PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
39 - Mencari keberadaanmu


__ADS_3

Nevan


Seminggu berselang, ia merasa tak tahan lagi dengan keadaan yang membelenggunya.


Semua yang ia lakukan pun menjadi tak maksimal, baik itu dalam pekerjaan maupun dalam kegiatan berlatih berjalannya.


Pikirannya selalu memikirkan keadaan Raya.


Tapi kenapa semua orang seakan benar-benar menjauhkannya dari wanita itu?


"Bian, jika urusan soal pekerjaan sudah siap, bisakah kau membantuku sesuatu?" tanyanya pada Bian yang baru saja menyerahkan sebuah map kepadanya.


Sebenarnya ia ingin meminta bantuan Bian sejak kemarin, tapi mengingat Bian sangat repot mengurus pekerjaannya yang terbengkalai, disertai urusan perceraiannya pada pengacara, maka ia pun urung menambahi pekerjaan untuk Sekretaris pribadinya itu.


Ia juga mengerti jika Bian baru saja menikah, sehingga ia tak mungkin memaksa Bian mengurusi semua masalah pribadinya, sampai menyita waktu pribadi pria itu untuk mengurusi semua halnya. Alhasil, ia selalu membiarkan Bian pulang disaat jam pekerjaan yang memang telah berakhir.


"Tuan bisa meminta bantuan apapun pada Saya, Tuan." jawab Bian pelan.


"Apa kau bisa mencari tahu keberadaan Raya?"


Bian terdiam sejenak, entah apa yang ada dipikiran Bian. Tapi kemudian pria itu mengangguk samar.


"Apa kau benar-benar bisa mencaritahunya? Karena Jimmy tidak memberiku info apapun." Ia tertawa sumbang, karena ia tahu jika Jimmy pasti telah diminta Neneknya untuk tutup mulut.


Bian kembali diam, membuatnya tersenyum kecut. Ia menerka sesuatu sekarang, bahwa Bian pun telah diwanti-wanti oleh sang Nenek.


"Kau bekerja padaku, Bian. Aku hanya memperingatkanmu jika kau lupa," ucapnya, sebenarnya ia sengaja mengatakan itu untuk menyindir Bian, jika ternyata Bian pun sudah disuruh oleh Neneknya untuk tak menuruti permintaannya soal mencari Raya.


Bian mengangguk cepat. "Ba-baik, Tuan." jawabnya tergagap.


Entah kenapa, intuisinya menangkap gelagat bahwa Bian pun telah dicekoki oleh sang Nenek. Terkaannya berarti benar.


Ia tahu, Nenek melakukan ini bukan sepenuhnya untuk memisahkannya dari Raya, tapi Nenek ingin tahu seberapa seriusnya ia dengan perasaannya terhadap wanita itu.


Ia pun tahu, Nenek menjauhkan info tentang Raya darinya, semata-mata untuk menjaga nama baik Raya sebelum ia dan Feli benar-benar berpisah secara resmi.


Namun, ia sungguh tak bisa jika tidak mengetahui keadaan dan kondisi Raya saat ini. Ia hanya ingin tahu, tidak lebih, tidak ingin menemui, hanya ingin melihat dari jauh saja jika pun bisa. Karena perasaan rindunya terhadap wanita itu sungguh menggebu-gebu.


Ia juga tak tahu, kenapa perasaannya cepat sekali berpindah dan jatuh hati pada Raya. Tapi, siapa yang menggerakkan hatinya untuk tertarik pada wanita bersurai cokelat itu? Ia pun tidak pernah menyangkanya, semua terjadi begitu saja, diluar kendalinya.


Berbeda rasa-- saat ia bersama Feli dulu. Mungkin benar jika dulu, ia hanya terobsesi pada Feli sang primadona kampus.


Ia sulit membedakan antara obsesi dan cinta, sehingga bergerak tergesa untuk segera mengajak Feli menikah tanpa menjiwai sifat dan sikap wanita licik itu.


Sedangkan dengan Raya? Ada rasa lain yang sulit ia akui bahwa itu cinta, tapi ia pun tak menampik bahwa mungkin saja itu memang cintanya yang telah ia temukan sekarang di diri seorang Raya.


Serperginya Bian dari ruangannya, ia hanya bisa menatapi wajah Raya yang terpampang di layar utama ponsel pribadinya.


Berharap foto itu bisa bergerak dan menjawab semua pertanyaannya.


"Kamu dimana? Apa kamu merindukanku?" gumamnya sembari mengelus layar ponsel yang menampilkan foto sang wanita.


