
3 hari kemudian ...
Jimmy mendatangi kantor Nev dengan tergesa-gesa. Namun, Bian mengatakan Jimmy harus menunggu-- karena saat ini Nev sedang meeting bersama beberapa staff personalia di kantornya.
Dengan berat hati, Jimmy akhirnya memutuskan untuk menunggu diruangan Nev, daripada dia harus kembali ke kantornya lagi.
Empat puluh lima menit kemudian, Nev memasuki ruangannya dan melihat Jimmy dengan tatapan datar.
"Apa sudah ada titik terang?" tanya Nev sembari duduk dikursi kebesarannya.
Jimmy menyeringai, lalu dia mengambil sesuatu dari balik jas yang dia kenakan dan melemparkan sebuah amplop cokelat ke meja kerja Nev.
Nev segera meraih amplop itu dan membukanya.
"Wow ..." kata Nev berlagak dramatis saat melihat isi dari amplop itu.
"Sudah ku bilang, tidak ada yang sesempurna kelihatannya. Di dunia ini semua orang punya kekurangan," kata Jimmy pongah.
Nev tersenyum kecil menanggapi ulasan Jimmy yang terdengar percaya diri itu.
"Bagaimana sekarang? Kau mengakui jika aku cerdik, kan?" tanya Jimmy sembari menaik-naikkan alisnya.
"Apa kau yakin mereka ada hubungan?" tanya Nev mulai serius. "Bisa jadi wanita ini adalah klien-nya," kata Nev.
Jimmy mengangguk. "That's right, wanita itu memang klien-nya."
"Lalu, apa menariknya? Reka bisa berkilah pada Raya, jika wanita ini adalah kliennya..." kata Nev sembari kembali melemparkan amplop itu pada Jimmy, amplop itu berisikan foto-foto kebersamaan Reka dan Citra.
Jimmy tersenyum miring, "Ya, klien plus plus..." kata Jimmy absurd.
"Maksudmu?"
"Wanita itu bernama Citra, dia sedang menuntut perceraian dari suaminya karena kasus KDRT."
"Aku tidak tertarik dengan masalah rumah tangga orang lain," kata Nev malas.
"Ya, aku tahu... bukan itu pokok utamanya, Nev. Diam dulu, jangan memotong pembicaraanku."
"Baiklah," kata Nev malas.
"Jadi, Citra itu mantan kekasih pengacara itu..."
Nev melotot, lalu menyadari bahwa ucapan Jimmy kali ini adalah pokok utama pembicaraan mereka.
"...ada kemungkinan, mereka bisa menjalin hubungan lagi setelah status Citra resmi menjadi janda."
"Dari mana kau yakin?"
Jimmy menepuk dada. "Coba kau perhatikan setiap foto itu! Mereka terlihat dekat dan ... mesra tentunya," kata Jimmy dengan analisanya.
Nev tak tertarik melihat ke foto-foto itu lagi, dia lebih tertarik mendengar ujaran dari mulut Jimmy langsung.
"Lalu bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Nev.
__ADS_1
"Kita tidak usah sulit-sulit menggagalkan rencana pernikahan mereka. Kita tinggal menunggu tanggal mainnya saja, dan menerima imbas baik atas kegagalan pernikahan itu,"
"Jadi maksudmu aku harus diam saja dan menonton?"
Jimmy mengangguk.
"Kau gila!" dengus Nev, mana mungkin dia diam saja menanti hari pernikahan Raya tiba seperti saran Jimmy.
"Percayalah padaku, aku yakin Citra tidak akan membiarkan Reka menikah. Dia belum tahu mengenai hal ini, Reka tidak berterus terang pada Citra, juga tak menceritakan soal Citra pada Raya,"
"Darimana kau yakin?"
"Entahlah, tapi aku sangat yakin karena aku melihat kedekatan mereka secara langsung,"
Nev mendengkus, dia menyadari jika Reka mau mempermainkan Raya. Karena Reka pun tak berniat membatalkan pernikahan ini meski sudah ada Citra yang kembali dekat dengannya.
"Kalau ternyata wanita bernama Citra itu tak melakukan apapun untuk mencegah pernikahan ini, bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Nev lagi.
