
Beberapa saat diperjalanan, akhirnya Airish tiba di kediamannya. Tapi, kepulangannya justru disambut oleh pergerakan kedua orangtuanya yang tampak tergesa-gesa.
"Papa, Mama, mau kemana?" tanya Airish kebingungan. Apalagi di jam ini Papanya sudah ada di Apartmen, padahal seharusnya sang Papa sedang sibuk bekerja.
"Mama harus ke Rumah Sakit," jawab Raya menatap sang puteri.
"Siapa yang sakit?" tanya Airish.
"Bukan ada yang sakit, tapi Aarav kabarnya sudah mulai bisa berjalan lagi, jadi Mama akan kesana melihat kondisinya," terang Raya dengan tampang semringah.
Namun, sesaat kemudian Raya tampak murung kembali--saat melihat raut wajah Nev--yang sepertinya sedang menahan amarah diseberangnya.
"Wah, itu kabar baik, Ma!" jawab Airish yang ikut bahagia, tapi ia masih heran dengan sikap sang Papa. Kenapa Papanya tampak tak sesenang ia dan Mama? Ada apa?
"Papa? Apa papa akan menemani Mama ke Rumah Sakit juga?"
Akhirnya Airish menyuarakan keingintahuannya dengan bertanya.
"Bukan, papa harus ke Kantor polisi," jawab Nev dengan intonasi yang terdengar frustrasi.
"K-kantor polisi?"
Apa Airish tak salah mendengar? Ada masalah apa lagi kali ini? Sepertinya keluarga mereka sudah lama tak terlibat dalam hal yang berkaitan dengan kepolisian.
"Sayang...." Raya menatap sang suami, lalu menggeleng pelan--seolah memberi isyarat lewat sorot mata-- jika wanita itu tak setuju dengan jawaban terus terang yang Nev sampaikan pada puteri mereka.
"Gak apa-apa, Sayang! Airish udah dewasa. Dia juga berhak tahu mengenai masalah yang sudah terjadi beberapa kali belakangan ini. Agar ini menjadi pelajaran dan dia tidak melakukan hal yang sama!" Ucapan Nev terdengar tegas, membuat Airish menciut seketika.
Jika sang Papa sudah berkata dengan intonasi dan ekspresi serius seperti saat ini, Airish langsung bisa menyimpulkan bahwa ada suatu masalah yang terjadi.
"Se-sebenarnya ada masalah apa, Pa?" tanya Airish memberanikan diri, namun ia tak berani menatap wajah Nev.
"Abrine terlibat perkelahian. Sekarang dia di kantor polisi!" ujar Nev terus terang membuat Airish tampak terbelalak kaget.
"Ya ampun!" gumam Airish yang terkejut.
"Ya udah, Airish .... Mama harus ke Rumah Sakit. Papa juga harus segera ke kantor polisi. Kamu baik-baik ya, dirumah!" Raya menatap putri bungsunya itu.
"Jangan buat suatu hal yang akan membuat Mama dan Papa cemas, nak!" bisik Raya sebelum akhirnya benar-benar keluar mengikuti jejak Nev untuk menuju tujuan mereka selanjutnya.
Seperginya kedua orangtuanya, Airish pun mengurut dadanya sendiri. Dia senang mengenai kabar membaiknya kondisi Aarav, tapi dia juga kaget dengan kabar tentang kelakuan Abrine. Apalagi tadi papanya mengatakan bahwa masalah seperti ini sudah terjadi beberapa kali belakangan ini.
__ADS_1
"Kak Abrine.... apa yang udah kamu perbuat, kak!" gumam Airish sembari melangkah masuk ke dalam kamarnya.
______
Setelah mengantarkan Raya ke Rumah Sakit, Nev segera melajukan mobilnya menuju kantor polisi dimana Abrine sedang ditangani. Masalah semacam ini bukanlah yang pertama.
