
Nev bersandar di dinding, memperhatikan Raya yang tengah bersiap didepan cermin. Senyumnya merekah, dia tidak menyangka jika saat ini dia dan Raya benar-benar telah menikah.
"Kenapa?" tanya Raya dari pantulan cermin.
"Nggak apa-apa," sahutnya pelan sembari tetap menyengir.
Raya berdiri, kemudian menatap pria yang telah menjadi suaminya itu masih dari pantulan cermin.
"Mandi, gih ... daripada melamun," kata Raya setengah menyindir.
Nev berjalan mendekat, kemudian memeluk pinggang Raya dari belakang tubuhnya. Tentu saja Raya merasa canggung, apalagi sekarang Nev menyandarkan kepala dibahunya.
"Nev..." Raya mencoba protes, tapi pria itu urung melepaskan jerat tangannya yang sudah melingkar diperut rata Raya.
"Kita disini dulu ya, besok aja pulangnya." kata Nev di leher Raya.
"Tapi tadi Mama nelpon, meminta kita pulang sebentar," kata Raya mengelus singkat lengan Nev yang berada di perutnya.
"Memangnya ada hal penting?" kata Nev membalik posisi tubuh Raya agar menghadap padanya.
Raya mengangkat bahu. "Enggak tahu, makanya kita pulang dulu," katanya.
Nev mengangguk, kemudian memasuki kamar mandi.
Seperginya Nev, Raya melihat ke arah tempat tidur yang berantakan. Dia menggeleng pelan dan merasa risih meninggalkan kamar hotel dalam keadaan seperti ini.
Sambil menunggu Nev menyelesaikan kegiatan mandinya, Raya pun sedikit membereskan barang-barang mereka tadi malam. Mulai dari gaun pengantinnya, hingga tuxedo Nev yang tergeletak begitu saja di sofa. Belum lagi piyama maroon yang tak jadi dikenakannya semalam. Raya mengumpulkan semua itu dalam beberapa kantong paperbag.
Kemudian Raya menyiapkan baju ganti Nev untuk dikenakan setelah mandi.
Nev keluar dari kamar mandi, hanya melilitkan handuk sebatas pinggangnya. Dia mengibaskan rambutnya yang basah dan Raya mendadak gugup melihat pemandangan itu.
"Itu baju gantinya," kata Raya dengan wajah memerah, dia buru-buru membuang pandangan ke arah lain.
Nev terkekeh pelan dan bergerak menuju tempat baju gantinya berada.
"Nev, berpakaianlah di kamar mandi," kata Raya sedikit memekik-- dia terkejut, karena saat berbalik justru melihat Nev tengah membuka handuknya begitu saja dengan santainya.
Lagi-lagi Nev terkekeh melihat tingkah Raya itu.
Tak mau berdebat, Nev memungut handuknya kembali, mengenakannya dan kembali ke kamar mandi bersama pakaian gantinya. Tak lupa kepergiannya itu tetap disertai kekehan yang sengaja dikeraskan agar Raya mendengar itu.
Raya hanya bisa bergumam melihat tingkah jail Nev.
...♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️...
"Ada apa, Ma? Apa ada masalah sehingga Mama meminta Raya dan Nev segera pulang?" tanya Raya pada Sahara.
Sahara dan Adrian saling memandang, kemudian tersenyum melihat kearah Raya dan suaminya itu.
"Gak ada masalah, kok. Cuma ada yang Mama dan Papa ingin bicarakan aja," jawab Sahara.
"Tentang?" tanya Raya heran.
"Kalian sudah punya refrensi tempat untuk bulan madu?" tanya Adrian menimpali. Seperti biasa, ayah Raya itu selalu bicara pada pointnya.
Nev tersenyum kecil, sementara Raya masih belum mencerna ucapan orangtuanya itu.
"Begini, Papa sama Mama mau kasih hadiah pernikahan untuk kalian, ya ... semacam tiket bulan madu lah," terang Adrian.
__ADS_1
Raya mengernyit. "Bulan ma..du ya?" tanya Raya kikuk.
Raya menatap Nev bergantian dengan menatap kedua orangtuanya.
