PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
86 - Rumah Sakit


__ADS_3

"Raya ..."


Raya melongo, bagaimana bisa dia menaiki Taxi yang didalamnya sudah ada penumpang lain. Pasti karena asal menyetop Taxi tadi, tapi masalahnya penumpang Taxi ini adalah orang yang mengenalinya dan dia adalah Reka.


"Reka," sahut Raya akhirnya.


"Kamu kenapa? Aku lihat tadi kamu seperti orang kebingungan di pinggir jalan sambil menyetop Taxi. Aku pikir kamu buru-buru jadi aku suruh supirnya berhenti saja," papar Reka.


"Hmm," Raya hanya berdehem, akhirnya dia tahu kenapa Taxi yang memiliki penumpang justru tetap berhenti saat dia menyetopnya tadi.


"Kamu mau kemana? Apa tindakanku salah? Aku gak mungkin membiarkan kamu kebingungan sendiri dipinggir jalan," terang Reka.


"Makasih kamu sudah memberiku tumpangan di Taxi yang kamu gunakan," kata Raya tulus.


Reka mengangguk. Dia baru saja pulang dari luar kota dan dijemput Taxi di Bandara. "Kamu mau kemana? Sekalian saja," ulangnya dengan pertanyaan yang sama pada Raya.


"Pulang." Raya menjawab singkat.


"Oke," Reka pun langsung memberitahu supir Taxi alamat Rumah orangtua Raya.


"Aku pulang kerumah suamiku, Ka. Bukan kerumah Mama," sahut Raya menimpali, karena mendengar alamat yang Reka beritahukan pada supir, bukanlah tujuan pulangnya.


"Oh..." Reka ber-oh ria sejenak. "Pak, jadinya ke jalan Permai Indah ya," katanya pada supir kemudian.


Supir Taxi itu tampak menyahuti ucapan Reka dengan anggukan.


Setelah itu Reka kembali menatapi Raya yang terlihat tidak baik-baik saja justru tampak meringis.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Reka memastikan.


"Ng-nggak," kilah Raya.


"Serius? Kamu kelihatan pucat, Ray..."


"Perutku sedikit kram saja," aku Raya.


"Kamu belum makan? Atau kita mampir makan dulu," tawar Reka.


Raya menggeleng. "Bukan karena lapar tapi kandunganku--"


"Kamu hamil?" Wajah Reka berubah khawatir.


Raya menganggguk dan Reka menghela nafas berat. "Kita ke rumah sakit saja kalau gitu," ujarnya.

__ADS_1


"Gak usah, aku pulang aja."


"Kamu sudah hubungi suamimu?" tanya Reka.


"Belum..."


"Mana nomornya? Biar aku beri tahu dia kondisi kamu sekarang," kata Reka.


Raya menyerahkan ponselnya pada Reka setelah mengakses password ponsel dengan sidik jarinya.


Reka berinisiatif mencari nomor Nev dari panggilan keluar yang ada di ponsel Raya.


"Hallo Sayang," sahut Nev dari seberang sana, sebab Reka meneleponnya menggunakan ponsel Raya.


"Ini bukan Raya.." jawab Reka.


"Lalu ini siapa? Kenapa ponsel istri saya bisa ditangan Anda?" Intonasi suara Nev agak naik diseberang sana.


"Ini Reka," jawab Reka.


"Apa? Kenapa ponsel Raya ada padamu? Mana istriku?" Dari nada bicaranya sekarang Nev benar-benar marah dan ada nada khawatir terselip disana.


"Sabar dulu, jangan salah paham. Nanti aku jelaskan! Sekarang Raya memang bersamaku, tapi dia mengatakan perutnya kram. Aku harus membawanya kemana? Pulang kerumahmu atau ke rumah sakit? Karena aku baru tahu jika Raya sedang hamil," terang Reka panjang lebar.


"Baiklah, aku akan mengantarnya ke Rumah Sakit terdekat, nanti aku share lokasinya padamu."


Panggilan itupun terputus, Reka memberitahukan lagi pada supir bahwa tujuannya ke rumah sakit terdekat. kemudian dia kembali memandang Raya sekilas dan ternyata Raya masih meringis sembari memegangi perutnya sendiri.


"Sabar ya, kamu masih tahan kan?" tanya Reka prihatin melihat kondisi Raya.


Raya tidak menjawab itu dan entah kenapa hati Reka terenyuh melihat keadaan Raya yang seperti ini.


