PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Sebuah keputusan


__ADS_3

"Kenapa kamu bisa pulang bersamanya?" tanya Aarav begitu ia dan Rahelsa masuk kedalam bilik lift.


"Ban mobilku bermasalah, ini bukan disengaja," kata Rahelsa jujur, namun ia teringat akan misi yang sedang dijalankannya sehingga ia pun menyambung kalimatnya lagi. "Lagipula, tidak ada yang salah kan jika Zack mengantarku pulang?"


"Apa?" Aarav mendongak demi mendapati bagaimana raut Rahelsa saat mengucapkan kalimat barusan.


"Dia hanya mengantarku saja, Rav. Apa salah?"


"Tentu saja salah," kata Aarav cepat.


"Apanya yang salah, aku--"


"Kamu lupa dengan statusmu sebagai tunanganku?" Pertanyaan Aarav lolos begitu saja tanpa ia saring lebih dulu, sehingga Rahelsa bisa mengartikan dengan jelas bahwa Aarav tengah mencemburuinya.


Namun, Rahelsa tak mau langsung mengungkapkan hal itu didepan Aarav, ia lebih memilih diam sembari mengulumm senyuman karena senang. Akhirnya Aarav menunjukkan sikap cemburu juga. Ternyata tak sia-sia dia diantarkan pulang oleh Zack, meski harus menghadapi sikap Zack yang menyebalkan namun selalu ada hikmah dibalik semua itu. Ia juga besyukur sebab ponselnya yang sempat tertinggal dimobil Zack tadi.


"Jangan lagi diantar olehnya, aku bisa melihat jika dia punya ketertarikan terhadap kamu, Els..."


"Baiklah, tapi... jika dia bersikap baik kepadaku, apa aku harus menolaknya?" tanya Rahelsa sengaja memanasi Aarav.


"Tolak saja! Apa salahnya!"


"Jika kamu bersikap begini, bagaimana aku bisa mendapatkan orang yang baik untuk menggantikanmu." Rahelsa tertawa diujung kalimatnya, sementara Aarav baru menyadari perilakunya yang tanpa dia sadari sudah menunjukkan kecemburuan terhadap Rahelsa dan Zack.


"Kamu ingin lelaki itu yang menggantikan posisiku sebagai tunanganmu, begitu?"


"Tidak juga, tapi kalau dia kandidat yang baik ... tak ada salahnya kan."


"Jadi, kamu sudah bersedia dengan gagalnya pertunangan kita?"


"Bukannya hal itu yang paling kamu inginkan, Rav!" todong Rahelsa.


Aarav menghela nafas tanpa bisa menjawab.


Lift berdenting dan Rahelsa mendorong kursi roda Aarav agar segera keluar dari sana.


Aarav benar-benar tidak bisa melanjutkan kata sebab ucapan Rahelsa dan apa yang terjadi hari ini cukup membuatnya kesal.


Kenapa Rahelsa jadi bersikap begini kepadanya? Ia menyadari perbedaan sikap gadis itu sejak pagi tadi.


Tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka sampai mereka benar-benar masuk kedalam unit Apartmen.


"Rahel, kenapa baru pulang?" tanya Raya saat melihat kepulangan Rahelsa.


"Ya, Tant, tadi memang sangat sibuk karena kami sedang mempersiapkan desain untuk dipakai di fashion week nanti, Tante..."


"Oh, soalnya Aarav sudah heboh sendiri karena kamu belum pulang kuliah sejak tadi. Dia bahkan mengajak Abrine untuk menjemput kamu di kampus," kata Raya dengan senyuman kecil.


"Benar begitu, Rav?" tanya Rahelsa pada Aarav.


"Hmm." Pemuda itu hanya berdehem pelan.


Tak lama, Abrine juga sudah kembali ke Apartmen.


Mereka makan malam bersama setelah menunggu Rahelsa mandi dan membersihkan diri.