"Itu terdengar bagus," kata Nev pelan, nyaris berbisik.
Raya bisa melihat kilatan mata Nev yang penuh arti.
"Ini..." Adrian mengangsurkan beberapa lembar kertas kehadapan Raya dan Nev, itu adalah tiket pesawat lengkap dengan sebuah kartu nama seseorang.
Nev melihat itu dan mengambilnya untuk melihat lebih jelas.
"Itu tiket kalian, Papa dan Mama ikut bahagia dengan pernikahan kalian," celetuk Sahara.
"Hubungi Richard, dia yang memegang akses kunci Villa yang sudah Papa booking untuk tempat tinggal kalian selama di Bali." kata Adrian merujuk pada sebuah kartu nama yang terselip diantara tiket-tiket itu.
"Ini benar-benar hadiah spesial, Pa." kata Nev tulus, dia menghargai usaha kedua orangtua Raya yang telah memikirkan tentang detail untuk bulan madu mereka.
"Ya, Papa harap kalian selalu dilimpahi kebahagiaan, rukunlah dalam berumah tangga. Masalah pasti ada, tapi selesaikan itu secara bijak dan dewasa, karena kalian akan memulai membangun pondasi rumah tangga," nasehat Adrian panjang lebar yang diangguki oleh Raya dan Nev.
Mereka mengobrol santai dirumah kedua orangtua Raya. Kebetulan jadwal penerbangan mereka menuju Bali adalah besok, oleh sebab itulah Sahara meminta Raya segera menemuinya hari ini.
Raya meminta bantuan pelayan untuk membantunya berkemas-- menyiapkan perlengkapannya kedalam koper.
Selesai makan siang bersama, Nev membawa Raya kekediamannya, sampai disana kedatangan mereka disambut heboh oleh Nenek yang kebetulan masih berada disana.
"Baguslah kalian pulang dan kita sempat bertemu disini, Nenek mau memberikan ini..." kata Nenek sembari memberi Raya sebuah kotak kecil.
"Apa ini, Nek?" tanya Raya.
"Bukalah..." kata Nev menyarankan.
Raya membuka kotak itu dan mendapatkan hadiah kejutan lain dari Nenek Nev.
Raya terkekeh kecil, lalu menatap Nev yang mengangkat bahu cuek namun tak lama Nev ikut terkekeh juga.
"Berarti kita harus sering bulan madu, Sayang..." kata Nev dengan entengnya.
Raya memutar bola matanya untuk menanggapi lelucon Nev itu, dia kembali menatap Nenek.
"Tapi besok kami berangkat ke Bali, Nek." kata Raya.
"Iya, Nenek tahu, Nenek sudah bicarakan ini kemarin dengan Mama kamu. Jadi sepulang dari Bali, kalian langsung berangkat lagi ke tempat yang sudah Nenek pilihkan." kata Nenek dengan senyum merekah.
"Lihatlah, jadwal penerbangannya dari Bandara Ngurah Rai," kata Nenek merujuk pada tiket.
Ternyata Nenek dan Sahara telah merencanakan kepergian anak-cucu mereka dihari pernikahan Raya dan Nev kemarin, mereka bahkan telah merancang jadwal waktunya agar tidak bentrok. Tampaknya kedua pihak keluarga ini benar-benar mendukung program bulan madu Raya dan Nev hingga membuatnya menjadi dua seasons.
...♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️...
Pukul 2 siang waktu setempat, Raya dan Nev tiba di Bali. Mereka diantar supir untuk menuju Villa yang sudah diberitahukan oleh Adrian sebelumnya.
Kedatangan mereka disambut oleh Richard, dan pria setengah baya itu menyerahkan kunci Villa pada Nev sembari mengucapkan selamat pengantin baru.
Villa itu cukup besar untuk ditempati berdua saja bersama Raya dalam jangka waktu tiga hari kedepan.
"Ini terlalu besar, bagaimana mengucapkan terima kasih pada Papa dan Mama? Mereka menyiapkan hadiah pernikahan seperti ini untuk kita," gumam Raya sembari menaiki tangga yang melingkar untuk menuju akses kamar.
