
Pagi-pagi sekali, Raya dan Nev sudah berada di Bandara, mereka akan melakukan perjalanan panjang menuju Maladewa/Maldives. Mengingat jika ini adalah penerbangan Internasional yang banyak memakan waktu untuk check in dan melewati pemeriksaan, jadi Nev dan Raya memutuskan tiba di Bandara dua jam sebelum jadwal keberangkatan mereka.
Sementara itu, perkiraan waktu tempuh dari Bali ke Maldives adalah 17 jam 45 menit.
Mereka tiba di Bandara Velana, Male, ibukota negara Maldives. Saat itu waktu menunjukan sekitar pukul 23.00 waktu setempat.
Keluar dari bandara, deretan boat menyambut banyak turis. Masing-masing boat merupakan milik tiap resort di Maldives. Pun dekat di pintu keluar, terdapat banyak booth/ferry yang merupakan milik tiap resort untuk menyambut kedatangan para tamunya.
Maldives adalah negara kepulauan dengan pulau kecil-kecil yang disiapkan khusus untuk resort-resort. Biasanya di atas satu pulau hanya boleh dibangun satu buah resort. Jadi, pilihan resortnya memang sangat banyak.
Untuk Resort yang ditempati Nev dan Raya, kebetulan sudah disiapkan oleh sang Nenek juga, jadi mereka tinggal menempati Resort yang sudah dipesan itu. Mereka akan menempati Hurawalhi resort selama lima hari ke depan.
Hurawalhi resort terletak di sebuah pulau tersendiri di utara Male. Cukup jauh, sekitar 50 menit naik sea plane dari bandara Male. Di Hurawalhi kamarnya ada pilihan beach villa (di pantai) atau water villa (di atas laut). Nev dan Raya memilih water villa agar saat bangun tidur bisa langsung dekat dengan ke laut, (bisa langsung nyebur kalau mau😁) Bisa denger suara ombak yang ada di bawah kasur setiap saat.
Karena Nev dan Raya tiba di Male sudah cukup larut dan juga lelah, jadi untuk malam ini mereka memutuskan untuk menginap di Hotel terdekat yang ada di Male saja, barulah besok mereka bisa menuju resort menggunakan sea plane atau ferry. (Jadi dari bandara, kemana-mana memang harus naik ferry atau sea plane, ya disana😍)
Male sendiri ibukota yang bisa dikatakan tidak besar. Kota yang memiliki jalan sempit, mungkin hanya muat satu mobil saja. Pusat perbelanjaannya juga minim. Adapun jika ingin shopping, bukan di Mall, tidak ada Mall disana. Yang ada hanya Supermarket yang hanya sebesar Alfami** di Indonesia (Bahasa alusnya gitu deh😅)
Begitu sampai di Hotel, Nev dan Raya benar-benar mengisi tenaga mereka untuk esok hari yakni dengan tidur--mungkin mereka juga lelah akibat perjalanan panjang dan efek jetlag.
Keesokan paginya, Nev dan Raya dijemput menggunakan booth/ferry untuk menuju Resort.
Mereka menikmati momen kebersamaan dengan memandang indahnya pantai yang biru dan berpasir putih. Di Maldives juga memiliki iklim hujan yang unik, hujan di Maldives sebentar banget! Paling hujan selama 30 menit terus reda dan langit cerah kembali!
Tempat ini merupakan surga untuk pecinta lautan dengan pantai pasir putih, air yang jernih dan juga birunya laut yang indah.
Nev dan Raya tampak semringah dengan pemandangan laut yang terhampar dengan luas seperti tidak ada ujungnya itu.
"Nev, lihat disana ada dolphin..." Raya menunjuk ke arah beberapa ikan lumba-lumba yang berenang bebas.
Nev tersenyum dan mengangguki ucapan Raya, kemudian dia menyelipkan rambut Raya ke belakang telinga wanita itu. "Kamu sudah pernah kesini?" tanyanya.
Raya menggeleng, "Ini pertama kalinya bagiku," kata Raya tersenyum kecil pada Nev.
"Hmm," gumam Nev singkat, kemudian dia mengenakan kaca mata hitamnya untuk menghalau sinar matahari yang menyilaukan.
Mereka benar-benar larut dan menikmati suasana pantai. Melihat ribuan ikan, penyu dan pari manta yang berenang bebas.
__ADS_1
Ada beberapa paus di Maldives, tapi hewan yang mudah ditemukan memanglah lumba-lumba.
Resort juga menawarkan pengalaman memberi makan lumba-lumba. Sehingga Raya dan Nev tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Tak lupa, Nev dan Raya mengabadikan momen bersama lumba-lumba yang sedang berenang di perairan yang jernih.
Menjelang siang mereka makan siang di resort, semua kebutuhan mereka selama menginap di resort memang telah disediakan dan mereka didampingi oleh kepala pelayan yang akan menyajikan makanan mereka, mulai dari sarapan, makan siang, sampai makan malam.
