
Namun, saat Raya meresapi ucapan Reka itu, tiba-tiba suara seseorang hadir diantara mereka berdua.
"Reka..."
Raya dan Reka menoleh dan mendapati Citra disana. Wanita itu tampak mengenakan baju putih panjang dan kerudung yang menutupi sulur rambutnya. Tapi, yang begitu kontras terlihat bukanlah paras wanita itu yang tampak layu, bukan. Melainkan perutnya yang sudah sangat besar.
"Kenapa kemari?" tanya Reka pada Citra dengan nada tak suka.
"A-aku hanya ingin melayat, Reka. Apa itu salah?" lirih Citra.
"Seharusnya tidak usah," decak Reka.
"Bagaimanapun, aku cukup mengenal almarhum Om Damar, Reka!" kata Citra.
Sementara Raya, hanya terdiam diantara perdebatan mereka berdua.
"Kamu disini, Ray..." Rupanya Citra masih mengenalinya dan Raya tersenyum kecil pada wanita berbadan dua itu.
Terdengar suara Reka yang kembali berdecak lidah tak suka, entah karena Citra menyapa Raya atau karena Raya yang menanggapi Citra, entahlah... apa yang membuat pria itu tampak sarkas.
Tiba-tiba Reka menarik pelan tangan Citra untuk mengajaknya ke sisi ruangan yang lain.
Raya tidak tahu apa yang Reka dan Citra bicarakan, dia lebih memilih masuk kedalam kamar Elyani untuk melihat keadaan Ibunda Reka itu.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
"Kenapa sih, kamu gak suka sekali aku kesini? Aku kesini pure mau melayat, bukan minta pertanggungjawaban kamu!" kata Citra kesal.
Reka menghela nafas panjang. "Bukan itu yang aku khawatirkan!" senggaknya.
"Lalu apa? Yang paling kamu khawatirkan selama ini kan cuma tentang diri kamu sendiri! Kamu takut image kamu akan jelek didepan orang banyak seperti sekarang kan? Makanya kamu gak ngizinin aku kesini."
"Ck! Bukan itu Citra!"
"Lalu apa lagi jika bukan itu?" tantang Citra.
"Aku memikirkan kondisimu! Bukankah Hari perkiraan lahirnya sebentar lagi?" ucap Reka melirih.
Citra tersenyum sinis. "Sejak kapan kamu peduli, Ka? Bahkan saat aku ngemis-ngemis minta temenin kamu ke dokter kandungan aja, kamu gak mau!" ujarnya blak-blakan.
"Nanti kita bahas soal itu, gak sekarang!"
__ADS_1
"Kamu memang egois, Ka. Kamu gak pernah peduli. Dan sekarang kamu masih bisa bilang kalau kamu memikirkan kondisiku yang menjelang HPL?" sarkas Citra.
Reka mendengkus, tak menjelaskan hal apapun lagi dan tanpa kata dia meninggalkan Citra disudut ruangan itu.
Citra tak menangis, rasanya airmatanya sudah tak bisa keluar lagi. Ia sudah terbiasa hidup dengan siksaan. Selain siksaan fisik oleh pria yang masih berstatus sebagai suaminya, Ia juga terbiasa disiksa psikis oleh perlakuan Reka.
Reka sudah melupakannya, kenapa ia selalu mengira Reka masih mencintainya? Sudah jelas jika sikap Reka menunjukkan tak pernah mencintainya.
Apalagi kejadian yang menyebabkannya hamil, semua itu berawal karena kesalahan. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di Club malam.
Sejak disiksa fisik dan tak bahagia dalam pernikahannya, minuman beralkohol adalah teman karibnya.
Hingga pertemuan kembali dengan Reka, lelaki itu menentang keras hobi baru yang Citra lakukan, karena sejatinya Reka memang jarang menginjakkan kaki di Club.
Sejak bertemu Citralah pria itu jadi sering kesana, menjemput paksa agar Citra pulang.
"Citra! Kalau kau mabuk-mabukan begini, aku tidak mau mengurus perceraianmu!" kata Reka waktu itu, entah kenapa Reka selalu datang saat Citra menelepon pria itu, alasannya karena Citra adalah kliennya. Padahal, apa semua klien diperlakukan Reka seperti itu?
Citra tidak peduli dengan larangan Reka dan tetap meminum minumannya yang telah ia tuang kedalam sebuah gelas sloki.
Seteguk,
Dua teguk,
Reka menatap marah pada Citra dan justru Reka lah yang menggantikan untuk menenggak habis sisa minuman yang tersisa dibotol, Reka melakukan itu sebagai protes akan perbuatan yang Citra lakukan. Dengan kata lain, ingin menghentikan perbuatan Citra yang masih terus minum walau telah dilarangnya.
Dan kejadian itu terus berulang hingga beberapa bulan setelah pertemuan kembali itu.
Citra beranjak dari sudut ruangan rumah Reka, terlalu lama berada dalam rumah ini hanya mengingatkannya dengan masa terbodohnya saat menyerahkan diri pada Reka. Nyatanya, Reka sudah tak memiliki rasa apapun untuknya. Kejadian itu benar-benar murni kesalahan dan Reka tak mengandalkan perasaan dari setiap perbuatan yang dilakukan kepadanya.
Bahkan untuk mengakui anak yang tengah dikandungnya pun, pria itu sudah tak sudi.
Ia tak mau memaksakan lagi, biarlah nanti ia menghidupi anaknya sendiri. Karena setelah melahirkan, ia akan mengurus perceraiannya dengan suaminya dan tak mengharapkan Reka untuk bertanggung jawab.
