PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Membahas pertunangan


__ADS_3

Keluarga Nev berkunjung ke kediaman Jimmy yang ada di Jerman. Sebenarnya mereka cukup sering melakukan hal ini yakni saling mengunjungi satu sama lain namun yang sekali ini berbeda karena momen ini sekaligus sebagai niat untuk membicarakan perihal pertunangan Aarav dan Rahelsa yang sudah mereka sepakati.


Acara kunjungan itu dimulai dengan makan malam bersama. Setelah usai dengan urusan makan barulah semuanya beekumpul diruang tengah demi membicarakan hal pertunangan.


"Menurutku setelah Rahel mendaftar kuliah saja," kata Raya menyarankan.


"No! Lebih baik dalam waktu dekat ini karena anak-anak sedang berlibur. Jika sudah mendaftar kuliah mereka pasti akan sibuk dengan urusan kuliah," kata Jimmy.


Semua orangtua membahas hal tersebut, saling memberikan pendapat. Airish dan Abrine sibuk dengan gadget dan tidak begitu fokus nimbrung dengan percakapan orangtua mereka. Sedangkan Aarav dan Rahelsa justru hanya diam seolah tidak tahu jika yang tengah dibahas sekarang adalah tentang masa depan mereka.


Rahelsa sibuk dengan pikirannya sendiri, begitu pula Aarav.


Rahelsa memberanikan diri menatap Aarav yang duduk dikursi roda tepat diseberangnya, namun tatapan cowok itu tampak dingin, membuat Rahelsa takut untuk bersitatap padanya.


Rahelsa yakin, jika Aarav terpaksa menikah dengannya. Aarav pasti masih memikirkan Bu Siska. Aarav tidak mungkin memiliki rasa padanya karena Aarav hanya menganggapnya selayaknya seperti menganggap seorang adik, sama seperti Airish dan Abrine, barangkali. Begitulah yanv sekarang ada dalam benak Rahelsa mengenai perasaan Aarav terhadapnya.


Namun, Rahelsa tidak bisa melepas kesempatan ini begitu saja. Ia sudah mengharapkan Aarav sejak awal, ia tahu ia sangat egois tanpa memikirkan perasaan Aarav, tapi ia juga tidak bisa menolak perjodohan ini yang memang sesuai dengan keinginannya.


"Ya sudah, ditanggal itu saja!" putus Nev dengan suara tawa renyah yang terdengar amat bahagia.


Kembali Rahelsa mencuri pandang pada sosok Aarav yang ternyata menatapinya juga sejak tadi. Apa yang tengah dipikirkan cowok itu ketika menatapnya sekarang? Entahlah...


"Aarav, Rahel... kami sudah sepakt jika pertunangannya akan dilakukan di pertengahan bulan ini. Tanggal 17. Bagaimana?" celetuk Nimas menatap Aarav dan Rahelsa bergantian.


Rahelsa meremass kedua tangannya, ia gugup berada dibawah intimidasi tatapan mata Aarav akhirnya ia hanya mengangguk.


"Bagaimana, Aarav?" tanya Nimas pada cowok itu.


"Hemm," kata Aarav singkat.

__ADS_1


______


Persiapan pertunangan antara Rahelsa dan Aarav sudah hampir rampung. Namun, semakin hari Rahelsa merasa tidak yakin jika ia harus melanjutkan pertunangan ini.


Hati kecilnya, menolak jika harus memanfaatkan keadaan yang memang berpihak padanya. Dalam relung yang terdalam, Rahelsa selalu menyalahkan diri karena ia tidak bisa menolak perjodohan ini demi perasaan Aarav. Demi apapun ia merasa berdosa, ia merasa telah memanfaatkan Aarav yang ia ketahui jika Aarav telah terpaksa menerima semua ini.


"Rahel, kamu kenapa?" Raya menghampiri Rahel yang berada di teras samping rumahnya. "Tidak jadi menemui Aarav?" lanjutnya.


Rahelsa menggeleng. "Aku..." ia ragu melanjutkan kata, setelah 10 hari lalu semua keluarga sepakat dengan tanggal pertunangan, sejak saat itu pula ia belum berani menemui Aarav kembali. Ini adalah pertama kalinya Rahelsa berkunjung ke kediaman Nev lagi untuk menemui Aarav dan ingin bicara mengenai pertunangan mereka.


"Kenapa, Rahel? Apa ada masalah?" tanya Raya menyelidik ke arah Rahelsa yang tampak berbeda.


