
Sepanjang perjalanan menuju kampus, Airish tidak henti-hentinya memikirkan tentang ucapan Abrine di meja makan tadi. Ucapan itu terus terngiang-ngiang dibenaknya, bahkan sampai jam kelasnya berakhir.
Entah apa maksud sang kakak yang mengatakan persoalan DP mengenai pernikahan. Kenapa juga harus dirinya yang disangkut-pautkan, apalagi sampai mengatakan tentang ia yang terlalu lugu dan polos. Mungkin jika suara sang Papa tidak memotong ditengah-tengah pembicaraan pagi tadi, pasti Abrine juga akan meneruskan kalimat yang mungkin akan mengatakan bahwa Airish adalah gadis yang naif atau mungkin bodoh.
Hah, sebodoh apa dia? Sepertinya dia memang tidak tahu apa-apa mengenai hal ini. Atau ada sesuatu yang ditutup-tutupi darinya?
"Airish!?"
Airish menoleh dan mendapati Bianca disana. Bianca adalah teman yang paling akrab dengan Airish selama berada di fakultas seni. Bianca juga salah satu gadis populer, dia bisa menari dan memiliki suara emas dalam bernyanyi. Sementara Airish, dia lebih fokus mempelajari alat musik seperti biola dan piano.
Tapi, akibat berteman dengan Bianca, Airish tertular kepopuleran juga, ia juga jadi sering menemani Bianca ke berbagai agensi untuk menjadi penyanyi terkenal. Sekarang Bianca sedang gencar-gencarnya mencari agensi yang tepat, banyak yang ingin menaungi dirinya untuk membuatnya menjadi artis terkenal, hanya saja gadis itu memang banyak memilih dan belum mendapat satupun agensi yang cocok dengannya.
"Ada apa Bianca?" tanya Airish.
Bianca mengedip-ngedipkan matanya dengan centil. "Come on, temani aku lagi hari ini," katanya memohon.
Airish merotasi bola matanya. "Tapi hari ini harus deal. Kau tidak boleh banyak memilih, tidak usah sok jual mahal," katanya.
Bianca terkikik. "Bagaimana, ya? Suaraku terlalu berharga, aku tidak mau jatuh ditempat yang salah. Agensi itu semacam rumah, kau pasti memahaminya, Airish! Ayolah, aku ingin berada dirumah yang nyaman."
"Whatever....." kata Airish cuek namun ia segera menarik tangan Bianca agar mereka segera pergi menuju tempat yang Bianca maksudkan.
Airish akhirnya menemani Bianca. Dia bernafas lega karena akhirnya temannya itu mau bekerja sama dengan sebuah agensi yang cukup bergengsi dan terkenal. Airish juga menemani Bianca sampai gadis itu selesai membicarakan kontrak pekerjaan. Bahkan beberapa komposer yang mendengar suara Bianca, langsung bersedia menciptakan beberapa single untuk dipopulerkan oleh gadis itu.
"Kalau boleh tahu, apa dia managermu?" Seorang Pria yang berada dalam ruangan rapat itu bertanya pada Bianca, nemun pertanyaannya mengarah kepada Airish.
Bianca menepuk punggung tangan Airish. "No, no, no .... she's my best friend," jawabnya tersenyum ramah pada pria itu.
Pria itu mengangguk. "Apa dia memiliki suara sepertimu juga? Barangkali dia tertarik untuk rekaman dan bergabung di agensi ini? Kami sedang mencari banyak penyanyi muda berbakat."
Airish menggeleng. Kali ini dia memilih menjawab sendiri pertanyaan pria yang merupakan pemilik agensi tersebut. "No! Thanks, aku bukan seorang penyanyi. Suaraku cukup buruk," kelakarnya, semua yang ada dalam ruangan itu ikut terkekeh pelan mendengarnya.
"Lalu, kau punya keahlian apa?" tanya pria itu yang kini bertanya langsung pada Airish tidak melalui Bianca lagi.
Sayangnya Airish hanya mengangkat bahu sambil tersenyum kecil.
"Dia seorang pianis. Dia cukup berbakat," timpal Bianca akhirnya.