Abrine yang cuek langsung masuk ke kamarnya setelah selesai dengan kegiatan makan malam mereka.


Airish membantu Raya membereskan perlengkapan makan, sementara Rahelsa membawa Aarav ke balkon kamar, sesuai permintaan pemuda itu.

__ADS_1


Kini Rahelsa dan Aarav berada di balkon kamar, memandangi langit yang cukup cerah malam ini.


"Aku sudah punya keputusan," kata Aarav memecah keheningan diantara mereka.


Ternyata, sejak tadi Aarav terus memikirkan mengenai hubungan mereka.


Rahelsa berbalik, menatap pemuda yang menunjukkan wajah dingin namun tak mengurangi kadar ketampanannya sama sekali.


"Apa keputusan kamu?" Rahelsa menunggu dengan harap-harap cemas.


"Tapi... kalau aku menjawab bisakah kamu menjanjikan satu hal."


"Apa itu?"


"Tetaplah berada di sisiku, apapun yang terjadi."


Rahelsa menggeleng. "Jika keputusan kamu adalah membatalkan pernikahan kita maka aku tidak bisa menjanjikan hal itu. Aku sudah mengatakan kalau aku akan pergi dari kamu jika kita tidak berjodoh."


"Els..."


"Jangan jadi lelaki yang egois, Aarav! Kalau keputusan kamu adalah melepaskan, maka kamu harus menerima konsekuensinya yaitu kepergianku."


"...jangan menuntutku tetap disisimu, sementara kamu tidak mau menjadikan aku sebagai milikmu."


"Miliki aku, agar kamu bisa merasakan keberadaanku disisimu setiap hari, kapanpun kamu mau!"


Rahelsa berucap dengan tegas dan tidak main-main. Aarav sampai menelan ludah berkali-kali sebab melihat keseriusan diwajah gadis itu.


"Aku paham." Aarav menjawab gugup.


"Katakan apa keputusanmu?" desak Rahelsa.


"Benarkah?" Rahelsa mendekat pada Aarav dengan mata yang berbinar-binar bahagia.


Aarav mengangguk. "Awal bulan depan. Bagaimana?" sarannya.


Sekarang giliran Rahelsa yang terkejut. "Kamu serius?" tanyanya agak syok.


Aarav mengangguk. "Tapi, pastikan tidak ada penyesalan dalam hatimu, Els. Jika sebelum acara pernikahan, tiba-tiba kamu merasa ragu dengan hal ini, maka jangan sungkan mengatakannya padaku."


Rahelsa menggeleng keras. "Gak. Aku gak pernah ragu dengan hal ini."


Aarav tersenyum tipis. Meraih jemari Rahelsa dan digenggamnya erat.


"Jika sudah begini, jangan dekat dengan siapapun lagi." Aarav memperingatkan gadis itu.


"Oh, jadi karena Zack, kamu bisa langsung mengambil keputusan?" tanya Rahelsa geleng-geleng kepala. "Tau gitu, sejak kemarin aku minta dia mengantarku, Aarav!"


"Kenapa?"


"Ya biar kamu cepat sadar, menyadari semuanya."


"Sejak awal aku udah sadar, tapi aku mau yang terbaik untuk kamu."


"Buktiin kalau kamulah yang terbaik untuk aku!" tantang Rahelsa.


Aarav terkekeh pelan. "Apa yang mau aku buktiin dengan kondisiku yang seperti ini?" tanya Aarav.


"Dengan menikahi aku, artinya kamulah yang terbaik." Rahelsa menatap Aarav lekat dan lelaki itu melakukan hal yang sama. Mereka saling menatap satu sama lain dengan tatapan saling mendamba penuh pancaran cinta.

__ADS_1


"Sekarang, aku mau tanya satu hal sama kamu. Boleh?" Rahelsa mulai duduk didepan kursi roda Aarav demi menyamai posisi mereka.


Aarav mengangguk. "Apa yang mau kamu tanyakan?"


