PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
22 - Temani aku makan!


__ADS_3

Raya tidak tahu harus melakukan apa di rumah. Ia ingin ikut membantu pekerjaan Bi Asih, tapi wanita paruh baya itu menolaknya.


"Jangan ya, Ray. Ini kerjaan Bibi..."


Akhirnya Raya memilih kembali ke kamar dan berkutat dengan ponselnya. Ternyata sudah ada beberapa pesan text yang masuk dan ia tak menyadarinya.


Pesan pertama dari Rumah Sakit, menyatakan bahwa dalam dua hari ke depan, Mama Sahara sudah bisa pulang kerumah.


Membuat Raya harus menghela nafas panjang.


"Pulang ke rumah? Rumah saja tidak punya." gumamnya lesu.


Lalu, Raya beralih ke pesan kedua yakni dari Reka. Ia buru-buru membuka pesan itu, yang isinya adalah Reka ingin bertemu dengannya lagi di akhir pekan.


Itu artinya hari ini atau besok, karena besok adalah hari Minggu.


Raya berpikir sejenak dan membalas pesan Reka, ia menyetujui bertemu dengan pria itu besok.


Tak berapa lama ponselnya terdengar berbunyi dan itu dari Reka.


"Halo ..." sapa Raya.


"Hai, Raya.. Apa kamu sibuk?" tanya Reka dari seberang panggilannya.


"Tidak terlalu, bagaimana dengan kasus Papa?" tanya Raya.


"Kemarin, setelah bertemu dengan kamu, aku langsung menemui Pak Adrian," terang Reka.


"Papa sehat, kan?" potong Raya.


"Pak Adrian dalam keadaan sehat, kamu jangan terlalu mengkhawatirkannya," sahut Reka menenangkannya.


Raya mengangguk walau tahu jika Reka tak bisa melihat itu.


"Apa kamu mau bertemu dengan beliau?" tanya Reka lagi.


"Apa boleh? Papa melarang aku untuk menjenguknya," lirih Raya.


Terdengar suara Reka yang sedikit terkekeh. "Tentu saja boleh, jika kamu gak keberatan, besok biar aku temani," tawar Reka.


Dan Raya menyunggingkan senyumnya, karena dia memang sangat merindukan sang Ayah.


"Oke, aku mau ..." jawab Raya antusias.


"See you tomorrow," kata Reka.


"Oke, bye," tutup Raya.


Panggilanpun diakhiri, Raya tidak sabar untuk bertemu Papa esok hari, kemudian lusa dia juga harus menjemput Mama di Rumah Sakit.


"Kira-kira Tuan Nev bakal ngizinin aku keluar rumah, gak, ya?" gumam Raya sembari masih menggenggam ponsel.


Raya berpikir cepat. Besok, selain harus menemui Papanya di sel, dia juga harus mencari kontrakan sebelum Mama keluar dari Rumah Sakit. Intinya, dia memang harus izin pada Nev untuk meninggalkan rutinitasnya sebagai pengasuh Nev barang sejenak.


"Raya ..."


Astaga, suara Nev yang memanggilnya terasa sangat dekat, ia menoleh kebelakang dan ternyata Nev memang berada dibelakang tubuhnya.


"Tuan, kenapa ada disini?" tanya Raya keheranan--karena Nev berada dalam kamarnya sekarang.


"Aku tadi pulang, gak lihat kamu. Aku inisiatif cari ke kamar kamu." jawab Nev sembari mengangkat bahu.


Raya menepuk jidatnya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Nev yang ikut heran melihat sikap Raya itu.


"Tapi ini kan kamar saya, Tuan. Bagaimana jika saya sedang--" Raya tak melanjutkan kalimat protesnya itu, dia terdiam setelah menggantung kata-katanya.


"Sedang apa?" tanya Nev tak acuh.


