
Feli
Dulu ia begitu bangga, karena Nev tetap memilihnya meskipun Nenek sempat menentang pernikahan mereka. Ia sadar, jika sejak dulu Nenek memang tak pernah berpihak padanya.
Nenek selalu mengatakan bahwa Nev hanya terobsesi padanya, bukan mencintainya seperti yang selama ini diucapkan oleh Nev sendiri.
Nenek selalu mengatakan pada Nev, kalau Nev salah mengartikan perasaan.
Begitupun dengannya, Nenek seolah dapat melihat jika ia memang tak mencintai Nev dengan kesungguhan.
Tapi, memiliki Nev pada saat itu... seperti harga mati baginya. Ia tak bisa melewatkan Nev begitu saja.
Bukan memiliki dalam arti mencintai Nev, tetapi memiliki Nev berarti dapat menguasai semua harta pria itu.
Dulu ia tak begitu berminat dengan ketampanan dan kecerdasan seorang Nevan Adio Prawiraharja.
Entah karena hatinya telah dimiliki oleh seorang Andreas atau karena harta Nev memang lebih menarik dimatanya.
Begitu juga dengan rencana menghancurkan Nev, itu tercetus begitu saja saat Nev yang dengan rela memberikan apapun untuknya dimasa-lalu.
"Feli, apa kamu mau menikah denganku?" tanya Nev pada masa itu. Saat itu mereka tengah melakukan observasi tempat disebuah dataran pegunungan-- sebagai Alumni Mahasiswa Pecinta Alam.
Nev tidak romantis, itulah yang ia ketahui, maka Nev melamarnya dengan cepat, meski tempatnya tidak tepat.
Tanpa berpikir panjang, ia pun menganggukkan kepala. Padahal saat itu, ia juga telah lebih dulu menjalin hubungan yang serius dengan Andreas. Andreas adalah Adik tingkat atau junior di Universitas yang sama dengannya dan Nev.
Ia tak menyangka, harta yang dimiliki Nev justru membutakannya dan menghanyutkannya kedalam keserakahan, sehingga ia melupakan statusnya. Nev tidak memintanya berpacaran, karena dari yang ia ketahui-- ternyata pria itu sudah menyukainya sejak lama.
Saat Nev melamarnya, ia seakan terbang diatas angin, mengartikan jika akan menggapai segala apapun yang selama ini hanya ada diangan-angannya.
Tapi, cintanya yang kuat pada Andreas, masih menyadarkannya untuk tak larut dalam pesona Nev yang pada saat itu benar-benar menginginkannya.
Tak lama berselang, pernikahan itupun terjadi-- meski harus melewati restu Nenek yang tak mudah juga tanpa sepengetahuan Andreas tentunya.
Menjelang akad, Andreas menyelinap masuk kedalam ruang ganti sebuah gedung--dimana acara pernikahannya dan Nev akan segera terlaksana.
Ia berhasil meyakinkan Andreas bahwa pernikahan ini hanyalah diatas kertas dan perasaannya akan tetap utuh untuk sang kekasihnya.
Tentu saja Andreas tak mengiyakan begitu saja, tapi ia selalu meyakinkan lelaki itu.
Hingga tercetuslah rencananya yang akan melenyapkan Nev setelah meraih apa yang ia inginkan.
Andreas menerima keputusannya dengan syarat, bahwa tak akan ada sentuhan fisik antara ia dan Nev meskipun mereka nanti resmi menikah, jika tidak, Andreas mengancam akan menghancurkan acara yang sudah diambang mata.
__ADS_1
Ia pun menyetujui itu dengan cepat agar Andreas segera berlalu dari sana.
Pernikahan itupun terjadi, namun ia juga tak menyangka bahwa Andreas melakukan tindakan yang begitu gegabah dan terburu-buru.
Andreas menabrak Nev yang ingin Jogging sore. Padahal ia tak pernah menyangka jika Andreas akan bertindak sore itu juga. Rencananya memang melenyapkan Nev, tapi tentu tidak dihari yang sama.
Entah bagaimana kejadian itu terjadi, justru Andreas ikut dilarikan kerumah sakit yang sama dengan Nev.
Ia yang masih terkejut mendengar kecelakaan yang menimpa Nev, dihari yang sama pula-- ia mendapat kabar tentang pengemudi mobil yang menabrak suaminya itu. Dan penabrak itu, tak lain tak bukan adalah Andreas, kekasihnya.
Maka dihari yang sama, setelah ia melihat keadaan Nev untuk sekedar menghargai statusnya sebagai istri pria itu, ia pun menyempatkan diri menjenguk kondisi Andreas di ruangan yang berbeda.
Ia tak pernah menyangka ternyata Andreas dalam keadaan yang lebih parah dari Nev, Andreas sekarat dan itu membuatnya sangat panik bercampur histeris.
Tak henti-hentinya ia menyalahkan dirinya sendiri.
Disatu sisi, ia menyadari keserakahannya. Tapi disisi lain, ia tak mau mengakui bahwa semua ini adalah kesalahannya.
Ia bahkan sempat mendengar rintih kesakitan dari bibir Andreas. Rintihann itu yang juga sering terdengar di alam bawah sadarnya dan kerap muncul di mimpinya sampai saat ini.
Jauh didalam lubuk hati dan nuraninya, ia merasa bersalah pada Andreas.
