PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
73 - Kembali


__ADS_3

Pintu kedatangan Bandara terasa sangat padat. Sepasang pengantin baru, telah kembali dari momen bulan madu mereka. Tangan mereka saling bergandengan untuk mencapai pintu keluar.


Kepulangan Nev dan Raya ini disambut oleh kedua orangtua Raya yang sudah menunggu di Bandara.


"Raya, Nev..." Sahara menyapa anak dan menantunya dengan senyum merekah, kemudian memeluk Raya sembari mencium kedua pipi puterinya itu.


Begitu pula dengan Adrian, dia menepuk-nepuk pundak Nev dengan sangat bersahabat. Mereka berempat kemudian keluar dari area Bandara dan masuk kedalam mobil yang berada di slot pemarkiran.


Tak lupa pula, barang-barang yang dibawa dari perjalanan pun dibawakan oleh supir untuk masuk kedalam bagasi mobil.


"Kalian sudah makan, Nak?" tanya Adrian yang duduk disebelah supir, dia menanyakan anak dan menantunya yang baru tiba dari perjalanan panjang.


"Tadi kita sudah makan di pesawat, Pa. Tapi sekarang sudah lapar lagi," kata Raya mengadu.


Semuanya terkekeh pelan, begitupun Raya yang baru selesai dengan ucapannya itu.


"Kita mampir makan dulu, ya ..." kata Adrian menawarkan dan diangguki oleh Raya dengan antusias.


Sopir pun mengemudikan mobil menuju sebuah Resto yang dikatakan oleh Adrian. Ketika mereka sampai disana, hari mulai beranjak sore sekitar pukul 16.00 WIB.


"Ini makan siang atau makan sore?" celetuk Adrian berseloroh.


"Apa aja deh, Pa. Yang penting ngisi perut," kata Raya menggandeng tangan sang Papa dengan manja.


"Kamu ini sudah menikah masih aja manja begini sama Papa," cibir Sahara menimpali sembari menatap Raya dan Nev bergantian. Nev hanya tersenyum kecil melihat istrinya yang masih bermanja dengan Ayahnya itu.


"Biarin lah, Ma. Kan sama Papa sendiri juga," sahut Raya yang diangguki oleh Adrian.


"Manja sama suamimu, gih... ini suami Mama," serobot Sahara menarik tangan suaminya, berlagak cemburu dengan sikap Raya itu.


Raya memanyunkan bibirnya, kemudian dengan terpaksa melepas gelutan manjanya ditangan sang Papa.


"Iya deh, Papa milik Mama seorang sekarang," kata Raya terkekeh dan kemudian duduk di kursi makan yang telah mereka pilih.


Mereka pun memesan menu makanan di Resto itu, lalu sambil menunggu pesanan datang mereka berbincang dan bercanda ria dengan akrab.


"Bagaimana bulan madu kalian? Kapan Mama dapat cucu?" celetuk Sahara dengan entengnya.


Raya melotot dengan pertanyaan Sang Mama yang tidak di filter. Sementara Nev justru tertawa mendengarnya.

__ADS_1


"On proses, Ma..." jawab Nev tersenyum.


"Bagus, bagus... Papa mau punya cucu lima," kata Adrian menimpali dengan tenang.


Raya hanya geleng-geleng kepala saja melihat ucapan Ayahnya itu. Sementara Nev tertawa lagi bersamaan dengan tawa Sahara yang terdengar renyah.


Tak lama, pesanan makanan mereka pun datang, mereka menyantap itu dengan tenang dan tetap diselingi canda gurau yang ringan. Selain Nev memang gampang bergaul dengan orang lain, kedua orangtua Raya juga punya selera humor yang tinggi sehingga memudahkan Nev untuk membaur bersama mereka.


"Bagaimana rasanya setelah cita-citamu tergapai, Nev?" tanya Adrian pada Nev.


"Cita-cita?" Nev mengernyit tidak mengerti.


"Ya, cita-cita menjadi menantu Papa" kata Adrian lagi.


Nev terkekeh pelan, "Ternyata cita-cita itul tidak sia-sia, Pa. Saya sangat beruntung karena Papa memberi saya kesempatan untuk meraihnya," jawab Nev sembari menatap Raya dengan penuh arti.


"Maka dari itu, Papa hanya memberi kamu satu kesempatan dan itu adalah kesempatan terakhir, tidak akan ada kesempatan kedua apalagi ketiga jika kamu sampai menyakiti hati anak semata wayang Papa ..." kata Adrian dengan tenang.


