PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Kehidupan baru


__ADS_3

Selama hampir seminggu berada di Jerman, Aarav mulai mendapat pengobatan yang lebih memadai. Meski begitu, belum banyak perkembangan yang signifikan dari respon tubuhnya karena hingga saat ini Aarav dinyatakan masih berada dalam status koma.


Pengobatannya akan dikatakan berhasil apabila Aarav telah sadar dan bisa menggerakkan salah satu alat gerak tubuhnya atau minimal bisa berkedip untuk merespon orang lain.


Sementara Aarav masih menjalani masa perobatan di Rumah Sakit, Nev beserta keluarganya sudah menjalani kehidupan baru dengan menempati sebuah Apartemen untuk tempat tinggal mereka selama berada di Jerman.


Abrine dan Airish kembali bersekolah di sebuah Senior High School yang ada disana. Perbedaan bahasa tidak menjadi penghalang bagi mereka karena sejak kecil mereka sudah diajarkan 4 bahasa asing oleh beberapa guru les privat.


Abrine dan Airish yang pintar dan humble bisa dengan mudah berbaur disekolah baru mereka, sekolah itu kebetulan sama dengan sekolah Rahelsa. Jadi, ketiganya bisa bersekolah bersama-sama.


Mereka hanya perlu menyelesaikan jenjang Senior High School selama satu tahun, setelah itu barulah mereka bisa melanjutkan kuliah di universitas yang mereka pilih.


Selama satu tahun ini, Abrine, Airish dan Rahelsa berusaha menyelesaikan sekolah dengan sangat baik. Mereka menjadi bagian dari murid-murid berprestasi.


Dilain sisi, pengobatan Aarav mulai menunjukkan hasil. Aarav sudah bisa bicara meski ucapannya terkadang kurang jelas terdengar, dia juga sudah bisa menggerakkan kepala dan tangannya, namun ia belum bisa berjalan seperti sedia kala.


Semua pelaku pengeroyokan Aarav dimasa lalu sudah tertangkap seluruhnya, termasuk orang yang mendalangi semua kejadian itu dan orang yang menjadi penyebab insiden itu terjadi, namun Nev sengaja merahasiakannya dari semua pihak keluarga karena dia sudah merasa tenang dengan kehidupan barunya selama di Jerman.


Hanya Nev dan Jimmy yang mengetahui semua identitas pelaku yang kini sudah merasakan dinginnya hotel prodeo.


"Pa, seminggu lagi kami akan merayakan kelulusan. Setelah acara prom nanti ... bolehkah aku dan Airish kembali ke indonesia?" Abrine memberanikan diri untuk menanyai Nev perihal keinginannya. Lebih dari setahun sudah mereka meninggalkan Indonesia dan ia merasa rindu dengan tempat tinggal dimasa kecilnya itu.


Nev menggeleng. "Tidak, kalian akan lebih baik tetap disini," ucap Nev datar.


"Ma...." Abrine menoleh pada Raya, mencoba mencari dukungan, namun Raya hanya tersenyum kecil yang menandakan tidak setuju dengan keinginan Abrine dan juga Airish.


"Kalian tahu, masa lalu papa tidak cukup baik. Ada banyak orang yang bisa melukai kalian disana. Papa masih trauma dengan kejadian yang menimpa Aarav!" terang Nev.


"Tapi, Pa... kami hanya sebentar disana. Kami rindu dengan Oma dan Opa, kami ingin menemui mereka. Bukankah Papa juga sering pulang pergi Jerman-Indonesia? Sesekali kami ikut, ya, Pa!" Kini Airish yang angkat bicara untuk memohon pada sang Papa.


"Gak!" Satu kata itu berhasil membuat Abrine dan Airish bungkam seketika.


"Jika kalian ingin menemui Opa dan Oma, untuk saat ini hubungi saja melalui video call, karena Opa dan Oma juga tidak mungkin terbang ke sini karena kondisi kesehatan mereka," kata Raya menimpali.


"Ma..." Abrine memasang wajah memelasnya, begitu pula denga Airish yang melakukan hal serupa, namun keputusan sang Ayah memang tidak bisa diganggu gugat.

__ADS_1


"Kelak kalian akan bisa kembali ke Indonesia saat kalian sudah benar-benar matang dan bisa melindungi diri kalian sendiri." Nev menatap nanar kepada kedua puterinya.


______


Rahelsa selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi Aarav di Apartemen yang ditempati Nev dan keluarganya selama satu tahun belakangan.


Selama ini ia ikut andil merawat Aarav, selain karena rasa kemanusiaan yang ia miliki, perasaan lain yang ia pendam untuk Aarav selama ini juga menjadi alasan utamanya untuk ikut menjaga Aarav.


