
Keesokan paginya, Raya dan para ART membantu Nimas berkemas, karena Jimmy membeli banyak barang untuk kunjungan pertamanya kerumah orangtua Nimas.
"Kami tunggu tanggal pastinya, Bro..." kata Nev menepuk pelan pundak Jimmy.
"Oke, doakan aku ya." kata Jimmy terkekeh.
"Kenapa? Kau gugup karena akan bertemu calon mertua?" terka Nev.
Jimmy menyengir lalu mengangguk.
"Semuanya pasti akan berjalan lancar, yang penting niat kita baik," ucap Nev menenangkan Jimmy.
Setelah selesai dan memastikan tidak ada yang tertinggal, mereka semua mengantar kepergian Nimas dan Jimmy dengan senyuman dan lambaian tangan.
"Semoga semua urusan mereka berjalan lancar, ya..." kata Raya dalam rangkulan tubuh suaminya.
"Hmm," gumam Nev.
Tak berselang lama dari kepergian Jimmy, Bian pun datang menjemput Nev karena hari ini Nev malas menyetir mobilnya. Nev dan Bian berangkat menggunakan mobil Sekretarisnya itu.
"Kemarin, aku hampir kecelakaan di jalan ini," kata Nev saat memasuki kawasan jalan utama.
Bian menoleh sekilas pada Nev, karena efek terkejut akibat ucapan sang Atasan, namun dia tetap diam dan menunggu Nev melanjutkan ceritanya.
"Entah kenapa aku merasa insiden itu seperti disengaja, apa aku terlalu paranoid karena masa lalu?" tanya Nev terus terang.
"Entahlah, Tuan. Apa Anda mau saya menyelidikinya?" tanya Bian serius.
Nev menggeleng, "Sepertinya hanya aku yang terlalu risau. Mungkin aku menganggap itu disengaja karena aku masih mengingat insiden masa laluku." kata Nev.
"Baiklah, Tuan. Semoga Anda bisa lebih berhati-hati lagi dalam mengemudi," jawab Bian memperingati.
"Hmm," Nev bergumam.
"Oh ya, sepertinya kemarin Anda membuat Nona Luisa sangat jengkel, Tuan." kata Bian tiba-tiba.
"Biar saja, biar dia tahu dimana posisinya dalam hidupku. Dia terlalu mengada-ngada, Right?"
Bian mengangguk sembari tetap fokus mengemudikan mobil menuju perusahaan.
"Kalau dia ingin menemuiku lagi, kau hadapi saja dia. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman nantinya," kata Nev lagi, dia tak mau terlalu sering bertemu Luisa, karena akan menyebabkan boomerang untuk dirinya sendiri.
"Iya, Tuan." jawab Bian paham.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
Kabar kehamilan Raya disambut bahagia oleh Nenek Nev dan kedua orangtua Raya tentunya.
__ADS_1
Ini adalah cucu pertama bagi orangtua Raya, dan mereka ingin mengadakan syukuran untuk kehamilan Raya ini dengan cara menyantuni anak-anak yatim di Panti Asuhan.
Pagi ini, hari sangat cerah. Nev dan keluarga besarnya akan mengunjungi Panti Asuhan terdekat. Semua diajak oleh Nev termasuk para ART, supir dan tukang kebun dirumahnya.
Mereka pergi menggunakan tiga mobil dan langsung menuju ke Panti Asuhan itu.
Sesampainya di Panti, Sahara dan para ART membantu menyiapkan semua makanan yang mereka bawa untuk dibagikan pada seluruh penghuni panti. Sedangkan Para pria, membantu membawa box-box berisi sembako, obat-obatan, pakaian dan mainan yang sebelumnya sudah dipersiapkan untuk kebutuhan Panti.
"Kami sebagai pengelola panti mengucapkan banyak terima kasih untuk Pak Nevan dan keluarga, semoga kalian semua sehat dan selalu dilimpahkan rezeki," kata Ibu kepala Panti.
"Sama-sama, Bu ... semoga apa yang kami beri dapat bermanfaat di Panti," kata Nev menjabat tangan Ibu kepala panti.
"Sangat, ini semua benar-benar bermanfaat." jawab beliau semringah.
Nev juga mengatakan akan menjadi donatur tetap dan menyalurkan anggaran dana untuk keperluan Panti setiap tahunnya.
Raya terlihat sangat senang, dia membaur bersama anak-anak panti yang didominasi umur 1-12 tahun-an. Jiwa keibuannya mulai nampak, dia juga beberapa kali bercerita serta mendongengkan anak-anak tentang kisah lucu dan penuh pelajaran.
Nev ikut senang melihat istrinya yang bisa menyalurkan sifat supelnya, karena selama ini Nev tahu Raya kekurangan teman saat di Indonesia. Tapi Nev cukup bersyukur karena dia menjadi satu-satunya tempat sang istri berkeluh-kesah.
Acara syukuran itu diakhiri dengan sesi doa bersama para anak panti.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
1 Minggu setelah acara syukuran itu, Nev berangkat keluar kota untuk mengurus beberapa proyek baru dalam pekerjaannya. Dia berangkat bersama Bian.
