
Raya dan Reka serentak turun dari mobil, melangkah masuk ke dalam Polsek, tempat dimana Papa Raya-- yang sekarang berada dalam masa penahanan.
Setelah melapor ke penjagaan, menyerahkan identitas dan melewati proses pemeriksaan barang bawaan, Raya dan Reka diminta untuk menunggu sampai petugas memanggil giliran mereka.
"Papa," wajah Raya berkaca-kaca menatap sang Ayah yang terlihat lebih kurus dari pertemuan terakhir mereka.
Papa Adrian menyunggingkan senyum, namun sedetik kemudian tak kuasa menahan rasa haru karena menatap wajah sendu puteri semata wayangnya.
"Raya," ucap pria setengah baya itu sembari mendekap Raya dalam rengkuhannya.
Setelah saling memeluk untuk melepas kerinduan dalam jangka waktu singkat, Adrian mengurai pelukannya dan menatap wajah sang puteri.
"Papa gak apa-apa, sudah ... sudah ... jangan menangis, Nak." kata Adrian menenangkan Raya yang menatapnya dengan wajah sendu dengan semburat raut kesedihan yang begitu terpancar nyata.
Reka menyunggingkan senyum pada Adrian dan dibalas hal serupa oleh Ayah kandung Raya itu.
Mereka bertiga pun duduk. Hanya sebuah meja kayu panjang yang menjadi pembatas antara tubuh Adrian dan kedua orang yang mengunjunginya itu.
"Pa, ini ..." Raya mengangsurkan beberapa bungkusan ke arah sang Ayah.
"Apa ini?" tanya Adrian.
"Ini soto Lamongan kegemaran Papa, ada juga Ayam goreng kalasan. Papa makan yang banyak ya. Raya bawain banyak buat Papa makan, sekalian buat teman-teman yang lain." kata Raya sembari menahan isak tangisnya.
"Terima kasih, ya, Nak. Maaf Papa merepotkan kamu."
Raya menggeleng. "Enggak, Pa. Ini belum seberapa dari makanan yang pernah Raya makan dari jerih payah Papa selama ini." kata Raya yang mulai meneteskan airmata.
Reka ikut terharu atas pertemuan antara Ayah dan Anak ini, dia beberapa kali menunduk, namun tak berani menyela pembicaraan keduanya, Reka memberi ruang dan waktu kepada Raya dan Adrian untuk melepas rindu barang sejenak.
"Disini makannya pasti gak sesuai sama selera Papa," kata Raya sembari menyusut airmata yang telah jatuh.
Adrian menggeleng. "Papa makan telur rebus, itu enak kok." ucapnya memaksakan tersenyum sembari mengacungkan jempol ke arah Raya.
Raya mengangguk-anggukkan kepalanya, semakin sedih mendengar ujaran sang Ayah.
Adrian beralih menatap Reka, kemarin Reka sudah sempat menemuinya juga.
"Terima kasih, Nak Reka sudah mau menemani Raya kesini..." ucap Adrian.
Reka mengangguk, melihat Adrian membuatnya mendadak teringat dengan Ayahnya yang berada di luar Negara dan sedang menjalani masa pemulihan.
"Sama-sama, Pak. Saya berharap Bapak bisa menjaga kesehatan selama berada disini." ucap Reka tulus.
"Bagaimana perkembangan kasus Papa ini?" tanya Raya mengarah pada sang Ayah kemudian beralih menatap Reka.
"Berdasarkan pada bukti permulaan yang cukup, maka, kasus Pak Adrian dinyatakan dalam tindak pidana dan dilanjutkan dalam proses penangkapan." terang Reka.
"Dalam kasus ini pula, penyidik berwenang melakukan penahanan. Lalu, dalam jangka waktu tujuh hari, Jaksa peneliti harus mengumpulkan bukti hingga berkas perkara tersebut lengkap atau P21." sambung Reka.
"Papa sudah hampir seminggu disini," kata Raya.
Reka mengangguk, "Kita tunggu P21, nanti, secara teknis pihak Kejaksaan akan menyatakan hasil penyidikan sudah lengkap. Setelah itu, Ketua Pengadilan yang berwenang untuk mengadili akan menyatakan dan segera menentukan hari sidangnya." kata Reka.
"Jadi, kita menunggu putusan hari sidang?" selah Pak Adrian.
"Iya, Pak. Di persidangan nanti, Jaksa Penuntut Umum bertugas untuk membuktikan dakwaannya, sebagaimana asas hukum kita, siapa yang menuduh maka berkewajiban membuktikan tuduhannya,"
__ADS_1
"...proses pembuktian seperti pemanggilan saksi-saksi, pemanggilan ahli, maupun menunjukkan alat bukti surat maupun alat bukti lainnya akan dikemukakan dihari persidangan." lanjut Reka.