"Aarav, sekarang kamu minum obat dulu, ya!" ucap Rahelsa lembut sembari mengeluarkan obat-obatan milik Aarav, lalu menuangkan air putih kedalam gelas.


Aarav mengangguk dengan wajah datarnya, saat ini ia tengah duduk di kursi roda dan menatap lurus kearah jendela besar yang ada dikamarnya.


"Hel, kamu disini?" Raya menghampiri kamar anaknya dan mendapati Rahelsa disana.


"Iya, Tant... maaf aku tadi masuk aja soalnya sudah waktunya untuk Aarav minum obat," kata Rahelsa tersenyum.


"Ya, gak apa-apa, Hel." Raya tersenyum. Ia memang telat pulang karena tadi ia harus belanja bulanan di supermarket. Selama tinggal di Jerman, Raya yang mengatur semua keperluan rumah karena mereka tidak menggunakan jasa ART. Hanya menggunakan jasa orang untuk Loundry dan berberes apartemen saja, urusan dapur dan perut tetap Raya yang mengaturnya.


Raya memperhatikan interaksi Rahelsa dan Aarav, seketika itu juga ia mengingat masa lalunya bersama Nev dan ia bisa melihat cara Rahelsa menatap Aarav, Raya tahu bahwa gadis itu memiliki perasaan lebih pada puteranya.


"Hel, minggu depan kalian sudah pengumuman kelulusan, kan?"


"Kamu mau lanjut kuliah dimana?"


"Aku mau daftar di Universitas Heidelberg, Tant."


"Tante pikir kamu mau coba di Oxford? Soalnya Mama kamu pernah bilang kamu mau coba daftar disana dulu," kata Raya.


"Tadinya begitu, Tant. Cuma Oxford kan di Inggris, jadi aku mikir-mikir lagi."


"Kenapa? Itu kan impian kamu."


"Aku gak bisa ninggalin Jerman, Tant. Aku masih mau disini karena..."


"Karena Aarav?" tebak Raya.

__ADS_1


"I-iya, Tant."


"Kamu gak boleh mengubur mimpi kamu hanya karena Aarav. Kami juga masih ada disini untuk menjaga Aarav. Jangan jadikan ini beban kamu, Hel."


"Aku gak anggap ini beban, Tant. Aku senang ngelakuinnya," kata Rahelsa tersenyum.


Raya menghampiri Rahelsa. "Makasih banyak ya, Hel. Kamu udah banyak bantu Tante, Airish dan Abrine selama kami berada disini. Padahal kami masih awam dinegara ini."


"Tant, kalian keluarga aku, jangan bicara seperti itu."


"Semoga Aarav cepat pulih, ya. Tante berharap kalian bisa berjodoh."


Rahelsa terdiam menatap Raya yang sudah menyunggingkan senyum penuh arti kepadanya.


"Ke-kenapa tante ngomong gitu?" Rahelsa mendadak gugup.


"Karena itu salah satu harapan Tante... Tante mau Aarav sembuh dan dia bisa merasakaan ketulusan kamu, Hel.."


"Tapi Tant."


"Tante sudah bicarakan ini dengan Om Nev dan kedua orangtua kamu. Kami berpikir untuk menjodobkan lalu menikahkan kalian, itupun jika kamu mau. Niatnya dalam beberapa tahun kedepan kalau Aarav sudah membaik."


"....tapi, melihat kondisi Aarav sekarang yang belum banyak perubahan, tante jadi ragu apakah kamu mau mendampingi Aarav yang tidak sempurna."


"Tante... aku..."


"Sekali lagi jangan jadikan Aarav beban, Hel. Kamu berhak dapat pendamping yang lebih sempurna dari Aarav."


"Bukan begitu, Tant. Aku... aku menerima Aarav apa adanya."


"Jika memang begitu, tante dan om akan kembali bicara dengan orangtua kamu mengenai hal ini."


"Maksudnya, tant?"


"Dulu tante pernah berada diposisi seperti kamu. Merawat om Nev saat dia mengalami kelumpuhan dan itu cukup membuat kami canggung satu sama lain karena kami tidak memiliki hubungan yang sah."

__ADS_1


"...untuk itu, tante mau kamu dan Aarav menikah saja agar tidak ada rasa canggung dan lebih terbiasa. Tapi, itu kembali pada keputusan kamu juga, mau atau tidak," papar Raya.


Walau Aarav adalah puteranya, namun Aarav tetaplah anak lelaki yang sudah beranjak dewasa. Meski Aarav sakit, Raya tahu ketidaknyamanan puteranya jika harus diasuh oleh orang lain ataupun Ibunya sendiri. Begitu pula dengan Airish dan Abrine yang tidak mungkin mengasuh sang kakak, jalan terbaik memanglah Aarav harus diasuh oleh seorang istri dan Rahelsa adalah calon yang dipilihkan Nev dan Raya secara kompak.


__ADS_2