
Pesawat yang membawa Nev dan Raya baru saja mendarat di London Heathrow Airport, Inggris.
Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 16 jam 15 menit itu cukup membuat keduanya lelah. Namun, tak membuat minat suami istri itu surut.
Dengan menggunakan Taxi setempat, Nev dan Raya langsung meminta diantarkan menuju hotel tempat mereka menginap. Awalnya Nev ingin menyewa Apartemen untuk sebulan kedepan, namun karena tujuan mereka selama di Inggris akan berpindah-pindah, jadi mereka memutuskan check in di hotel seperlunya saja.
Untuk beberapa hari kedepan, mereka akan menghabiskan waktu di London dan akan mengunjungi beberapa tempat termahsyur yang ada di Ibukota Inggris itu, sebelum nanti akhirnya mereka akan mengunjungi kota lainnya yakni Manchester--tempat Raya menuntut ilmu dulu-- serta beberapa kota lain seperti Bristol ataupun York.
Perjalanan mereka kali ini tidak menggunakan tour guide, karena Nev sudah pernah beberapa kali ke London dan merasa tak asing dengan tempat itu. Paling tidak, Nev sudah punya bekal yang sangat cukup saat berada di Negara itu.
Sementara untuk Raya, dia terbiasa mandiri, jadi perjalanannya kali ini sebenarnya jauh lebih aman sebab disampingnya telah ada Nev yang membersamai langkahnya.
Saat ini London sedang dalam mode musim gugur, sehingga suhu di musim ini cukup sejuk menerpa kulit mereka. Walau bukan musim dingin, tapi suhu di London memang cenderung lebih dingin daripada di Indonesia.
Sebenarnya ini waktu yang tepat untuk berkeliling, tapi karena mereka tiba di London menjelang sore waktu setempat, serta kondisi tubuh yang masih harus menyesuaikan suhu di kota itu, maka mereka memutuskan untuk bersantai dulu di hotel dan akan berkeliling di malam hari usai acara makan malam mereka nanti.
Mereka duduk di balkon hotel yang menyajikan view kota london dari ketinggian tempat mereka berada.
Pemandangan kota yang sangat indah dengan kerlap-kerlip lampu yang bercahaya. Sungai Thames yang terkenal beserta jembatannya pun tampak membentang indah dan terlihat jelas dari tempat mereka sekarang. Terlihat sangat kontras dengan langit senja yang temaram. Tak heran jika Negara itu dianggap sebagai tempat kelahiran Revolusi Industri.
"Malam nanti kita kemana, Nev?" tanya Raya menoleh pada Nev yang duduk di kursi santai.
Nev berdiri dan memeluk tubuh istrinya dari belakang, ikut menyoroti apa yang tengah ditatapi oleh Raya dari atas balkon hotel.
"Aku ingin mengajak kamu dinner di salah satu resto terbaik di kota ini," jawab Nev tersenyum.
"Boleh, aku suka makan!" celetuk Raya dengan senyum yang paling manis.
Nev mencubit pipi Raya dengan gemas. "Bagus, makanlah yang banyak selama kita berlibur. Karena kamu butuh energi ekstra untuk menghadapiku selama sebulan kedepan," ucapnya.
"Maksudnya?"
"Aku ingin mengganti waktu kemarin yang sempat terbuang sia-sia, aku pasti tidak akan menyia-nyiakan kebersamaan kita kali ini," jawab Nev penuh tekad.
Raya terkekeh geli, lalu hanya menggelengkan kepalanya samar.
"Kamu lihat tempat itu tidak?" Tangan Nev menunjuk sebuah sisi didekat sungai, tak terlalu jelas yang dimaksudkan Nev adalah yang mana, karena pemandangan dibawah sana terlalu padat. Jadi Raya hanya mengangguk saja sembari bertanya kembali pada suaminya itu.
"Memangnya itu tempat apa?" tanya Raya menoleh sedikit ke samping, dimana Nev yang sudah meletakkan dagu di bahunya.
"Itu Restoran ... aku ingin ajak kamu makan malam disitu malam ini."
Cup.
__ADS_1
Nev mengecup pipi Raya dan mengeratkan pelukannya di pinggang sang istri.
...♥️♥️♥️♥️♥️♥️...
Malam pun tiba, Raya sudah siap dengan gaun malamnya yang tampak sederhana namun elegan. Sementara Nev, dia menggunakan kemeja hitam slimfit yang membentuk tubuh atletisnya. Tak lupa, mereka juga sama-sama membalut penampilan itu dengan coat untuk menghalau suhu yang cukup dingin diseputaran kota London.
Mereka keluar dari kamar hotel dengan bergandengan dan tampak sangat serasi.
Kali ini tujuan mereka adalah mendatangi Restoran yang sempat ditunjukkan oleh Nev dari atas balkon tadi.
"Istriku cantik sekali," kata Nev memuji Raya sekaligus mengecup punggung tangan istrinya berkali-kali.
Raya terkekeh. "Jangan digombalin dulu, nanti aku keburu kenyang... gak jadi deh dinner nya," ujarnya.
"Memangnya digombalin bikin kenyang, ya?" tanya Nev serius.
Raya mengangguk. "Iya, kalau berlebihan bahkan bisa bikin enek..." kelakarnya dan Nev tersenyum kecut.
"Padahal aku bukan gombal, aku serius kok istriku memang cantik," celetuk pria itu.
"Iya, iya...jangan marah, dong." kata Raya mencoba membujuk Nev yang berlagak merajuk.
Nev terkekeh. "Aku mana pernah marah sama kamu," katanya.
"Yakin?"
