PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
65 - Sakit di awal


__ADS_3

21++++ Skip ya buat yang tidak berkenan, ๐Ÿ™


Ini dilanjutkan karena banyak yang menantikan adegan pemersatu bangsa, katanya๐Ÿคฃ padahal lebih baik menghalu sendiri kan? tapi baeklah, berhubung othor udah dapat wejangan banyak hari ini, jadi dikasi kisi-kisi ya utk melancarkan kehaluan kalianโœŒ๏ธ๐Ÿ˜ ingat ya cuma kisi-kisi, gak boleh detail, nanti gak dilulusin review nya๐Ÿ˜‚


..._______...


Nev meletakkan tubuh Raya diatas ranjang dengan hati-hati, kemudian memposisikan diri diatas tubuh Raya yang sudah terbaring polos dihadapannya. Nev bertumpu dengan kedua tangannya untuk kembali menatap Raya dibawahnya.


Mereka berdua saling bertatapan lama satu sama lain, Nev memandang mata jernih milik Raya, begitupun Raya yang menatap netra kecokelatan milik Nev.


Deru nafas keduanya bersahut-sahutan, udara disekitar mereka mendadak menjadi panas dan membuat keduanya sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing.


Nev dan Raya kembali berciu man lama. Kemudian ciuman Nev berpindah ke leher jenjang wanita yang sudah menjadi istrinya, Nev memberikan beberapa jejak-jejak kepemilikan disana.


Tangan Nev pun sudah bergerilya kemana-mana, membuat suara-suara aneh keluar begitu saja dari bibir Raya, semakin memacu naluri Nev untuk menuntaskan has rat nya yang sudah di ubun-ubun.


Nev melepas bathrobe yang masih dia kenakan, lalu memeluk Raya kembali, membuat tubuh mereka yang sudah sama-sama polos saling menempel dan bersentuhan satu sama lain.


Nev melepas pelukannya, kemudian kembali mencum bu. Tak ada satu bagianpun yang dilewatkan Nev dari tubuh istrinya.


Sementara itu, Raya sendiri sangat menikmati setiap sentuhan lembut Nev pada tubuhnya. Sentuhan yang tidak tergesa-gesa, seperti sangat menghargainya. Memberinya kesempatan untuk meneguk indahnya surga dunia.


Kini ciuman Nev terfokus pada dada Raya yang menantang dihadapannya, dia meraih itu dan mengecupnya pelan, membuat Raya mengerangg nikmat.


"Nev, apa ini akan sakit?" cicit Raya begitu polosnya.


Nev pun sadar jika ini adalah yang pertama untuk sang istri.


"Mungkin akan sedikit sakit di awal..." jawab Nev random.


Raya menggigit bibirnya, tapi Nev segera mengalihkan pikiran Raya dengan sentuhannya-- agar Raya tak merasakan sakit yang berlebihan. Namun, Nev tetap fokus memposisikan diri pada in-ti tubuh Raya, dia mulai mencoba beberapa kali, hingga akhirnya berhasil menembus sesuatu yang menjadi atensinya.


Bersamaan dengan itu, Raya terdengar meringiss tertahan dan Nev membungkam mulut Raya dengan bibirnya.


"Apa sakit?" tanya Nev hati-hati yang menyadari jika tubuhnya dan Raya sudah menyatu.


Raya diam dan tidak menjawab, Nev menatap Raya lekat dan menyadari jika ujung mata Raya sedikit basah oleh airmata.


"Maafkan, aku..." Nev menyeka sudut mata Raya, kemudian mencium mata Raya bergantian.


"Teruskan, Nev..." lirih Raya.


"Tapi," Nev ragu, walau dirinya ingin, tapi dia tak mau egois sampai menyakiti Raya, dia ingin menundanya jika Raya benar-benar merasa kesakitan.

__ADS_1


Raya menggelengkan kepala dari posisinya.


"Come on, Nev... aku menginginkannya.." kata Raya akhirnya dan Nev mulai menggerakkan diri di inti Raya.


Raya merasakan sakitnya perlahan menghilang, berganti dengan rasa aneh yang melambungkannya, membawanya berputar-putar pada poros kenikmatan, menerbangkannya pada puncak yang paling tinggi.


Cukup lama Nev berada diatas tubuh Raya. Dia merasa ini sudah cukup untuk pengalaman pertama mereka. Masih ada banyak waktu untuk mencoba yang lainnya. ๐Ÿ˜


"Aku akan menyelesaikannya," kata Nev parau diceruk leher sang istri.


Hingga beberapa menit kemudian, Nev benar-benar ambruk diatas tubuh istrinya yang telah mencapai ambangnya lebih dulu.


"Aku mencintaimu," kata Nev ngos-ngosan didepan wajah Raya yang masih bersemu merah.