Nev merangkul pundak Raya. "Kamu mau tahu gimana cara berterima kasih yang tepat sama Papa dan Mama?" kata Nev pelan.
Raya mengangguk serius, dia ingin tahu cara yang tepat itu.
__ADS_1
"Kita buatkan mereka cucu," bisik Nev ditelinga Raya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Raya mencubit perut Nev, membuat Nev meringis kesakitan karena cubitan Raya benar-benar terasa sakit diperutnya.
"Makanya jangan ganjen," kata Raya sembari melepas rangkulan tangan Nev ditubuhnya. Raya pun berlari kecil menjangkau pintu kamar yang sudah terlihat.
Nev mengejar Raya, "Kan ganjen sama istri sendiri, Sayang..." kata Nev lalu menangkap tubuh Raya.
Nev memeluk tubuh Raya, namun masih menyisakan jarak-- hingga mereka bisa saling berpandangan lama satu sama lain. Sesekali Nev membenahi sulur rambut Raya yang nampak sedikit berantakan didepan dahi.
"Kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini," kata Nev menatap Raya sembari masih menahan pinggang Raya dengan kedua tangannya.
"Kesempatan?"
"Ya, Mama dan Papa sudah menyediakan tempat untuk kita berbulan madu, jadi kita tinggal mengeksekusinya." kata Nev penuh maksud.
Raya menggeleng pelan, namun dia juga terkekeh mendengar ujaran yang Nev berikan itu.
"Aku mau mandi," kata Raya berniat menghindar.
"Gak makan dulu?" tawar Nev.
Raya menggeleng, karena dia masih merasa kenyang, sebab sudah makan saat di pesawat.
"Berarti, beneran mau mandi?" tanya Nev memastikan.
Raya mengangguk sembari menggigit bibirnya.
"Bagaimana kalau aku membantu menggosok punggungmu?" Nev menunjuk pintu kamar mandi dengan dagunya.
"Uhumm..." Raya mengangguk lagi, karena tertarik dengan tawaran yang Nev berikan.
Mereka pun merangsek masuk menuju kamar mandi dan sudah pasti disana mereka bukan cuma mandi saja. (You know lah, ya😁)
Menjelang sore, Nev dan Raya keluar dari Villa, mereka menggunakan pakaian santai dan berjalan bergandengan menuju area pantai.
Angin pantai menerpa wajah keduanya, terlihat banyak orang berlalu lalang, banyak turis berdatangan, deru ombak pun beriak-riak di kaki mereka yang te lanjang. Namun, yang paling menarik antesi Nev tentu saja bukan semua itu-- karena satu-satunya yang membuatnya tertarik hanyalah wanita yang kini berada dalam rangkulannya.
"Mau berenang?" bisik Nev ditelinga Raya, merapatkan tubuh mereka yang masih berjalan menyusuri bibir pantai.
"Enggak, aku mau kesitu..." kata Raya merujuk pada ayunan kayu dekat bibir pantai.
Nev mengangguki permintaan Raya dan Raya melepas tangan Nev di bahunya, dia sedikit berlari agar Nev mengejar langkahnya itu.
Sesampai di tempat yang tadi tunjuk Raya, mereka duduk berdampingan disana. Nev membuka kaosnya dan menyisakan celana pendeknya saja.
Mereka pun memandang keindahan sunset sore yang terbentang dihadapan mereka. Sesekali Nev sengaja menyipratkan air ke wajah Raya, membuat Raya mengeluh, tapi kemudian tertawa bahagia.
"Bagaimana perasaanmu sekarang Nyonya Nevan?" tanya Nev menggoda Raya.
"I'm happy, yeay..." Raya bersorak girang sembari mengangkat kedua tangannya ke atas.
"I love you," kata Raya pada Nev.
Nev tersenyum kecil. "Aku lebih cinta sama kamu," kata Nev, lalu dia mengecup bibir Raya.
Nev memandang mata Raya dengan lekat. "Jangan pergi lagi dari kehidupanku," kata Nev serius.
Raya mengangguk. "I promise..."
__ADS_1
...Bersambung ......