Untuk sementara ini, mereka menggunakan jasa mobil yang difasilitasi oleh pihak hotel untuk mengantar mereka ke seputaran kota London. Tapi nanti jika mereka telah selesai dengan London, Nev ingin menyewa mobil saja, agar perjalanan lebih praktis dan mobil itupun dapat digunakan selama kepergian mereka.
Tidak butuh waktu lama, mereka pun tiba di Restoran yang dituju. Restoran itu memang mengusung tema dinner yang romantis. Meja mereka terletak di rooftop restoran dengan berlatar Sungai Thames dan Tower Bridge.
Setiap meja yang ada di rooftop akan ‘dibungkus’ dengan atap transparan yang membentuk semacam rumah igloo khas suku Eskimo. Tiap meja igloo bisa menyediakan kursi hingga 8 orang. Namun, ada pula yang dikhususkan untuk berdua seperti yang dipesan oleh Nev dan Raya. Restoran ini buka mulai pagi hari hingga menjelang tengah malam.
Dari tempat mereka duduk, mereka tetap bisa menikmati pemandangan sekitar yang sangat indah dan tentu saja romantis.
"Apa kamu suka tempat ini, Sayang?" tanya Nev sembari membantu membuka coat yang Raya kenakan.
"Tempat ini bagus..." sahut Raya tersenyum dan mengacungkan jempolnya dengan antusias.
"Aku senang kalau kamu suka," kata Nev.
"Kamu pernah makan disini sebelumnya?" tanya Raya.
"Belum, tapi aku dapat refrensi dari beberapa kolega yang pernah mengunjungi London," terang Nev.
__ADS_1
"Aku pikir kamu pernah ke Resto ini."
"Baru sekarang bersama kamu," kata Nev.
Mereka memesan menu makanan dari buku menu yang diberikan oleh seorang pelayan.
Setelah itu mereka pun menatap kesekeliling area rooftop yang tampak cukup ramai. Suasanya nyaman dan sangat berkesan untuk Raya.
Tak berapa lama, makanan utama mereka pun datang lengkap beserta hidangan pembuka dan penutupnya.
Melihat semua makanan itu, dikepala Raya jadi terlintas sebuah pertanyaan.
"Nev, kalau aku gendut gimana?" celetuk Raya tiba-tiba membuat dahi Nev mengkerut.
Nev hanya geleng-geleng kepala sebagai tanggapan untuk pertanyaan sang istri.
"Come on, Nev... aku serius, jika aku gendut bagaimana?" ulang Raya.
"Ya kalau kamu gendut berarti aku berhasil memberi pupuk yang bagus," kelakar Nev disertai tawanya yang renyah.
Raya memberengut. "Bukan itu maksudnya ... kalau aku gendut, apa kamu akan muak padaku, hmm?"
"Muak atau tidaknya seseorang itu bukan karena faktor fisik yang berubah atau semacamnya. Selama kita nyaman dengan pasangan kita masing-masing, aku pikir gak akan ada yang berubah."
"Kenapa kamu seyakin itu?"
"Karena bagaimanapun kamu menjaga fisik kamu, cepat atau lambat hal itu akan tetap berubah. Baik itu kurus menjadi gendut, gendut menjadi kurus, ataupun dari muda menjadi tua, itu termasuk wujud fisik yang akan berubah juga kan?"
"Jadi, apa saat kita tua kita akan muak dengan pasangan kita?" tanya Nev melanjutkan.
"Mungkin saja, iya..." Nev menjawab pertanyaannya sendiri.
"Lalu, apa karena gendut, pasangan kita juga akan muak? Mungkin iya juga. Tapi hubungan dan rumah tangga tidak sebercanda itu, Sayang! Semua akan berubah jika sudah saatnya. Kita harus punya sesuatu yang membuat kita tetap bertahan pada pasangan kita dan mengesampingkan soal fisiknya ... yaitu karena sebuah komitmen, prinsip dan kenyamanan."
Raya tercengang dengan pemikiran dan penjabaran yang Nev berikan. Tak ada satu patah katapun yang bisa keluar dari bibirnya. Ia melongo mendengar penjabaran yang Nev berikan, mungkin seperti ini pula karakter suaminya jika menjabarkan dan berbicara dengan relasi bisnisnya. Membahas suatu topik dengan cerdas dan tepat sasaran.
"Fisik yang tampan atau cantik, belum tentu bisa membuat kita nyaman dan bertahan pada pasangan kita. Tapi kenyamanan, akan membuat kita bertahan pada pasangan, terutama jika kita punya komitmen untuk menerima pasangan kita apa adanya dan jangan lupakan prinsip yang mendasari sebuah hubungan itu sendiri."
"Lalu apa kamu nyaman sama aku? Punya komitmen dan prinsip juga?"
"Tentu saja iya, kalau tidak didasari tiga hal itu, cinta yang besar pun akan mudah hilang, Sayang. Banyak kok pria tampan yang pasangannya tidak cantik, begitupula sebaliknya. Terkadang comfort zone lebih diatas segalanya," terang Nev.
Raya tersenyum dan menggenggam tangan Nev yang ada diatas meja mereka. Setidaknya, suaminya cukup dewasa dalam menanggapi segala pertanyaannya yang terkadang kekanakan dan absurd alias tidak jelas. Jawaban Nev sangat cukup untuk membungkam mulutnya kali ini dan ia tak mau bertanya hal konyol seperti ini lagi karena suaminya itu selalu punya jawaban yang tidak pernah ia duga.
...Bersambung ......
__ADS_1
...Jangan lupa love, like, komen, vote dan hadiah♥️♥️♥️♥️♥️♥️...