
Nev terkekeh pelan, kemudian menatap wanita disisinya. "Sayang, kenalkan, ini Tante Nesa dan Kak Hellen. Mama dan Kakaknya Jimmy," terang Nev.
Raya tersenyum ramah, kemudian menyalami keluarga Jimmy itu.
"Wow, dia istrimu Nev?" tanya Hellen.
Nev mengangguk.
"Kau beruntung sekali ya, Nev. Punya istri cantik yang turut menunjang penampilanmu," kelakar Hellen yang justru diangguki oleh Nessa karena sepakat dengan kalimat sang anak.
"Kau bisa saja, Kak." sahut Nev dan Raya hanya tersenyum canggung mendengar ucapan Kakak Jimmy yang blak-blakan.
"Mana suamimu, Kak? Aku belum mengenalnya sejak mendengar penikahanmu di Luar Negeri." kata Nev.
"Suamiku? Hahaha ... dia sedang di Manchester, ada pekerjaan disana." kata Hellen sembari menyesap minumannya.
"Manchester?" gumam Raya, ia mengingat sekilas kenangan tentang kampusnya disana.
"Ya, Manchester. Biasalah, suamiku lebih mementingkan untuk menonton liga final derby Manchester disana, ketimbang ikut pulang ke Indonesia menghadiri pernikahan Jimmy," gerutu Hellen dengan bibir mencebik.
Nev tertawa. "Jadi yang dimaksud sebagai pekerjaan, hanya menjadi suporter sepak bola?" tanyanya.
Hellen mengangguk mengiyakan. "Sebenarnya, dia sudah memesan tiket sejak lama, jadi dia tidak mau membatalkan perjalanannya itu, huh!" keluh Hellen bersungut-sungut.
Raya dan Nev terkekeh, begitupun Nesa yang ada disana.
"Biarkan saja Danny liburan, suamimu sudah terlalu sering menemanimu kemana-mana, mungkin dia bosan," sahut Nesa menimpali dengan selorohan yang membuat Hellen semakin mencebik kesal.
Ternyata keluarga Jimmy cukup memiliki selera humor, membuat Raya cepat berbaur dengan mereka. Mereka mengobrol ringan dan akrab, hingga akhirnya tahu latar belakang keluarga dan tempat tinggal Raya beberapa tahun kebelakang.
"Jadi kau pernah kuliah di Manchester?" tanya Hellen antusias.
Raya mengangguk.
"Wah, berarti kau sudah sering menonton pertandingan Manchester City atau Manchester United, dong..." kata Hellen lagi.
"Tidak sering, tapi pernah sesekali," jawab Raya tersenyum.
"Hmm, berarti Danny saja yang terlalu heboh. Bahkan istri Nev saja tidak begitu berminat dengan hal itu," kata Hellen cemberut.
Raya mengibaskan tangannya. "Bukan begitu kak, aku tidak berminat bukan karena pertandingannya tidak seru, tapi karena aku kurang hobi dengan dunia sepak bola. Suami kakak begitu speechless ... mungkin karena itu adalah kegemarannya," terang Raya yang diangguki oleh Nev.
"Maklumi sikap Hellen ya, dia sering terbawa-bawa euforia suaminya tentang sepak bola," kata Nesa menimpali.
"Ah, Mama ini..." ucap Hellen akhirnya.
__ADS_1
Mereka pun terkekeh lagi, sedikit banyak pesta pernikahan Jimmy dan pertemuan Raya dengan keluarga Jimmy ini membuat mood Raya sedikit membaik, ia bisa melupakan permasalahannya dan cukup membantunya untuk kembali bersikap ceria seperti sedia kala.
Nev menyadari itu, dia senang Raya sudah bisa bersosialisasi lagi dengan orang lain dan dia tahu Raya butuh banyak teman untuk memudahkannya move on dari kejadian tempo hari.
Mengingat pembahasan mereka tadi, Nev jadi memiliki ide untuk mereka berdua.
"Sayang, kamu gak rindu suasana Manchester?" tanya Nev.
"Tentu saja rindu, aku menghabiskan banyak waktu disana Nev..." kata Raya.
"Kita liburan kesana nanti, setelah sidang itu selesai. Bagaimana?"
Raya menatap Nev dengan mata berbinar. Sebenarnya dia memang tak punya tujuan untuk tempat liburan kan, meski Nev mengajaknya berulang kali untuk berlibur.
Percakapannya dengan Hellen tadi membuatnya jadi teringat tempatnya menimba ilmu itu.
"Tentu saja aku mau....." kata Raya senang dan mengalungkan tangannya di leher sang suami.
"Tapi ada syaratnya," kata Nev mengerling.
Raya menggeleng dan mengendurkan jerat tangannya di leher Nev. "Sama istri sendiri, kenapa harus pakai syarat segala huh!" cibir Raya cemberut.
