PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Hari Terakhir


__ADS_3

Hari terakhir Zio berada di Jerman adalah hari ini. Pekerjaannya sudah tuntas, namun sesi pacarannya bersama Airish terasa begitu singkat dijalani.


Kemarin ia hanya mengajak Airish berbelanja dan nonton bioskop. Rasanya belum puas menghabiskan waktu bersama gadis itu. Sementara siang ini juga, ia harus tiba di Bandara untuk penerbangan ke tanah air.


Andai ia bisa menunda kepulangannya hingga dua atau tiga hari lagi untuk bisa melanjutkan masa-masa manisnya bersama Airish, pasti ia akan melakukannya. Sayangnya, deadline pekerjaan di Indonesia sudah tersusun rapi dan menunggu kepulangannya.


Setelah memastikan penampilannya, ia berderap keluar dari kamar hotel. Tentu ia ingin menghabiskan waktu yang tersisa agar bisa bertemu dengan gadisnya.


Ia melihat arloji yang melingkar di tangan, lalu menghubungi asistennya lebih dulu untuk membawa semua barangnya siang nanti, agar selepas ia bertemu dengan Airish hari ini, ia akan langsung bertolak ke Bandara.


Selesai dengan hal itu, barulah ia menghubungi sang gadis.


"Apa kamu kuliah hari ini?" tanyanya dari sambungan seluler.


"Aku kuliah, sebentar lagi akan berangkat." Airish menjawab dari seberang sana.


"Saya jemput."


Ia segera berjalan cepat menuju basement hotel, mencari keberadaan mobil yang ia sewa selama berada di Jerman. Mengemudikan itu dengan kecepatan sedang sebab hati sedang dilanda getar-getar rindu.


Sesampainya didepan gedung Apartment yang ditempati Airish, ia segera menuju lobby untuk menjemput gadis itu. Bertepatan dengan itu, gadis yang ingin ditemuinya pun keluar dari bilik besi yang mengantarkan sampai ke lantai dasar lobby.


Ia melengkungkan bibir demi melihat gadisnya yang selalu terlihat mempesona. Rambut yang terurai, disertai pipi merona yang alami tanpa sapuan make up yang berlebih. Airish menatapnya dengan senyuman kecil yang selalu membuatnya gemas.


"Berangkat?"


Gadis itu mengangguk. Hah, sikap yang malu-malu selalu berhasil membuatnya ingin berbuat lebih, semisal memeluk tubuh ramping itu lalu membawanya kedalam dekapan. Sayangnya, ia harus menahan keinginan itu untuk waktu yang entah sampai kapan. Pastinya, sampai Airish memastikan tentang kapan ingin dinikahi olehnya.


_____


Airish mencuri-curi pandang dari posisinya yang berada di kabin penumpang tepat disebelah Zio.


Tidak seperti kemarin-kemarin yang lebih sering mengenakan jas slimfit rapi atau membalut tubuh dengan hoodie, hari ini pemuda itu berpenampilan lebih casual. Zio tampak paripurna dengan hanya mengenakan kaos hitam yang justru menampilkan dengan jelas bentuk tubuh atletisnya yang proporsional.


Pemuda itu juga menggunakan topi dikepalanya. Ternyata Zio tak se-kaku dan seformal yang ia kira, karena rupanya bisa berpenampilan sesantai ini.


"Kenapa?" tanya Zio yang mungkin mulai menyadari jika sejak tadi ia tengah memperhatikan.


Ia memilih menggelengkan kepala sambil mengulumm senyuman.

__ADS_1


Zio tertawa pelan. Kemudian mengucap sebuah kalimat yang membuatnya sadar akan satu hal.


"Siang nanti saya harus ke Bandara. Saya akan kembali ke Indonesia."


Deg!


Jantungnya berdentum keras. Ia melupakan hal ini. Ia lupa, jika Zio tidak akan selalu disisinya. Ia lupa jika sewaktu-waktu Zio akan terbang meninggalkannya. Lebih tepatnya, ia bukan lupa, melainkan mencoba melupakan hal itu, agar ia tidak menaruh kecewa.


"Kamu ikut anterin saya ke Bandara, kan?" Zio meliriknya sesekali, sambil tetap mengemudikan mobil menuju arah kampusnya.


Ia menggeleng. Entah kenapa bendungan air didalam ceruk matanya serasa ingin jebol dan tumpah ruah sebab kenyataan ini. Ia belum puas bersama Zio. Ia belum memiliki banyak momen yang dihabiskan bersama dengan pemuda itu.


