
"Reka itu banyak berjasa, terutama untuk Papa. Papa tahu dan Papa ingat akan hal itu, tapi Papa hanya takut dia mengganggu rumah tangga kamu dan Nev karena yang Papa tahu Reka orang yang berambisi..."
"Iya, Pa. Sekitar sebulan yang lalu, saat Raya cek kandungan di Dokter. Raya juga tidak sengaja bertemu dengan Citra, Pa..." aku Raya.
"Citra?"
"Iya, wanita yang waktu itu ada dirumah Reka.. yang mengaku... ha-mil," kata Raya terbata.
Adrian diam dan menghela nafas panjang.
"Ya, Papa ingat dia. Tapi yang Papa tahu mereka tidak bersama walaupun Citra mengaku hamil anak Reka," terang Adrian.
"Pantas saja waktu itu Citra sendirian ke dokter," gumam Raya pelan.
Raya mengira Reka dan Citra kembali bersama, dan justru sudah terikat pernikahan karena Citra mengaku telah hamil anak Reka.
"Kabarnya Citra kembali pada suaminya, itu yang Papa tahu." sambung Adrian.
"Raya kira mereka menikah," ucap Raya.
"Citra masih terikat pernikahan dengan suaminya. Kejadian itu terjadi sebelum dia resmi menggugat suaminya. Yah, Semoga ada jalan keluar dari masalah mereka, ya..." kata Adrian menutup pembicaraan tentang Reka dan Citra.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Hari ini Raya datang untuk melihat rumah Nev yang tengah direnovasi, berhubung dialah yang menjadi arsitek untuk rumah tersebut, jadi Raya ingin melihat sampai dimana progres para pekerja yang membangun rumah dan ingin mencocokkan dengan gambar yang sudah dia ajukan kepada kontraktor bangunan.
Karena renovasi itu tidak membongkar keseluruhan rumah, jadi Raya hanya mengingatkan detail-detail kecilnya saja pada sang kepala bangunan yang bernama Pak Tama, beliau adalah penanggung jawab terkait proses pembangunan rumah.
"Pak, jadi nanti relief yang di dinding itu dihilangkan, ya. Diganti motif garis aja biar kesan minimalisnya terlihat. Terus dikamar mandi yang kamar utama, gak usah pakai shower coloum, yang tanam saja, biar simpel." terang Raya yang diangguki oleh Pak Tama.
"Hari ini barang-barang yang masuk apa saja, Pak?" tanya Raya.
"Marmer, cat tembok dan beberapa accesories untuk kamar mandi, Bu..." jawab Pak tama.
"Oke," jawab Raya. Kemudian dia memberitahu pada para tukang untuk menandai accesories kamar mandi yang baru masuk, agar tidak ada yang salah dalam hal pemasangan. Jadi, semua perlengkapan yang sudah deal untuk kamar utama, tidak akan dipasang dikamar lain, begitupun sebaliknya.
"Oh iya, besok mungkin saya gak bisa kontrol kesini ya, Pak. Semuanya saya serahkan ke Bapak..." kata Raya tersenyum.
"Iya, Bu..." sahut Pak Tama.
"Oh iya, kemarin saya ada pesan *solid surface untuk meja wastafel, jangan sampai tertukar ya, Pak. Yang hitam metalic untuk kamar utama, yang putih polos untuk di kamar mandi umum di bawah. Ukurannya sudah pas soalnya," terang Raya. (*Solid Surface \= Semacam granit sintetis yang dibuat dari resin dan pecahan tepung batu, mempunyai ukuran tertentu. Biasanya digunakan untuk meja kamar mandi, atau meja wastafel karena bersifat tidak menyerap air. Ada pula yang membuat untuk meja makan.)
"Baik, Bu. Nanti kalau sudah datang langsung saya tandai sesuai gambar," jawab Pak Tama.
Setelah hampir dua jam berada di rumah yang biasa dia tempati itu, Raya memutuskan untuk kembali kerumah orangtuanya.
Sampai di mobil, Raya mengecek ponselnya dan ternyata ada banyak panggilan tak terjawab dari Nev. Raya memutuskan untuk menelepon Nev kembali, sementara supirnya menunggu di luar mobil.
"Ada apa, sayang?" tanya Raya pada Nev yang sudah menerima panggilan selulernya.
"Sayang, maaf sepertinya kepulanganku akan diundur..." sahut Nev dari seberang sana.
"Kenapa?" tanya Raya sedikit kecewa, karena dia sulit tidur jika tidak mencium aroma tubuh suaminya itu.
"Maaf sayang, ada pekerjaan yang akan sekalian ku urus," kata Nev penuh penyesalan.
"Ya sudah," jawab Raya dengan suara bergetar. Sebenarnya dia ingin menangis sekarang, mungkin efek kehamilannya membuatnya mudah bersedih saat terlalu lama ditinggal Nev seperti ini. Ini pertama kalinya dia jauh dari Nev sejak mereka menikah.
"Nggak nangis, kan?" goda Nev.
"Ng-nggak lah," kilah Raya sembari menyeka sudut matanya yang telah basah.
__ADS_1
"Sabar ya, aku usahakan segera pulang jika semua sudah selesai," kata Nev jujur.
"Kamu gak bohongin aku, kan?" tanya Raya.
"Bohong? Bohong apa? Kamu curiga sama aku?"
Raya mengangguk, walau tahu Nev tak akan melihat itu.
"Dengar sayang, jangan curigai aku, semua yang aku lakukan untuk kamu dan masa depan anak kita, oke?" ucap Nev lembut dari seberang sana.
"Iya, maaf... aku berlebihan ya?" tanya Raya.