Rahelsa tersenyum, tidak bisa menutupi rasa bahagianya dengan keputusan yang Aarav berikan.


"Apa kamu... cinta sama aku?"


Aarav terkekeh. "Perlu ku jawab?" tanyanya.


"Perlu, sangat perlu karena itu penting."


"Baiklah." Aparav mengelus jari manis Rahelsa yang dihiasi cincin pertunangan mereka, kemudian dia mulai berkata-kata.


"Queen Rahelsa Inara, Aku... Aarav Nadeo Prawiraharja." Aarav menghela nafas sejenak, kemudian lanjut bicara. "Pria yang tidak sempurna ini, ingin menikahimu karena amat sangat mencintaimu. Selain tidak sempurna dan tidak memiliki pekerjaan, aku juga tidak memiliki apapun sebagai nilai plus, yang aku punyai hanya rasa cinta yang luar biasa. Kira-kira... kamu mau menerimaku atau---?"


Belum selesai Aarav dengan kalimatnya, tapi Rahelsa sudah mengangguk-anggukkan kepala dengan antusias tanda mengiyakan.


"Aku menerima kamu, apapun keadaan kamu. Kamu gak cinta aku pun, aku siap menerima kamu, akan berusaha membuat kamu mencintai aku, apalagi jika kamu memiliki cinta luar biasa, aku gak akan menyia-nyiakannya."


"Terima kasih..." Aarav tersenyum haru. Ia meraih sisi wajah Rahelsa dan tanpa pernah diduga ia mengecup kening gadis itu dengan rasa kasih sayang.


Tubuh Rahelsa bergetar, ia merasa Aarav sedang menyalurkan seluruh cinta lewat kecupan didahinya. Kecupan yang lumayan lama dan terasa hangat melingkupinya.


Aarav melepas bibirnya di dahi Rahelsa. Ini adalah kali pertama bagi mereka berdua dan cukup membuat keduanya canggung satu sama lain.


Akhirnya mereka hanya menyunggingkan senyum malu-malu setelah kejadian itu.


"Els..." Aarav memanggil Rahelsa yang wajahnya tampak bersemu merah.


"Y-ya?" Rahelsa menjawab, namun tidak berani menatap Aarav meskipun kedua tangannya masih digenggam oleh pemuda itu.


"Masih ada banyak waktu untuk kita, aku harap kamu akan sabar menghadapi aku."


Rahelsa mengangguk dengan sikap kikuk, jantungnya masih sulit dikondisikan akibat tindakan Aarav yang baru saja mengecup dahinya.


Aarav membawa kepala Rahelsa agar jatuh di pangkuannya. Gadis itu hanya menurut dengan sikap canggung yang lebih mendominasi.


"Sebentar lagi kamu akan menjadi istriku, kamu harus siap menghadapi segala keposesifanku nantinya," kekeh Aarav sembari mengelus rambut Rahelsa yang tergerai di pangkuannya.


Rahelsa ikut tertawa. "Aku tidak sabar menunggu hal itu tiba," jawabnya.


"Jangan membuatku cemburu, aku tidak suka."


"Apa yang membuat kamu cemburu? Zack?"


"Tidak peduli apapun dan siapapun. Zack atau yang lainnya. Semuanya tidak akan luput dari rasa cemburuku."


"Aku juga akan mencemburui kamu." Rahelsa terkikik lagi.


"Apa yang mau kamu cemburui? Bahkan tidak ada gadis yang akan tertarik dengan aku, Els..."


"Banyak, kamu saja yang tidak menyadarinya."


"Benarkah?"


Rahelsa mengangguk dalam pangkuan Aarav. "Aku ingin memiliki kamu untuk diriku sendiri," gumamnya.


Aarav tertawa. "Dasar egois," kelakarnya. "Tapi, aku juga akan melakukan hal yang sama. Kamu akan menjadi milikku sendiri nantinya," sambung pemuda itu.

__ADS_1


******


__ADS_2