
Raya menyambut kepulangan suaminya dengan senyum merekah.
"Sekarang kamu mandi dulu ya, bajunya udah aku siapin di kamar. Abis itu kita makan malam sama-sama, aku udah masak buat kamu," ucap Raya tersenyum.
"Makasih, Sayangku." Nev mengecup puncak kepala Raya sekilas dan melangkah menaiki anak tangga. Sementara Raya, kembali ke ruang makan untuk menyiapkan perlengkapan makan malam mereka.
Raya sudah duduk di meja makan dan menunggu sang suami untuk turun. Tak berapa lama, pria yang ditunggu Raya itupun datang.
"Wah, istriku memang yang terbaik," puji Nev sembari menatap sajian menu makanan yang sudah dihidangkan Raya diatas meja makan.
Malam ini Raya memasak ayam fillet lada hitam, kentang balado dan sup jamur.
Nev memulai makan malamnya setelah Raya mengambilkan nasi dan lauk untuk sang suami.
"Kamu tahu gak, ada cerita lucu..." celetuk Nev sejenak ditengah-tengah aktivitas mengunyahnya.
"Cerita lucu apa?" tanya Raya ingin tahu.
"Jimmy sama Nimas gagal bulan madu," kekehnya.
Dasar Nev! temannya gagal bulan madu kenapa justru mengatakan itu hal yang lucu?
"Terus, lucunya dimana, Nev?" tanya Raya sembari menyendok makanannya pula.
"Ya lucu aja, biarin aja dulu bulan madunya ditunda. Biar Jimmy tahu artinya bersabar," jawab Nev dengan entengnya.
Raya menggeleng samar, tidak menyangka jawaban sang suami se-absurd itu. Bukankah seharusnya Nev prihatin pada nasib Jimmy?
"Memangnya apa sebabnya mereka jadi gagal bulan madu?" tanya Raya.
"Jadi rencananya kan mereka mau bulan madu ke Cappadocia, tapi Nimas belum punya Paspor, Jimmy lupa mempersiapkan hal itu. Jadi, ditunda deh beberapa hari sampai paspornya siap," terang Nev sembari mengulumm senyum.
"Kamu kayaknya seneng banget ya mereka gagal honeymoon?" selidik Raya.
Tidak disangka, Nev justru mengangguk cepat.
"Alasannya?" tanya Raya.
"Ya itu tadi Sayang, biar Jimmy tahu arti sebuah kesabaran."
"Yakin cuma karena itu? Gak ada yang lain?"
Nev tertawa. "Mungkin saja ini balasan buat Jimmy, Sayang. Karena dulu dia sempat menunda pertemuan kita juga! Aku masih ingat saat dia tidak mau membantu aku untuk mencari kamu, justru dia membantu Nenek untuk menyembunyikan kamu dariku," terangnya jumawa.
Raya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat senyum kepuasan diwajah sang suami.
"Lagipula, Jimmy itu udah terlalu sering bersikap gak sabar. Jadi kali ini biarkan saja, aku gak mau membantu dia juga," kata Nev dengan senyum jahilnya yang tampak culas.
"Kalau begitu, kamu sama aja dong sama dia."
"Ya, anggap saja begitu meskipun aku jauh seribu persen lebih baik!" jawabnya kembali pongah.
"Aduh aduh... suami siapa ini?" sindir Raya sengaja.
__ADS_1
Nev terkekeh dan tak mau menjawab, dia menikmati kepuasan hatinya mengejek nasib Jimmy.
"Lagipula, meskipun bulan madunya ditunda, kan malam pertamanya bisa dimana aja," celetuk Raya dengan polosnya.
Nev menatap Raya dengan dahi berkerut. Ucapan istrinya itu memang polos, tapi ada benarnya. Bukankah Jimmy bisa melakukannya dimana dan kapan saja sekarang? Tidak perlu menunggu momen bulan madu? Jadi tertundanya bulan madu Jimmy dan Nimas tidak akan menyebabkan Jimmy belajar sabar seperti yang ia katakan tadi. Ck! Kenapa bisa lupa?
Wajah Nev berubah datar seperti sedia kala, padahal tadi wajah culasnya sudah terlihat, tapi akibat celetukan Raya, Nev menjadi sadar akan benarnya ucapan itu.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Tanpa terasa, hari-hari berlalu begitu saja. Kemarin, baru saja Raya dan Nev ikut mengantar kepergian Jimmy dan Nimas ke Bandara. Akhirnya mereka berangkat juga untuk melakukan perjalanan honeymoon yang sempat tertunda.
Dan malam ini, Raya tengah berada dikamar bersama suaminya yang tampak sibuk sendiri.
Sejak keguguran, Raya menyadari jika intensitas hubungannya dengan Nev semakin berkurang, meski dalam keseharian mereka memang baik-baik saja, tapi ia dan Nev belum pernah melakukan 'hubungan' lagi sejak kejadian itu dan ini sudah hampir sebulan lamanya.
Raya tahu, Nev prihatin terhadapnya dan tidak mau memaksakannya.
Entah kenapa Nev bisa bertahan selama ini. Suaminya itu memang tidak pernah menuntutnya dalam hal semacam ini. Tapi didalam lubuk hatinya, ia merasa bersalah karena mengabaikan hak Nev sebagai seorang suami.
"Nev..." lirihnya dari atas tempat tidur, ia bersandar di kepala ranjang sambil menatap Nev yang duduk di sofa sembari memainkan laptop.
