
Keesokan harinya, Nev dan Raya benar-benar melangsungkan acara pernikahan mereka.
Raya tampak cantik dengan gaun pernikahan yang sudah dirancang di Bridal, gaun itu memang gaun awal yang dipilih Raya bersama Ibunda Reka.
Nev tidak mempermasalahkan Raya mengenakan gaun itu, karena itu adalah gaun pilihan Raya sendiri. Raya memilih dengan harapan akan menjadi pengantin yang bahagia.
Untuk Nev sendiri, dia mengenakan Tuxedo putih yang kemarin dipilihkan Bian untuknya, tanpa ikut serta untuk fitting dan membelinya karena waktunya sangat mepet.
Ikrar pernikahan pun dilakukan, tidak membuang waktu lama karena dengan pasihnya Nev bisa menyebutkan nama Raya dalam sekali tarikan nafas.
Adrian cukup puas, itu berarti Nev benar-benar memiliki kesungguhan dalam niat menikahi Raya, anaknya.
Bersamaan dengan sahnya Nev dan Raya yang menjadi pasangan suami istri, disaat itu pula tangis kebahagiaan keluarga Raya dan Nenek Nev pecah tidak terbendung.
Apalagi banjiran Doa selamat masih terdengar sayup-sayup diindera pendengaran semua orang, membuat suasana semakin haru ditambah acara sungkeman yang membuat Raya menangis dipangkuan kedua orangtuanya.
Acara sakral selesai, dan langsung berlanjut dengan acara resepsi.
Resepsi itu tidak terlalu ramai, kebanyakan tamu adalah relasi bisnis Adrian dan Nev-- yang diundang secara mendadak.
Untuk Raya, dia sendiri tidak memiliki banyak teman di Indonesia, sehingga yang dia undang sejak awal adalah teman-teman kecilnya saja itupun tidak terlalu banyak.
Yang tampak sibuk dipesta itu tentunya adalah Nenek dan juga Sahara. Biasa, kaum wanita memang akan menyibukkan diri dalam hal terdetail agar acara berjalan lancar tanpa ada kurang satu apapun.
Jimmy datang ke pesta pernikahan itu dengan seorang wanita yang tidak asing, ya... wanita itu adalah Nimas yang tidak bisa menolak ajakan Jimmy untuk ikut hadir ke pesta.
Jimmy menemui kedua orang pengantin yang berada di singgasana pelaminan.
"Selamat, Bro..." Jimmy menyalami Nev sekaligus memeluk dan menepuk-nepuk pundak Nev khas pria dewasa.
Nev terkekeh kecil melihat wajah Jimmy yang mengulumm senyum jenakanya.
"Dapat jackpott, Bro," bisik Jimmy ditelinga Nev dan Nev hanya menggeleng kecil untuk menanggapi ucapan Jimmy itu.
Jimmy pun bergantian menyalami Raya.
"Selamat ya, aku ikut bahagia untuk kalian berdua. Jangan lupa berterima kasih padaku," celetuk Jimmy masih menggenggam tangan Raya.
Jimmy mengingat kelakuannya yang mengirimkan box berisi ratusan foto Reka dan Citra ke alamat rumah Raya. Begitupun pada Citra, Jimmy lah yang mengirimkan surat undangan pernikahan Reka dan Raya pada Citra-- itulah yang membuat Citra jadi tahu perihal pernikahan Reka dan menyebabkan Citra bertengkar dengan Reka kemarin. Ya, semua itu ulah Jimmy. 😁
Nev melihat Jimmy yang masih melamun sambil menggengam tangan Raya. Dengan senyuman kecil, Nev sengaja melepas paksa tautan tangan Jimmy di jemari Raya.
"Jangan lama-lama," ejek Nev melerai tangan Jimmy. "Mau lama-lama buru nikah," cibirnya sembari menunjuk Nimas dengan dagunya.
Raya terkekeh melihat sikap Nev itu.
Sementara, Nimas tersenyum kecil dan Nev pun mulai buka suara pada Asisten rumah tangganya itu.
__ADS_1
"Nimas, kau tahu kan, apa yang harus kau lakukan jika dia mempermainkanmu?" tanya Nev serius pada Nimas.
Nimas mengangguk, "Iya, Tuan." ucapnya.
Jimmy sedikit mengernyit heran. "Memangnya apa yang akan kamu lakukan padaku?" tanya Jimmy pada Nimas.
Nimas menunjukkan kepalan tangannya pada Jimmy dan Jimmy pun menyengir kuda pada perempuan yang ikut bersamanya itu, pasalnya Jimmy tahu karakter Nimas memang sedikit tomboy, jadi mungkin saja Nimas benar-benar akan membogem-nya apabila dia main-main pada Nimas.
Mereka berempat pun terkekeh bersamaan, apalagi melihat wajah Jimmy yang merah dan salah tingkah.
Bian datang ke pesta bersama istrinya. Niken juga hadir disana dan dengan heboh memberi selamat pada Raya.
"Apa kamu bahagia?" Bisik Nev ditelinga Raya.
"Hmm," jawab Raya berdehem.
"Tapi aku butuh satu jawaban," celetuk Nev lagi, masih berbisik disamping Raya.
"Jawaban?" Raya heran dan menoleh pada Nev.
Nev menggenggam tangan wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.
