
Sahara menerima sebuah paket pagi-pagi sekali,-- sehari sebelum pernikahan Raya dan Reka berlangsung.
Betapa terkejutnya dia ketika membuka paket itu, dia segera memanggil suaminya yang tengah duduk santai di ruang keluarga.
"Bagaimana mungkin Reka melakukan hal ini, Pa!" kata Sahara dengan perasaan kecewa.
Adrian melihat kotak paket, yang ternyata berisikan ratusan foto Reka bersama seorang wanita, sangat mesra dan itu bukan hanya beberapa pose melainkan sangat banyak.
"Dari awal kita sudah ingin membatalkan pernikahan ini, tapi Mbak Elyani dan Mas Damar selalu meyakinkan bahwa Raya dan Reka akan saling mencintai setelah mereka menikah. Kalau begini bagaimana?" tanya Sahara yang mulai menangis.
Adrian pun mengingat pertemuannya beberapa bulan lalu dengan kedua orangtua Reka, saat itu Sahara mengatakan padanya bahwa Raya memang terpaksa menerima perjodohan ini. Hingga Adrian dan Sahara sepakat membatalkan rencana pernikahan Raya dan Reka.
Sayangnya, niat pembatalan itu ditolak oleh kedua orangtua Reka karena mereka meyakinkan pasti lama-lama Raya akan menerima Reka. Karena menurut orangtua Reka, anak mereka sangatlah sempurna untuk dijadikan calon menantu dan suami.
Akhirnya, dengan berat hati rencana pernikahan pun dilanjutkan-- mengingat Reka memang tak mempunyai celah untuk disalahkan, sehingga Adrian dan Sahara tak punya alasan untuk membatalkan, lalu kembali berusaha meyakinkan Raya.
Adrian kembali melihat tumpukan foto yang menampilkan kemesraan Reka dengan wanita lain. Di foto itu, Reka dan si wanita tampak mengenakan pakaian yang berbeda-beda, membuktikan bahwa pertemuan mereka bukanlah sekali dua-kali dihari yang sama, melainkan sering dan berulang kali.
Raya turun dari kamarnya, melihat kedua orangtuanya yang menampilkan raut wajah aneh.
"Ada apa, Ma?" tanya Raya.
Adrian menunjuk tumpukan foto dengan dagunya dan Raya melihat itu.
Raya tampak terkejut, tapi kemudian dia tersenyum kecil.
"Mungkin dengan melihat ini Tante El dan Om Damar akan tahu bahwa Reka tak sesempurna yang mereka katakan," ucap Raya.
Kedua orangtua itu saling memandang satu sama lain, memahami maksud Raya.
"Kita kerumah Tante El sekarang," kata Adrian yang telah mengambil remote mobil.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Sesampainya dirumah Orangtua Reka itu, Raya berserta Adrian dan Sahara disambut hangat.
"Ada apa, Adri?" sapa Damar yang mulai tampak sehat, wajahnya semringah karena besok-- anaknya Reka akan melepas masa lajangnya.
Tapi raut wajah Adrian yang marah dan kecewa, tidak bisa ditutupi dan Ayah Raya itu segera bicara pada pointnya.
"Saya tidak tahu harus memulai dari mana, tapi yang jelas pernikahan Raya dan Reka harus dibatalkan," kata Adrian tegas.
"Kenapa?" tanya Elyani terkejut.
Adrian segera meraih kotak yang berisikan foto Reka tadi lalu memberikannya pada Elyani.
"Saya tidak bisa menikahkan anak saya kepada seorang pria yang mempermainkan wanita," kata Adrian tersenyum kecut.
Elyani membuka kotak itu dan terkejut melihat semua foto intens Reka bersama wanita yang dia ketahui adalah Citra.
Elyani membungkam mulutnya karena efek rasa terkejutnya itu. Tubuhnya mendadak gemetar, dia tak menyangka dengan apa yang Reka perbuat ini.
Citra memang mantan pacar Reka, tapi sekarang Citra adalah klien Reka, dan yang lebih parah, Citra masih belum resmi bercerai dari suaminya. Skandal apa yang Reka perbuat?
Rasanya tubuh Elyani ingin jatuh terduduk.
Damar merebut kotak yang dipegang Istrinya, melihat itu membuat jantungnya kembali melemah.
Elyani semakin kalut, memanggil beberapa nama untuk membantu membawa Damar.
Beberapa pelayan dengan sigap membantu mengurus Damar dan langsung membawanya ke dalam kamar. Elyani pamit sebentar untuk mengurus suaminya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Ibunda Reka itu kembali keluar dan menemui Sahara, Adrian serta Raya yang tampak diam sedari awal kedatangan.