Entah kenapa ia merasa semakin gila sejak kepergian Raya yang sudah berhari-hari.


Jika saja ia tak mengingat kodratnya sebagai pria sejati, mungkin sekarang ia akan menjatuhkan airmata.

__ADS_1


Ia terkekeh kecil sendiri saat mengingat ingin menangisi Raya. "Haha melow sekali aku ini..." katanya sembari menyimpan ponselnya kembali kedalam saku jas yang ia kenakan.


Ia pun melanjutkan untuk memeriksa berkas yang sebelumnya sudah dihantarkan oleh Bian tadi.


Walau pikirannya lebih dominan dengan bayang-bayang senyuman Raya, tapi ia mencoba fokus untuk kembali bekerja, karena ia pun tak mau bangkrut diusia muda.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Bian


Sebenarnya ia sudah menebak jika hal yang membuat Bos-nya uring-uringan beberapa hari belakangan adalah karena menghilangnya sang pengasuh.


Ia pun mengakui jika pengasuh Tuan Nev memang sangatlah cantik, sehingga sejak awal, ia sudah bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa-- cepat atau lambat Bos-nya itu pasti akan takluk pada wanita bernama Raya itu.


Tiga hari lalu, saat ia baru saja membicarakan tentang permasalahan perceraian Tuan Nev bersama seorang pengacara, tiba-tiba ia mendapat sebuah panggilan istimewa ke nomor pribadinya.


Lagi-lagi ia bisa menebak jika ini ada kaitannya dengan pengasuh Tuan Nev, yang beberapa hari tidak kelihatan batang hidungnya.


Padahal biasanya, wanita cantik itu selalu terlihat menempel dengan Bos-nya, bagaikan Moana dan Maui di sebuah series anak-anak.


Jika dalam kartun itu Moana yang memaksa Maui untuk tetap menemaninya mengarungi Samudera, lain hal dengan sang Atasan, karena ia tahu pasti bahwa-- Tuan Nev lah yang tak mengizinkan pengasuhnya bergerak menjauh darinya. Terkesan posesif, namun disinilah ia mendapati sebuah fakta bahwa Bos-nya memang sudah jatuh hati pada perempuan muda itu.


Namun, panggilan istimewa yang meminta khusus padanya untuk tak membantu Tuan Nev mencari keberadaan sang pengasuh, cukup membuatnya bimbang.


Semakin bimbang lagi karena sekarang Bosnya justru benar-benar meminta bantuannya dan mengingatkan padanya tentang pada siapa ia bekerja.


Ia menjadi bingung harus melakukan apa, ia pun berpikir sejenak, namun langsung mendapatkan keputusan akhir yakni lebih memilih untuk membantu Tuan Nev saja.


Bukan karena mengingat pria itu sebagai Atasannya, tapi karena ia pernah berada didalam situasi yang mirip seperti sang Tuan. Dipisahkan oleh keadaan memang menyakitkan, apalagi jika perasaan itu baru saja mulai tumbuh.


Maka, saat makan siangnya selesai, ia sudah tahu tujuan selanjutnya yang akan ia datangi.


Tidak sulit mencari info tentang Raya Syakila, karena saat ia mencari di portal berita pada search engine internet, ternyata banyak artikel yang tengah menyanterkan berita tentang Ayah wanita muda itu.


Hingga kini kakinya sudah menginjak sebuah gedung tinggi yang bernama pengadilan, dimana Ayah Raya sedang diadili untuk menetapkan sebuah keputusan tentang tindak pidana yang melibatkannya.


Kedatangannya tepat setelah proses peradilan selesai dan orang-orang dalam ruangan mulai berangsur meninggalkan tempat itu.


Ia melihat seorang pria paruh baya yang masih nampak berwibawa dan tampan diusianya, menggunakan kemeja putih dan celana bahan berwarna hitam, dialah Ayah Raya yang ia ketahui bernama Adrian.


Ia ingin bicara empat mata dengan pria itu, menanyakan keadaan dan keberadaan Raya. Namun, pria itu dikawal oleh dua orang petugas kepolisian dikiri-kanannya.


Sehingga, ia harus menunggu Adrian dikembalikan pada ruang tahanannya dulu, barulah ia bisa berbicara pada pria itu.


"Selamat siang, Pak. Saya Bian..." ucapnya memperkenalkan diri.


Pria itu menyambutnya dengan senyuman kecil namun dengan dahi yang berkerut.


"Nak Bian ini siapa, ya? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya beliau sopan.


Ia menggeleng. "Saya ada keperluan lain dengan Bapak. Tapi sebelumya, apa Bapak dalam keadaan sehat?" tanyanya tulus.