"Wow, benarkah?" Pria itu cukup takjub dengan jawaban Bianca mengenai Airish.
"Oh, tidak, aku masih perlu banyak belajar. Aku tidak seberbakat itu,Bianca terlalu berlebihan memujiku."
"Bisakah aku mendengarnya?"
"Apa?" tanya Airish. Bianca menyenggol siku Airish, kemudian berbisik pelan. "Ayolah, mungkin ini kesempatanmu."
"Aku belum terlalu mahir dan aku krisis kepercayaan diri," jawab Airish ikut berbisik pada Bianca.
__ADS_1
Pria itu terkekeh melihat kedua gadis didepannya saling berbisik-bisik.
"Baiklah, mungkin kau belum siap. Lain kali, bagaimana?"
Akhirnya Airish menganggukinya, meski ia tak yakin kapan waktu yang tepat untuk ia menunjukkan bakatnya didepan khalayak.
______
"Rish, bagaimana kalau kita ke rumahku dulu.... Ibuku sedang masak banyak, kebetulan dia kedatangan relasi bisnisnya. Sekalian saja kita makan gratis disana. Aku juga sudah lama tidak pulang," kekeh Bianca.
Bianca gadis yang mandiri, dia biasa tinggal di Apartmen walau Ibu dan Ayahnya termasuk orang yang berpengaruh sebab memiliki bisnis yang cukup terkenal diberbagai bidang usaha.
"Kau ini.... kita bisa makan di luar, aku tidak enak pada Aunty Diana, kesannya seperti aku kesana cuma numpang makan saja," gerutu Airish.
"Tidak apa-apa, Ibu sudah memberitahuku tadi... dia senang kita akan datang, kita juga harus ikut menyambut tamunya, nanti kita makan bersama-sama."
"Apa ini acara formal?" Airish melirik penampilannya. Jika acara ini formal, ia sendiri tidak pede sebab terakhir ia mandi adalah pagi tadi dan sekarang harus makan malam dengan tamu khusus. Oh tidak!
"Jangan khawatir, kau bisa menggunakan bajuku dan mandi di kamarku," kikik Bianca seolah tahu isi kepala Airish. "Oh iya, tamu Ibuku berasal dari Indonesia, loh!" lanjutnya.
"Dari Indonesia?" gumam Airish.
"Ya, kenapa? Kau rindu negaramu?" tanya Bianca sembari sesekali melirik jalanan sebab ia tengah fokus mengemudikan mobilnya.
"Lumayan," jawab Airish cuek, ia menatap keluar jendela.
"Hmmm, aku tahu.... kau bukan rindu Indonesia tapi kau merindukan seseorang yang ada disana, bukan?"
Jika sudah seperti itu, Bianca hanya bisa tertawa melihat kemalasan yang ditunjukkan Airish.
Tidak lama, mereka tiba dikediaman orangtua Bianca. Diana, Ibu dari Bianca menyambut hangat kedatangan keduanya. Mereka memutuskan mandi dan menggunakan dress yang cukup formal.
"Bagaimana penampilanku?" tanya Bianca pada Airish.
"Bagus, tapi baju itu terlalu terbuka untukmu," kekeh Airish.
"Biar saja, aku mau menggoda relasi bisnis Ibuku. Katanya, yang sekali ini adalah bisnisman muda... siapa tahu dia tampan dan layak menjadi pendamping seorang Bianca, wuuuu...." Bianca terkekeh diujung kalimatnya.
Airish ikut terkekeh. Ia melihat penampilan dirinya dicermin. Airish hanya mengenakan dress selutut bermodel Sabrina.
Ia tidak mau terlihat lebih menonjol dari Bianca, bagaimanapun ia terbiasa hidup dibalik kepopuleran sahabatnya itu, meski ia punya bakat sendiri tapi ia sudah terbiasa seperti ini. Ia tak mau lebih dari Bianca, ia tak haus pujian.
"Kau juga cantik," kata Bianca mencolek dagu Airish sekilas. "Tapi, tunggu dulu....." Bianca menatap Airish lebih lekat, seolah penuh selidik.
"Apa?" tanya Airish heran.