Mau tak mau dan dengan berat hati, Nev meninggalkan sang istri yang tengah mengandung. Raya meyakinkan Nev, jika semuanya akan baik-baik saja. Sehingga akhirnya Nev pun memutuskan untuk berangkat.
"Jangan begadang, Sayang."
"Jangan keluyuran, ya."
"Jangan makan junk food."
"Anak Papa, Papa pergi dulu ya. Jaga Mama, ya."
Itulah pesan Nev sebelum benar-benar meninggalkan Raya ke luar kota. Tak lupa dia mengecup dahi dan perut istrinya yang belum nampak membuncit.
Sepulang dari Bandara, Raya meminta supir untuk mengantarkannya ke rumah orangtuanya saja, karena rumah Nev sekarang sedang dalam tahap renovasi dan suaminya itu memang menyarankannya untuk tinggal bersama kedua orangtuanya selama Nev pergi, agar Raya merasa lebih nyaman.
"Pak kita lewat jalan ini saja, akan lebih cepat sampai," kata Raya merujuk salah satu jalan pintas menuju kerumah orangtuanya.
"Iya, Nyonya." jawab sang supir.
Saat mobil berbelok ke arah tujuan yang hampir sampai, mobil itu hampir saja menabrak seseorang yang melintas secara tiba-tiba, menyebabkan supir mengerem secara mendadak.
"Maaf, Nyonya, Anda baik-baik saja?" tanya sang supir pada Raya yang duduk di seat belakang.
__ADS_1
Raya menenangkan dirinya yang cukup terkejut dengan kejadian tiba-tiba itu.
"Tidak apa-apa, Pak. Coba cek keadaan perempuan itu, Pak..." kata Raya khawatir, Raya sempat melihat gestur dan pakaian seorang yang melintas tadi memang adalah seorang wanita.
Sang supir mengangguk, kemudian segera keluar dari mobil. Beberapa menit kemudian supir belum kembali masuk ke mobil untuk mengabarkan pada Raya tentang apa yang terjadi, membuat Raya akhirnya ikut turun dari mobil untuk mengecek keadaan.
Raya melihat sang supir yang sedang berbicara pada seorang wanita yang terduduk, mungkin wanita itulah yang tadi sempat hampir tertabrak oleh supirnya.
Raya mendekat demi melihat keadaan wanita itu.
Wanita itu berpenampilan sederhana dengan rambut diikat sembarangan. Kepalanya tertunduk sembari memegangi kakinya sendiri.
"Pak, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Raya pada supir yang setengah berjongkok demi menanyakan keadaan sang wanita.
"Ini, Nyonya, anu ..." Sang supir tampak gelagapan dan kebingungan.
"Mbak, apa ada yang luka? Kalau ada yang sakit kita ke Rumah sakit saja biar diobati," ujar Raya menengahi, dia mencoba berbicara pada sang wanita.
Sang wanita yang tertunduk sejak tadi mengadahkan kepala demi menatap Raya, namun saat Raya melihat wanita itu, dia begitu terkejut karena ini sungguh diluar prediksinya.
"Feli ..." Raya menatap wanita itu dan tak mampu menutupi rasa kagetnya. Ya, dia adalah Feli.
Feli menyunggingkan senyuman tipis.
"Aku tidak apa-apa, kok..." jawab Feli masih tetap memegangi kakinya sendiri.
Pantas saja sang supir tak bisa berkata-kata, supir itu pasti sudah mengenali mantan majikannya itu. Raya saja pun nyaris tak bisa berbicara, sebab mendapati Feli dalam keadaan seperti ini. Bukan hanya penampilannya yang terlihat sangat sederhana, tapi disebelah Feli, tampak sebuah kantongan plastik berisi karton-karton bekas yang seperti habis dikumpulkannya dengan susah payah.
"Feli, ayo kita berobat saja," kata Raya mendekat kearah Feli yang terduduk diemperan jalan.
Feli menggeleng lemah, membuat nurani Raya merasa terhenyak.
"Kenapa kamu bisa seperti ini, Fel?" tanya Raya tidak paham apa yang terjadi dengan wanita itu.
"Ya, beginilah aku yang sekarang," kata Feli sembari tersenyum kecut.
Raya menggeleng, setahunya Nev memberi Feli harta gono-gini setelah perpisahan mereka, lalu kenapa dalam jangka waktu tak sampai setahun Feli jadi seperti ini.
"Kau benar-benar tidak apa-apa?" tanya Raya memastikan lagi.
Feli tak menjawab, justru melayangkan pandangan kearah lain.
"Kau menikah dengan Nev?" tanya Feli pelan, dia menatap jalanan yang tampak lengang.
Raya menelan salivanya dengan susah, dia takut menyakiti Feli dengan kenyataan yang sudah terjadi sekarang.
Melihat Raya diam, Feli kembali menatap pada Raya. "Benar, kan? Kalian menikah..." Feli tertawa sumbang.
__ADS_1
"Iya, aku dan Nev memang menikah," jawab Raya pelan dan apa adanya.
...Bersambung ......