri.


Setelah itu ia merapatkan Coat yang ia kenakan untuk menutupi tampilan mencoloknya. Perlu digarisbawahi, ia melakukan ini demi adiknya, Airish. Seumur hidup ia tidak pernah melakukan hal seperti ini. Berdandan, ya berdandan tidak ada dalam kamusnya.


Mobil tua yang Abrine kendarai, sudah berjalan dalam kecepatan sedang, kemudian berhenti didepan sebuah rumah sederhana yang di sewa oleh Raymond. Ya, dia menjemput Raymond malam ini demi melancarkan aksinya.


Raymond menilik pada wajah Abrine sekilas.


"Kau tampak berbeda." Raymond mengulumm senyum.


"Aku akan buktikan pada Papa, bahwa kali ini masalah Airish akan tuntas tanpa perlu kekuatan fisik atau kekerasan dariku. Cukup menggunakan otak yang encer! Meskipun papa akan menentang rencanaku jika dia tahu akan hal ini." kata Abrine percaya diri.


"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika Papamu tahu," gerutu Raymond.


"Tak ada yang akan tahu jika kau tutup mulut! Aku cuma ingin Airish tenang menuju rencana pernikahannya bersama Zio."


"Baiklah, terserah kau saja! Jaga dirimu, meski aku juga akan memastikan keselamatanmu."


"Ready?" tanya Abrine kencang.


"Ready!!!" pekik Raymond antusias.


Raymond dan Abrine sama-sama memiliki karakter keras dan menyukai hal-hal yang menantang seperti ini. Itulah mengapa mereka sangat cocok berteman sejak dulu. Keduanya juga hobi ber-amal dan bergabung dalam komunitas serta kegiatan sosial, membuat keseharian mereka sangat dekat satu sama lain.


3 tahun berteman, membuat mereka tahu kebiasaan dan keburukan masing-masing.


Saat Abrine menjelaskan tentang apa yang terjadi pada Airish, lalu mengutarakan keinginannya menyingkirkan Rolland, tentu saja Raymond dengan senang hati untuk membantunya.


"Aku udah kirim pesan ke dia, ngajak ketemu!" kata Abrine tersenyum tipis.


"Oke!" jawab Raymond enteng. Pria dengan tampang bule itu tentu akan membantu Abrine. Orang lain saja dibantunya, apalagi sahabatnya!?


"Jangan meninggalkanku nanti," kata Abrine mewanti-wanti Raymond. Ia bukan takut menghadapi Rolland, tapi jika Raymond pergi maka rencananya akan berantakan sebab ini memang harus dilakukan minimal oleh dua orang.


Raymond menggeleng. "Aku tidak akan meninggalkanmu. Tenanglah," jawabnya.


Sampai beberapa saat kemudian, Abrine tiba di depan agensi yang menaungi Rolland. Ia keluar dari mobil dan lantas Raymond pun ikut membuntuti dalam senyap.


Abrine menekan panggilan ke nomor Rolland.


"Aku sudah didepan..." katanya dengan suara lembut.


"Baiklah, aku akan menjemputmu disana," sahut Rolland terdengar riang dari seberang panggilan.


Tak berapa lama, pria setengah baya itu keluar dan menemui Abrine didepan lobby agensi.


"Akhirnya kau berubah pikiran dan mau menerima tawaranku, Airish?" bisik Rolland seduktif. Abrine tersenyum kecil yang sudah jelas itu adalah senyum penuh kepalsuan.


"Baiklah, kau mau melakukannya dimana? Di hotel atau di ruangan pribadiku yang ada disini."


"Ehmm... apa langsung?" tanya Abrine dengan menurunkan nada suaranya karena saat ini ia tengah berlakon sebagai Airish.


"Tentu saja, Sayang. Aku sudah menunggu cukup lama untuk keputusanmu ini."


*******

__ADS_1


__ADS_2