PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Hari Bahagia yang telah tiba


__ADS_3

Hari bahagia itu akhirnya tiba. Airish baru saja selesai dengan riasan dan penampilannya, dibantu oleh seorang perias yang ahli dalam bidang itu.


"Cantik banget sih kamu, jadi iri..." Abrine berlagak mencebik, namun Airish hanya tertawa pelan disusul dengan tawa sang Mama yang juga berada disana.


"Mau juga? Buruan nikah!" timpal Rahelsa yang baru masuk ke kamar.


"Ishh .... belum kepikiran, tuh!" Abrine menggerutu sembari masih memanyunkan bibir.


"Ya kalau gitu tunggu aja momennya kamu, pasti cantiknya bakal sama kayak Airish, kan wajah kalian serupa." Mama Raya mengelus pundak Abrine seolah Abrine memang tengah mengalami kesedihan karena ditinggal Airish yang menikah lebih dulu, padahal Abrine tetap pada hakikat diri yang cuek dan tidak terlalu mempedulikan.


"Dih, kok jadi bahas Abrine, sih, ma. Abrine beneran gak apa-apa dan gak kepikiran sampai kesana. Tadi cuma bercanda, kok. Hehe ...."


Mereka yang ada dalam kamar Airish itupun tertawa mendengar ulasan yang Abrine berikan.


"Udah siap?" Tiba-tiba suara Papa Nev terdengar diambang pintu, bersamaan dengan munculnya sosok pria paruh baya itu.


"Calonnya udah didepan, tuh!" sambung Papa Nev sambil mengerlingkan sebelah mata pada Airish.


"Calon apa, Pa?" timpal Mama Raya.


"Calon menantu kita, Sayang."


Semuanya kembali tertawa, hanya Airish yang menundukkan wajah karena malu-malu.


Dikarenakan pernikahan Zio dan Airish hanya dilangsungkan secara agama hari ini, maka tamu yang datang pun hanya keluarga dekat saja. Mereka akan segera mengurus pernikahan secara hukum negara ketika tiba di Indonesia nantinya.


Airish digandeng oleh Abrine untuk turun menuju ruang utama tempat berlangsungnya akad.


Tak lama setelah itu, Airish tak sengaja bersitatap dan bertemu pandang dengan Zio yang duduk didampingi Papi Ken dan Bunda Hana.

__ADS_1


Kedua calon pengantin itu tampak sama-sama terdiam dan seolah tengah bicara dari hati ke hati melalui sorot mata saja. Kerinduan jelas terpancar dimata keduanya, namun belum bisa bersua sebelum ikrar suci pernikahan diutarakan.


Seorang penghulu yang memimpin prosesi pernikahan mulai angkat suara. Teriring salam dan doa mulai terdengar dilantunkan. Kemudian menanyakan kehadiran saksi, wali dan kesediaan pengantin itu sendiri.


Airish akan disandingkan dengan Zio setelah nantinya dinyatakan sah sebagai sepasang suami istri. Jadi, saat ini Airish hanya bisa menatap calon suaminya dari jarak yang tak terlalu jauh. Menanti dengan harap-harap cemas dimana Zio akan mengucapkan ijab dan Qabul.


Mata Airish rasanya tak berkedip, namun ia masih bisa merasakan punggung tangannya ditepuk-tepuk pelan oleh sang Mama, seolah Mama Raya tengah memberinya dukungan penuh atas pernikahan ini. Airish juga bisa merasakan Abrine yang kini bersandar manja dipundak kirinya.


Sementara itu, jauh dalam hati Abrine sendiri sekarang tengah merelakan saudari kembarnya itu yang akan segera diikat dan dibawa oleh lelaki yang nanti berstatus suami dari adik kembarnya. Ya, tanggung jawabnya sebagai kakak akan digantikan oleh Zio nantinya.


Disudut lain, Rahelsa dan Aarav tampak tersenyum senang. Aarav tak lagi meledek Airish seperti biasa. Kakak pertama Airish itu tampak lebih dewasa sekarang, ia tahu Airish akan segera menjadi istri dan ia tak mau merusak mood Airish dengan menjaili gadis itu hari ini. Mungkin lain kali. Tapi, dalam hati Aarav sendiri, tentu ia mendukung kebahagiaan adiknya sepenuh hati. Terlebih ia salah seorang saksi yang mengetahui bagaimana kuatnya perasaan Zio terhadap Airish sejak zaman SMA. Ia mempercayai Zio bisa menjaga adiknya.