"Tant, apa aku boleh bertanya?"


"Tanyakanlah," kata Raya tersenyum hangat.


Raya menatap Rahelsa dengan heran. "Ya, Aarav menyetujuinya, Sayang."


"Apa dia terpaksa menerima perjodohan ini? Mungkin karena takut mengecewakan om dan tante?" tanya Rahelsa hati-hati.


Raya tertawa pelan. "Tentu saja tidak, kenapa kamu berpikir seperti itu?"


"Nggak, aku takut dia terpaksa menerima hal ini." Rahelsa tertunduk lesu.


"Dengarkan tante ya, Hel. Dulu, sebelum tante menikah dengan Om Nev... tante juga pernah dijodohkan oleh Opa dan Omanya Aarav dengan Om Reka. Kamu tahu kan Om Reka?"


"Suaminya Tante Citra?"


Raya mengangguk. "Ya, Om Reka yang itu. Tapi kami tidak jadi menikah, karena memang tidak berjodoh. Tapi, bukan hal itu yang ingin tante beritahukan kepada kamu."

__ADS_1


"Lalu?"


"Tante cuma mau kamu tahu, bahwa Tante pernah merasakan bahwa perjodohan yang gak kita inginkan itu enggak enak. Tante tidak mau memaksakan kamu dan Aarav karena tante tahu rasanya sesuatu yang terpaksa itu juga sangat tidak nyaman. Untuk itu, semua ini bisa terjadi karena kedua belah pihak tidak ada yang terpaksa sama sekali. Tante juga gak mau Aarav terpaksa dan tante sudah memastikannya berulang kali sama Aarav. Jadi, kamu gak usah khawatir, ya..."


Rahelsa diam. Ia yakin dengan ucapan Raya namun tatapan dingin Aarav kepadanya waktu itu, tidak bisa ia lupakan begitu saja.


"Jangan ragu, Hel... tante yakin dan sangat percaya bahwa kalian memiliki perasaan yang sama. Makanya Tante setuju dengan perjodoohan ini, jika tidak yakin tante juga tidak mau merestuinya karena tante tahu sesuatu yang dipaksakan tidak akan berjalan baik." Raya mengelus pelan punggung tangan Rahelsa.


Rahelsa mengangguk meski dalam hatinya merasa serba salah. Dengan langkah berat akhirnya ia kembali pulang ke rumah, tak berani menemui Aarav lagi karena ia ingin memikirkan lebih dalam mengenai perkataan Raya kepadanha tentang Aarav yang memiliki perasaan yang sama dengannya.


_______


Hari-hari berlalu, hari pertunangan Aarav dan Rahelsa pun tiba. Acara itu dilakukan secara kekeluargaan. Hanya teman-teman dekat saja yang hadir beserta sanak saudara yang kebetulan menetap di negara yang sama. Orangtua Raya alias Opa dan Oma Aarav hanya bisa menyaksikan acara lewat sambungan virtual aplikasi video call.


Rahelsa tampak sangat cantik dengan balutan gaun sederhana nan elegan berwarna baby pink. Aarav juga sangat tampan mengenakan kemeja formal berwarna putih dipadu celana chinos berwarna khaki, hanya saja Aarav masih duduk di kursi rodanya


Ini adalah pertemuan kembali antara Rahelsa dan Aarav setelah makan malam waktu itu, karena sejak itu Rahelsa memang tidak pernah berani bertemu dan beradu tatap dengan Aarav lagi. Komunikasi dianntara mereka juga tidak tersambung karena Rahelsa tidak menghubungi Aarav untuk meredam suasana yang ia rasa kuranv nyaman. Entahlah bagaimana selanjutnya nanti yang jelas Rahelsa tidak punya kata untuk menolak perjodohan ini.


Aarav memasangkan cincin ke jari manis Rahelsa, selanjutnya Rahelsa juga melakukan hal yang sama pada jemari Aarav.


Resmi sudah mereka bertunangan, pernikahan mereka akan dilangsungkan dibulan depan sesuai dengan kesepakatan bersama.


"Hel, abis ini aku mau bicara," kata Aarav pelan.


Jantung Rahelsa rasanya berpacu dengan sangat cepat, bukan karena gugup atau grogi melainkan ia sangat takut jika Aarav mendadak membatalkan rencana pernikahan mereka secara sepihak.


"I-iya, Rav...." sahut Rahelsa ragu dengan senyum yang dipaksakan.


*****

__ADS_1


__ADS_2