"Kamu belum pernah mengatakan tentang perasaanmu, apalagi kamu menerima pernikahan ini begitu saja, aku takut kamu terpaksa..." kata Nev.
"Kenapa harus terpaksa?" Raya balik bertanya.
"Mungkin kamu iba melihatku," jawab Nev sedikit terkekeh, menertawai dirinya sendiri.
Raya ikut membalas genggaman tangan Nev dengan jemari yang satunya.
Nev mengangguk, "Sangat penting," katanya.
"Apa kamu percaya jika aku mengatakan kalau aku memiliki perasaan yang sama denganmu?" kata Raya.
Nev menatap Raya dengan tatapan aneh. "Seriously?" tanyanya tak percaya.
Raya mengangguk.
Nev melengkungkan bibirnya. "Raya, jangan membuatku hopeless yang berlebih," kata Nev.
"Aku serius, Nev." kata Raya.
"Sejak kapan?" tanya Nev.
"Entahlah, perasaan itu tiba-tiba saja ada." kata Raya enteng.
Nev membawa tangan Raya kedepan wajahnya dan mengecupnya bertubi-tubi.
"Nev..." protes Raya, dia malu sendiri melihat tingkah Nev itu.
"Ingatlah, aku sudah menjadi suamimu," kata Nev datar seperti karakternya yang biasa.
Raya memutar bola matanya sembari menggeleng pelan. "Astaga, masih saja.." gumamnya.
__ADS_1
"Aku mendengarnya," celetuk Nev dan Raya jadi terkekeh.
Acara resepsi itu pun berjalan lancar, acara itu ditutup dengan acara makan malam keluarga.
Tamu-tamu yang sudah seperti keluarga bergabung dalam satu meja besar bersama kedua mempelai pengantin. Di meja itu dihidangkan berbagai macam makanan.
"Kamu mau makan apa?" Nev berbisik pada Raya disebelahnya.
"Apa saja," kata Raya tenang.
"Baiklah, aku akan mengambilkannya untukmu," kata Nev sembari memutar trai makanan yang berputar dimeja, karena pengantin yang lebih dulu dipersilahkan untuk mengambil menu makanan mereka.
Nev mengambilkan Raya nasi dan lauk yang sangat banyak. Raya terkekeh melihat ulah Nev itu, karena porsi makannya tidak sebanyak yang Nev berikan.
"Ini terlalu banyak, Nev..." kata Raya memprotes.
"Sekarang kamu sudah pandai protes ya," cibir Nev disertai kekehan kecilnya.
Raya pun menyadari jika dulu dia tidak pernah membantah ucapan Nev, berbanding terbalik dengan saat ini.
"Oke, tapi ini kita makan bersama saja, aku tidak bisa menghabiskannya," kata Raya merujuk pada piring makannya.
"Usul yang baik," kata Nev mulai menyulangi Raya sesendok makanan dan Raya cukup malu menerima suapan itu, pasalnya sekarang mereka ditonton banyak orang.
Tapi melalui sorot matanya, Nev meyakinkan agar Raya menerima suapan itu. Hingga akhirnya Raya pun makan dengan suapan dari Nev. Nev menjadi ingat momen makan yang sama pada masa lalu bersama Raya, bedanya sekarang mereka sudah menjadi suami istri, menyebabkan Nev menyunggingkan senyum tiada henti.
Semua orang ikut senang melihat kehangatan yang ditunjukkan Nev pada Raya. Mereka menilai pasangan ini sangat serasi dan saling mengisi satu sama lain.
Setelah pesta berakhir, mereka semua mulai pulang ke kediaman masing-masing.
Kedua orang yang sudah resmi menjadi pengantin itu pun bingung ingin pulang kemana sekarang.
Adrian menitipkan puterinya pada Nev, dan menyerahkan keputusan pada Nev untuk membawa Raya pulang kemana. Sebenarnya Adrian ingin meminta Raya dan Nev tinggal dirumahnya saja, tapi mengingat anak gadisnya sudah menjadi istri orang, jadi Adrian mempercayakan semua pada suami anaknya saja.
Nev ingin pulang kerumahnya, tapi entah kenapa dia urung untuk pulang malam ini.
"Bian, mana kunci mobilku?" tanyanya pada Bian.
Bian dengan sigap melempar kunci pada Nev yang ada diseberangnya dan Nev menangkap itu.
Nev menarik tangan Raya, meninggalkan beberapa orang yang masih ada di meja makan besar itu. Tentunya setelah orangtua Raya dan Neneknya pulang lebih dulu.
Raya masih santai, mengira malam ini akan pulang ke rumahnya atau ke rumah Nev, mungkin.
Jadi Raya mengikuti saja langkah Nev yang mulai memimpinnya keluar gedung dan menuju parkiran mobil.
"Kita tidak pulang kerumah," kata Nev datar sembari memasangkan seatbelt ke tubuh Raya.
"Ya?" Raya masih belum mengerti maksud Nev.
"Dirumah pasti masih terlalu sibuk dengan sisa acara ini, aku malas pulang kerumah." kata Nev mulai menyalakan mesin mobilnya.
"Lalu? Kita pulang kemana?" tanya Raya dengan mata membola, dia mulai menyadari bahwa ada yang tidak beres sekarang.
__ADS_1
...Bersambung ......