PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Tak romantis


__ADS_3

Makan siang telah usai, namun Airish masih diam seribu bahasa. Zio yang sudah menduga hal ini akan terjadi mulai mengambil sikap kembali.


"Mau sampai kapan kamu diem gini?" tanya Zio pelan dan Airish menggelengkan kepalanya.


Zio tertawa pelan, "Sekarang kamu udah tahu status kita, kan? Jadi, apa jawaban kamu?" tanyanya.


Meskipun Zio sudah mendapatkan restu dari Papa Nev, tapi ia tetap ingin mendengar jawaban dari bibir Airish secara langsung.


"Ja-jawaban?" tanya Airish bengong.


"Iya," jawab Zio. Ia meraih tangan Airish dan menggenggamnya. Tapi, ia merasakan tangan gadis itu yang teramat dingin.


"Ka--kalau Papa aku udah setuju, memangnya aku boleh, nolak?" tanya Airish.


"Jadi, kamu mau nolak saya?" tanyanya namun semakin mengeratkan genggaman di jemari gadis itu.


Airish tampak menundukkan wajah. "Bukan gitu...."


"Berarti? Kamu nerima saya?"


"Iya," kata Airish sangat pelan.


"Iya, apa?"


"Iya, aku nerima kamu lah ...."


Zio tertawa pelan. Kemudian meraih kotak cincin diatas meja sambil tangan satunya yang masih menggenggam jemari Airish. Ia memasangkan cincin ke jari manis gadis itu, membuat Airish menganga tak percaya akan apa yang dilihatnya saat ini.


Cincin dengan desain elegan itu sudah tersemat indah dijari manis gadis itu, membuat sebuah senyuman semringah terpancar di wajah cantiknya. Rasanya amat terharu sekaligus bahagia. Entahlah, sulit diutarakan dengan segala definisi yang ada.


"Pas dan cantik," ucap Zio dengan senyuman lebar. "Sekarang, kamu mau kan pasangin cincin ke jari saya? Meskipun selama ini kamu sudah mengikat hati saya tapi anggaplah cincin ini sebagai lambang pengikat diantara kita," bisik Zio didepan wajah Airish.

__ADS_1


Airish berkedip-kedip gelisah, mengangguk sebagai tanggapan untuk permintaan Zio. Kemudian, dengan masih gemetaran ia pun meraih cincin satunya dan mengambil tangan pemuda itu.


Zio mengulumm senyum melihat aksi Airish yang sangat menggemaskan di pandangan matanya.


Tak lama, Airish telah selesai memakaikan cincin pada jemari Zio. Zio mendesahh penuh kelegaan karena akhirnya cincin yang sudah ia simpan cukup lama akhirnya terpasang dijari mereka masing-masing.



"Maaf ya, saya terkesan tidak romantis karena tidak menyiapkan tempat untuk momen spesial ini," kata Zio.


"Nggak apa-apa, meskipun gak romantis aku juga gak bakalan lupain momen ini."


Zio tersenyum menatap Airish. "Terima kasih sudah mau menerima saya," katanya.


Airish menggeleng. "Aku yang terima kasih sama kamu, karena kamu masih mau menunggu jawaban aku sampai hari ini," jawabnya. Airish meraih gelas minumannya dan meneguk secara perlahan.


"Terus, menurut kamu .... kapan waktu yang tepat untuk kita menikah?"


Bagaimana Airish tak terkejut hingga menyebabkannya tersedak. Belum reda rasa shock nya akibat status pertunangan mereka, sekarang Zio malah membahas tentang pernikahan.


Zio membantu Airish mengelap dagu dan bibir gadis itu yang basah akibat kejadian beberapa detik lalu, tapi itu malah membuat keduanya semakin canggung saat ternyata jemari Zio tak sengaja menyentuh kulit bibir Airish yang lembut. Keduanya berpandangan satu sama lain dengan pikiran masing-masing.


"Maaf," kata Zio menghentikan aktivitas mengelap bibir Airish sekaligus memutus kontak mata mereka.


Airish langsung mengambil alih tisu yang tadinya dipegang Zio, mencoba mengelap bibirnya sendiri dengan sikap yang kembali menjadi kikuk.


"Zi, bisa gak, kalau kita jalani dulu hubungan ini selayaknya pasangan lainnya. Aku belum mau menikah sebelum lulus kuliah...."


Zio kembali menatap Airish sembari mencoba mencerna ucapan gadis itu.


"Kalau itu menjadi keputusan kamu, saya gak masalah. Yang penting kamu sudah tahu status kita dan bisa menjaga hubungan ini karena saya tidak pernah main-main dalam setiap perkataan apalagi janji yang sudah saya ucapkan," papar Zio.

__ADS_1


".... tapi, itu berarti kita akan menjalani hubungan jarak jauh setelah ini, karena saya hanya satu Minggu berada di Jerman," sambung Zio.


Airish menundukkan kepalanya, entah kenapa mendengar itu membuatnya cukup kecewa dan rasa takut mulai melingkupinya. Ia baru saja merasakan euforia atas status mereka berdua, tapi kedepannya mereka harus menjalani LDR. Apakah bisa? Selama ini semuanya bisa ia jalani karena merasa tak memiliki hubungan. Tapi sekarang jelas berbeda, bukan?


"Mau gimana lagi," jawab Airish dengan lesu.


Zio tersenyum tipis. "Kenapa? Kamu takut kangen sama saya?" godanya.


Airish mengadah menatap wajah pemuda itu. "Ge-er kamu!" sanggahnya disertai kekehan kecil.


Zio ikut terkekeh. "Kalau kangen nanti kita bisa video call, kan?" katanya tak mengindahkan sanggahan Airish.


Airish mengangguk malu-malu.


"Ya udah." Zio melihat jam dipergelangan tangannya. "Saya ada pekerjaan setelah ini. Sekarang saya antar kamu pulang dulu. Besok malam, saya akan ke Apartmen keluarga kamu untuk menyapa Om Nev dan Tante Raya. Boleh?"


Airish terkesiap. "Kamu serius mau ketemu orangtua aku?"


"Iya serius, masa' saya cuma nemuin anaknya saja tapi orangtuanya gak saya kunjungi...." kekeh Zio.


"Tapi....." Airish ragu dengan pertemuan Papa Nev dengan Zio nantinya.


"Kamu lupa kalau lamaran saya sudah diterima Papa kamu? Jadi, ini nanti bukan kedatangan untuk perkenalan diri lagi. Kami sudah sering bertemu, bedanya, biasa karena urusan kerja sekarang karena urusan keluarga."


"Urusan keluarga?" Airish terkekeh.


"Ya, kelak kita bakal jadi keluarga, kan?" Zio tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya pada Airish. Seketika itu juga Airish membuang pandangan karena terlalu malu dengan sikap pemuda itu.


"Ya udah, nanti aku bilangin ke Mama dan Papa soal kunjungan kamu."


********

__ADS_1


__ADS_2