
Seperti yang Nev katakan siang tadi, pria itu benar-benar pulang larut malam. Raya membantu Nev dengan membawakan tas kerjanya.
"Kenapa belum tidur? Harusnya tidur saja, tidak usah menunggu aku pulang, ini sudah terlalu larut." Nev berkata dengan lembut, tapi entah kenapa Raya merasa tersinggung dengan ucapan suaminya itu.
Raya hanya diam dengan hati yang mendadak perih.
Mereka berjalan beriringan menuju kamar dan tak ada yang memulai percakapan lagi.
Sesampainya dikamar, Raya melihat Nev yang sibuk membuka kancing kemejanya sendiri, bersiap untuk masuk ke kamar mandi.
"Nev..."
Nev berhenti melangkah dan melihat Raya sekilas.
"Kita perlu bicara..." lirih Raya.
"Tentang apa?" sahut Nev akhirnya.
"Tentang kita berdua."
"Baiklah, aku mandi dulu." Nev segera melangkah masuk kedalam kamar mandi.
Raya menyiapkan baju ganti Nev seperti biasanya, tak berselang lama suaminya itu sudah keluar dari kamar mandi.
Raya memandangi Nev yang mengenakan pakaiannya dan Nev hanya diam melihat tingkah Raya itu.
"Ada apa, hmm?" Nev mengajak Raya duduk di sofa kamar, dia ingin mendengar apa hal yang ingin dibicarakan oleh sang istri.
"Aku merasa kamu berubah, Nev..."
Nev tertawa pelan, merasa aneh dengan ucapan Raya. "Berubah apanya?" tanyanya heran.
"Apa kamu masih mencintai aku, Nev?" tanya Raya dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa kamu bisa menanyakan hal semacam itu?" Nev balik bertanya.
"Jangan balik bertanya, Nev! Jawab saja pertanyaanku!" ucap Raya sedikit kesal.
Nev tertawa. "Sebaiknya kamu tidur, kamu sepertinya sudah mengantuk," ucapnya sembari mengacak rambut Raya.
"Aku belum mengantuk, Nev! Dan aku gak akan tidur sebelum kamu menjawab pertanyaanku!" Raya marah, dia merasa Nev sengaja menghindari pertanyaannya itu.
"Oke, jangan marah... kamu bertanya tentang aku masih cinta atau enggak sama kamu... tentu saja aku cinta sama kamu!" jawab Nev santai.
"Bohong!" dengkus Raya sembari bersedekap dada.
Nev tertawa kecil, lalu menggeleng samar. Sikap Raya benar-benar membuatnya lucu sendiri.
"Kamu merasa begini karena faktor apa?" tanya Nev pelan.
__ADS_1
"Entahlah, aku merasa kamu menjaga jarak denganku! Kamu sudah berangkat bekerja di subuh hari, lalu kamu pulang kerja saat sudah larut! Kamu menghindariku. Bahkan saat aku sengaja datang ke kantor, kamu memintaku untuk pulang!" Raya mengeluarkan semua unek-unek dikepalanya sanking kesal dengan sikap suaminya itu.
"Ah, ya... kamu juga menerima telepon secara sembunyi-sembunyi. Jangan pikir aku gak tahu hal itu, Nev!" sambung Raya lagi.
Nev tercengang, baru kali ini dia melihat Raya benar-benar dalam mode marah sampai mengeluarkan semua isi kepalanya seperti sekarang.
"Oke, sekarang aku udah boleh jawab belum?" Nev masih mengimbangi Raya dengan sikap santai, dia tak mau memicu masalah setelah tahu jika Raya benar-benar tengah marah padanya.
"Kamu harus ingat dengan janji kamu Nev! Dan juga tentang kebiasaan kita untuk terbuka satu sama lain."
"Iya, aku tahu, Sayang. Sekarang aku udah boleh ngejelasin enggak?"
Raya mengangguk sekilas.
"Jadi gini, menurut aku ... kamu merasa kita berjarak karena kesibukanku belakangan hari. Aku punya proyek baru bersama Bryan dan itu harus cepat diselesaikan selagi Bryan masih berada di Indonesia. Aku pikir ini semua hanya perasaan kamu saja, kamu yang merasa aku menghindari kamu, padahal aku memang benar-benar sibuk. Maaf..."
Entah kenapa Raya tak puas dengan jawaban yang Nev berikan itu.
"Oke, aku terima kesibukan kamu. Lalu kenapa kamu harus terima telepon secara sembunyi-sembunyi?" tuntut Raya.
"Itu perasaan kamu saja, Sayang." sahut Nev santai.
Raya berdecak. "Jelas kamu nyembunyiin sesuatu dari aku, Nev!" kata Raya.
"Yaudah kalau kamu merasa begitu, jadi mau kamu gimana sekarang?"