Nev menoleh sekilas, "Ya?" jawab Nev, lalu kembali menekuri layar laptopnya.
"Kamu sibuk banget, ya?"
"Lumayan, ini kerjaannya biar cepat kelar. Karena bentar lagi kita kan bakal liburan panjang."
Ia menghela nafas sejenak.
"Iya sayang, ngomong aja." kata Nev tak mengalihkan atensi dari layar laptop.
Ia kembali menghela nafas, kali ini justru beranjak dari ranjang dan menghampiri Nev di sofa.
Nev mengadah padanya yang masih dalam posisi berdiri. Kemudian segera menyadari jika ia memang ingin bicara serius kali ini, sehingga suaminya itu segera menutup laptop untuk menyambut kedatangannya.
Nev mendudukkannya dalam pangkuan, memeluk pinggangnya dan mengabaikan segala tugas yang tadi menjadi atensi utama pria itu.
"Kenapa, hmm?" Nev bertanya padanya, menatapnya dengan senyuman, lalu menyelipkan sulur rambutnya kebelakang telinga.
"Apa kamu sudah bosan denganku?" tanyanya lirih.
Nev mengernyit keheranan dan wajahnya tampak terpana sejenak. "Kamu ngomong apa?" tanya pria itu.
"Aku tanya, apa kamu sudah bosan denganku?"
"Pertanyaan macam apa itu?"
Ia menggeleng, tak tahu kenapa pertanyaan seperti itu bisa tercetus begitu saja.
"Kamu sedang banyak pikiran, ya?" terka Nev.
Ia mengangguk. "Iya, aku sedang banyak pikiran. Memikirkan kamu," jelasnya cepat.
__ADS_1
Nev terkekeh pelan. "Apa yang kamu pikirkan tentangku?" tanyanya kemudian.
"Aku berpikir kamu... sudah bosan padaku," jawabnya sembari menggigit bibir.
"Kenapa kamu bisa punya pikiran seperti itu?" tanya Nev santai, lalu mengelus bibirnya dengan jari pria itu.
"Karena-- hampir sebulan lamanya kita gak pernah---" ia tak kuasa melanjutkan kalimatnya.
Nev tersenyum kecil. "Oh, jadi karena itu..."
Ia pun menatap Nev dengan seksama, suaminya pasti pintar menyimpulkan apa yang ia maksud, walau tanpa ia jelaskan secara gamblang.
"Listen to me ..." Nev menangkup kedua sisi wajahnya, membuat pandangan mata mereka bertumbukan satu sama lain.
"Aku gak menuntut kamu dalam hal itu selama hampir sebulan ini, karena aku memikirkan kondisi kamu. Bagi aku, keadaan kamu jauh lebih penting daripada hanya kebutuhan biologisku. Aku masih bisa menahannya, yah... walaupun ku akui itu sangat sulit, tapi jika dengan itu aku bisa menjaga kamu, ya pasti aku lakukan! Rasanya baru kemarin kamu menjalani kuret, jadi ku pikir kamu akan merasa sakit jika aku memaksakan keinginanku," terang Nev panjang lebar yang membuatnya speechless dengan ulasan yang dijabarkan sang suami.
"Bagi aku, se*ks itu memang perlu tapi itu bukan hal utama dalam Rumah Tangga," imbuhnya.
"Apa kamu yakin? Lalu sampai kapan?" tanyanya.
"Apanya yang sampai kapan?"
"Sampai kapan kamu bertahan dengan alasan menjagaku?"
"Sampai detik ini aku bertahan, walaupun posisi kita yang seperti ini membuat aku sulit untuk mempertahankan prinsip itu," papar Nev.
Dan ia pun segera menyadari posisi duduknya yang sekarang tengah dipangku oleh suaminya. Ini memang posisi yang akan menyulitkan Nev untuk menahan serbuan has-rat.
Ia terdiam, tak tahu lagi ingin memberi pertanyaan apa pada sang suami, karena rupanya Nev langsung menyimpulkan sesuatu.
"Tapi, jika kamu sudah merasa siap sekarang... maka..."
"Ma-maka a-apa?" tanyanya gugup. Kenapa harus berubah gugup sih?
"Maka aku gak akan menolaknya, Sayang." Nev mengusap pelan area lehernya yang terbuka.
Entah kenapa hawa dikamarnya menjadi berubah panas. Ada apa gerangan?
"Aku...."
"Kenapa kamu memakai baju seperti ini? Apa kamu memang sudah siap malam ini? Atau ... kamu memang sengaja mau menggodaku, ya?" Suara Nev berubah parau.
Dan ia langsung sadar bahwa memang penampilannya sekarang seolah tengah menjadikan diri sebagai mangsa singa yang tengah kelaparan.
"A-aku..." Betapa bodohnya ia, karena hanya menjawab pertanyaan Nev yang seperti itu saja, ia tak bisa! Justru malah terpaku, dengan ucapan tak jelas yang menggantung diujung bibirnya.
Nev tersenyum kecil, membuat kulitnya meremang dengan senyuman itu.
Sepersekian detik berikutnya, tangan suaminya sudah sampai di balik bajunya dan membuatnya pasrah.
"Aku pikir aku akan bisa bersabar sampai kita pergi ke Inggris, ternyata kamu yang sudah tidak sabar," goda Nev dan berhasil membuat wajahnya semerah saga.
...Bersambung ......
__ADS_1
...Jangan lupa love, like, komen, vote dan hadiah♥️♥️♥️♥️♥️♥️...