"Kalau memang begitu, baru kau lakukan rencanamu!"
Nev mengernyit. "Rencana yang mana?" katanya.
"Ya kau culik saja Raya," kata Jimmy santai.
Nev diam, sementara Jimmy tersenyum licik dengan rencananya sendiri, dia ingin mengirimkan foto-foto itu pada keluarga Raya nanti, tentunya sebelum pernikahan Raya dan Reka berlangsung. Dia tidak memberitahu Nev, karena dia ingin Nev diam dan menunggu saja kali ini. Bagaimanapun, Jimmy takut Nev melakukan tindakan diluar batas-- karena Jimmy tahu status Nev sekarang belumlah jelas.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Keluarga besar Reka datang membawa banyak seserahan yang sudah dikemas rustic dalam beberapa kotak akrilik.
Kedatangan mereka disambut oleh kedua orangtua Raya dan beberapa tetangga yang tinggal dikiri-kanan rumah, termasuk Niken. Untuk sanak-saudara Raya-- memang tidak terlalu banyak yang datang, walaupun Kedua orangtua Raya telah mengundang keseluruhan keluarga untuk acara lamaran anak semata wayang mereka ini.
Semua itu dikarenakan, hampir semua dari keluarga besarnya-- selalu menilai sesuatu dengan uang dan jabatan, sehingga mereka tetap menjaga jarak walau Adrian sudah keluar dari penjara, mereka menganggap Adrian yang sekarang telah bangkrut dan miskin. Padahal saat ini, harta Adrian sedang dalam tahap pemulihan.
Adrian tidak membuat klarifikasi pada keluarga besarnya, begitupun Sahara. Mereka ingin menilai sesiapa saja yang tulus --menganggap mereka keluarga dan turut hadir pada acara lamaran Raya kali ini. Dan kenyataannya, keluarga yang datang pun memanglah hanya segelintir dan bisa dihitung dengan sebelah jari.
Raya tampak cantik dengan penampilannya, dia mengenakan setelan kebaya berwarna peach serta songket batik yang senada dengan baju yang Reka kenakan.
Wajahnya di poles make-up flawless, rambutnya disanggul sederhana dan Reka cukup terkesima melihat kecantikan calon istrinya. Reka mulai merasa menjadi lelaki yang beruntung karena akan mendapatkan Raya sebagai istrinya.
Raya terlihat mengulas senyum--senyuman yang tampak dipaksakan, lagi-lagi dia semakin ragu dengan pernikahan ini, namun dia terlalu sulit untuk mengutarakannya.
Semua pihak keluarga seolah tak memberinya waktu dan pendapat untuk mengemukakan isi kepalanya.
Hampir setiap hari dia hanya direcoki oleh antusiasme-- pembicaraan mengenai pernikahannya dengan Reka, sehingga begitu sulit baginya untuk menyela dan mematahkan harapan kedua orangtuanya yang begitu bersemangat.
Acara lamaran itu berjalan dengan khidmat. Iringan doa untuk kelancaran sampai hari H pun terdengar mendayu-dayu. Raya menitikkan airmata, bukan karena terharu sebab akan segera menikah, namun ia menangis karena benar-benar merasa sedih dengan keadaan yang sulit ditolaknya ini.
Belum lagi dia mengingat sesosok pria yang tidak bisa dia hilangkan dari hati dan pikirannya. Pria dengan perawakan dingin dan tak ramah, yang mampu mencuri sebagian dari hatinya.
Bagaimana Raya bisa menjalani pernikahan dengan Reka, jika sudah ada pria lain yang menguasai hampir seluruh hatinya?
Raya mengakui bahwa dia tidak tegas dalam bersikap, dia terlalu memikirkan perasaan orangtuanya yang berharap akan pernikahan ini. Sementara perasaannya sendiri, harus dia kesampingkan.
__ADS_1
Acara itu pun ditutup dengan kegiatan tukar cincin antara Raya dan Reka. Reka tampak semringah setelah berhasil memasangkan cincin di jari manis milik wanita berparas ayu itu.
Reka membaca gelagat Raya yang tak nyaman, namun dia berusaha menyakinkan Raya dengan kata-katanya.