Raya menghela nafas sejenak. "Intinya ini kamar saya, Tuan. Saya punya privasi sendiri." kata Raya lembut, mencoba menyadarkan sikap Nev yang lancang memasuki kamarnya--yah, walaupun kamar ini tetap bagian dari Rumah Nev.


"Ini Rumahku, terserah aku lah." sahut Nev cuek, membuat mata Raya melotot.


Tapi, Nev tentu saja tak mau melihat sorot mata menyala milik Raya itu, dia buru-buru memutar kursi rodanya untuk keluar dari kamar.


"Gak salah aku lah, pintunya juga terbuka. Lain kali, kalau sadar punya privasi, minimal pintunya dikunci." kata Nev sambil lalu.


Membuat Raya mencebik karena melihat tingkah Nev yang terkadang memang suka mengerjainya dan terkesan menjengkelkan itu.


Sabar Raya, sabar ... sebenarnya Tuan Nev baik, hanya kadang memang sangat menjengkelkan.


Raya mengikuti Nev yang telah berlalu, Tuan rumahnya yang sulit ditebak itu pasti sudah menyiapkan banyak pekerjaan untuknya. Atau justru siasat untuk mengerjainya, mungkin.


Sambil melangkah mengikuti Nev dibelakang kursi rodanya, Raya mencari-cari keberadaan Feli-- namun sejauh mata memandang, dia tak menemukan keberadaan Feli.


Bukankah tadi Tuan Nev bersama Feli di pantai?


Raya justru melihat Bian yang berdiri tak jauh dari pintu masuk, bersikap formal seperti biasanya dan terlihat sangat siaga.


Pasti Bian digaji sangat mahal oleh Tuan Nev.-Batin Raya.


Nev memang pulang bersama Bian, dia menelepon Bian dan meminta Feli untuk pulang lebih dulu sebelum dia dan Bian meninggalkan Resort.


Feli memang lebih dulu pergi. Hanya saja, saat dirumah, Nev tak melihat keberadaan Feli. Entah kemana wanita itu.


Biarlah, mungkin Feli pergi untuk menenangkan hati setelah mendengar keputusan bulat Nev mengenai rumah tangga mereka.


"Raya, siapkan makan siangku, ya." kata Nev lembut.


Kemudian Nev menuju pada Bian, mereka berbicara-- entah membicarakan apa. Sehingga Raya lebih memilih langsung menuju dapur untuk menyiapkan pesanan Nev tadi.


Saat Raya sudah siap dengan troli makanannya, dan kembali ketempat dimana Nev dan Bian berbicara tadi-- Raya sudah tak melihat adanya Bian disana.


"Bian sudah pulang, Tuan?" tanya Raya basa-basi.


"Sudah, kenapa?" sahut Nev balik bertanya.


Raya menggeleng. "Tidak apa-apa, Tuan." jawabnya.


"Jangan tertarik padanya, dia baru saja menikah." kata Nev memperingati, membuat Raya mengernyit mendengarnya.


"Tidak begitu, Tuan. Saya hanya menanyakannya saja, bukan berarti saya tertarik padanya." selah Raya cepat.


Nev menyunggingkan senyum kecil. "Baguslah," katanya.


Raya pun memasuki Lift bersama dengan Nev dan troli makanan.


Seperti biasa, Nev akan makan siang di balkon kamar.


Nev mulai menyendokkan makanannya dan Raya hendak segera undur diri.


"Raya..." panggil Nev sembari mengunyah.


"Ya, Tuan...?"


"Apa kamu sudah makan?"

__ADS_1


Raya menggeleng.


"Kemarilah..." titah Nev yang membuat Raya mau tak mau mendekat pada sofa yang Nev duduki.


"Duduk..." ucap Nev lagi, merujuk pada sofa disampingnya.


Sofa yang terdapat dibalkon-- bukanlah sofa panjang, melainkan dua single sofa yang ditata sejajar dan didepannya ada sebuah meja kayu berukuran sedang dengan aksen yang mengkilap.


