
"Sayang, kenapa ya, belakangan hari aku merasa kamu agak aneh ..." kata Nev pada Raya.
Raya menoleh sekilas, "Aneh gimana? Sepertinya ini bukan yang pertama kali kamu mengatakan hal ini..." Raya mendekati Nev dan membantu suaminya mengeringkan rambut dengan handuk.
"Iya, dulu itu kamu kayak kelinci, malu malu mau... kalau sekarang--"
"Sekarang kayak singa, gitu?" potong Raya cepat dengan wajah memberengut.
Nev terbahak mendengar perumpamaan yang dia buat sendiri, tapi lebih terkejut lagi mendengar tanggapan dan jawaban sang istri.
"Bukan begitu, Sayang..." Nev masih berbicara sambil diselingi kekehannya. "maksud aku ... kamu sekarang lebih agresif aja. Apa kamu gak merasa perubahan di diri kamu, hmm?" tanyanya.
Raya terdiam, dia mengingat-ingat lagi sikapnya belakangan hari pada Nev, kalau dipikir-pikir yang dikatakan Nev ada benarnya juga.
Kenapa sekarang dia seperti itu dan baru menyadari saat Nev membahasnya?
"Siklus bulanan kamu--" Ucapan Nev tergantung di udara, karena melihat Raya yang telah bangkit dari posisinya untuk menuju meja, sepersekian detik kemudian Raya menyambar kalender kecil disana.
"Nev, apa mungkin aku..." Raya membungkam mulutnya dengan sebelah tangan, tidak melanjutkan kalimatnya karena lebih dulu merasa speechless. Bagaimana mungkin dia tidak menyadari perubahan pada dirinya sendiri terutama tentang siklus bulanannya.
"Kita periksa, ya... besok aku agak siangan aja ke kantornya," saran Nev cepat.
Raya mengangguk berulang.
"Kalau hasilnya gak sesuai, gimana?" tanya Raya ragu.
"Ya gak apa-apa, kita coba lagi..." papar Nev enteng.
Raya geleng-geleng kepala mendengar ucapan suaminya itu. "Gampang banget ngomongnya, kayak main lotre aja kalau belum beruntung dicoba lagi," ucapnya berdecak lidah.
Nev terkekeh. "Ya, gimana kan memang bener," kilahnya.
"Hmm, apa aku test manual dulu pake testpack, ya?" gumam Raya.
"Ya udah, kamu tunggu disini ya, biar aku suruh Yana atau Roro ke apotek," kata Nev yang sudah berdiri dari duduknya.
Punya suami pengertian rasanya kayak ada manis-manisnya ya. eh ...
"Gak usah deh, besok kita langsung periksa aja di dokter," kata Raya tersenyum.
"Kamu yakin?"
"Ya, sekalian cek kesehatan juga kalau memang belum ngisi," kata Raya yakin.
...♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️...
Keesokan paginya, Nev dan Raya akan pergi mengunjungi Dokter kandungan. Namun, di pertengahan jalan, ada mobil yang melaju dengan kencang dari arah berlawanan dan secara refleks Nev banting stir ke arah kiri jalanan. Kejadian itu sangat cepat dan terjadi begitu saja.
Dengan cepat Nev membuka seatbeltnya dan menatap Raya dengan khawatir. "Kamu gak apa-apa?" tanyanya.
Raya mengangguk pelan dengan wajah pias.
"Maaf," lirih Nev sembari menangkup sisi wajah istrinya, dia merapatkan dahinya dengan dahi raya dan mereka berusaha menenangkan diri satu sama lain.
Setelah merasa tenang, Nev kembali melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit. Namun perasaannya mulai tidak tenang dengan kejadian yang baru saja dia alami bersama Raya. Pikirannya terus memikirkan mobil yang tadi hampir menabrak mobilnya, seolah itu adalah unsur kesengajaan.
Sedikit banyak, kejadian tadi mengingaykannya dengan kejadian masa lalu yang membuatnya mengalami kelumpuhan temporer. Dalam hati Nev bersyukur karena bisa menghindar dari mobil tadi.
__ADS_1
Nev membantu Raya untuk turun dari mobil, lalu mereka memasuki Poli kandungan untuk mendaftar dan mengantri giliran.
Raya berbaring di ranjang, lalu perutnya diberikan semacam gel. Kemudian Dokter mulai meletakkan semacam alat diperut Raya, alat itu tersambung kesebuah monitor kecil disisi ranjang.
"Selamat ya, Bu... Kehamilannya sudah memasuki usia 7 minggu," kata Dokter Obgyn wanita dengan senyum semringah.
Nev yang berdiri pun melihat Raya, lalu mereka saling berpandangan dengan senyum yang tak kalah merekah.
"Hallo, Ayah...Bunda... aku sudah hadir diantara kalian, tapi aku masih sangat kecil ..." kata Dokter menirukan suara bayi.
Jadi, sekarang sudah ada kehidupan lain didalam diriku?- Batin Raya takjub.
"Janinnya masih sangat mungil, lihat ... yang berselaput seperti dayung kecil ini adalah lengan dan kaki janin," terang Dokter.
Nev dan Raya pun memandang ke arah monitor yang dimaksud oleh Dokter, disana tampak janin yang memang sangat kecil seperti buah ceri.
"Bagaimana perkembangannya, Dok?" tanya Nev antusias.
"Sejauh ini, yang saya lihat perkembangannya bagus, tapi tetap harus berhati-hati karena kehamilan muda akan sangat rentan," papar Dokter itu.
"Baik, Dok..." sahut Nev.
"Akan lebih baik Ibu mengonsumsi Susu kehamilan dan nanti saya akan memberikan vitamin, dijaga ya kandungannya." ucap Dokter.
