
Suara dorongan roda brangkar yang beradu dengan lantai Rumah Sakit berhasil memecah kesenyapan disepanjang koridor yang sunyi dimalam nahas itu.
Abrine dan Airish berlarian mengikuti brangkar yang tak lain tengah membawa tubuh Aarav diatasnya.
Jika Abrine lebih tegar menghadapi insiden tragis ini, Airish tidak demikian, ia menangis histeris sepanjang perjalanan dari bumi perkemahan menuju Rumah Sakit terdekat dari area itu.
"Airish?" Raya baru tiba dan mendapati anak gadisnya yang sedang menangis sejadi-jadinya.
"Mama...." Airish memeluk dan mendekap erat tubuh sang Mama, rasanya baru kemarin dia mendapati insiden yang mengakibatkan Zio harus mengalami keseleo kaki, sekarang justru kakaknya Aarav yang mendapat insiden pemukulan.
"Mana Papa, Ma?" tanya Airish disela-sela tangisannya.
"Papa ke IGD, kami sudah bertemu Abrine disana tadi lalu Mama mencari keberadaan kamu ternyata kamu disini," kata Raya dengan wajah sendunya.
"Ma... aku tidak sanggup melihat kondisi Kak Aarav, makanya aku kabur kesini," terang Airish dengan sesenggukan. Ia terbayang wajah sang Kakak yang penuh darah, keluar dari hidung, mulut dan telinganya.
"Iya, Sayang.... kita doakan semoga kakak kalian baik-baik saja, ya." Raya sebenarnya ingin menangis histeris, sama seperti yang Airish lakukan tapi ia masih menahannya, mencoba tegar didepan anak gadisnya yang paling perasa ini.
"Ma, aku takut sekali, Ma."
"Kita berdoa ya, Nak. Semoga tidak ada yang parah."
Tak berapa lama, Nev datang menghampiri anak dan istrinya itu.
"Sayang," kata Nev menyapa Raya, secara otomatis Raya mengadah pada suaminya dan melihat sang suami menggeleng lemah dengan sorot mata tak terbaca.
Raya berdiri, melepaskan dekapannya pada Airish secara spontan.
"Apa maksud kamu, Nev?" Raya mengguncang tubuh Nev dengan perasaan kalut.
Disaat yang sama, Abrine tiba didekat mereka bertiga. Abrine yang tadinya tampak masih bisa menahan tangis dan lebih tegar dari Airish, kini justru menangis kencang dan memeluk Nev. Nev mengelus rambut Abrine secara berulang. Raut wajahnya kini nampak putus asa.
"Katakan apa yang terjadi pada Aarav?" Raya seakan menggila, ia mengguncang tubuh Nev dengan lebih keras daripada sebelumnya. Dipikirannya kini, telah terjadi hal buruk pada putera satu-satunya itu. Akhirnya tangisan Raya pecah, tak bisa dibendung lagi.
"Aarav me---"
"Pak! Dokter ingin berbicara pada keluarga pasien atas nama Aarav." Seorang perawat tampak terburu-buru menghampiri keluarga Nev dan memotong pembicaraan Nev dan Raya.
Dengan gegas, Raya lah yang lebih dulu bergerak menuju ruangan IGD, ia ingin tahu kondisi terakhir Aarav dari mulut Dokter secara langsung karena Nev tidak bisa membuka suara sama sekali.
__ADS_1
"Dokter, apa yang terjadi dengan putera saya?" kata Raya menatap lekat Dokter yang tampak baru saja keluar dari ruang IGD.
Dokter menatap Raya. "Sebuah keajaiban, Bu. Tadinya denyut jantung pasien sudah tidak merespon selama hampir tiga menit. Kami sudah mengatakan pada Bapak Nev, bahwa Aarav telah berpulang, namun tiba-tiba jantungnya kembali memompa darah."
Mata Raya membulat sempurna, jadi tadi suaminya ingin menyampaikan berita tentang kepergian puteranya untuk selamanya, tetapi belum sempat terjadi sebab panggilan seorang perawat yang memotong obrolan mereka.
Nev, Abrine dan Airish mendesahh lega mendengar kabar jika Aarav masih bernyawa.
"Lalu sekarang bagaimana, Dokter?"
"Kita akan melakukan operasi secepatnya, karena beberapa pembuluh darahnya pecah dan beberapa tulangnya juga patah."
"Lakukan apapun yang terbaik untuk putera saya, Dokter!" kata Nev tegas.
"Kami hanya bisa mengoperasi untuk pemasangan pen di tulang-tulangnya yang patah. Mengenai pembuluh darahnya mungkin akan lebih baik dioperasi di Rumah Sakit yang lebih besar agar pengobatannya lebih maksimal, disini kita terkendala peralatan medis yang kurang memadai," terang Dokter.
Nev mengangguk. Ia akan melakukan apapun untuk kesembuhan puteranya.
"Baiklah Dok, lakukan pertolongan pertama untuk anak saya, setelah itu kami akan mengurus perpindahan rumah sakitnya," kata Nev memutuskan.