Sahara menatap Elyani yang telah pias.
"Mas Damar tidak apa-apa, Mbak?" tanya Sahara.
"Tidak apa, Mas Damar hanya perlu istirahat. Beliau menyampaikan permintaan maaf pada kalian sekeluarga," kata Elyani mulai menitikkan airmata, mungkin keadaan ini membuatnya kecewa berat.
"Raya tidak mungkin tetap menikah dengan Reka. Benar begitu kan, Mbak...?" kata Sahara menekankan kata-katanya.
Elyani semakin terdiam, kemelut dihatinya berputar-putar, belum lagi memikirkan semua yang sudah tersusun rapi untuk pernikahan Reka dan Raya esok hari. Undangan telah tersebar, belum lagi WO yang mungkin saat ini tengah sibuk mengatur tata letak di gedung, yang sudah mereka pesan.
"Kita temui Reka dirumahnya, aku ingin mendengar penjelasan Reka langsung," kata Elyani disisa-sisa kekuatannya.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Sesampainya dirumah Reka, Elyani, Raya dan kedua orangtua Raya harus mendapati situasi yang lebih mengejutkan.
Bagaimana tidak, disana mereka menyaksikan Reka dan Citra yang tengah bertengkar hebat. Entah apa yang mereka ributkan-- sehingga mereka tak menyadari kedatangan oranglain dirumah itu.
Raya beserta kedua orangtuanya menyaksikan kemarahan Citra pada Reka. Begitupun Elyani, dia tidak menyangka kedatangannya kerumah anaknya-- akan disambut oleh pertengkaran Reka dengan Citra.
"Bagaimana mungkin kamu mau menikah dengan wanita lain besok? Kenapa kamu tidak memberitahuku!" cecar Citra sembari memukuli tubuh Reka yang bertelanj ang dada.
"Aku fikir kamu tidak perlu tahu," jawab Reka, dia menerima perlakuan Citra begitu saja, walaupun Citra memukulinya dengan membabi buta.
"Reka breng sek! Kamu menganggapku apa, hah?" kata Citra kembali memukul lengan Reka dengan bantal sofa.
Mereka yang melihat itu tertegun, melihat sikap Reka yang tidak bergeming dan terkesan pasrah pada perlakuan Citra.
"Setelah urusan kita berakhir, hubungan kita juga berakhir, Citra..." kata Reka melirih.
"Kamu pikir segampang itu!" Citra tiba-tiba beranjak dan mengambil tasnya, mencari-cari sesuatu disana dan disaat Citra sibuk dengan isi tasnya, Reka pun tersadar bahwa dia dan Citra telah ditonton oleh empat orang yang adalah kedua calon mertuanya, Mamanya, berserta Raya-calon istrinya.
Reka memungut benda yang sudah terjatuh dilantai dengan tangan gemetar dan perasaan syok yang menjalar, karena itu adalah test pack dengan garis dua yang sangat jelas. Bukan hanya satu melainkan lebih-- dengan berbagai merk yang berbeda-beda.
"Aku hamil, Reka! Jadi kau tidak bisa menikah besok! Kau mengerti!" kata Citra mengakhiri kemarahannya dengan mendengkus keras.
Reka terkejut, tidak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini. Begitu pula semua yang ada disana, sama terkejutnya dengan kebenaran yang Citra sampaikan.
Mendengar itu, Elyani mendekat ke arah Reka dan menam par wajah Reka saat itu juga.
Plak !!!
"Sudah Mama ingatkan dari awal, kau dan Citra telah selesai. Kalian hanya klien kerja, kenapa kau bertingkah sejauh ini Reka! Skandal apa yang kau buat dengan klien mu sendiri!" cecar Elyani dengan sangat marah.
Adrian sampai geleng-geleng kepala dari tempatnya. Sahara yang terkejut namun Raya yang menyikapi itu dengan sangat tenang.
Raya mendekat pada tubuh Elyani, mengusap pundak wanita setengah baya itu, berusaha menenangkannya.
"Tant, biarkan Reka menjelaskan ini nanti. Tante tenangkan diri dulu, ya." kata Raya membawa Elyani duduk di sofa.--dia kembali memanggil sebutan 'Tante' pada Elyani.
Citra menatap Raya dan saat itu juga dia tahu bahwa gadis yang akan menikah dengan Reka besok adalah Raya yang saat ini duduk disebelah Elyani.