Sehingga, Raya tanpa rasa ragu langsung mendudukkan diri disofa sebelah Nev, karena memang masih ada penghalang-- membuatnya tidak terlalu ambil pusing mengenai posisi duduknya kali ini.


Tapi, Raya tidak pernah menyangka tindakan apa yang selanjutnya Nev lakukan-- saat dia sudah benar-benar duduk disamping pria itu.


Nev justru terlihat mengulurkan sendok yang berisi makanan kedepan wajahnya dan memintanya menyambut makanan itu.


"Ayo makan, hmm..." kata Nev lembut--merujuk pada sendok yang sudah ada dihadapan Raya.


Membuat Raya terdiam dengan pikiran yang benar-benar tidak habis pikir akan kelakuan Nev itu.


Nev ingin menyuapinya? Dengan sendok yang tadi Nev gunakan untuk dirinya sendiri?


"Tuan, tapi saya--" Belum sempat kalimat menolak itu tercetus dari bibir Raya, Nev dengan segera mendorong sendok ke dalam mulutnya yang terbuka akibat sedang berbicara-- sehingga mau tak mau Raya pun mengunyah makanan yang sudah terlanjur masuk kedalam mulutnya itu.


"Temani aku makan, aku bosan makan sendirian." kata Nev santai, lalu dia mulai menyuap nasi lagi dengan sendok yang sama.


Apa-apaan ini?


"Tuan, kenapa seperti ini?" protes Raya dengan mulut yang masih penuh.


Nev hanya tersenyum kecil sembari mengunyah, tak menyahuti protesnya sama sekali.


"Ayo buka mulutmu, Raya." kata Nev lagi setelah makanan Raya sudah terkunyah habis.


Raya menggeleng berulang sembari membungkam mulutnya dengan telapak tangan.


Nev berdecak, "Aku memintamu makan, ini perintah..." ucap Nev dengan nada mengancam.


Menyebalkan! Menyebalkan sekali dia aaaaa ... Rasanya Raya mau menjerit didepan Nev sekarang juga.


Nev kembali tersenyum saat Raya membuka mulut dihadapan pria itu dan untuk kedua kalinya Nev menyuapi Raya lagi, lalu bergantian menyuap untuk dirinya sendiri.


Begitu terus, sampai makanan yang ada habis. Lalu, Nev menyunggingkan senyum penuh kepuasan.


Bagaimana jika aku semakin menaruh hati padanya? Kenapa dia harus bersikap seperti ini? Tuhan, tolong jaga hatiku ini... dia suami Feli...-Batin Raya meronta minta hatinya dilindungi.


Raya mencebik dan Nev sudah pasti sangat senang melihat hal itu. Mengerjai Raya adalah hobi barunya, bukan?


Raya membereskan sisa makan Nev, Ralat... sisa makanan mereka berdua, kemudian mulai mendorong troli lagi untuk mengantarkan semua itu ke dapur.


"Aku mau, setiap hari kita bisa makan bersama," kata Nev disela-sela langkah Raya yang hampir meninggalkan Balkon.


Raya menghela nafas panjang.


"Baiklah, Tuan. Nanti saya akan menemani Anda makan setiap hari." kata Raya menurut.


"Bagus," ucap Nev dengan seringaian tipis.


Raya berpikir akan menyiapkan makan malam Nev nanti-- bersamaan dengan makan malamnya juga, jadi tidak ada yang namanya satu piring berdua apalagi satu sendok berdua.


Raya akan menyediakan masing-masing satu untuk keperluan makan mereka berdua, lihat saja nanti-pikirnya.


Sedangkan Nev, dia tersenyum penuh arti.


Kenapa kegiatan sederhana seperti ini saja bisa membuatnya senang? Apa ini semua karena dilakukan bersama Raya?

__ADS_1


...Bersambung ......


...Jangan lupa like, komentar, vote dan hadiah ya. Jadikan favorite jugađź’•...


__ADS_2