Kembali ke Airish, ia sendiri tengah menggenggam kuat tangan Abrine sekarang. Karena kini Zio sedang diuji untuk mengucap namanya dalam janji pernikahan didepan wali nikahnya yaitu Papa Nev. Ia bertukar pandang dengan calon mertuanya, Bunda Hana melempar senyuman teduh seperti biasanya seolah meyakinkannya bahwa jangan meragukan Zio kali ini.


Dan perasaan cemas itu seketika luruh, saat semua saksi dan undangan yang datang berujar 'Sah' tak lama kemudian. Airish menghela nafas lega sepenuh dada. Ia resmi menjadi seorang istri sekarang. Airmatanya jatuh tanpa diminta. Tentu itu air mata kebahagiaan.


Bersamaan dengan itu, pelukan bertubi-tubi menyerangnya, mulai dari Mama Raya, Abrine, disusul kemudian oleh Aarav dan Rahelsa yang mengucapkan selamat menikah.


"Hai ...." Sapaan Zio membuat Airish ingin tertawa. Ia menangkap raut wajah Zio yang gugup tadi namun kini sudah berganti menjadi semringah.


"Hai ...." jawab Airish malu-malu, namun akhirnya mengikuti gerakan Zio yang mengajaknya untuk duduk.


Kaku, Zio terlalu kaku sekarang. Tidak ada obrolan lagi diantara keduanya. Begitu pula dengan Airish, meski nyatanya sekarang mereka telah resmi menjadi suami istri namun status ini entah kenapa justru membuat canggung keduanya.


"Saya .... masih ngerasa ini gak nyata." Akhirnya Zio berujar setelah cukup lama terdiam dan hanya menyambut salaman dari para tamu.


"Kenapa?" Airish mengernyit heran.


"Karena bertahun-tahun lamanya saya selalu memimpikan momen ini jadi saya masih mengira ini hanya mimpi saya."

__ADS_1


Spontan, Airish mencubit lengan Zio sekuat tenaga, membuat Zio meringis sekaligus terkejut dengan aksi gadis yang sudah berubah status menjadi istrinya itu.


"Sakit? Ya iyalah orang ini nyata," kata Airish dengan polosnya. Akhirnya Zio tak jadi kesakitan dan justru tertawa geli mendengar ucapan sang istri.


"Kenapa? Ada yang lucu ya?" tanya Airish lagi.


"Kamu yang lucu."


"Aku?"


"Iya."


"Apanya yang lucu?" gumam Airish namun Zio masih saja tertawa pelan mendengarnya.


Setelah melakukan sesi foto dan salam-salaman dengan seluruh kerabat yang datang ke acara pernikahan mereka. Tibalah acara selanjutnya yaitu makan bersama.


Dalam hal ini, Zio tampak lebih dominan dari Airish, dia yang melayani makanan Airish bukan sebaliknya. Tapi Zio dengan senang hati melakukan itu karena dia tahu jika istrinya masih butuh bantuan untuk menyesuaikan diri dan Zio justru menyukai karakter Airish yang seperti ini dikarenakan inilah yang nantinya akan membuat Airish ketegantungan dengannya.


"Duh, baru nikah aja udah keliatan siapa yang bucin benget," celetuk Bunda Hana yang berada diseberang sepasang pengantin itu.


Airish hanya nyengir, sementara Zio menatap Bundanya sambil menggeleng pelan.


"Gak apa-apa, dulu bunda juga gitu...." timpal Papi Ken.


"Bunda apa Papi yang bucin?" tanya Bunda Hana ke Papi Ken dengan tatapan penuh intimidasi.


"Iya, iya... Papi yang bucin," sahut Papi Ken sambil memutar bola matanya.


Semua yang ada di lingkup meja besar berbentuk bundar itu pun terkekeh.

__ADS_1


"Gimana bucinnya Zio ke Airish itu definisinya papi waktu ke bunda dulu, kan?" Zio angkat suara, namun terdengar memojokkan sang papi membuat semua mata tertuju pada pria paruh baya itu yang dibalas dengan ekspresi garuk-garuk kepala saja oleh papi Ken.


*****


__ADS_2