"Kami akan melakukan yang terbaik sebisa kami, Pak."
______
Nev, Raya dan kedua puteri mereka yang baru selesai melaksanakan shalat subuh pun kembali kedepan ruang operasi itu.
"Pak, Ibu... saya ingin membicarakan perihal kondisi Aarav pasca operasi," kata Dokter sembari berjalan menuju ruangannya.
Nev dan Raya mengikuti sang Dokter, sementara Airish dan Abrine masih tinggal didepan ruang Operasi itu untuk menunggu keputusan selanjutnya.
_
"Maaf, Pak, Ibu... dengan sangat berat hati, menurut hasil CT scan dan pasca operasi yang kami lakukan pada kondisi fisik Aarav, kami mengidentifikasikan bahwa Aarav akan mengalami kelumpuhan otak. Otak adalah organ vitaal yang sangat penting, organ yang utama membantu aktivitas tubuh."
"....untuk ini, maka vonis saya terhadap Aarav adalah kelumpuhan otak temporer, dia mungkin akan hidup dalam keadaan cacat dan tidak bisa menggerakkan beberapa bagian tubuhnya seperti kaki dan tangan, bahkan kemungkinan terparah dia juga akan sulit menoleh atau mengangkat kepalanya," papar Dokter panjang lebar.
Nev mengepalkan tangannya penuh rasa putus asa, sementara Raya yang ada disisinya sudah berderai airmata. Bagaimana mungkin semua direnggut dari puteranya begitu saja?
Rasanya Raya tidak sanggup berucap barang sepatah katapun lagi.
__ADS_1
Setelah mengucapkan terima kasih pada Dokter, Nev dan Raya keluar dari ruangan itu.
"Airish, Abrine, ajak Mama kalian sarapan pagi. Papa ada urusan sebentar," kata Nev yang langsung bergegas menuju kearah lain.
Raya masih menangis, ia tidak tahu bagaimana bisa melewati hari melihat penderitaan Aarav nantinya.
"Apa kata dokter, Ma?" Abrine mencoba memberanikan diri untuk bertanya pada Raya yang sejak tadi tak henti-henti menangis.
Raya menggeleng lemah. Tetap tak bisa membuka suara bahkan untuk menjelaskan pada putri-putrinya terkait kondisi Aarav yang sebenarnya pun ia tak sanggup.
Bersamaan dengan itu, Nimas dan Rahelsa tiba dihadapan mereka.
"Ray ...." Nimas memeluk Raya yang tampak ringkih dimatanya.
"Gimana Aarav?" Rahelsa menatap Abrine dan Airish bergantian, namun kedua gadis itu hanya menggeleng lemah.
___
"Cari kepa rat - kepa rat yang memukuli anakku! Aku tidak mau mereka hidup dengan bebas!" desis Nev diujung teleponnya.
Nev menoleh saat sebuah tepukan ringan mendarat dipundaknya, ia mendapati Jimmy menatapnya dengan sendu.
Nev segera memutus panggilan teleponnya. Jimmy berusaha memahami Nev kali ini.
"Biar aku yang menangani mereka," kata Jimmy akhirnya.
Nev tertunduk lemas, andai saja ia bisa mengekspresikan diri dengan menangis seperti Raya dan kedua putrinya, pasti ia akan melakukan hal itu juga sekarang namun ia tak bisa, jiwanya harus lebih tegar ketimbang tiga perempuan itu.
"Aku tidak tahu apa jadinya masa depan Aarav, dia masih terlalu muda dan tidak seharusnya dia menerima perlakuan seperti ini, perjalanan hidupnya masih panjang," terang Nev dengan mata berkaca-kaca menatap Jimmy.
"Aku tahu, semua cobaan pasti akan terlewati. Bagaimana jika Aarav kita bawa ke Luar Negeri untuk pengobatan," kata Jimmy memberi saran.
"Aku akan memikirkannya," Nev menghela nafas berat. "Aku sudah pernah menghabiskan waktu diatas kursi roda, Jim. Kenapa anakku harus merasakannya juga? Aarav puteraku satu-satunya. Dia adalah harapanku. Aku berharap besar padanya, kau paham bagaimana rasa putus asaku ini?"
Jimmy mengangguk, sedikit banyak ia memahami Nev yang juga pernah mengalami kelumpuhan. Sekarang Aarav justru lebih parah, putera Nev itu bukan hanya mengalami kelumpuhan kaki alias tidak bisa berjalan, tapi kelumpuhan Aarav ada di pusat utama yaitu di otak.
"Kita berdoa semoga akan ada jalan keluarnya," kata Jimmy.
"Lalu, apa rencanamu untuk para ba jinga n yang sudah memukuli Aarav?" tanya Nev.
__ADS_1
"Terserah kau saja, jika kau ingin mereka lenyap maka akan ku lenyapkan dengan caraku tanpa sepengetahuan orang lain," jawab Jimmy.
******