PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
89 - Siapa yang terlibat?


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Nev berhenti tepat disebuah Rumah yang tak terlalu besar, Rumah yang ia ketahui sebagai tempat tinggal Feli selama ini. Entah kenapa firasatnya menuntunnya untuk menuju kesini. Rumah ini terletak dikawasan yang jauh dari penduduk, bukan di pinggiran kota tapi sedikit di pelosok. Nev yakin Feli membeli rumah ini karena tempatnya yang dekat dengan pemakaman mendiang orangtua Feli.


Sebelum Nev keluar dari mobilnya untuk memasuki area rumah itu, Bian lebih dulu menghubunginya lewat panggilan seluler.


"Tuan, Yana tidak terlibat dengan hal ini," kata Bian langsung pada point-nya.


"Kau yakin?"


"Iya, dia sudah jujur dan saya sudah mengecek cctv ruangan. Nyonya Raya pingsan setelah memakan makan siangnya. Yana juga bilang, jika Nyonya sempat heran dengan rasa makanannya yang aneh, jadi Yana ikut mencicipi makanan itu juga dan dia ikut tertidur, jadi dia tidak tahu apa yang terjadi setelah itu," papar Bian.


Nev memijat pangkal hidungnya. "Apa lagi yang kau lihat di cctv?" tanyanya.


"Ada dua orang yang membawa Nyonya setelah pingsan. Dari cctv terlihat mereka mendorong Nyonya dengan kursi roda lalu keluar dari area Rumah Sakit lewat pintu darurat."


"Siapa mereka?"


"Tidak jelas, Tuan. Mereka memakai hoddie. Apa sisa makanan perlu di cek ke Lab, Tuan?"


"Jika Yana memakan makanan yang sama lalu sadar, itu artinya makanan itu hanya diberi obat tidur dan tidak beracun. Raya juga pasti telah sadar sekarang. Tapi siapa yang memberi obat di makanan itu? Jika bukan Yana, pastilah orang yang memasak atau menyajikan makanan itu. Tanya pihak Rumah Sakit, siapa yang--"


"Kata Yana makanan itu dibawa dari Rumah, Tuan." potong Bian cepat.


"Sial!" umpat Nev entah pada siapa.


"Cek rumah, siapa yang tidak berada dirumah saat ini!" ucap Nev penuh prasangka.


"Baik, Tuan."


Telepon terputus dan Nev segera keluar dari mobilnya saat itu juga. Suasana senyap dan dia mulai berjalan menuju pintu utama rumah.


Nev menggedor pintu rumah itu dengan kasar, tidak sabaran dan penuh emosi.


"Sia lan! Kemana dia membawa istriku!" kata Nev marah. Sekarang Nev makin yakin jika Feli adalah dalang dibalik semua ini, tapi kemana dia harus mencari jejak wanita itu.


Tak berapa lama, ponsel Nev kembali berdering.


"Bagaimana?" tanya Nev pada Bian yang meneleponnya lagi.


"Roro tidak dirumah, Tuan," kata Bian singkat.


"Kepa rat!" Nev langsung merangsek masuk kedalam mobilnya, karena begitu mendengar nama Roro, dikepalanya langsung terlintas sebuah tempat yang mungkin menjadi tujuannya selanjutnya. Tempat itu adalah satu-satunya rumah peninggalan kedua orang tua Roro yang sudah meninggal, terletak di daerah pinggiran yang letaknya tak jauh dari pusat kota. Hanya saja disana masih banyak lahan kosong.


Mungkin Roro memiliki dendam tersendiri pada Nev atau Raya sehingga dia melakukan hal ini, entahlah.

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


"Kau mendengarku tidak? Hei... Raya!!" Feli menggoyang-goyangkan tubuh lemah Raya dengan kakinya.


"Kenapa diam? Aku bahkan sudah susah payah membawamu kemari!" dengkus Feli kesal.


Pintu ruangan itu terbuka dari luar dan dimasuki oleh seseorang yang membuat Feli berdecak lidah.


"Lama sekali, aku sudah haus!" kata Feli sembari menerima sebotol air mineral dari seorang rekannya yang baru masuk.


"Maaf Nyonya, aku tadi sekalian membeli makan siang," jawab wanita yang menjadi rekan Feli. Dia adalah Roro.


"Ya sudah." Feli mulai membuka tutup botol air mineralnya dan meneguk itu.


Mata Roro terbelalak melihat seonggok tubuh yang tergeletak di seberang sana.


"Nyonya, apa dia sudah mati?" tanya Roro dengan nada agak kaget.


Feli terkekeh. "Tidak, dia tidak boleh mati dulu, aku belum puas menyiksanya," ucapnya cuek.


Roro melangkah mendekati tubuh Raya, dia ingin memastikan jika Raya masih hidup atau sudah mati.


"Dia masih hidup, Nyonya. Tapi ..." Roro berjongkok dan memegang sesuatu yang nampak mencurigakan.


"Nyonya, dia--dia berdarah," kata Roro tercekat.


Feli ikut mendekat kearah Roro yang berjongkok. "Oh, paling dia keguguran," jawab Feli enteng.


"Nyonya, aku takut jika Tuan Nev tahu semua ini ..." celetuk Roro tiba-tiba membuat Feli mendengkus keras.


"Kita sudah sejauh ini, kenapa baru sekarang kau merasa takut?" kekeh Feli.