Kedatangan Citra kerumah duka ini memang murni sebagai bentuk penghormatan terakhirnya pada mendiang Ayah Reka, Om Damar, yang ia kenal sejak ia masih kuliah. Sosok Om Damar adalah Ayah yang baik, mengayomi dan berkarisma dan sempat menyambutnya dengan baik saat ia dan Reka masih menjadi sepasang kekasih dulu.
Jadi, jika Reka menyangka Citra datang kesini untuk mempermalukan pria itu, itu adalah kesalahan besar karena ia sudah tak mau berharap apapun lagi pada Reka.
Cukup sudah selama ini ia mengemis perhatian dengan beberapa kali mengirimi Reka lembaran foto USG anak yang dikandungnya, dengan harapan hati Reka terketuk. Tapi sayang, pria itu memang sekeras batu yang sulit cair.
Mungkin ia akan pergi dari kehidupan Reka dan dengan itu Reka akan kembali hidup tenang seperti sebelum kedatangannya kembali ke dalam kehidupan Reka.
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Reka kembali ke ruangan utama, kedatangan Citra kerumah orangtuanya cukup membuatnya kesal. Bukankah jadwal melahirkan hanya menghitung hari? Kenapa Citra nekat datang kesini? Dan lagi, bersama siapa wanita itu datang? Ah, ia tak sempat menanyakannya tadi.
Ia terduduk di sudut, dekat jenazah sang Ayah. Ingin membaca al-qur'an, tapi mendadak malu hati dengan perbuatannya sendiri. Ia merasa tak pantas mendoakan Ayahnya. Ia bukan anak yang baik bahkan jauh dari kata sholeh. Apakah doanya akan didengar? Bisakah doanya untuk sang Ayah diterima? Apa mungkin doa seorang pendosa dikabulkan?
Kedatangan Citra kesini cukup menamparnya secara tak langsung, mengingatkannya akan dosa yang ia perbuat pada wanita itu. Lagi dan lagi ia merasa bersalah, pada Mendiang Papa, Mama dan pada Citra sendiri.
Beberapa minggu sebelum hari ini, sebenarnya Reka ingin menuruti permintaan Citra untuk mengikuti wanita itu kontrol ke dokter kandungan. Tapi, niat itu segera ia urungkan mengingat status Citra adalah istri dari pria lain.
Mungkin selama ini Citra menganggapnya hanya menjaga image nya sendiri, padahal hanya dia yang tahu bahwa diapun menjaga nama baik Citra.
Bagaimana jadinya jika ia menemani Citra ke dokter kandungan dan kegiatan itu diketahui pria yang masih berstatus suami wanita itu? Pria breng sek yang suka memukuli Citra! Kepa rat yang membuat Citra tersiksa fisiknya!
Ia memikirkan nasib Citra yang tengah mengandung anaknya.
Ya, dia mengakui itu anaknya, sanubarinya tak bisa menolak jika itu memang anaknya.
Maka dari itulah ia menahan diri, untuk tidak menemani Citra, ia tak mau Citra dipukuli habis-habisan oleh suaminya jika pria itu tahu perihal perselingkuhan mereka dan soal anak yang dikandung Citra adalah hasil dari perbuatan Reka.
Ia merasa tak berhak atas Citra.
Namun, sebagai bentuk kepedulian, secara diam-diam dia mengecek rutin keadaan kehamilan Citra. Dia menanyakan langsung pada Dokter Obgyn yang menangani Citra, yang kebetulan adalah istri dari kawannya sesama Lawyer.
Ia mengetahui tempat praktek Dokter itu dari lembaran foto USG yang Citra kirimkan padanya. Ia mendatanginya dan sebenarnya ia tahu kondisi kehamilan Citra secara detail, sebab itulah ia tahu jika sekarang sudah mendekati jadwal persalinan mantan kekasihnya itu.
"Ka... Jenazahnya akan di sholatkan." kata seorang pria menepuk pundak Reka dan membuat Reka tersadar dari lamunannya tentang Citra.
"Ya..." kata Reka, ia pun beranjak, hendak mengambil wudhu di kamar mandi.
Langkahnya terhenti saat melewati kamar sang Mama, disana ia melihat Raya memeluk sang Mama dengan isak tangis yang sayup terdengar.
Sejenak ia mengingat wanita itu, Raya. Perempuan yang hampir menjadi istrinya. Sama seperti kedua orangtuanya, ia pun mengharapkan hal yang sama yakni Raya-lah yang menjadi pendampingnya. Tapi, apa itu artinya ia mencintai Raya?
Jawabannya bukan. Ya, sekarang ia sadar bahwa ia tidak pernah memiliki rasa itu terhadap Raya. Ia hanya menginginkan Raya menjadi istrinya karena itu adalah keinginan kedua orangtua yang tak bisa ia tolak. Ia juga semakin menginginkan Raya karena berharap dapat melupakan masa lalunya bersama Citra.
Kematian Ayahnya, membuatnya sadar bahwa selama hampir separuh hidupnya ia hibahkan untuk menuruti perintah kedua orangtua.
Dan yang terjadi dengannya dan Citra waktu itu, bukan semata-mata kesalahan belaka. Karena walaupun mabuk, alam bawah sadarnya masih bisa berpikir, dengan siapa dia mau melakukan hubungan semacam itu. Naluri dan perasaannya lah yang mendorongnya melakukan kesalahan. Perasaan yang selama ini ia coba tepiskan, demi memilih menuruti permintaan orangtuanya.
...Bersambung ......
__ADS_1
Maaf ya kalo ada typo-typo dikit. othornya udah nge-blank nih. Butuh kopi yang banyakkkk✌️😁
...Jangan lupa love, like, komen, vote dan hadiah♥️...