PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Pulang bersamamu


__ADS_3

Di lain tempat di waktu yang sama, Airish merasa kesal karena harus mengerjakan tugas kelompok lagi bersama Zio, memang mereka diberikan waktu seminggu untuk menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia itu.


Mereka mengerjakan tugas kelompok itu di rumah salah satu teman yang bernama Mishel. Semua teman - teman sudah pulang sejak lima belas menit yang lalu, kini tinggallah Airish, Zio dan Mishel sebagai tuan rumah.


"Kalau lo memang gak dijemput, lo pulang bareng Zio aja, Rish .... Zio kayaknya nungguin lo, tuh!" saran Mishel yang sedari tadi menemani Airish yang menunggu jemputan di teras depan rumahnya.


"Enggak mau, bentar lagi pasti jemputan gue dateng," kata Airish bersikukuh.


"Gue gak mungkin nganterin lo, Rish! Tau sendiri gue belum punya sim. Nyokap gue bisa marah kalo gue nekat bawa mobil. Kalo gak, lo pesan ojol atau taxi online aja, Rish! Gue sih gak apa-apa lo disini, tapi ini udah mulai sore, mana mau hujan lagi."


"Iya deh, gue cari driver dulu," kata Airish sembari mengotak-atik ponsel miliknya.


Zio yang duduk diam tak jauh dari posisi Airish dan Mishel tentu mendengar percakapan dua gadis itu.


"Rish, pulang bareng aku aja!" kata Zio memberanikan diri.


"Enggaklah!" tolak Airish cepat.


"Kenapa, sih? Niat aku baik, Rish... kamu bakal susah dapat driver ojol kalau harinya mendung kayak begini."


Airish terus menolak dengan berbagai alasan, dia tidak mau memberi Zio harapan jika sampai cowok itu mengantarnya pulang.


Tak berapa lama, suara ponsel Zio terdengar berdering dan cowok itu menjawab panggilannya, sementara Airish sibuk mencari driver online melalui aplikasi ponselnya.


"Assalamu'alaikum, Bunda..." Terdengar suara Zio menjawab panggilan.


"Iya, Bund... ini aku pulang sekarang," kata Zio menyahuti telepon yang sepertinya dari Ibundanya itu.


"Shel, gue pulang duluan, ya!" Zio beranjak dari posisinya. "Gue titip Airish ya, dia gak mau pulang bareng gue soalnya!" Zio melirik ke arah Airish yang juga tengah melirik ke arahnya yang hendak pulang.


Mishel beralih menatap Airish. "Udah dapat drivernya?" tanyanya dan Airish menggeleng lesu.


"Zi... kalau Airish gak dijemput dan gak dapat driver gimana?" Mishel yang bertanya pada Zio karena cowok itu sudah mulai mengenakan jaketnya untuk bersiap pulang.


"Ya gue udah nawarin buat nganter dia, gue gak mau maksa lagi, Shel.." ucap Zio apa adanya.


"Udah, Rish... lo ikut Zio aja! Gak bakal ada driver kalau harinya mendung banget gini. Atau lo mau nginep dirumah gue aja?" tawar Mishel.


Airish menggeleng cepat sembari mengibaskan tangannya.


"Ya udah, gue balik ya, Shel..." Zio berlagak cuek terhadap Airish, namun dia tidak berniat benar-benar meninggalkan Airish begitu saja dirumah Mishel.


"Zi... tu-tunggu!"


Zio menghentikan langkah dan menoleh pada Airish. "Jadi ikut?" tanyanya.


Airish mengangguk ragu lalu menundukkan wajah, ia tak mungkin menginap dirumah Mishel karena ia tak terbiasa tidur dirumah orang lain, harusnya Mang Deden sudah menjemputnya dirumah Mishel, namun entah kenapa belum tiba sampai saat ini. Driver ojol yang ia pesan juga tidak ada, karena cuaca diluar memang sangat tak bersahabat, belum ada driver yang meng-aprove pesanannya.


"I-iya, aku ikut kamu aja deh!" kata Airish tak punya pilihan lain.


#####

__ADS_1


Zio mengendarai motor maticnya dengan kecepatan sedang. Benar saja cuaca diluar sangat tak bersahabat. Airish duduk menjaga jarak dibelakang cowok itu.


"Kamu duduknya kejauhan, ntar kamu jatuh, Rish!" kata Zio.


"Enggak, aku kan pegangan," jawab Airish sembari memegang besi belakang motor matic milik Zio.


"Ya udah, aku mau ngebut ini," kata Zio memperingati sambil tersenyum kecil dan mulai menaikkan laju kecepatan motor.


Sejujurnya Airish sangat takut, namun ia berusaha bersikap biasa saja dengan memegang erat besi yang ada dibelakang tempat duduknya. Airish memejamkan mata karena Zio benar - benar membawa motor dengan kecepatan tinggi.


"Zi, aku masih mau hidup! Jangan ngebut!" protes Airish.


"Bentar lagi hujan, Rish! Kalau gak ngebut kita bakalan basah kuyup!"


"Ya, tapi kalau ngebut gini aku takut, Zi!" pekik Airish dibelakang tubuh Zio.


Seketika itu juga Zio melambatkan laju motornya.


"Kalau kita pelan - pelan gini udah pasti basah begitu tiba dirumah kamu, aku gak bawa jas hujan, Rish!" kata Zio akhirnya.


"Ya mau gimana lagi."


"Sebenarnya ada cara lain sih biar gak kehujanan," kata Zio.