Setelah selesai pemeriksaan, Raya dan Nev keluar dari ruangan Dokter dengan perasaan bahagia, Nev jadi melupakan insiden yang sempat menimpa mereka ketika menuju Rumah Sakit pagi tadi.
"Kamu..."
Suara Raya itu membuat Nev mengalihkan atensi pada seorang wanita yang dimaksud oleh istrinya itu.
Wanita yang tadinya duduk mengantri di Poli kandungan itu pun berdiri dan tersenyum kecil pada Raya dan melirik sekilas pada Nev.
Sang wanita tampak tengah berbadan dua, karena perutnya sudah nampak membuncit.
"Sudah berapa bulan?" tanya Raya pada wanita itu.
"Lima," jawab si wanita singkat. "Kamu sedang apa disini?" tanyanya pada Raya.
"Aku sedang periksa kehamilan," jawab Raya semringah.
"Kamu hamil?" Wanita itu bertanya pada Raya, tapi sesekali melirik Nev yang berdiri disamping Raya.
Raya mengangguk. "Kita belum sempat berkenalan, aku Raya..." kata Raya mengulurkan tangannya pada si wanita.
"Ah, iya ... Aku Citra. Apa dia suamimu?" tanya Citra dan sekali lagi curi-curi pandang menatap Nev yang diam sejak tadi.
"Ya, dia Nev, suamiku..." kata Raya pada Citra. Kemudian dia menatap Nev, "Sayang, dia Citra, dia ..." Raya bingung mau melanjutkan kata-katanya.
Untungnya Citra langsung mengulurkan tangan pada Nev dan suami Raya itu menjabatnya sekilas.
Sebenarnya Raya ingin menanyakan kenapa Citra tidak datang memeriksakan kandungannya bersama Reka, namun dia merasa tak enak hati, jadi dia hanya diam dan segera undur diri.
"Semoga kamu dan kandungan kamu sehat, ya... Maaf kami harus segera pergi," kata Raya pada Citra.
"Ya, kamu juga..." kata Citra, dia tidak menyangka Raya sudah menikah dengan orang lain sekarang, dan tampaknya Raya dan suaminya sangat bahagia.
Kenapa dia bisa menemukan pengganti Reka dengan begitu cepat?-Batin Citra.
__ADS_1
Sesampainya di mobil, Nev menghela nafas panjang.
"Sayang, maafkan aku..." kata Nev.
"Maaf kenapa?"
"Aku berpikir, kalau saja tidak bisa menghindari mobil yang pagi tadi hampir menabrak kita, mungkin aku bisa mencelakakan kamu dan bayi kita," kata Nev penuh penyesalan.
"Sudahlah, intinya kita harus berhati-hati lagi sekarang." kata Raya mengelus lengan Nev.
Nev ingin mengatakan pada Raya bahwa dia merasa janggal dengan kejadian pagi tadi, tapi segera dia urungkan karena takut Raya yang sedang hamil menjadi banyak beban pikiran.
Dan juga, mungkin itu adalah perasaannya saja yang terlalu paranoid karena sebuah kecelakaan yang dulu pernah menimpanya. Entahlah.
Nev mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Oh iya, wanita tadi ... aku merasa tidak asing dengannya," kata Nev terus terang,
"Citra?"
Nev mengangguk.
"Hayo... kamu pernah ketemu dia dimana?" goda Raya pada suaminya.
Nev menggaruk pelipisnya sekilas, "Gak tahu, gak ingat juga..." jawabnya cuek.
Raya menaikkan sebelah alisnya. "Yakin? Bukan mantan pacar kamu kan?" godanya sengaja.
Nev terkekeh. "Ya enggaklah, Sayang." jawabnya.
"Iya-iya aku tahu kok, lagian Citra itu kan mantan pacarnya Reka," kata Raya.
Mendengar nama Reka, Nev jadi mengingat jika wanita tadi adalah wanita yang sama dengan yang ada di foto-foto yang ditunjukkan Jimmy dulu padanya.
"Oh, ya ya... aku baru ingat sekarang," kata Nev.
"Ingat apa?"
"Sudahlah, lupakan saja ... Tapi, apa yang dikandungnya itu--" Nev tak melanjutkan kalimatnya karena melihat Raya sudah menggelengkan kepala.
"Oke," kata Nev paham maksud sang istri yang tak mau membicarakan hal itu.
Nev pun mengantarkan Raya ke rumah, sementara dia menuju kantornya untuk bekerja.
Sampai di kantor, Bian menyambut Nev dan mengatakan hal yang membuatnya cukup terperangah.
"Pagi tadi, Nona Luisa mencari Anda dikantor, Tuan..."
...Bersambung ......
Hai, maaf ya belakangan hari up nya kurang maksimum, karena bocilku dua-duanya sakit jadi pikiranku terbagi-bagi 😥😭
Semoga tetap setia ya baca novel ini. Novel ini diperkirakan akan tamat dibulan ini juga ya🙏
Jadi, deadline aku tetap akan menamatkan novel ini paling lambat di akhir bulan.
Konflik? Masih ada dikitt.... karena Nev dan Raya kan sudah berumah tangga, pasti masih ada cobaannya ya.. apalagi mereka sama-sama punya masa lalu. Jadi tenang... kedepannya bakal geregetan dikit...iya dikiiit aja lah. wkwk😁
__ADS_1
Btw, maaf ya yang komentarnya gak aku like atau balas, karena beberapa hari ini aplikasi NT ku agak error. Gak tau kenapa, aku kok gak nerima push notifikasi/ pemberitahuan. Apa kalian juga sama?
...Jangan lupa Favorite, like, vote, komentar yang membangun dan tinggalkan hadiah di meja Author yaa..💞...