"Kita akan memulai semuanya, percayalah kita akan bisa saling menerima satu sama lain," bisik Reka tepat ditelinga Raya-- saat mereka berdiri bersisian didepan banyak orang.
Raya hanya bisa tersenyum kecut dan berusaha menganggukkan kepalanya sebagai jawaban untuk Reka.
Acara pun usai, beberapa tamu yang adalah tetangga dan sanak-saudara mulai memilih untuk kembali ke kediaman masing-masing.
Kini, tinggallah keluarga inti yang berada diruang tamu rumah. Hanya ada Raya, Reka dan kedua orangtua mereka masing-masing.
"Tante El..." Raya memanggil Elyani yang masih sibuk berbicara dengan Reka serta kedua orangtua Raya, mereka sedang membahas tanggal pasti pernikahan Raya dan Reka di dua bulan kedepan.
Rencana mereka memang dua bulan lagi, tapi untuk tanggalnya masih ada perdebatan mengenai itu, karena schedule masing-masing yang begitu padat--terutama Reka. Mereka ingin menyesuaikan tanggal, agar tidak adanya bentrok dengan pekerjaan.
"Raya, sekarang jangan panggil Tante ya, panggil Mama saja," sahut wanita paruh baya itu dengan semringah.
Raya merasa canggung dengan hal itu, tapi dia mencoba untuk melakukannya.
"Ma, bolehkah Raya meminta satu permintaan?" tanya Raya serius dan membuat semua orang menjadi fokus kepada Raya saja saat ini.
"Ya, tentu..." jawab Elyani.
Reka memandang Raya, seolah ingin bertanya pada Raya, apa yang ingin Raya minta sekarang? Dia takut Raya justru meminta pembatalan pernikahan ini.
"Sebelumnya Raya minta maaf, Raya tahu ini sangat telat... tapi..." Raya kembali ragu mengutarakan pendapatnya karena tatapan Orangtuanya yang terlihat sangat berharap besar padanya-- akan perjodohan ini.
"Kenapa? Apa kamu merasa ini terlalu cepat?" tanya Elyani berusaha memahami maksud Raya.
Raya melirik Reka dan Reka balas menatapnya dengan tatapan memohon.
"Jika dua bulan lagi semua memang sangat sibuk, bisakah tanggal acara pernikahannya di undur menjadi bulan berikutnya saja?" celetuk Raya tiba-tiba.
"Kenapa?" Semua bertanya, nyaris serentak.
"Raya rasa memang ini terlalu cepat, Raya ingin diundur sedikit dari bulan yang seharusnya." Raya berniat membujuk Reka lagi nanti, tentunya dia membutuhkan banyak waktu untuk hal itu-- maka dia memutuskan mengundur tanggal pernikahan.
"Tidak masalah, Ma. Pa. Yang penting Raya tidak membatalkan pernikahan ini," kata Reka dengan nada menyindir.
"Tapi..." Elyani tidak sependapat dengan Reka, baginya lebih cepat lebih baik.
"Yang penting kalian sudah bertunangan, pernikahan bisa kita tunda jadi tiga bulan lagi. Mudah-mudahan saat itu kondisi Papa juga mulai stabil," sahut Damar menengahi.
Merasa ucapan Damar ada benarnya, Adrian pun ikut angkat bicara.
"Ya, ya... jika kondisi Damar sudah sehat dan pulih total rasanya lebih nyaman mengadakan pesta pernikahan. Benar begitu, kan?" kata Adrian sembari terkekeh.
Merekapun jadi sepakat untuk mengundur pernikahan menjadi tiga bulan dari sekarang. Elyani segera menelepon beberapa pihak penting yang mengurus soal pernikahan, mulai dari WO, percetakan, Bridal dan lainnya untuk memberitahu tanggal pasti pernikahan Raya dan Reka yang sudah mereka tentukan hari ini.
Raya sedikit bernafas lega, karena itu dia harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk membujuk Reka agar mau membatalkan pernikahan ini. Dia tidak mau menyesal dikemudian hari dan dia tidak mau menyakiti Reka nantinya.
...Bersambung ......
__ADS_1