Nev mencolek dagu Raya sekilas. "Gak berat kok syaratnya, tanya dulu dong apa.."
"Ayo dong Sayang, tanya dulu gitu... yakin gak tertarik? Tawarannya ke Manchester loh ini..." kata Nev mencoba bernegosiasi.
Raya menggeleng keras, tampaknya memang merajuk.
Nev mengelus pipi Raya. "Iya, deh, iya... gak pakai syarat." ujarnya menyerah.
Dan... senyum kemenangan terkembang dari sudut bibir istrinya itu.
"Nah, gitu dong. Makasih, suamiku..." kata Raya memeluk Nev erat.
"Cemburu banget deh liat kemesraan kalian," celetuk Hellen tiba-tiba.
Raya segera melepas pelukannya saat menyadari hal itu. Dia hampir lupa jika sekarang mereka berada ditengah-tengah keramaian.
"Pengantin baru mah bebas," sahut Jimmy yang baru bergabung bersama Nimas di meja yang sama dengan mereka.
"Iya deh yang pengantin baru..." kata Hellen berlagak cemberut. "Aku sama Danny pengantin lama, udah sedikit berdebu... huhuhu..." keluhnya kemudian.
Mereka semua tergelak dan melanjutkan sesi makan bersama yang baru akan dimulai.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1
Hari persidangan itupun tiba, didampingi oleh pengacaranya, Nev dan Raya pun mendatangi pengadilan.
Mereka datang semata-mata untuk mendengar putusan hakim terkait penjatuhan hukuman akhir pada Feli, Roro dan Robi.
Sidang itu sendiri terbagi menjadi tiga sesi untuk masing-masing tersangka.
Feli ditetapkan sebagai otak dari semua kejadian, sementara Robi dan Roro adalah kaki tangannya.
Persidangan itu melibatkan banyak pihak yang menjadi saksi mata terkait kejahatan mereka, termasuk Nev yang kembali menjadi saksi detik-detik terakhir pada saat berada didalam rumah kosong yang menjadi TKP.
Raya sendiri tidak bersedia berdiri di mimbar saksi, karena ia tidak sanggup berada disana dan lebih menyerahkan semua melalui ulasan sang kuasa hukum.
Wiradana pun memainkan perannya, menuntut hukuman yang paling pantas terhadap ketiga tersangka yakni pembunuhan yang telah direncanakan. Serta pasal lain yang menyebabkan semua kejadian itu dapat dituntut dengan pasal berlapis.
Semua saksi menyudutkan para tersangka dan dari pihak tersangka tidak ada pembelaan yang mumpuni.
Wiradana bahkan ikut turut mengaitkan kejahatan-kejahatan Feli dimasa lalu yang tidak termaafkan. Mulai dari misinya menabrak mobil Nev beberapa bulan lalu, itu semua terekam di cctv jalanan dan sudah diambil pula jejak digitalnya disana, berikut plat mobil Feli.
Semua hal yang mengandung unsur pembunuhan berencana, turut mengaitkan Feli karena bukti-bukti sudah dikumpulkan Wiradana secara matang setelah mendapat keterangan dari Nev beberapa waktu lalu.
Wiradana tidak ingin persidangan itu ditunda dengan alasan apapun, dia ingin semua berakhir hari ini dengan semua bukti yang tertera secara gamblang.
Dan skakmat. Pihak terdakwa tidak dapat memberi pembelaan yang signifikan.
Feli and the gank harus menelan pil pahit yang menjebloskan mereka kedalam kurungan dalam waktu yang tinggal menunggu keputusan dari hakim pengetuk palu.
"Dengan ini, dinyatakan bahwa Pihak Terdakwa, Felisadira, terbukti bersalah karena dengan sengaja ..."
"... dan dijatuhi hukuman maksimal seumur hidup!"
"... begitu pula dengan saudari Rosiani Saftina, terbukti bersalah karena ..."
"... dan dijatuhi hukuman maksimal 20 tahun penjara!"
"Sedangkan untuk saudara Robi Afneer, dijatuhi hukuman 10 tahun penjara atas keterkaitan kerja samanya dengan dua terdakwa sebelumnya!"
Ketukan palu itu pun terketuk tiga kali dan menggema diseluruh penjuru ruangan pengadilan.
Raya memeluk Nev sembari kembali menguras airmatanya. Kali ini airmata itu jatuh karena perasaan kelegaan yang begitu kentara.
"Simpan air matamu, Sayang ... jangan menangisi hal ini lagi, mereka sudah mendapat ganjaran atas perbuatan mereka masing-masing," kata Nev mendekap tubuh Raya erat.
...Bersambung ......
...Jangan lupa love, like, komen, vote dan hadiah♥️...
__ADS_1