"Kan, kamu nyebelin banget!" Raya beringsut dan menuju ranjang lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Aku cinta kamu, Sayang. Jangan pernah berpikir kalau aku udah gak mencintai kamu lagi. Aku takut kamu pergi, jangan pernah meninggalkan aku!" bisik Nev pelan didekat telinga Raya. Kemudian dia pun mulai berusaha untuk tidur karena merasa sangat lelah beberapa hari ini.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Sudah hampir seminggu ini Raya dan Nev tak melakukan sesi pembicaraan satu sama lain seusai sholat subuh. Karena setelah ibadah itu, Nev langsung bersiap ingin beranjak pergi dari kediamannya dengan alasan berangkat ke kantor.
"Nev, aku gak enak badan..." kata Raya dan itu membuat Nev mengernyit.
Nev menyentuh dahi Raya sekilas. "Kamu gak demam," kata Nev pelan.
Sebenarnya Raya memang tak sakit, dia hanya mencari perhatian Nev saja.
"Kamu harus banget ya ke kantor hari ini?"
"Iya, Bryan disini tinggal dua hari lagi. Jadi kerjaan aku harus cepat selesai, Sayang. Urgent soalnya."
"Tapi aku gimana? Aku mau kamu nemenin aku," kata Raya manja.
Nev berpikir sejenak. "Gak enak banget ya badannya? Apa kita ke dokter aja?"
Raya menggeleng, dia cuma butuh Nev saat ini. Dia merasa menjadi wanita yang haus kasih sayang belakangan hari.
__ADS_1
Walau sikap Nev tetap lembut padanya, tapi dia merasa jika Nev tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
"Gini aja deh, aku temani kamu sampai setengah hari. Nanti sehabis jam makan siang, aku ke kantor!" usul Nev akhirnya.
"Aku mau sama kamu terus sepanjang hari." kata Raya memegang tangan Nev.
Nev menghela nafas panjang. "Oke, baiklah..." katanya menyerah.
Raya pun segera menguasai diri Nev, pria itu hanya pasrah dengan sikap Raya yang over manja dan terkesan sangat sensitif akhir-akhir ini.
Saat ini, Nev memangku kepala Raya dan Raya mengarahkan tangan Nev agar pria itu mengelus-elus kepalanya. Nev menurut saja tanpa banyak pertanyaan dan dia pun merasa senang melakukan hal itu.
"Nev, Viona itu siapa?" tanya Raya tiba-tiba.
"Viona itu pacar Bryan, Sayang." sahut Nev jujur dan santai.
Raya bangkit dari posisinya, sepersekian detik berikutnya dia menatap Nev dengan wajah senang. "Serius? Kamu serius kalau Viona itu pacar Bryan?" tanyanya.
Nev mengangguk mengiyakan. "Memangnya kenapa?" tanyanya.
"Aku takut kalau kamu dekat sama perempuan lain," jawab Raya dengan bibir yang dimajukan beberapa senti.
Nev gemas melihat tingkah Raya ini, tapi tiba-tiba dia jadi teringat sesuatu yang janggal.
"Sebenarnya kamu gak sakit, kan? Kamu cuma takut aku ketemu Viona hari ini, kan?" tebak Nev.
Raya mengangguk dengan polosnya.
"Ya udah, aku kerja aja ya sekarang. Kamu kan udah tahu siapa Viona, Aku juga gak dekat sama perempuan manapun... kecuali kamu aja!"
Raya menggeleng. "Aku mau kamu tetap disini, Nev."
"Ya, ya baiklah..." sahut Nev menuruti.
"Nev, apa kamu kecewa karena Jimmy akan menjadi seorang ayah sementara kamu belum?"
Nev terdiam.
"Jawab Nev! Apa sekarang kamu berubah pikiran dan marah karena aku belum mampu memberi kamu keturunan?"
Nev ingin menjawab, tapi ponselnya berdering dan dia harus segera menerima panggilan itu.
"Aku terima telepon dulu, sebentar..." Nev beringsut dan meletakkan kepala Raya dengan hati-hati di atas bantal, kemudian dia keluar dari area kamar untuk menerima panggilan telepon itu.
"Nerima telpon aja mesti keluar kamar!" gerutu Raya menatap Nev yang sudah keluar dari sebalik pintu kamar.
Raya bertekad untuk menemukan apa yang Nev sembunyikan darinya. Soal perlakuan Nev yang melunak padanya hari ini, membuatnya justru berpikir yang tidak-tidak. Entah kenapa Raya yakin jika ada sesuatu yang ditutupi oleh Nev dan sikapnya hari ini hanyalah keterpaksaan.
Ah, terpaksa? Apa sekarang Nev terpaksa menemaninya? Kenapa Raya jadi sedih mengingat hal itu?
__ADS_1
...Bersambung ......