"Apa?"


"Dari sini lebih dekat ke rumah ku daripada ke rumah kamu. Kita ke rumahku dulu, tukar motor sama mobil, nanti dari sana aku anterin kamu sampai rumah," papar Zio.


"Ke-kerumah kamu?"


"Ya udah terserah kamu aja deh! Kalau kehujanan buku-buku kita juga bakal basah semua," kata Airish pasrah.


Zio akhirnya melajukan motor menuju kediamannya. Benar kata Zio, begitu mereka tiba dirumah besar milik orangtua Zio, hujan deras mulai turun saat itu juga.


"Tuh kan, coba kalau anter kamu dulu tadi kita bakal kehujanan!" celetuk Zio sembari memarkirkan motor maticnya di garasi rumah.


"Tunggu di teras aja, Rish!" kata Zio lagi menunjuk area teras dengan dagunya.


Airish cukup terkejut mengetahui rumah Zio yang ternyata sangat besar, hampir sama besarnya dengan kediaman milik orangtua Airish. Ternyata Zio tidak sesederhana penampilannya. Bukan apa-apa, selama ini Airish mengira Zio adalah orang yang biasa saja karena Zio termasuk siswa yang tertutup alias low profile, tidak ada yang tahu latar belakang asli cowok itu. Apalagi penampilannya yang nyaris culun karena berkacamata, membuat semua cewek maupun cowok memandangnya sebelah mata.


Saat Airish masih terkesima dengan pemandangan kediaman yang Zio tempati, suara seorang wanita menyapa kedatangan mereka.


"Anak Bunda udah pulang ya?" tanya wanita berhijab biru dengan suaranya yang lembut.


Airish menoleh ke arah wanita itu, menatapnya sekilas dengan tatapan kagum karena wanita itu terlihat sangat bersahaja. Zio segera menyalami tangan wanita itu dengan takzim.


"Iya, Bund..." jawab Zio. Ternyata wanita itu adalah Ibunda Zio.


"Eh, sama siapa, Zi?" tanya Bunda Zio yang mulai sadar dengan kehadiran Airish disana.


"Ini... Airish, Bund!" kata Zio pelan, kemudian cowok itu menatap Airish. "Rish, ini bundaku... Bunda Hana," sambungnya.

__ADS_1


Airish bergerak perlahan dan menyalami tangan Bunda Zio.


"Kamu cantik sekali, Airish..." ucap Bunda Zio jujur.


"Te-terima kasih, Tante... Tante juga sangat cantik," jawab Airish tersenyum sungkan.


"Baru ini Zio ajak temennya ke rumah, tante pikir Zio gak punya temen disekolah."


Zio yang tengah dibicarakan malah nyengir kuda didepan Airish dan sang Bunda.


"I-iya, Tant..."


"Ayo masuk, Rish!" ajak Bunda Zio dengan ramah.


"Gak usah, Tante... rencananya aku mau langsung pulang, udah sore juga," kata Airish.


"Iya, Ma... aku mau anter Airish naik mobil aja, udah hujan soalnya!" timpal Zio.


"Oh, ya udah... ambil contact mobilnya sana, kasihan Airish kalau kehujanan," ucap Bunda Zio.


Zio mengangguk dan masuk ke dalam rumah untuk mengambil remot mobil.


"Airish tinggal dimana?"


Airish dan Bunda Zio pun bercerita singkat tentang tempat tinggal Airish dan seputar dunia sekolah, namun percakapan itu harus terhenti tatkala Zio sudah keluar dari dalam rumah dengan pakaian yang lebih santai. Beda dari biasanya, kali ini Zio menanggalkan kacamatanya dan membuat Airish cukup terkesima dengan pemandangan baru didepannya itu. Ini Zio?


"Kenapa, Rish?" Bunda Zio menyadari perubahan mimik wajah Airish saat melihat anaknya.


"Eng-enggak apa-apa, Tant..." Airish mendadak gugup.


"Zio emang gitu, kalau sekolah sukanya culun, dia gak mau kayak Papinya yang suka diikutin cewek-cewek! Jadi dia protect diri dengan penampilan anehnya itu, tante suka bingung lihat dia.. sebelas dua belas sama Papinya," kata Bunda Zio sambil terkikik-- seakan mengerti perubahan Airish dan apa yang ada dipikiran cewek itu sekarang.


"Hah? Iya, Tant..." Airish seperti gadis bodoh yang hanya bisa menjawab dengan tergagap.


"Bund... aku pergi anterin Airish pulang dulu, ya.." ucap Zio dan kembali menyalami tangan bundanya.


Airish melakukan hal yang sama terhadap Bunda Zio yang ternyata sangat hangat dan ramah itu.


"Airish pulang ya, Tante..."


"Ya, hati-hati kalian. Zio bawa mobilnya jangan ngebut, ini hujan!"


"Siap, Bund..." kata Zio tersenyum sembari berjalan menuju garasi mobil."


******


Jadi, yang baca karya aku "Cinta Terbalut Nista" pasti tahu dengan sosok Hana, ya... Hana alias Zahra, jadi Zio itu memang anaknya Zahra dan Ken 😂🙏🙏🙏🙏 hehehehe


Oiya, promo sekali lagi deh... intip karya aku yang baru netas dong. 🙏🙏🙏


Judulnya : PESONA LELAKI SIMPANAN

__ADS_1



Klik profilku dan temukan ceritanya disana yuk.... dukung dan berikan komentar pertamamu yah🙏🙏🙏


__ADS_2