PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
37 - Yang aku mau hanya Raya!


__ADS_3

Nev uring-uringan dan ini adalah kali kedua Nenek melihat cucunya bertingkah seperti ini.


Pertama kali Nev bersikap begini adalah saat dia di vonis mengalami kelumpuhan. Saat itu Nev marah dan bersikap tempramental.


Namun, seiring waktu, Nev akhirnya bisa menerima keadaan dan kembali menjalani hidupnya dengan baik.


Dan sekarang? Kenapa Nev harus seperti ini lagi setelah kepergian Raya? Apakah Raya memang berdampak besar untuk kehidupannya?


Sudah dua hari ini, Nev tidak ke kantor, selalu marah saat menerima telepon, tapi diluar itu dia banyak berdiam diri seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Nev, kita makan, ya." kata Nenek mencoba membujuk Nev yang seakan tidak punya gairahh untuk melakukan hal apapun.


"Nev mau Raya, Nek..." Hanya itu kalimat yang selalu Nev lontarkan setiap diajak berbicara.


"Nev, jangan begini... kamu mengabaikan kesehatanmu sendiri," bujuk Nenek lagi.


Nev menggeleng pelan dengan lesu, menunjukkan sikap tidak bersemangatnya.


"Nev mau makan bersama Raya." jawabnya lagi.


"Oh, Ya Tuhan, Nev ... berapa umurmu sekarang? Jangan seperti anak remaja yang putus cinta, Nev!" kata Nenek mengingatkannya.


Namun Nev tak mengindahkan cibiran Neneknya, ia mengalihkan pandangan ke arah lain.


Melihat Nev diam, Nenek mencoba bicara lagi.


"Percayalah, Nev. Nenek melakukan semua ini untuk kebaikanmu..."


"Kebaikan apa, Nek?" kata Nev menyela. "Mungkin Nenek mengira Nev akan bahagia setelah kejadian ini?" Nev tersenyum kecut diakhir kalimatnya.


"That's a big mistake! (Itu kesalahan besar!)," desis Nev.


Nenek menghela nafas berat. "Memangnya kalau Raya ada disini sekarang, kamu mau melakukan apa?" tanya Nenek dengan nada menyindirnya.


"Entahlah, yang penting dia berada didekat Nev." jawab Nev cepat.


Nenek menggeleng. "Itu artinya kamu belum bisa memberikan status yang baik untuk dia. Kamu belum tahu mau menempatkan dia sebagai apa dihidupmu. Kamu hanya mengikuti keegoisanmu. Kamu tidak memikirkan bagaimana pandangan orang terhadap dia," jelas Nenek dengan lemah lembut.


Nev terdiam, dia mencerna ucapan Neneknya itu dikepalanya sendiri.


"Kamu mau Raya dianggap sebagai perusak rumah tanggamu dan Feli?"


Pertanyaan Neneknya membuat hati Nev mencelos. "Ten-tentu saja tidak, Nek." jawabnya cepat namun tergagap.


"Kalau begitu, selesaikan dulu problem kamu dengan Feli seperti saran Nenek."


"Tapi Raya sekarang dimana, Nek? Nev ingin tahu keadaannya. Raya membutuhkan Nev, Nek."


Nenek terkikik demi mendengar ucapan Nev yang percaya diri itu.


"Darimana kamu yakin dia membutuhkanmu?" tanya Nenek mengulumm senyum.

__ADS_1


"Nev hanya merasa begitu."


"Itu hanya perasaanmu saja."


"Nek...." Nev tak melanjutkan kalimatnya karena Neneknya langsung mengadahkan tangan didepan wajahnya.


"Kalian saja tidak punya hubungan, bagaimana bisa kamu merasa begitu? Itu hanya perasaanmu saja. Raya disini karena butuh banyak biaya. Bukan karena kamu." selah Nenek dengan cepat, membuat Nev merasa jengkel karena ejekan Neneknya itu.


"Kalau memang merasa Raya membutuhkanmu, cepat urus semuanya dan kejar dia," saran Nenek tersenyum.


Nev berdecak tapi kemudian mengangguki ucapan Neneknya.


"Sekarang, Fokuslah mengurus perceraianmu, Nenek tidak akan mencegah apapun keputusanmu. Nenek mendukung semua yang kamu yakini. Nenek berharap kamu bahagia dan tidak salah memilih lagi, Nev."


"Tapi, Raya ..."


"Biarkan Raya sendiri dulu, jika dia memiliki perasaan lebih padamu, dia pasti akan menunggu kamu, hmm?"


Nev menggeleng putus asa.


"Kenapa? Nenek sudah mengatakan pada Raya tentang perpisahanmu dengan Feli. Selebihnya biar menjadi urusan Nenek. Berhenti mencarinya."


