
"Kakak.....!!!!" teriak seorang gadis remaja. Gadis itu tersengal - sengal, merunduk dan menopang tangan di lututnya. Ia lelah mengejar sang Kakak yang selalu mengusilinya.
"Kenapa, sih? Pagi - pagi udah teriak - teriak aja!" Seorang gadis lain menghampiri gadis pertama--dengan gayanya yang cuek sambil mengunyah roti bakar ditangannya.
Gadis pertama menatap gadis kedua dengan wajah ditekuk. Lalu, tanpa persetujuan siapapun ia menyambar roti bakar yang masih dipegang oleh gadis kedua.
"Airish!!! Itu rotiku!" decak gadis kedua yang tak lain adalah Abrine--saudara kembar Airish. "Ayo kembalikan!" ia mengadahkan tangan dengan wajah yang menantang.
Airish mencebik, lalu ia mengembalikan roti bakar milik Abrine yang sudah digigitnya sekali-- dalam gigitan besar. Abrine yang baru menyadari hal itu setelah rotinya dikembalikan lagi, justru menatap Airish dengan mata melotot.
"Huaaa... Mama.... Mama...." jerit Airish menangis.
"Duh nangis lagi! Cocok deh kalo Kak Araav suka gangguin kamu!"
"Mama... Mama...." tangis Airish.
Seorang wanita dengan garis wajah mirip dengan kedua gadis itu menghampiri keributan yang didengarnya. Bahkan keributan itu sudah ia dengar dari tadi, namun karena itu sudah biasa terjadi dirumahnya, ia mencoba mengabaikan. Ketika Mendengar sudah ada tangisan diantara keributan itu-- membuatnya datang untuk melihat apa lagi yang terjadi hari ini.
"Kenapa lagi ini... Airish? Abrine?" tanya Raya dengan suaranya yang lembut. Ia heran, kenapa anak - anaknya bertransformasi menjadi gadis - gadis yang tak mirip dengan wataknya. Airish yang manja, serta Abrine yang tomboi. Memang Raya akui ia terkadang memiliki kedua sikap itu, tapi hanya sesekali--tidak seperti kedua anak ini yang sepertinya itu adalah karakter mereka masing - masing.
"Airish mengambil roti bakarku, Ma! Lalu dia memakannya dalam gigitan besar. Tapi justru dia yang menangis..." adu Abrine dengan wajah datar khasnya.
"Kenapa karena masalah roti bakar harus menangis, Sayang? Bukankah didapur masih banyak," Raya menatap Airish yang mulai merangsek kesisinya-- lalu mendekap tubuhnya dengan pelukan dari samping.
"Kakak memelototiku... matanya hampir keluar, aku jadi takut dan aku refleks menjerit... karena..." Airish tampak ragu melanjutkan kalimat.
"Karena apa?" tanya Abrine dan Raya nyaris serentak.
"Karena wajahnya jadi seperti Valak ibunya Annabelle!" jawab Airish dengan suara pelan namun Raya dan Abrine tetap mendengarnya.
Raya menahan gelak, sementara Abrine kembali melotot mendengar ucapan sang Adik.
"Apa? Kau mengatai ku seperti hantu? Ingat Airish, wajah kita serupa... kalau aku mirip hantu kau berarti kembarannya!" jawab Abrine disertai tawa meledek.
Airish tak terima dengan pembalasan telak sang kakak, ia semakin menangis.
Raya mengelus kepala Airish. "Sudahlah sayang, Kakakmu hanya bercanda. Anak Mama kedua - duanya cantik, tidak ada yang seperti Valak atau Annabelle." Raya menatap mata Airish, meyakinkannya.
Abrine berlalu dari sana setelah puas memberi balasan pedas untuk sang Adik.
"Sayang!!!! Tolong bantu aku disini!"
Terdengar suara teriakan dari arah atas, Raya sudah tahu suara itu milik siapa, siapa lagi jika bukan suami tercintanya, Nev.