Namun, saat Nev divonis lumpuh, ia bukan menyalahkan dirinya untuk itu, justru ia menganggap semua yang diderita Nev adalah hukuman karena Nev adalah penyebab kematian Andreas.
Andreas meninggal bukan karena rencanaku.
Andreas meninggal karena Nev. Aku membencimu, Nev.
Ia justru menyalahkan Nev, padahal nuraninya pun sadar, jika Nev adalah korban pada saat itu.
Dan sekarang, disaat rasa bencinya pada Nev justru menghadirkan sebuah perasaan cinta, disaat itu pulalah ia tak bisa menggapai Nev lagi.
Bagai mimpi disiang bolong, ia harus merelakan semuanya, terlebih saat Nenek telah mengetahui perbuatannya dimasa lalu itu.
Nenek tahu segalanya, termasuk perasaannya yang dulu hanya menginginkan harta Nev saja.
Ia terlalu naif, mengira bahwa Nenek tak akan tahu tentang semua itu-- namun ternyata ia salah besar.
"Ternyata selama ini cucuku memelihara hewan buas dirumahnya," sindir Nenek yang selalu to the poin tanpa tedeng aling-aling.
"Kau itu seperti kucing jinak, tapi ada hari-hari dimana kau berubah menjadi harimau buas." kata Nenek.
Ia hanya bisa menangis tersengguk-sengguk. Meratapi semua kebodohannya. Meratapi semua kesalahannya. Mengingat dosanya, terlebih tentang keserakahannya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kau masih tinggal dirumah ini, Feli?" tanya Nenek dengan nada sarkas.
Lalu, masih bisa pula ia menjawab. "Bagaimanapun Feli masih istri Nev, Nek."
"Tidak tahu malu!" senggak Nenek tepat dihadapannya. Ia bahkan tak menyangka ucapan Nenek akan sekasar itu.
"Kau masih bisa mengatakan jika kau adalah istri dari cucuku? Memangnya apa yang sudah kau berikan untuknya? Apa kau sudah mengabdikan dirimu menjadi istri yang baik untuknya?"
Ia tidak bisa menjawab dan akhirnya memeluk kaki wanita tua itu namun usahanya yang sudah merendahkan diri itu tetap saja sia-sia karena ucapan Nenek selanjutnya begitu membuatnya tercengang.
"Tinggalkan rumah ini, Feli... tidak usah bawa apapun kecuali baju yang sedang kau pakai ditubuhmu."
Nenek mengusirnya, bahkan Nenek pun ikut membencinya. Ia telah kehilangan segalanya. Kehilangan Nev, juga kehilangan kepercayaan Nenek yang sulit diraihnya selama ini.
Begitupun harta Nev, ia tak berselera lagi untuk meraih semua itu. Walau Nev mengatakan tetap akan memberinya harta gono-gini, tapi ia sungguh tak berminat.
Ia menatapi Nev dengan tatapan berkaca-kaca, mungkin wajahnya telah pucat pasi atau justru sudah tak bisa membuat hati Nev tersentuh lagi.
Buktinya Nev hanya diam sejak Nenek mem-bombardir-nya dengan segala macam rutukan.
Dengan perlahan, ia memaksakan untuk menyeret langkahnya, keluar dari rumah besar milik Nev--suaminya.
"Sampai bertemu di pengadilan." itulah ucapan Nev yang terakhir menjelang kepergiannya, membuatnya terngiang-ngiang akan suara berat Nev yang belakangan hari selalu ia rindukan walau pria itu selalu bersuara keras padanya.
Ini hukuman untuknya dan ini yang harus ia jalani sekarang.
Kembali tak memiliki apapun, baik itu harta ataupun cinta. Bahkan kepercayaanpun tak didapatkannya lagi.
"Ibu... Apakah Ibu kecewa pada Feli? Feli menyia-nyiakan semua yang sudah ditakdirkan untuk hidup Feli, bu..." sekarang ia hanya bisa meratap didepan nisan sang Ibunda.
Ia memang memiliki rumah sendiri, meski itu juga hasil dari uang Nev yang selama ini dipakainya untuk keperluan pribadi. Tapi, ia begitu malu untuk kembali ke rumah itu walaupun tidak ada sesiapapun yang tinggal disana, tetap saja rumah itu ia beli dari uang Nev.
"Ibu, walaupun Ibu sempat menitipkan Feli pada Nev, jangan salahkan Nev karena menceraikan Feli, ya, Bu... Nev tidak bersalah, Bu. Feli yang banyak salah padanya." ujarnya meraung sembari memeluk makam Ibunya.
Ia sadar, selama ini Nev memang terlalu bermurah hati padanya. Nev tahu ia menginginkan harta pria itu, Nev sudah memberinya cukup waktu namun ia tak pernah memanfaatkan waktu yang Nev berikan.
Nev bahkan tetap memberinya uang, fasilitas dan Nev tetap menyahutinya saat berbicara walaupun dengsn jawaban yang dingin dan terkadang ketus.
Puncak penyesalannya tiada berguna, ia sudah benar-benar kehilangan pria sebaik Nev. Perasaannya datang terlambat, selalu itulah yang ia sesali setiap ia mengingat pria yang sempat menjadi suaminya itu.
...Bersambung ......
Holla, kok aku sedih ya dengan nasib Feli? Cintanya terlambat datang 😠gak ada kesempatan lagi.
__ADS_1
Ada yang kayak aku gak? Merasa kasian juga sama Feli, gitu? 🤔 hmmmm...