Semua yang terlewati terasa begitu singkat, bahkan harus terbagi dengan waktu Zio untuk menuntaskan pekerjaannya. Sekarang, Zio sudah harus kembali?


"Rish, kamu kenapa? Kamu gak apa-apa, kan?" Zio meraih jemarinya dan menggenggamnya sejenak sampai kembali harus melepaskan karena ingin mengatur persneling mobil.


Tapi, tak satu katapun keluar dari bibirnya, sebab saat ini ia sedang memendam tangis.


"Kamu gak mau bicara sama saya?" tanya Zio yang heran dengan sikap diamnya. Kedua alis pemuda itu terangkat saat menatapnya.


"A-aku gak jadi ke kampus!" ucapnya dengan suara bergetar.


"Aku mau bolos...." Airmatanya jatuh saat mengucapkan hal itu.


Zio terdiam, nampak berpikir sejenak sampai akhirnya memutuskan untuk melambatkan kecepatan mobil dan benar-benar menghentikan roda empat itu di rest area.


"Jangan nangis," kata Zio lembut. Tangan pemuda itu terulur, menyeka airmatanya yang kini sudah menderu bagai air bah yang menerjang kekuatan bendungan. Ia terisak didepan Zio.


"Hei.... hei .... kenapa makin nangis?" Zio tertawa pelan. "Gak diapa-apain kok nangis, sih?" lanjut Zio.


"Jangan pulang," katanya terkekeh tapi masih menangis. Akhirnya ucapan penuh permohonan itu tercetus dari bibirnya.


Zio tersenyum tipis. "Jadi, karena saya mau pulang makanya kamu jadi nangis?"


Ia menganggukkan kepalanya dengan pasti secara berulang-ulang.


Zio menggenggam kedua tangannya. "Tapi, saya memang harus pulang," kata Zio mencoba menyakinkan.


Ia menggeleng. "A-aku masih mau sama kamu."

__ADS_1


"Oh, rupanya ada yang udah terbiasa sama kehadiran saya." Zio menyindirnya, membuatnya mengulumm senyum sambil tetap mengeluarkan airmata.


"Dengerin saya, kita masih bisa komunikasi lewat handphone, bisa video call. Jadi, kamu gak usah khawatir. Sekarang, saya anterin kamu ke kampus, terus siang nanti kamu yang ikut anterin saya ke Bandara."


Ucapan Zio tidak sepenuhnya bisa menenangkan jiwanya. Ia memang sudah terbiasa dengan kehadiran Zio di sisinya, jadi ia belum bisa ikhlas jika Zio pulang ke Indonesia secepat ini.


"Aku bilang aku mau bolos kuliah, Zi!"


"Kenapa bolos? Kamu harus rajin ku--"


"Aku mau habisin waktu sama kamu sebelum kamu pulang ke Indonesia!" potongnya cepat.


Zio terdiam beberapa saat, kemudian mengetuk-ngetuk jemari di setir mobil.


"Apa kata Papa kamu kamu jika beliau tahu kalau saya ngajarin kamu bolos kuliah?"


"Papa gak akan tahu, kalaupun Papa tahu .... ini bukan karena ajaran kamu! Ini karena kemauanku sendiri."


"Ya sudah, kalau itu mau kamu." Zio menyalakan mesin mobilnya lagi. "Sekarang kamu mau kemana? Biar kita habisin waktu sama-sama?"


"Selama di Jerman, kamu tinggal dimana?" tanyanya ingin tahu.


"Di hotel," jawab Zio singkat.


"Ya udah, kita ke tempat kamu aja!" ucapnya random sebab memang tak punya tujuan untuk didatangi sepagi ini.


Zio menatapnya dengan mata membola. "Ngapain?" tanya pemuda itu heran.


"Ngapain ajalah!" Ia menjawab dengan polosnya, merasa kepalang tanggung sudah menanyakan tempat tinggal Zio selama di Jerman. Jadi, lebih baik sekalian berkunjung saja. "Aku mau bantuin kamu berkemas. Jadi nanti, kamu tinggal berangkat ke Bandara aja!" sambungnya menatap Zio.


"Saya gak bisa ajak kamu kesana!" kata Zio menggaruk kepala sendiri.


"Kenapa? Kamu gak tinggal sama cewek kan, disana?" selidiknya ingin tahu.


"Haisss.... mana mungkin!" Zio menggerutu.


"Ya udah, kalau gitu aku pengen tahu. Pengen kesana!" desaknya.


*****

__ADS_1


__ADS_2