Ini sudah ketiga kalinya Abrine membuat ulah selama mereka tinggal di Jerman. Hanya saja, Nev masih menutupi kesalahan Abrine didepan dua anaknya yang lain. Tapi kali ini Abrine benar-benar membuat Nev kesal karena sikap anak gadisnya yang satu ini semakin hari semakin sulit ditebak dan sulit dikendalikan.
Yang pertama kali terjadi adalah saat pertama-tama mereka tinggal di Jerman dan Abrine baru saja menjadi Mahasiswi. Saat itu Abrine ikut berdemo dengan mahasiswa lain untuk kebijakan pemerintah kota. Awalnya Nev mendukung saja kegiatan itu, sebab melihat hal yang dilakukan Abrine adalah kegiatan sosial untuk kepentingan masyarakat. Nyatanya, setelah kegiatan demo yang terorganisir itu selesai, Abrine malah terlibat tawuran antar mahasiswa.
Lepas dari masalah itu, Abrine terlibat kasus kedua. Kasus itu lain hal dengan yang pertama. Kali ini Abrine bermasalah dengan geng motor yang ternyata adalah rival dari geng motor Abrine sendiri. Nev tak habis pikir sejak kapan Abrine tergabung dalam geng motor seperti itu.
Nev memang membebaskan anak-anaknya karena menganggap perilaku mereka masih di batas wajar. Tapi, terkhusus untuk Abrine, sepertinya Nev harus lebih detail lagi menjaga dan memedulikannya. Kelakuan Abrine sepertinya lebih brutal daripada Aarav yang notabene-nya adalah seorang pemuda.
Nev yakin, jikapun Aarav dalam keadaan sehat tanpa kursi roda, tak mungkin putranya itu melakukan hal sejauh yang Abrine lakukan. Kelakuan Abrine terlalu barbar. Entah karena menguasai bela diri yang mumpuni atau justru karena lingkungan yang kini Abrine jajaki. Nev harus mengakui jika semakin hari Abrine semakin tomboi lebih dari yang dahulu.
Dan terakhir, masalah yang diperbuat Abrine adalah hari ini. Dimana Abrine terlibat perkelahian. Dan parahnya lawannya adalah seorang pemuda.
Jika dua kasus sebelumnya Abrine tidak berakhir di kantor polisi, lain hal dengan yang sekarang. Keluarga lelaki yang Abrine pukuli-- tidak terima-- hingga melaporkan kejadian ini pada pihak kepolisian.
Sekarang, disinilah Nev berada. Di kantor polisi demi mengurusi masalah keonaran yang dibuat oleh anak gadisnya. Ya, anak perempuannya! Garis bawahi itu.
"Papa...." Abrine menyapa Nev dengan senyuman tipis, menandakan jika kedatangannya adalah secercah harapan bagi gadis itu.
Hanya sesaat Abrine menyunggingkan senyum, sesaat selanjutnya gadis itu menundukkan wajah dan tak mengangkat wajahnya lagi sampai akhirnya Nev meminta jalur damai dengan keluarga korban.
"Minta maaf padanya, Abrine!" putus Nev akhirnya. Ia sudah mengetahui jalan cerita kenapa Abrine dan pemuda itu bisa terlibat perkelahian.
"Tapi, dia yang lebih dulu menggangguku, Pa!" protes Abrine sembari menunjuk pemuda dihadapannya-- yang beberapa saat lalu sudah K.O akibat bogem mentah yang ia berikan.
Nev tahu pasti jika disini Abrine memang membela diri. Namun, yang lebih dulu memukul tetaplah bersalah, jadi Nev meminta Abrine untuk menurunkan ego lalu meminta maaf dengan cara damai dan kekeluargaan.
"Ok! Maafkan aku!" kata Abrine, diapun mencoba menjabat tangan pemuda itu. Pemuda yang wajahnya sudah babak belur itu tersenyum ke arah Abrine, tapi Abrine tahu pasti jika senyuman itu adalah sebuah ejekan untuknya.
Dalam hati Abrine sebenarnya masih kesal dan ingin menghadiahi pukulan lagi pada pemuda ini, tapi ia harus menurut pada sang Papa, sebab mereka ada disini sekarang karena ulahnya juga.