"Iya, Pa. Saya tahu Raya adalah amanah Papa untuk Saya, Saya akan menjaga Raya lebih dari menjaga diri saya sendiri." kata Nev yakin.


Sebenarnya Raya merasa sangat terharu dengan jawaban suaminya yang gentle itu, ucapan Nev membuatnya semakin jatuh berkali-kali pada sosok yang sama. Ternyata dia memang tak salah memilih dalam kategori mencintai seorang pria, apalagi pria itu telah resmi menjadi pasangan sah nya sekarang.


"Kamu gak apa-apa kan kalau malam ini kita nginep disini?" Raya menatap Nev yang baru selesai mandi, dia ingin tahu pendapat Nev karena malam ini mereka tidur dirumah kedua orangtua Raya.


"Gak apa-apa, Sayang. Dimanapun nginepnya, yang penting kan sama kamu..." jawab Nev tersenyum kecil.


Raya terkekeh mendengar itu, kemudian dia menggantikan Nev untuk masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai dengan urusan mandinya, Raya ingin mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer didepan meja rias.


"Kalau besok aku bekerja, tidak apa-apa, kan?" tanya Nev seraya meraih hairdryer dari tangan Raya, diapun membantu Raya untuk mengeringkan rambut.


"Ya tidak apa-apa, tapi apa kamu gak capek? Kita kan baru tiba disini," jawab Raya sembari memperhatikan Nev yang mulai memainkan rambutnya.


"Capek, tapi kasian juga Bian sudah menghandle pekerjaanku terlalu lama, lagi pula banyak project yang terpending karena ada beberapa klien yang menunggu kehadiranku dulu dan tidak mau diwakilkan."


Raya menatap Nev dari pantulan cermin dihadapannya, dia tersenyum lembut. "Ya sudah, besok kamu bekerja saja. Aku akan tetap disini," jawabnya.


"Okey, berapa lama kita tinggal disini?" tanya Nev.

__ADS_1


Raya mengangkat bahu, "Terserah kamu, aja. Disini atau dirumah kamu ... aku ngikut,"


Nev meletakkan hairdryer di meja rias, kemudian membalik tubuh Raya agar mereka saling berhadapan satu sama lain. Nev sedikit membungkuk dan menumpukan kedua tangannya di meja rias. Dengan begitu, posisi Raya terhimpit diantara tubuh Nev dan meja.


Nev mengecup lama dahi istrinya, kemudian dia pun menatap Raya lagi dengan lekat.


"Ayo kita tidur, sepertinya sekarang aku tidak akan bisa tidur jika tidak memeluk istriku ini," kata Nev serius tapi Raya menanggapinya dengan tertawa.


...♥️♥️♥️♥️♥️♥️...


Nev berangkat bekerja, diantar oleh Raya sampai kedepan rumah.


"Selama tulang punggung sedang bekerja, tulang rusuk tidak boleh nakal, oke.." Nev mengerlingkan matanya pada sang istri.


"Siap Tuan posesif," jawab Raya terkikik.


Nev ikut tertawa, lalu mendaratkan kecupan mesra di kiri-kanan pipi Raya, kemudian menyodorkan tangannya pada wanita dihadapannya.


"Apa ini?" tanya Raya heran melihat Nev menjulurkan tangan padanya.


Nev berdecak, "Cium tanganku, sayang. Aku ini sudah menjadi suamimu jadi mulai sekarang harus punya kebiasaan baik yang baru," kata Nev semringah.


Raya pun mengangguk mengerti, kemudian dia meraih jemari Nev dan menyalaminya dengan takzim.


"Hati-hati," kata Raya melambaikan tangan pada Nev yang sudah memasuki mobil. Hari ini Nev dijemput Bian dikediaman orangtua Raya.


Seperginya Nev, Raya kembali masuk kedalam rumah tapi langkahnya terhenti kala seseorang memanggil namanya.


"Raya ..." Raya menoleh dan mendapati sesosok pria yang sangat dia hindari kedatangannya.


Kedatangan pria itu bertepatan saat mobil Nev telah meluncur keluar dari pekarangan rumah. Dia adalah Reka, dan itu berarti Reka memang menunggu momen dimana Nev benar-benar pergi barulah dia menemui Raya seperti saat ini.


Untuk apa lagi? Mau apa dia sekarang?


"Reka?" sahut Raya dengan senyum yang dipaksakan.


Reka berjalan mendekat, menghampiri teras rumah untuk bisa bicara dengan Raya dalam jarak yang lebih dekat.


"Raya, bisa kita bicara sebentar?" Reka menatap Raya dengan binar penuh harapan dimatanya.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2