"Y-ya, aku pikir kita hanya menakut-nakutinya. Tidak sampai sejauh ini. Kalau dia mati bagaimana?" desak Roro mulai gemetar.


"Jika dia mati, kita kubur di belakang rumah ini, beres..." jawab Feli lagi-lagi dengan entengnya.


"Tapi...."


"Ro, dengarkan aku... Dia ini yang merusak kebahagiaanku! Kau juga tidak suka padanya kan? Karena levelnya tiba-tiba naik diatasmu? Dia hidup enak dan menjadi Nyonya dirumah Nev secara mendadak, padahal dulunya dia hanya pengasuh yang aku bawa, " Feli tertawa nyaring.


"Tapi aku tidak tahu rencana kita ini akan berakhir sejauh ini..." lirih Roro.


"Nikmati saja semuanya. Bukankah asyik melihatnya menderita?"

__ADS_1


Roro terdiam, rasa ketakutannya tiba-tiba timbul begitu saja. Dia pikir Feli hanya akan mengerjai Raya saja dan tidak akan sampai bertindak diluar batas seperti ini.


"Hei Raya, kau pingsan? Ya ampun..begini saja sudah pingsan," cibir Feli dengan senyum miringnya.


Krr...Brak!!!! BRAK!!!


Tiba-tiba, pintu terbuka dari luar secara paksa, ada yang mendobraknya dan membuat kedua wanita yang sadar dan berada didalam ruangan itu menoleh seketika. Feli terkejut, begitu pula dengan Roro yang sudah gemetar ketakutan.


"Apa yang kau lakukan pada istriku, Bit*ch?" Teriak Nev penuh emosi. Sepersekian detik berikutnya, Nev langsung menghampiri Feli dengan langkahnya yang lebar.


Plak! Plak!!


Feli harus merasakan pedihnya pukulan Nev di kiri dan kanan pipinya secara bergantian.


Feli terhenyak, ia memegangi pipinya yang panas, ia menatap Nev penuh kebencian tapi ia juga mundur beberapa langkah dari tubuh Nev yang sudah menjulang marah dihadapannya.


"Dia masih hidup, Nev. Jangan berlebihan begini," gumam Feli pelan setelah posisinya agak menjauh dari Nev.


"Apa katamu?" Mata Nev menatap nyalang ke arah Feli.


Demi apapun, Nev sangat murka dengan perbuatan Feli dan kata-katanya itu. Nev pun menghampiri Feli lagi lalu dia mencekik kuat leher wanita itu. Feli terbatuk-batuk karena sesak, apalagi Nev menatapnya dengan tatapan emosi, membuat nyali Feli menciut seketika.


"Nev...kau bi..sa memb..bu..nuhku, Nev..." ucap Feli bersusah payah karena cengkraman tangan Nev di lehernya.


Beruntung, akal sehat Nev segera menguasai dan itu bisa membuatnya menahan diri. Hingga akhirnya Nev melepas cengkramannya di leher Feli begitu saja, lalu ia mendengkus keras dengan wajah penuh amarah yang berkobar-kobar.


Rasanya pukulan dan cekikannya pada Feli masih sangat kurang dari kata cukup, dia ingin menghajar Feli secara brutal dan membabi buta sekarang juga, bahkan jika bisa dia ingin membunuh Feli dengan tangannya sendiri, tapi bukan itu yang menjadi atensinya sekarang, karena disaat yang sama, sudut matanya telah menangkap sesosok tubuh familiar yang sangat memprihatinkan diujung sana. Dan itu adalah Raya-nya.


Nev membiarkan Feli, gegas menuju pada Raya, lalu tubuh Nev luruh begitu saja dan bersimpuh didekat tubuh istrinya, tangisannya mulai terdengar meraung-raung saat melihat kondisi sang istri yang sangat mengenaskan.


"Sayang...." Nev menyentuh tubuh Raya dan saat itu juga dia tersadar jika tubuh istrinya sudah bermandikan cairan merah yang berasal dari inti tubuh sang wanita yang sangat ia cintai.


Meluaplah sudah tangisan Nev diseluruh penjuru ruangan. Suaranya begitu menyayat dan memilukan. Dia tidak peduli lagi dengan dua orang yang juga ada diruangan yang sama dengannya. Jika mereka ingin kabur pun, Nev sudah tak bisa mencegah, karena saat ini tubuh dan hatinya begitu terpukul dan melemah saat melihat kenyataan yang terpampang di depan matanya.


Untungnya, tak berselang lama Bian tiba disana dengan beberapa aparat kepolisian.


"Ibu Feli! Ibu Roro! Kalian ditangkap atas dasar percobaan pembunuhan terhadap Ibu Raya," kata salah seorang aparat yang segera memborgol tangan Feli dan Roro saat itu juga.


"Kau lihat, Nev... pembalasanku lebih menyakitkan, bukan?" Feli masih bisa mencibir Nev saat tubuhnya sudah digiring oleh beberapa polisi itu.


Dengan susah payah dan menguatkan hati, Nev berusaha mengangkat tubuh Raya dan gegas membawanya keluar dari tempat itu.


...Bersambung ......

__ADS_1


...Jangan lupa tekan Love, Like, Vote dan berikan hadiah. Ketik komentar yang berkesan ya🙏♥️♥️♥️♥️...


__ADS_2