Nev terkekeh pelan. "Gak apa-apa, aku paham kok kalau istriku ini sedang masa manja-manjanya denganku. Tapi aku gak bohongin kamu apapun. I love you ... aku juga rindu kamu. Kalau saja bisa, aku pasti bakal pulang sekarang juga sanking rindunya sama kamu. Tapi, tuntutan pekerjaan yang buat semuanya harus diselesaikan dulu, kamu ngerti kan?" ujarnya panjang-lebar.
"Iya, aku ngerti..." kata Raya kembali menyusut air matanya yang sudah membasahi pipi.
"Kamu udah makan?" tanya Nev.
"Sudah tadi dimasakin Bi Asih."
"Oh jadi juga kamu pulang kerumah..."
"Iya, sekalian lihat barang-barang yang masuk,"
"Ya sudah, ini kamu dimana?"
"Di mobil, mau pulang." kata Raya.
"Bilang sama Pak Karno nyetirnya hati-hati, ya..."
"Hmmm.." sahut Raya tak bersemangat.
"Jangan cemberut, loh. Aku tahu kamu sedang cemberut ... coba senyum sekarang..." goda Nev.
"Mana? Gak kelihatan juga, kurang lebar senyumnya.." kata Nev semakin menggoda.
Raya berdecak lidah, kemudian Nev mengganti panggilan itu menjadi panggilan Video.
"Apa?" sahut Raya jutek menerima panggilan video dari Nev.
Nev terkekeh diseberang sana. "Senyumnya mana?" tanyanya.
Raya pun tersenyum dengan amat sangat terpaksa. Setelah melihat Raya memasang senyum, Nev mematikan sambungan teleponnya begitu saja.
"Nyebelin banget, sih!" rutuk Raya sembari melempar ponselnya kedalam tas.
Tak berapa lama, pesan masuk ke ponsel Raya dan ya, itu dari Tuan manja sejagat alam.
^^^Tuan Manja :^^^
^^^[I miss my wife's most beautiful smile]^^^
Raya tersenyum membaca pesan yang Nev kirimkan itu, kemudian dia memotret dirinya sendiri yang tersenyum menggunakan mode timer, lalu mengirimkan foto selfienya pada sang suami.
^^^Me :^^^
Setelah fotonya berhasil dikirim, Raya kembali terkekeh pelan menyadari sikap konyolnya sendiri.
Ting.
__ADS_1
Pesan balasan dari Nev masuk lagi ke ponselnya dan dengan segera Raya membuka pesan itu.
^^^Tuan Manja :^^^
^^^[I love your smile, i love you... My beautiful wife]^^^
Raya hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum senang saat membaca pesan balasan dari sang suami.
Tak lama, Raya meminta supirnya untuk masuk dan memutuskan untuk segera pulang ke kediaman orangtuanya.
Sesampainya di rumah, dia harus mendapatkan kejutan lagi karena datangnya seorang Reka kerumah orangtuanya.
"Raya..." Reka berdiri dari duduknya untuk menyapa Raya.
Raya menatap Sahara yang menggeleng dari seberang sana, sebagai isyarat bahwa sang Mama pun tak tahu maksud tujuan Reka berkunjung kerumah ini.
"Ada apa, Ka?" tanya Raya berusaha bersikap biasa saja.
"Lama tidak mengetahui kabarmu," kata Reka pelan.
Raya tersenyum kecil, kemudian menatap lagi sang Mama yang masih setia menunggui mereka disana, seolah Raya memberi kode pada sang Mama agar tidak meninggalkannya berdua saja bersama Reka diteras rumah dan tampaknya Sahara memahami maksud sang puteri. Dia mencoba diam dan mendengarkan saja percakapan apa yang akan Reka sampaikan pada Raya.
"Aku sehat, Ka. Gimana kabar kamu, Tante El dan Om Damar?" tanya Raya tulus.
"Papa dan Mama masih di Penang, kebetulan Papa juga sudah membaik sekarang, tapi mereka belum mau balik kesini," terang Reka.
"Oh..." Raya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Suami kamu ... ada?" tanya Reka dengan nada ragu.
"Kenapa? Kamu mau bertemu dengannya?" tanya Raya serius.
"Ya, apa boleh?"
"Untuk apa, Ka?"
"Aku hanya ingin mengenalnya," kata Reka pelan.
Raya tertawa pelan. "Kalau tidak salah, kamu pernah berkenalan dengan suamiku, kok..." sahutnya.
"Oh ya?" Reka tak tahu jika pria yang menikahi Raya sempat berkenalan dengannya.
"Ya, jika kamu tidak lupa..."
Reka menggeleng, karena dia tidak punya bayangan soal pria mana yang menikahi Raya dan pernah sempat berkenalan dengannya.
"Aku memang pernah berkenalan dengan beberapa pria setelah kita saling mengenal," kata Reka.
"Ya, salah satunya." ucap Raya tersenyum.
Reka menerka-nerka, yang dia kenal setelah mengenal Raya salah satunya adalah Nev, pria kaya lumpuh yang sempat diasuh oleh Raya. Tapi, menelisik beberapa waktu kebelakang, yang pernah Reka lihat adalah suami Raya tidaklah lumpuh. Meski hanya melihat dari siluetnya saja, Reka yakin suami Raya jelas-jelas tidak duduk dikursi roda.
Dan yang kedua adalah Bian, tapi... apa iya Raya menikah dengan pria bernama Bian yang pernah mendatangi rumah Reka itu?
"Apa Bian yang menikahimu?" tebak Reka setelah berpikir beberapa saat.
Raya terkekeh pelan. "Bian sudah punya istri sebelum mengenalku," jawabnya masih disertai kekehan.
"Lalu? Apa mungkin..." suara Reka terhenti dan tak dilanjutkan.
"Iya, aku menikah dengan Nev..." kata Raya serius.
__ADS_1
...Bersambung......