Hari kedua Nev dan Raya berada di Maldives, mereka manfaatkan untuk melakukan snorkeling.
Sebelum berangkat, mereka akan di tes berenang terlebih dahulu, kemudian diberi pengarahan dan mengenakan peralatan snorkeling. Speedboat kemudian membawa mereka menuju ke spot snorkeling.
Di sana mereka snorkeling sambil menikmati keindahan bawah laut. Terumbu karang dan ikan warna-warni menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Tak lupa, ada penyu yang berenang bebas.
Setelah asyik snorkeling sekitar 1 jam, mereka pun kembali ke dermaga Resort.
"Bagaimana hari ini? Kamu pasti lelah..." kata Nev sembari membuka peralatan snorkelingnya.
"Aku lelah, tapi aku senang, Nev. Kesenangan itu membuat lelahku jadi tidak terasa," kata Raya terkekeh girang.
"Baguslah, aku takut kamu kelelahan. Jangan sampai sakit," Nev berdiri dan mengacak rambut Raya.
Raya membersihkan diri, kemudian menyusul Nev yang sudah duduk di beranda Resort--seperti tengah memikirkan sesuatu.
Raya mendekati suaminya itu, memegang pundaknya sejenak. "Aku berharap kamu bisa terbuka denganku jika memiliki masalah," ucapnya sembari duduk disamping Nev.
Nev menoleh dan menatap Raya dengan lekat. "Aku tidak memiliki masalah, Sayang... jangan memikirkan hal itu," kata Nev berdusta.
"Kita memang baru menikah, tapi seperti yang pernah ku katakan, bahwa kita harus saling terbuka satu sama lain, kan? Aku lihat kamu banyak melamun sejak hari terakhir kita di Bali ..." ucap Raya lagi.
Nev tersenyum sekilas, "Jangan berpikir macam-macam, ini hanya masalah pekerjaan."
"Tidak bohong kan?" tanya Raya menaikkan sebelah alisnya.
Nev terkekeh tapi pertanyaan Raya itu tak dijawabnya.
Mereka pun hanya menghabiskan waktu senja dengan menatapi warna air yang berubah keemasan seiring terbenamnya matahari.
Malam harinya, mereka makan malam di Restoran bawah laut. Hurawalhi resort yang mereka tempati, memiliki fasilitas berupa restoran under water! How cool is that?
__ADS_1
Mereka pun menikmati pemandangan bawah laut sambil menyantap makanan mereka masing-masing.
Hampir semua makanan di Maldives adalah makanan Halal karena penduduk aslinya adalah muslim. Nev dan Raya tak pernah kesulitan untuk menemukan makanan disana dan rasanya cukup cocok di lidah mereka.
"Besok kamu mau ngapain lagi?" tanya Raya disela-sela kegiatan makannya.
"Tadi kita sudah Snorkeling, bagaimana jika besok kita Diving?" usul Nev.
"Baiklah, tapi jangan salahkan aku jika pulang dari honeymoon kulitku akan berubah warna," jawab Raya terkekeh.
"Tak masalah, aku mau melihat kulit blastermu nanti," kata Nev mengedipkan sebelah matanya.
Raya hanya memutar bola matanya, jika sudah seperti ini, suaminya akan langsung mode on dengan pembicaraan yang nyeleneh.
"Sayang, ini adalah kali terakhirku menanyakan tentang masalah apa yang sedang kamu pikirkan..." kata Raya tiba-tiba.
Nev menatap Raya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Maksudnya?" tanya Nev.
"Kalau kali ini kamu tidak mau terbuka juga padaku, maka jangan salahkan aku jika tak mau menanyakan apapun masalahmu lagi nanti," kata Raya setengah mengancam.
Nev kikuk, dia meletakkan sendok makannya dan menggaruk pelipisnya yang mulai dibasahi titik-titik keringat akibat gugup.
"Kamu mau diam sampai kapan? Ayo jujur sebelum aku yang gantian diam dan tak mau menanyakanmu lagi," kata Raya.
"Tapi aku benar-benar---"
"Nev, aku tidak main-main, aku bisa menerka jika kamu memendam suatu problem, ayo, katakan padaku apa itu, kalaupun itu menyangkut pekerjaanmu, aku tetap ingin tahu..." kata Raya, sengaja mengunyah makanannya dengan gaya merajuk.
"Baiklah, tapi jangan jadikan ini beban atau pikiran untukmu kedepannya," kata Nev.
Raya mengangguk, itu berarti dugaannya benar, jika Nev memiliki problem lain sekarang.
"Janji?" tanya Nev memastikan.
"Janji," kata Raya sembari menarik tangan Nev dan menyatukan jari kelingking mereka berdua agar saling bertautan satu sama lain.
__ADS_1
...Bersambung ......