"Iya, Nev! Sebentar..." sahut Raya sedikit berteriak. Ini seringkali terjadi sejak anak - anak mulai beranjak remaja, padahal dulunya jarang terdengar suara teriakan di kediaman mereka.
"Airish Sayang, kamu denger kan? Papa udah panggil Mama... kamu jangan nangis lagi ya, Cantik!" Raya mengedipkan matanya didepan anak gadisnya itu.
Airish mengangguk lesu. "Iya, Ma."
__ADS_1
Raya mengelus wajah sang puteri sekilas, lalu mulai bergerak untuk naik ke lantai atas demi menemui sang suami.
"Oh iya, dimana Aarav?" tanya Raya diambang undakan tangga.
"Kak Araav kabur ke arah depan setelah mengerjaiku, Ma!" sahut Airish.
"Apa lagi ulahnya kali ini?"
"Dia memasukkan kecoak didalam sepatu sekolahku." Airish mematut wajah yang tampak geli.
"Astaga anak itu!" Raya menepuk jidatnya sendiri.
"Mengerjaiku seperti kepuasan tersendiri untuknya." Airish lesu.
"Sayang, kamu harus banyak bersabar ya. Kakakmu Aarav memang sedikit tengil dan jail seperti...."
"Raya... cepatlah!" terdengar lagi suara orang yang sama---menjerit, kali ini sampai menyebut nama Raya.
"Tuh, Mama udah di calling lagi. Mama naik dulu! Abis ini kita sarapan bersama di meja makan," kata Raya dengan senyum samar dan bergerak naik menuju kamarnya dengan Nev.
"Iya, Ma..." Airish tertunduk, namun ucapan sang Mama membuatnya ingat sesuatu.
"Pasti Kak Aarav sudah di ruang makan sekarang!" tebak Airish bermonolog. "Kali ini aku harus bisa membalas kejailannya!" tekad Airish.
Airish segera menuju ruang makan, ternyata suasana disana sepi. Hanya ada Abrine yang duduk dimeja makan sambil membaca buku komik.
"Mana Kak Aarav?"
"Ah, aku pikir dia sudah disini." Airish duduk di kursi makannya seperti hari - hari biasa. Mereka menunggu yang lainnya berkumpul barulah mereka sarapan pagi bersama.
Tak berapa lama, Nev dan Raya turun dan ikut bergabung dimeja makan.
"Ayo sarapan. Abis itu Papa anter kalian ke sekolah!" Nev tersenyum menawan seperti biasanya.
Abrine dan Airish mengangguk, mereka terlalu patuh pada junjungan mereka yakni Papa Nevan. Mereka berdua tidak berani berulah didepan sang Ayah, berbeda dengan Araav yang terang - terangan.
"Araav dimana, Sayang?" tanya Nev pada sang istri.
Raya menggeleng. "Aku cari didepan dulu, ya..." Raya bangkit dan berjalan menuju beranda depan rumah.
"Sudah, kalian berdua lanjutkan saja sarapannya, nanti telat!" Nev memperingatkan kedua putrinya itu.
"Iya, Pa." Tidak ada dari mereka yang berani mengadu kejadian ribut yang baru saja terjadi pada sang Papa. Meskipun mereka tahu pasti Papa mereka bisa mendengar keributan tadi. Jika Nev tak bertanya ada apa, mereka pun memilih bungkam.
Tak lama, Raya dan anak lelaki satu - satunya, datang sambil berangkulan menuju meja makan.
Nev menatap itu sambil memutar bola matanya.
"Araav... berapa kali Papa bilang, jangan seperti itu pada Mama!"
__ADS_1
Araav menyengir, melepaskan rangkulan tangannya dibahu sang Mama lalu ia duduk diposisinya.
"Sama anak sendiri pun cemburu!" celetuk Araav. Dialah satu - satunya anak yang berani menyahuti ucapan protes sang Ayah.