"Apa yang terjadi sama kamu? Kenapa kamu pergi sendirian seperti ini padahal kamu tengah hamil?" gumam Reka pelan. Rasanya dia ingin mengusap rambut Raya, tapi niat itu dia urungkan karena keburu mengingat status mereka saat ini.


Apa yang kau harapkan Reka? Raya telah menjadi istri orang! Batinnya mengingatkan dirinya sendiri.


Tak berapa lama, taxi yang membawa keduanya tiba di Rumah Sakit terdekat. Reka mengirim lokasinya pada Nev, kemudian membantu Raya keluar dari taxi.


Saat Raya baru menuruni Taxi, ternyata wanita itu lebih dulu pingsan dan mau tak mau Reka pun menyambut tubuh lunglai sang wanita.


Saat Reka hendak menggendong Raya yang pingsan untuk masuk kedalam, beberapa perawat sudah datang dengan membawa brankar Rumah Sakit. Akhirnya, Reka hanya membantu mengangkat tubuh lemah Raya ke atas hospital bed itu.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


Dua puluh lima menit berselang, Nev tiba dirumah sakit. Ternyata Raya sudah dipindahkan ke ruang perawatan.


Reka masih setia menunggui Raya, dan dia menatap kedatangan Nev yang baru tiba.


Nev segera merangsek ke sisi Raya yang sudah sadar dari pingsannya tadi.


"Gimana keadaan kamu, hmm?" Nev menggenggam tangan Raya lalu mengecupnya secra berulang-ulang.


Reka hanya bisa melihat itu dari sudut ruangan dengan perasaan yang entah kenapa mendadak nyeri, namun tak ada yang bisa dia lakukan selain diam dan menyaksikan.


"Apa kamu gak baca pesanku?" tanya Raya menatap Nev dengan sendu.


"Kamu mengirimkan pesan? Aku belum membacanya," jawab Nev apa-adanya.


Raya menghela nafas sejenak. "Tadi aku pergi sendiri untuk mendaftar kelas kehamilan," terang Raya.


Sekarang Nev yang mengembuskan nafas berat. "Lalu kenapa jadi begini? Terus apa tadi kata dokter? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Nev secara beruntun.


Raya hendak menjelaskan, tapi dia tersadar bahwa diruangan ini bukan hanya ada dia dan Nev saja melainkan ada Reka juga. Matanya langsung mengarah pada Reka dan Nev menangkap isyarat itu.


Nev ikut melihat kearah pria yang kini terduduk di pojok ruangan. Sanking khawatirnya pada Raya, dia sempat tak mengingat adanya Reka diruangan yang sama karena atensinya hanya pada wanita yang terbaring di ranjang ruang rawat itu.


"Aku belum tahu apa yang terjadi, tapi terima kasih sudah menolong istriku dan memberitahunya padaku," kata Nev tulus dan dewasa.


Reka mengangguk. "Ya, tidak masalah, karena aku pasti menolong Raya saat dia membutuhkan," jawabnya.


Nev terdiam, sedikit banyak dia merasa ucapan Reka cukup mengusiknya namun dia lebih fokus pada pertolongan yang sudah diberikan pria itu pada istrinya.


"Kata Dokter, saat ini kandungan Raya sangat lemah. Aku tidak tahu apa penyebabnya. Tadi aku menemukannya sedang kebingungan dipinggir jalan tadi." terang Reka sedikit berbisik pelan pada Nev agar Raya tak mendengar obrolannya itu.


Nev terdiam, dalam hati dia menyalahkan keteledoran dirinya sendiri pada sang istri. Namun dia belum tahu apa penyebab Raya menjadi seperti saat ini, apalagi tentang penjelasan Reka yang mengatakan 'Raya kebingungan di pinggir jalan'.


"Tadi Dokter juga mengatakan jika Raya harus bedrest selama beberapa minggu. Jika tidak, itu akan membahayakan kandungannya," imbuh Reka.


"Ya, aku paham. Sekali lagi terima kasih atas bantuanmu," kata Nev.


Reka mengangguk. "Aku permisi pulang," katanya akhirnya.


Reka menatap Raya yang masih tergeletak di ranjang. "Aku pamit ya, semoga kamu cepat sehat... jaga kondisi dan jangan sampai kelelahan," ucapnya tersenyum.


Raya membalas ucapan Reka dengan senyuman kecil. "Terima kasih, Ka..." ujarnya.


...Bersambung ......

__ADS_1


Jangan lupa Favorite, Like, Vote, hadiah dan tinggalkan komentar yang membuat othor semangat buat UpπŸ™πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•β™₯️


__ADS_2