______
"Ingatlah Abrine, ini yang terakhir. Jika sampai terjadi hal semacam ini lagi. Papa akan memberi kamu hukuman dan penjagaan lebih ketat!" kata Nev sembari menyetir mobilnya.
"Iya, Pa!" jawab Abrine tertunduk. Ia mere mas jemarinya sendiri. Bagaimana pun sikapnya diluaran sana, ia tetap tak bisa melawan ucapan sang Papa. Seolah hidup dan matinya ada ditangan sang Papa.
__ADS_1
Beberapa saat berkendara, akhirnya mobil yang dikendarai Nev pun berhenti di sebuah Rumah Sakit swasta. Mereka berdua turun dan langsung menuju tempat dimana Raya dan Rahelsa sedang menyaksikan perkembangan Aarav yang sedang belajar berjalan.
"Sayang?" sapa Nev, membuat Raya menoleh karena sempat tak menyadari kedatangan suaminya itu.
"Eh, udah sampai?" Raya menatap ev, kemudian mencari Abrine yang ternyata berdiri dibelakang sang suami.
"Abrine.... jangan begini lagi, ya, sayang!" Raya pun mendekati Abrine lalu memeluknya dengan sikap keibuan. Raya tak mau menyalahkan Abrine. Bagaimanapun, ia percaya jika Abrine sampai melakukan tindak kekerasan seperti itu-- artinya Abrine sedang melindungi diri sendiri dari serangan atau tindakan yang tak menyenangkan yang diperbuat orang lain.
"Iya, Ma...." Abrine membalas pelukan sang Mama yang selalu terasa menenangkan.
"Bagaimana keadaan Aarav?" tanya Nev akhirnya, membuat Raya mengalihkan atensi demi menatap sang suami.
"Lihatlah, Aarav sudah bisa melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit...." jawab Raya kembali antusias.
Mereka semua pun melihat kedalam ruangan dimana Aarav masih saja berlatih berjalan, didampingi dokter syaraf dan dokter ortopedi. Mereka menyaksikan pemandangan itu dari balik kaca bening yang lebar. Tampak Aarav yang sesekali melempar senyum pada keluarganya sambil terus semangat untuk terus belajar menggerakkan kakinya langkah demi langkah.
"Terima kasih Rahelsa. Aarav bisa semakin membaik juga berkat dukungan kamu .... istrinya yang sangat sabar dan pengertian." Raya menepuk pundak Rahelsa dan Rahelsa pun tersenyum ke arah sang mertua.
"Ini juga berkat doa Mama, doa yang gak pernah putus.... mendoakan Aarav dan juga rumah tangga kami," sahut Rahelsa.
*****
Hy, Apa kabar readers setiaku yang masih setia baca sampai part ini....?
Semoga kita semua selalu sehat dan dalam lindungan Allah SWT.
Yang belum ninggalin jejak, monggo tinggalkan jejak berupa like atau komentar di novel iniπ
Meskipun gak semua komentar bisa terbalas sama othor, tapi othor selalu baca kok setiap komentar yang kalian tinggalkan.
Maaf jika ada kesalahan, othor memang gak lepas dari khilaf.
Sekedar pemberitahuan, ya.... Novel ini akan berakhir di kisah Aarav-Rahelsa dan Airish-Zio, nantinya. Sedangkan kisah Abrine, othor akan buat di judul baru. Insya Allah bulan depan. Doain lancar ya....π
Oh iya, maaf juga othor beberapa hari ini gak up. Karena faktor lagi misi kejar kata di Novel yang satunya.
Jika berkenan mampir juga yuk kesana. Udah menuju ending, dengan judul;
Pesona Lelaki Simpanan
__ADS_1
Itu othor bonusin visual dari novelnya.... makasih ya yang udah mau mampir dan dukung karya othor.... semoga kita semua sehat dan selalu diberi keberkahan umur serta rezeki. Aamiin....
Salam damai dunia literasi π