"Maafkan aku karena jadi merusak acara pernikahan kalian, aku tidak tahu Reka akan menikah dan memiliki calon istri," kata Citra pada Raya.
Raya tersenyum kecil, "Tidak apa-apa," kata Raya tetap tenang, sejujurnya dia sangat bersyukur dengan kejadian ini. Setidaknya, batalnya pernikahannya dengan Reka bukanlah karena ulahnya-- melainkan karena Reka sendiri.
"Dari awal aku sudah mengatakan akan membatalkan pernikahan kami, tapi Reka tidak mau..." jawab Raya.
Citra memelototi Reka dan Reka terdiam sembari memijat pelipisnya sendiri.
__ADS_1
Raya bangkit dari duduknya, menuju dapur dan mengambilkan Elyani segelas air putih.
"Minum Tant... Raya, Mama dan Papa pulang dulu ya." kata Raya menyalami tangan Elyani.
Elyani kembali menangis, apalagi mendengar penuturan Adrian selanjutnya.
"Pernikahan mereka batal." kata Adrian membuat Elyani semakin terisak.
"Bagaimana dengan pesta besok, Pa?" kata Sahara mengingat gedung dan undangan yang telah tersebar.
"Gunakan saja untuk menikahkan Reka dengan wanita itu," kata Adrian dingin sembari menunjuk Citra.
Citra tertunduk, dia belum bisa menikah dengan Reka karena proses sidang cerainya belum berakhir sepenuhnya.
Saat Adrian dan keluarganya ingin pergi, Elyani kembali berkata.
"Reka dan Citra tidak bisa menikah besok. Gedung bisa dibatalkan, Saya akan menelpon para rekan yang kami undang untuk mengatakan bahwa pernikahannya gagal, untuk para relasi yang Mas Adrian undang, tolong Mas hubungi juga," pungkasnya.
Adrian berbalik, "Itu urusan saya, lagi pula Raya akan tetap menikah besok," katanya tersenyum kecil.
Elyani tertegun mendengar penuturan Adrian, tetapi dia tidak bisa menanyakan lebih lanjut perihal pernikahan Raya yang dimaksudkan Adrian itu, dia lebih memilih menginterogasi Reka setelah ini.
"Raya akan tetap menikah?" tanya Raya pada Adrian dan sang Ayah justru mengangguk.
"Papa kan punya calon menantu lain," kata Adrian yakin.
Raya hanya geleng-geleng kepala, begitupun Sahara, yang menganggap Adrian hanya berseloroh.
Bersamaan dengan keluarnya Adrian bersama istri dan anaknya dari rumah Reka, disaat itu pula Nev sampai dikediaman pengacara itu.
Nev menatap ketiga orang itu yang tampak dengan raut wajah aneh.
"Om, Tante..." sapa Nev yang baru turun dari mobilnya.
Adrian tersenyum menatap Nev. "Pucuk dicinta..." gumam Adrian dan Sahara yang mendengar itu--menyikut perut suaminya.
"Nev, kebetulan sekali.. kok bisa kesini?" tanya Adrian.
Nev tersenyum kecil, lalu menyadari dia tak mempersiapkan alasan untuk menemui Raya hari ini, apalagi dia sampai mendatangi kediaman Reka demi menjemput Raya-- yang tadinya ingin dibawanya pergi dengan niat membatalkan pernikahan Raya dan Reka besok.
"Saya-saya mau menanyakan soal.... pernikahan Raya, Om.." kata Nev.
Raya melihat Nev sembari menggeleng kecil, dia tahu Nev tak punya alasan kali ini.
"Memangnya kenapa dengan pernikahan Raya?" tanya Adrian melihat sikap kikuk Nev.
"Em, itu.. apa pernikahannya jadi?" tanya Nev tak tahu lagi hendak berkata apa, dia pasti terlihat bodoh sekarang.
"Tentu saja jadi," kata Adrian meyakinkan.
"Papa...." kata Raya mencoba protes.
"Kamu datang kan ke pernikahan Raya?" tanya Adrian menatap Nev serius.
Nev hanya tertunduk, tidak tahu mau menjawab apa.
"Kalau datang sebagai tamu undangan gak mau, datang sebagai mempelai prianya mau gak?" tanya Adrian dengan nada serius.
Nev terkejut dan mengadahkan kepala demi menatap Ayah Raya itu.
"Om...saya..." Nev mendadak tergagap.
__ADS_1
"Tentu mau kan..." potong Adrian sembari menepuk-nepuk pundak Nev.
...Bersambung .......