PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
44 - Siapa wanita itu?


__ADS_3

Nevan


Ia menatap Bian yang tengah fokus mengemudikan mobil menuju kantor pagi ini.


"Aku mau melihat Raya, kita mampir kesana dulu sebentar," ucapnya pelan pada Bian, mengutarakan keinginannya.


"Baik, Tuan." Bian pun langsung tancap gas ke alamat baru Raya.


Sesampainya disana, ia melihat Raya yang tengah menyirami tanaman, namun ia bisa melihat semburat kesedihan diwajah wanita itu.


Ingin rasanya ia menemui Raya secara langsung, berbicara secara gentle, mengusap pundak wanita itu dan menanyakan apa yang menyebabkan wajah Raya terlihat banyak pikiran seperti itu?


Nona Donald Duck ... apa kamu bersedih? Kenapa kamu cemberut?


Begitulah bisik hatinya ingin menanyakan pada wanita diseberang sana.


Ia begitu ingin menanyakan itu, lalu setelah ia tahu apa yang tengah Raya pikirkan, ia ingin menenangkan wanita itu dalam rengkuhannya. Bisakah?


Namun, apa mau dikata. Ia sungguh tidak bisa, jangankan menyentuh dan merengkuh Raya-nya, berbicara secara langsung pun belum bisa ia lakukan. Sia lan !


Bukan karena ia tidak berani, bukan pula karena ia tidak gentleman, tetapi karena ia memikirkan dampak dari perbuatannya, apabila ia melakukan semua itu sekarang terhadap Raya.


Ia memikirkan kejelasan apa yang mampu diberinya untuk Raya saat ini? Nothing ...


Atensinya terhadap Raya kini beralih pada seorang wanita yang terlihat menyapa Raya dengan ramah, sepertinya itu tetangga baru Raya.


Namun, dahinya sedikit berkerut melihat sosok wanita itu.


"Bian, aku merasa familiar dengan wanita itu? Kau tahu siapa dia?" tanyanya pada Bian dan disaat yang sama wanita yang ia maksud keluar dari pekarangan rumahnya sendiri, lalu memasuki teras rumah Raya, mereka terlihat melanjutkan sesi percakapan dikursi yang tersedia didepan rumah yang ditempati Raya itu.


Bian mengangguk, "Wajahnya tidak asing, saya rasa saya mengenalnya ... tapi dimana?" Bian menggosok tengkuknya sendiri sembari mengucapkan kalimat itu.


Ia pun menjadi fokus pada wanita berkulit sawo mateng yang duduk disisi Raya itu.


"Cari tahu siapa dia," katanya. Bian pun mengangguk takzim.


Setelah memastikan Raya tetap berada dirumah hari ini, ia memutuskan kembali ke kantor.


Ia bekerja seperti biasanya, menemui klien yang menyambangi kantornya dan membicarakan jobdesk mereka selanjutnya.


Ia sengaja menyibukkan diri, untuk membunuh waktu-- agar tak terlalu terasa saat melalui hari yang belakangan ini entah kenapa seperti lambat bergerak.


"Bian ... apa lamaran pekerjaan Raya kemarin di terima oleh perusahaan milik Pak Chandra?" tanyanya. Ia teringat Raya yang kemarin sempat melamar pekerjaan di perusahaan salah satu relasinya-- tapi pagi tadi, belum ada tanda-tanda bahwa Raya sudah beraktifitas dalam dunia kerja.


Bian mengangkat kedua bahu sembari mengadahkan kedua tangan didepan tubuh, pria itu pun menggeleng pelan-- mengartikan bahwa lamaran Raya ditolak mentah-mentah.


"Apa aku bantu saja Raya kali ini?" tanyanya meminta saran Bian.


"Saya tahu Anda bisa menghubungi Tuan Chandra secara pribadi, tapi apa itu tidak berlebihan untuk membantu seorang wanita?" Bian balik bertanya.


"Ku rasa itu tidak berlebihan," katanya cuek.


Namun, Bian sepertinya memiliki sudut pandang lain mengenai hal ini.


"Bukankah ini semacam Nepotisme, Tuan? Tuan Chandra akan menilai Anda kurang profesional karena meminta bantuannya lewat jalur belakang. Ya...walaupun dia tidak akan bisa menolak permintaan Anda, tapi dia pasti akan menaruh perhatian lebih tentang tindakan ini," ucap Bian mengemukakan pendapat.

__ADS_1


Ia mencerna itu dan mengerti bahwa yang dikatakan Bian ada benarnya.


"Tapi, kalau Anda meminta bantuan Nona Luisa mungkin tidak terlalu parah, Tuan. Karena kalian mengenal satu sama lain bukan dibidang pekerjaan, melainkan mengenal secara personal satu sama lain." sambung Bian memberi usul-- merujuk pada kantor Luisa yang juga menjadi tempat Raya melamar pekerjaan.


Dan ia tersenyum miring mendengar itu. Pasalnya bukan masalah meminta bantuan Luisa yang membuatnya malas, tapi menghadapi Luisa lah yang membuatnya urung. Masih memikirkan untuk menghubungi wanita itu saja sudah membuatnya pening.


"Aku tidak mau meminta bantuan Luisa," katanya pelan sembari menatap Bian yang mengulumm senyum, mungkin Sekretarisnya itu sudah bisa membaca kenapa ia enggan meminta bantuan Luisa.


"Baiklah, Tuan. Saya mengerti." kata Bian.


"Jangan lupa cari tahu soal tetangga Raya itu." titahnya.