"Aku baru melihat liontin mu ini, kau baru membelinya?" tanya Bianca. Biasanya Airish akan mengenakan blus atau kemeja saat ke Kampus. Mungkin karena baru kali ini Bianca melihat Airish mengenakan dress yang menunjukkan leher jenjang gadis itu, barulah ia menyadari liontin yang dikenakan Airish.
__ADS_1
"Tidak, aku sudah mengenakannya hampir dua Minggu ini."
"A for Airish.... atau... ada makna lainnya?" tanya Bianca memegang liontin Airish yang berbandul huruf A.
"Tentu saja A for Airish, ini diberikan oleh Papaku."
"Oh, Om tampan itu yang memberinya untukmu...." kikik Bianca.
"Yeah, dan.... Om tampan itu adalah Papaku," kekeh Airish.
Suara ketukan pintu membuat mereka menghentikan pembahasan konyol itu. Diana meminta mereka untuk segera turun sebab tamu itu sudah datang.
"Oh ya, Ibumu berbisnis apa dengan orang Indonesia?" tanya Airish saat mereka berdua mulai menuruni tangga.
"Sepertinya bisnis berlian."
"Oh...." Airish mengangguk paham.
Sampai dimeja makan, saat mereka belum duduk, mereka lebih dulu diperkenalkan Diana kepada tamunya.
"Selamat malam Tuan Winarya, senang bertemu dengan Anda. Ternyata Anda masih sangat muda," kata Diana terkekeh senang.
Pemuda yang disebutkan namanya menyalami tangan Diana.
"Senang bertemu dengan Anda, Nyonya," ucapnya jujur.
Namun, didetik yang sama mata pemuda itu menangkap pada sosok Airish yang juga tengah membeku ditempat, mereka saling bertatapan satu sama lain. Tatapan mereka bersirobok, seolah pandangan itu terkunci didetik yang sama.
"Tuan Winarya, ini adalah puteriku, Bianca."
Bianca tersenyum cerah, mengulurkan jemari lentiknya kehadapan pemuda itu, namun pemuda itu belum menyambutnya karena ia masih terpana dengan seorang wanita disebelah Bianca, Airish.
Airish segera memutus kontak mata mereka, ia berdehem pelan, disaat itulah pemuda itu meyambut uluran tangan Bianca.
"Aku.... Bianca," kata Bianca memperkenalkan diri.
Pemuda itu tidak menyahuti Bianca, ia masih bingung kenapa Airish berada dirumah Diana, relasi bisnisnya.
"Silahkan duduk, Tuan Winarya..." kata Diana mempersilahkan.
Pemuda itu duduk, didampingi seorang asisten pria yang ikut menemaninya dalam jamuan makan malam ini. Tidak ada suara atau percakapan selama proses makan malam berlangsung, namun beberapa kali pemuda itu tersenyum tipis kala menyadari apa yang Airish kenakan didepannya saat ini.
Dilain sisi, jangan tanyakan mengenai perasaan Airish soal pertemuan tiba-tiba ini. Ia mengakui jika pemuda itu kini berubah drastis 180°, rambutnya klimis, tubuhnya tampak semakin menjulang dan atletis. Bahkan aroma parfum berkelas yang digunakan pemuda itu, menguar hingga ke indera penciuman Airish.
Satu yang Airish sadari, pemuda itu tak sama lagi. Dia... bukan lagi seseorang yang sama. Bahkan, dia tidak menyapa Airish sama sekali dan berlagak tidak mengenali.
Sedangkan Airish, bagaimana bisa dia lupa? Dia sangat ingat! Walau ia baru tahu nama belakang pemuda itu, sebab dulunya pemuda itu tidak mau tampil mencolok dan menambahkan nama keluarga dibelakang namanya.
__ADS_1
Dia .... Alfaro Zio Winarya, yang bahkan bukan hanya namanya saja yang Airish hafal mati, namun juga janji yang pernah pemuda itu ucapkan kepadanya.
Setelah bertahun-tahun dan banyaknya perubahan, apakah Zio masih mengingat janji itu? Apalagi selama ini Airish lah yang dengan sengaja menghindari dan memutus kontak dengannya.