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


Pagi harinya, Raya tersadar dari tidurnya. Mengerjapkan mata beberapa kali dan tersadar bahwa posisinya sekarang tengah meringkuk nyaman dalam dada bidang seorang pria.


Awalnya Raya mengira ini hanyalah mimpi namun setelah dia mengingat-ingat lagi ternyata semuanya adalah kenyataan, begitupun dengan kejadian semalam saat dia dan Nev telah melakukan...ah, sudahlah...


Wajah Raya kembali memanas jika mengingat apa yang terjadi tadi malam diantara dia dengan Nev.


Raya ingin beranjak dari posisi ini, dia ingin memulai aktifitasnya, namun Nev memeluknya dengan sangat erat, membuat Raya kesulitan untuk bergerak.


Raya memandangi wajah tidur Nev dengan lekat, dia tidak menyangka jika akhirnya pagi ini-- akan terbangun dalam kondisi seperti ini--berada dalam dekapan Nev yang telah sah menjadi suaminya.


Semuanya bagai mimpi, yang Raya sendiri pun tak berani memimpikan momen seperti ini dalam hidupnya-- karena dulu dia tak mau semakin berharap pada Nev.


Tapi kenyataannya, pagi ini adalah salah satu pagi terindah dalam hidup Raya, karena pada akhirnya, dia bisa menatap wajah Nev dalam jarak sedekat dan se-intim ini.


Sebenarnya Raya tidak ingin mengakhiri momen indahnya, karena posisi ini sungguh terlalu nyaman. Tapi, mau tak mau dia harus bangun untuk memulai harinya kembali.


Nev sedikit bergerak, Raya pikir dia bisa mengambil kesempatan ini untuk meloloskan diri dari jerat pelukan sang suami. Nyatanya, Nev semakin mengeratkan pelukan pada tubuh polos istrinya itu.


"Nev ..." Raya mencoba membangunkan Nev, karena sekarang dia nyaris tak bisa bergerak sama sekali akibat pelukan suaminya itu.


"Hmmm..." Nev hanya berdehem untuk menjawab Raya.


"Nev, bangun..." kata Raya sembari mengelus pelan rahang Nev yang mulai ditumbuhi bulu-bulu kasar.


"Lima menit... biarkan dulu seperti ini," kata Nev dengan suara beratnya.


Raya menghela nafas sejenak dan menuruti kemauan absurd suaminya itu. Dalam hati, dia pun menghitung detik waktu yang berlalu.

__ADS_1


1 menit,


3 menit,


5 menit,


7 menit,


Dan Nev semakin nyenyak dengan dengkuran halusnya.


"Nev, aku sulit bernafas. Jika begini terus aku bisa mati karena kehabisan nafas," keluh Raya.


Dan seketika itu juga Nev terduduk dari tidurnya.


Raya sedikit terkekeh melihat sikap spontan Nev itu. Mungkin alam bawah sadar Nev pun belum pulih sepenuhnya. Kemudian, Nev menatap Raya dengan lekat, meskipun Raya masih mengulumm senyuman, tapi Nev menunjukkan raut keseriusan diwajahnya.


"Haisss... jangan berkata seperti itu," Nev mengusap kasar wajahnya, dia protes tentang ucapan Raya tadi.


"Habisnya bagaimana? Kamu meluk aku terlalu kuat," kata Raya yang mulai berdiri sembari membalut tubuhnya menggunakan selimut.


Nev terkekeh kecil, kemudian mengulumm senyum melihat tingkah Raya yang mulai berjalan ke kamar mandi-- sembari menahan selimut untuk tetap menutupi tubuh polosnya.


"Selimutnya mau dibawa kemana, Sayang?" tanya Nev dengan senyuman nakalnya.


Dan Raya mengerjapkan mata beberapa kali sebab mendengar penuturan Nev itu.


Apa tadi dia memanggilku 'sayang'?


Raya mendadak gugup dipandang Nev dengan tatapan seperti itu. Dia buru-buru memalingkan wajah ke arah lain.


"Aku mau mandi... ya, aku mau mandi. Tentu saja," kata Raya menggeret selimutnya dengan sikap cuek.


Seperginya Raya, Nev meledakkan tawanya melihat tingkah malu-malu sang istri.


"Fiuhhh..." Nev bersiul pelan dan tersenyum sendiri mengingat malam pertamanya dengan Raya yang berjalan lancar tanpa halangan yang berarti.


"Tuhan, jika ini mimpi...tolong jangan bangunkan aku, tapi jika ini kenyataan maka itu lebih bagus lagi," kata Nev terkekeh pelan dengan perasaan bahagia.


...Bersambung.......


Kalo masih kurang panas, dipanasin lagi di microwave yaa๐Ÿ˜‚


Next part? Kita jalan-jalan yuk sama mereka...๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2