
Rahelsa pulang dalam keadaan menangis, meski dia bisa menghindar dari Zack dan bisa melindungi diri dari penawaran pemuda itu, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa hatinya sangat sakit ketika Zack menawarkan sebuah hal yang merendahkan dirinya.
Rasanya Rahelsa tidak punya muka lagi untuk bertemu dengan pemuda itu, atau lebih tepatnya ia tak ingin menunjukkan wajah lagi didepan Zack sebab lelaki itu telah melecehkannya secara tidak langsung.
Apa kondisi Aarav yang berada di kursi roda membuat orang-orang harus selalu melihatnya sebelah mata, begitupun dengan keputusan Rahelsa untuk menikah dengan Aarav--apa hal itu membuat orang lain meragukan kebahagiaannya dikedepan hari, sehingga seenaknya saja langsung menawarkan hal yang tidak benar untuk dilakukan.
Dalam keadaan itu, Nimas mendapati anak gadisnya yang terduduk di sofa ruang tamu dengan bahu berguncang dan suara isak tangis.
"Sayang, kamu kenapa?"
Rahelsa menatap Nimas dan langsung memeluk wanita yang melahirkannya itu. Selama ini dia hidup semata wayang, tidak memiliki saudara sehingga membuatnya selalu terbuka pada sang Mama, sebab Nimas bukan hanya sebagai ibu untuknya, melainkan sudah merangkap menjadi sahabat serta saudara baginya.
"Ma, apa keputusanku untuk menikah dengan Aarav adalah kesalahan?"
Nimas mengernyit menatap Rahelsa. "Kenapa kamu bilang begitu? Apa kamu mulai ragu dengan keputusan kamu?"
Rahelsa menggeleng. "Aku tidak mau Aarav insecure dengan keadaannya. Jika mulut orang lain berhasil membuatnya percaya bahwa dia tidak bisa memberi kebahagiaan untukku," terang Rahelsa.
Nimas tersenyum hangat. Dia membelai rambut Rahelsa dengan sangat lembut.
"Dengarkan Mama ya, Hel. Kalau kamu sudah bulat dengan keputusan untuk menikah dengan Aarav maka tutup telinga kamu dari semua ucapan bahkan hujatan orang lain. Kamu yang menjalani jadi kamu yang paling tahu kebahagiaan kamu sendiri. Mama harap Aarav juga bisa bersikap demikian agar dia tidak kecil hati dengan kondisinya. Abaikan ucapan orang lain yang menyakiti hati, karena sebaik apapun kita tetap saja ada hal yang membuat orang lain ingin menjatuhkan kita," pungkas Nimas.
Rahelsa mengangguk, dia semakin mendekap tubuh sang Mama, rasanya kekuatan nasehat dan semangat yang diberikan Mamanya mampu membuatnya lebih dewasa dalam menyikapi permasalahan yang tengah menimpanya.
"Mama juga dulu begitu, Hel. Orang-orang menghujat Mama. Mama kan dari kampung lalu bisa-bisanya menikah dengan Papamu yang punya banyak uang, orang-orang bersikap sinis, seolah-olah Mama telah melakukan sihir saja untuk menaklukkan Papa," kata Nimas diiringi suara tawanya.
"Padahal Papa yang cinta mati sama Mama, kan?" celetuk Rahelsa ikut terkekeh walau airmatanya masih membasahi pipi.
__ADS_1
"Ya, kalau itu tanya Papamu ajalah." Nimas mengangkat bahu cuek.
"Tapi, Ma. Ada hal yang ingin Rahel tanyakan lagi," kata Rahelsa ragu namun sangat ingin tahu apa jawaban sang Mama mengenai hal ini.
"Apa?"
"Tapi ini menjurus tentang hubungan suami istri," ujarnya menggigit jari.
"Bilang saja! Toh sebentar lagi kamu juga menikah, kan? Jadi Mama rasa hal itu gak tabu lagi untuk kita bahas sekarang."
"Apa hubungan suami istri dalam arti kata yang sesungguhnya itu .... memang perlu?" tanya Rahelsa polos.
Nimas menangkap maksud puterinya, meskipun Rahelsa bertanya dengan kalimat yang terkesan ambigu.
"Kalau menurut mama, hubungan semacam itu ya memang penting. Tapi, semua kembali lagi ke kamu. Jika kamu ikhlas menerima keadaan Aarav, semuanya akan terjalani dengan mudah. "
"Jadi, kuncinya cuma ikhlas ya, Ma?"
Rahelsa pun mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Dan satu lagi, jangan lupa doakan Aarav agar segera sembuh. Kita gak tahu doa siapa dan doa mana yang akan dikabulkan, jadi jangan lelah... kamu pasti akan memikul beban istri yang lebih berat daripada istri lainnya, sebab pilihan kamu jatuh pada lelaki seperti Aarav."
____
Waktu berlalu begitu cepat, Rahelsa dan Aarav semakin sibuk mengurusi pernikahan yang tinggal menghitung hari. Sesuai dengan saran dari sang Mama, Rahelsa mencoba menutup telinga dari semua ucapan orang-orang yang menyepelekan suami pilihannya. Ia justru semakin mendekatkan diri pada Aarav agar pemuda itu tidak merasa sedih sebab santer mendengar hal-hal yang membuatnya sakit hati.
"Els..."
__ADS_1
"Ya?" Rahelsa menatap Aarav disisinya, saat ini mereka tengah berada di sebuah Restoran setelah mereka melakukan fitting terakhir-- pakaian pengantin yang akan mereka kenakan beberapa hari lagi.
"Apapun yang terjadi kedepannya, apa kamu siap menghadapinya?"
Rahelsa menggenggam tangan Aarav yang diletakkan diatas meja. "Aku siap dan aku berharap kamu juga sama siapnya seperti aku," jawab Rahelsa mantap.
"Aku gak akan melupakan semua kebaikan kamu, aku pasti akan berusaha menjadi suami yang baik buat kamu. Aku mau membahagiakan kamu, Els," tekad Aarav.
"Aamiin... makasih calon suami," kata Rahelsa tersenyum.
Aarav balas menggenggam tangan Rahelsa. "Udah berani ya gombalin aku." Aarav terkekeh.
"Bukan gombal tapi kan emang bener," jawab Rahelsa cuek.
"Kalau gitu, terserah kamu aja, Sayang!" kata Aarav disertai senyuman tipis, balik menggoda Rahelsa.
Rahelsa terbelalak, apa dia tidak salah dengar dengan sebutan Aarav kepadanya kali ini?
"Ka-kamu manggil aku apa tadi?" tanya Rahelsa berubah gugup, padahal tadi dia yang lebih dulu menggoda Aarav.
"Sayang?" kata Aarav mengendikkan bahu sambil mengulumm senyum.
"Kamu bales ngegodain aku, nih!" protes Rahelsa mencebik.
"Bukan gitu, kan emang beneran sayang sama kamu!" sahut Aarav lagi.
"Iih... dasar kamu!"
__ADS_1
Aarav tertawa. "Iya nih, dasar aku!" katanya kemudian.
*****