"Saya sehat, ada hal apa kamu menemui saya?" tanya Pak Adrian yang masih nampak bingung.


"Saya rekan kerja Raya, anak Bapak." jawabnya sedikit berkilah, setidaknya ia dan Raya benar-benar memiliki Atasan yang sama, bukan?

__ADS_1


"Raya? Ada apa dengan Raya?" sontak Pak Adrian nampak terkejut, mungkin mengira ia akan menyanpaikan berita tentang gadis itu, padahal disini ia lah yang ingin mencari informasi tentang Raya.


Ia menggeleng pelan pada pria dihadapannya itu. "Bukan, Pak. Saya justru ingin menanyakan kabar Raya pada Bapak. Apa Raya ada berkunjung menemui Bapak dalam seminggu ini? Karena dia sudah seminggu tidak bekerja."


Pak Adrian mengerutkan dahi lagi, membuat wajahnya tampak memikirkan sesuatu.


"Ada apa dengan Raya? Kenapa dia tidak bekerja sampai seminggu? Raya tak mengunjungi saya, karena saya memang melarangnya. Saya tidak sanggup dijenguk dalam keadaan begini," ucap Pak Adrian yang justru balik bertanya padanya.


"Apa Bapak punya alamat tempat tinggal Raya sekarang?" tanyanya memastikan, karena dari jawaban Pak Adrian tadi, ia tak mendapatkan hasil apapun mengenai keberadaan Raya.


Pak Adrian tampak berpikir sejenak. "Mungkin kamu bisa menanyakan pada pengacara saya, Namanya Reka. Kemarin Reka mengatakan sudah menemukan tempat tinggal untuk istri saya sepulangnya dari Rumah Sakit."


"Reka tidak memberitahu Bapak alamat itu dimana?"


"Kenapa kamu mencari keberadaan Raya sedetail itu?" tanya Pak Adrian, merasa tindakan yang ia lakukan sangat berlebihan, mungkin pula menaruh kecurigaan padanya.


"Karena saya perlu menemui Raya, Pak. Menyangkut pekerjaannya yang terbengkalai," kilahnya.


Pak Adrian mengangguk, "Memangnya Raya kerja dimana?" tanyanya.


Ia tahu, tak mungkin ia mengatakan pada Pak Adrian tentang pekerjaan Raya sebagai pengasuh, mengingat sejak awal ia pun telah berbohong soal dirinya yang menjadi Rekan kerja Raya.


"Briliant Group, Pak." jawabnya pada akhirnya, merujuk pada perusahaan milik Nev--tempatnya bekerja.


Pak Adrian menyunggingkan senyum.


"Itu perusahaan besar yang bergerak dibidang property kan?" tanyanya antusias.


"Begitulah, Pak..."


"Ternyata Raya bisa bekerja disana, itu tak terlalu melenceng dengan ijazahnya." jawab Pak Adrian semringah.


Ia pun mengangguk, karena sedikit banyak ia tahu jika Raya Alumni Universitas Manchester dalam program Arsitektur.


"Jika perusahaan memang mencari keberadaan Raya, saya akan mengatakan pada Reka untuk menghubungi kamu." tawar Pak Adrian.


"Jangan, Pak..." jawabnya cepat, ia tak mau ambil resiko jika pengacara Pak Adrian yang bernama Reka itu nantinya tak menghubunginya--bisa sia-sia usahanya sampai disini.


"Lalu?" Pak Adrian mengernyit.


"Bapak katakan pada saya alamat Pak Reka. Biar saya yang menemuinya," jawabnya yakin.


Setelah tahu alamat tujuannya yang selanjutnya adalah tempat tinggal Reka, maka ia pun berpamitan pada Pak Adrian.


"Apa sidangnya sudah selesai, Pak?" tanyanya lagi menjelang kepergiannya dari ruang besuk tahanan.


"Sidangnya ditunda lagi, karena ada beberapa kendala saat persidangan tadi," jawab Pak Adrian lesu.


"Semoga semua segera selesai, ya, Pak," katanya.


Mereka pun saling berjabat tangan satu sama lain.


"Saya yakin Bapak tidak terlibat dalam kasus ini," ucapnya lagi. Entah kenapa nalurinya juga berkata demikian-- bahwa ia tak meyakini Pak Adrian melakukan korup seperti yang dituduhkan.


Pak Adrian pun hanya mengangguk sembari tersenyum kecil untuk menanggapinya.

__ADS_1


...Bersambung .......


__ADS_2