Nev menelan salivanya dengan sulit. "Nev tidak mungkin berhenti mencari Raya, Nek."


"Terserah saja, kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dari pencarian itu, Nev." sahut Nenek cepat.


"Nenek menyembunyikan Raya?" tanya Nev.


Sebelum benar-benar keluar dari kamar Nev, nenek menoleh sekali lagi.


"Makan makananmu jika masih mau bertemu Raya dalam keadaan sehat." ucap Nenek.


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


Sekarang Nev benar-benar tidak mengerti harus melakukan apa lagi. Pencariannya dua hari ini tidak membuahkan hasil.


Jimmy yang biasanya bisa dengan mudah membantunya dalam pencarian pun tidak memberinya secuil info.


Setiap Nev bertanya pada Jimmy selalu mendapat jawaban yang sama "Nothing..." jawab Jimmy lesu.


Seandainya kondisinya tidak duduk dikursi roda seperti sekarang, mungkin Nev tak akan mengharapkan bantuan siapapun, dia akan bergerak sendiri karena rasa tidak sabar untuk menemukan Raya.


Tapi, Nev kembali teringat dengan ucapan Neneknya tentang berhenti mencari Raya.


Apa sekarang Raya memang berada dalam lingkup Neneknya?


Apakah Nev memang harus berhenti mencari Raya dan mengikuti saran Nenek untuk menyerahkan semuanya pada sang Nenek?


Tentu saja tidak bisa begitu. Nev tidak mungkin tinggal diam sementara tak tahu sama sekali keadaan dan keberadaan Raya-nya.


Ia memandang ponselnya yang sekarang sudah terpasang wallpaper dengan wajah wanita yang dicari-carinya itu.

__ADS_1


Melihat itu, bukannya mengurangi kerinduannya justru dia merasa semakin frustasi.


Ia tidak tahu kenapa kepergian Raya begitu terasa sesak dihatinya. Apa sedalam itu perasaanya pada Raya? Atau ini hanya efek karena kebiasaan yang biasa dia lakukan bersama Raya.


Nev pun teringat pada malam sebelum Raya pergi dari rumahnya. Malam dimana mereka menerbangkan lampion dan menyelipkan sebuah harapan disana.


"Aku justru berharap kamu tetap disisiku... kenapa semuanya jadi terbalik?" gumam Nev tersenyum kecut.


"Sepertinya lampion itu mengabulkan doa yang sebaliknya." tiba-tiba Nev terkekeh sendiri. Ia mengumpat dirinya sendiri yang percaya pada harapan tertulis yang dia selipkan di lampion. Dia berharap banyak tetapi sekarang dia menyadari bahwa itu sebuah kebodohan.๐Ÿ˜


(Minta sama Allah, Nev... bukan sama lampionโœŒ๏ธ๐Ÿ˜)


"Apa kau sudah gila?" suara seseorang menyahuti ucapan Nev.


Nev menoleh dan mendapati Jimmy disana.


"Mau apa kau kemari? tanya Nev tak senang.


"Mood mu benar-benar buruk..." cibir Jimmy.


"Kau sudah tahu itu, kenapa masih datang?" sinis Nev.


Jimmy hanya terkekeh pelan, kemudian melihat Nev lagi.


"Seharusnya sekarang kau sedang senang, Feli brnar-benar tak tinggal dirumahmu lagi."


"Hm..." Nev hanya berdehem karena setelah dia menceritakan tentang perbuatan Feli pada Neneknya, Feli langsung diusir Nenek saat itu juga.


Jimmy tertawa lagi. "Kau tak senang? Atau kau merasa kehilangan Feli sekarang?" ejek Jimmy.


"Kau tahu kenapa moodku rusak? Salah satunya karena kehadiranmu dirumahku."


Jimmy mengangguk sambil mengulumm senyum, melawani Nev adalah kegemarannya. Apalagi jika Nev naik darah, itu benar-benar hiburan untuknya.


"Kau akan tetap mencari Raya? Ku rasa itu tak perlu ka---" ucapan Jimmy terhenti diudara karena Nev menyorotinya dengan tatapan tajam.


"Aku akan tetap mencarinya walaupun kalian semua seakan bersekongkol menyembunyikannya dariku." kata Nev cepat.


Jimmy terkekeh lagi. "Aku tak bisa membantumu kali ini, Bro." jawabnya.


"Kau sama saja seperti Nenekku. Sebenarnya temanmu itu aku atau Nenek?"


Jimmy hanya mengulumm senyum sembari menggaruk kepalanya sendiri yang tidak gatal.


...Bersambung ......


Raya? Dimana kamu?


Yang rindu Raya, apakah di bab selanjutnya kita bakal ketemu dengannya?


Pantengin ya... karena nanti bakal up lagi khusus untuk readers setia๐Ÿ˜ ๐ŸŒธ๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2