"Sudah, sudah... ayo sarapan!" kata Raya menengahi, sebelum terjadi perdebatan ayah dan anak yang wajahnya mirip itu. Araav lebih mirip Nev ketimbang kedua kembarannya, bisa dibilang perawakannya hampir 90% sama dengan Nev, sementara Abrine dan Airish memiliki garis wajah perpaduan kedua orangtuanya.
Terkadang Raya merasa Nev dan Araav lah yang kembar dirumah ini, hanya usia yang membedakan mereka namun keduanya malah sering berdebat tak jelas. Andai saja Araav bisa tak berkutik pada Nev seperti dua saudaranya yang lain.
Airish menatap Araav dengan tatapan tajam, perbuatan Araav tadi belum dibalasnya, namun ia tak berani merengek didepan sang Papa sekarang.
"Nanti akan ku balas kau kak!" isi hati Airish.
Araav yang merasa ditatapi oleh adik bungsunya, membalas tatapan Airish dengan senyum miring penuh kemenangan, ia sengaja kembali ke meja makan setelah Nev tiba, karena ia tahu jika Airish takkan berkutik didepan ayah mereka.
Mereka mulai sarapan bersama, namun disela - sela kegiatan itu, Nev mengutarakan sebuah kalimat.
"Papa tadi mendengar ribut-ribut dibawah! Ada apa? Araav mengganggu Airish dan Airish kesal. Abrine berusaha menengahi namun terkena imbas kekesalan Airish lalu akhirnya bertengkar juga?" tebak Nev.
Ketiga anaknya merundukkan kepala. Sang Ayah dalam mode serius sekarang, bahkan Araav tak berani menyela jika sudah begini.
"Kalian sudah remaja, sudah 16 tahun. Papa dan Mama sudah mendidik kalian sebaik mungkin selama ini. Tapi, watak masing - masing orang memang sulit berubah. Yah, Papa harap kalian tidak menjadi anak nakal yang bertengkar sesama saudara sendiri."
"Iya, Pa!" sahut ketiganya kompak.
Raya tersenyum - senyum melihat kekompakan yang jarang terjadi dengan ketiga anaknya.
"Ya sudah, selesaikan sarapan kalian. Hari ini Papa yang mengantar kalian."
"Asyik..." sahut Airish.
"Yess..." Abrine senang bukan main, ia suka diantar Papa gantengnya.
Sementara Aarav, mengembuskan nafas panjang.
"Padahal aku mau bawa motor ke sekolah, Pa!" protesnya.
Nev menatap Araav. "Belum punya sim kan? Ya udah, siap - siap diantar tiap hari." ucapnya enteng.
"Jangan curi - curi bawa motor lagi!" tambah Nev.
Sang putera pun menggerutu namun tak menyahuti lagi titah sang Ayah yang tak bisa dibantah.
"Sabar, satu tahun lagi kan sudah bisa punya sim." Raya menepuk punggung tangan puteranya.
"Mama memang yang terbaik," Aarav sengaja menggenggam tangan sang Mama, dengan niat memamerkannya pada Nev.
Nev pun memandang itu dengan berdecak lidah. Ia tahu niat Araav adalah membuatnya cemburu.
Tapi, Nev juga ingat jika itu adalah anak mereka. Selama ini dia bersikap begitu demi bisa lebih akrab dengan sang Anak. Agar Anak- anaknya menghargainya dan Raya sebagai orangtua. Sesungguhnya Nev sangat bahagia dengan kehangatan keluarga mereka sekarang.
__ADS_1
Rumah Nev yang sunyi, sekarang tampak semakin ramai dan semarak, apalagi dengan pertengkaran dan jeritan - jeritan ketiga anaknya. Hmm, termasuk suara jeritannya juga yang tentunya. Ia bukan tak tahu watak anaknya masing-masing, ia hafal perangai ketiganya namun ia berusaha tetap tenang menghadapi dan mendidik Araav, Abrine dan Airish.
*****