Bian mengangguk kemudian segera keluar dari ruangannya setelah ia membubuhi beberapa tanda tangan diberkas-berkas yang Bian suguhkan.


Ia mengambil handsfree dalam laci meja, memakai itu dan menyambungkannya kedalam smartphone, ia butuh merefresh otak untuk melupakan masalahnya sejenak.


Baik itu masalah pekerjaan, masalah rumah tangga, maupun masalah hati yang sekarang menderanya.


Memilih lagu secara acak, biasanya lagu diponselnya adalah lagu bergenre keras ; hard rock, metalcore seperti Linkin Park atau Avenged Sevenfold.


Namun, baru saja suara Matt shadow berakhir dengan senandung lirik Afterlife -nya. Lagu selanjutnya yang terputar justru I Don't Want To Miss A Thing milik Aerosmith.


🎶 Don't wanna close my eyes


(Tak ingin menutup mataku)


I don't wanna fall asleep


(Aku tak ingin tertidur)


(Karena aku merindukanmu, sayang)


And I don't wanna miss a thing


(Dan aku tak ingin melewatkan sesuatupun)


 


'Cause even when I dream of you


(Karena bahkan saat aku memimpikanmu)


The sweetest dream would never do


(Mimpi termanis yang takkan pernah terjadi)


I'd still miss you, baby


(Aku masih akan merindukanmu, Sayang)


And I don't wanna miss a thing


(Dan aku tak ingin melewatkan sesuatupun) 🎶


Membuatnya tersenyum pahit saat mencerna lirik lagu itu. Lagu yang membuatnya semakin merindukan, serta membuat pemikirannya kembali fokus tertuju pada satu sosok wanita yang telah memenjarakan hati dan pikirannya.

__ADS_1


Kalah,


ia telah kalah karena kerinduan, dan ia tidak tahu sampai kapan ia bisa menahan semua ini.


Ada rasa tidak sabar yang menggerogoti hati dan akalnya, memaksanya agar segera menemui wanita itu. Tapi ia tahu, keadaan memang belum mau berpihak padanya. Akal sehatnya harus mampu menang untuk menahan semua yang ingin ia lakukan.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


"Bagaimana? Apa dia percaya?" tanya seorang wanita pada seseorang lainnya melalui sambungan seluler.


"Sepertinya dia percaya, dan dia sedang memikirkan tawaran saya, Bu." sahut seseorang diseberang sana, yaitu orang suruhannya.


"Hmm, setidaknya itu bisa membantunya mencari penghasilan." wanita itu tersenyum, walau lawan bicaranya tak dapat melihat senyuman itu.


"Apa ada yang mencurigakan?" tanyanya lagi.


"Tidak ada, tidak ada orang yang datang kesini mengunjunginya kecuali pengacaranya itu." sahut sang orang suruhan.


"Baguslah, jaga dia baik-baik. Jadilah teman untuknya. Hibur dia semampumu," kata wanita itu memberi perintah.


"Baik, Bu..."


"Jika ada yang datang dan mencurigakan, segera kabari saya," titahnya.


Panggilan itu pun terputus setelah sahutan patuh dari seberang sana. Wanita itupun menyimpan ponselnya seketika.


"Nenek, menelepon siapa?"


Suara itu cukup mengangetkan sang wanita yang tak lain adalah Nenek Nev. Ia menoleh dan mendapati cucunya yang baru saja tiba dirumah.


"Kamu sudah pulang, Nev? Nenek tadi menelepon ke rumah. Sudah hampir dua minggu ditinggal jadi menanyakan keadaan disana," kilah Nenek.


Nev manggut-manggut dan meminta Bian segera mengantarnya ke kamar.


Setelah Raya pergi dari rumah, Nev tidak mau dibantu oleh pengasuh yang lain. Meskipun Nenek telah membujuknya, tapi Nev bersikeras mampu melakukan semuanya sendiri. Hanya beberapa hal yang benar-benar tak bisa dilakukannya, barulah dia meminta bantuan ART yang lain. Dia tidak mau kediamannya dimasuki orang lain lagi.


"Nev, makan malam di ruang makan, ya." bujuk Nenek, karena Nev memang tak pernah mau makan malam bersama.


"Nev kenyang, Nek." sahut Nev tak bersemangat. Raut wajahnya tampak lelah dan tidak memiliki gairahh seperti dulu.


Nenek tak bisa membujuk Nev lagi, dia cukup tahu suasana hati Nev yang tak ingin diganggu.


Bersamaan dengan itu, Nev memekik memanggil Nimas, hal yang sudah jarang dilakukannya sejak kedatangan Raya waktu itu.


"Siapkan baju gantiku, Nimas. Aku mau mandi." kata Nev dingin pada Nimas yang baru datang menghampiri.


Nev memang meminta Nimas mencarikan baju gantinya dan menyiapkan urusan mandinya.


Tapi, Nev menunggu Nimas benar-benar siap dan keluar dari kamarnya, barulah dia memasuki kamar itu. Dia tidak mau ada oranglain yang melihat tubuhnya. Satu-satunya wanita yang melihatnya dalam keadaan tak berbusana adalah Raya dan itupun dengan niat awal mengerjai wanita itu. Tapi ternyata kejahilannya justru berdampak untuk dirinya sendiri sekarang.


Ah dia kembali merindukan Raya.


Nev melirik Bian yang masih berdiri dibelakang kursi rodanya.


"Kapan urusan perceraianku selesai? Aku lelah seperti ini." katanya dengan nada putus asa.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2