"Apa kamu sudah menyiapkan bukti untuk pembelaan terhadap Papa Saya?" tanya Raya kemudian.
Reka tersenyum kecil. "Tentu, Raya. Saya sedang memproses dan mengumpulkan bukti yang menyatakan bahwa Pak Adrian tidak bersalah." jawab Reka percaya diri.
"Saya mengandalkanmu, Reka." kata Raya penuh harapan besar.
Reka mengangguk. "Saya akan berusaha untuk tidak mengecewakan kepercayaan kamu dan juga Pak Adrian."
"Terima kasih, Reka." timpal Adrian pada Reka.
Perintah penangkapan tersebut dilakukan terhadap seseorang yang diduga memang telah melakukan tindak pidana yang berdasarkan pada bukti permulaan yang cukup.
Sementara itu, penahanan merupakan tindakan lanjutan dari proses penangkapan.
Untuk kepentingan penuntutan, penuntut umum berwenang melakukan penahanan atau penahanan lanjutan.
Jaksa Peneliti hanya memiliki waktu paling lama tujuh hari untuk menentukan berkas perkara tersebut dinyatakan lengkap (P21)
Pada ketentuan yang diatur di atas adalah total jangka waktu masa penahanan untuk keseluruhan pemeriksaan tersangka oleh penyidik yaitu 60 (enam puluh) hari.
...----...
Reka menatap Raya yang masih mengusap air matanya sendiri selepas keluar dari ruang jenguk Adrian.
"Bagaimana?" tanya Reka.
"Bagaimana apanya?" tanya Raya.
"Setelah ketemu Pak Adrian, apa kamu sudah merasa lega?"
"Kita pulang?" tanya Reka.
Raya mengangguk, "Kamu pulang lebih dulu saja, Saya ada keperluan lain, tidak usah mengantar saya." jawab Raya sembari menyunggingkan senyum tipis.
"Keperluan lain?" Reka merasa ingin tahu tujuan Raya.
"Apa kali ini saya boleh membantu kamu lagi untuk keperluan lain itu?" tanya Reka lebih lanjut.
Raya menggeleng, dia merasa sungkan telah merepotkan Reka hari ini. Apalagi Reka sampai menjemputnya pagi-pagi, lalu mengantarkannya membeli beberapa makanan di stand favorit Papanya.
Sungguh Raya merasa tak enak hati harus merepotkan Reka terus.
"Kamu tidak perlu merasa sungkan, saya free hari ini. Kamu bahkan bisa menculik saya sampai malam." kelakar Reka sembari terkekeh kecil.
Raya ikut tertawa karena gurauan yang Reka lontarkan. Tapi dia tetap ragu menerima tawaran Reka.
"Begini saja, kamu bisa mengatakan pada saya tujuan kamu, nanti saya akan mengantarkan kamu, lalu dari situ saya langsung pulang dan kamu pulang sendiri setelah keperluan kamu selesai." tawar Reka lagi, berusaha mencari jalan tengah agar Raya tak menolak ajakannya.
Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Raya mengiyakan tawaran pria berlesung pipi itu, dia juga memikirkan harus menghemat waktu agar tak terlalu lama pulang ke kediaman Nev.
Menggunakan kendaraan pribadi pasti akan membuatnya tiba lebih cepat, karena tak perlu menunggu lagi.
"Baiklah," kata Raya pada akhirnya.
Raya pun mengatakan pada Reka tentang tujuannya yang belum jelas-- bahwa dia ingin mencari sebuah kontrakan yang tak terlalu mahal untuk tempat tinggal Mama Sahara yang besok diperbolehkan pulang dari Rumah Sakit.
__ADS_1
Reka paham dengan maksud Raya, kemudian dengan pemikiran cepatnya, dia langsung membawa Raya kepada suatu tempat tujuan yang pas seperti yang Raya inginkan.
Mereka tiba tiga puluh menit kemudian di sebuah Rumah yang asri, tidak terlalu luas dan tidak pula terlalu kecil. Pas dan sesuai dengan ekspektasi dalam kepala Raya.
Raya pikir, rumah kontrakan yang akan ditunjukkan Reka berada dalam sebuah Gang atau berderet dengan rumah-rumah lain yang tampak seperti kost-kost-an anak kuliahan.
Nyatanya, rumah yang Reka tunjukkan pada Raya ada didalam lingkungan yang lebih baik dan sangat nyaman. Tak terlalu jauh dari jalan Raya, terletak dalam sebuah perumahan minimalist. Sangat strategis.
"Reka, ini... pasti harga sewanya mahal." kata Raya sebelum turun dari mobil Reka yang sudah berhenti didepan pagar rumah asri itu.
Reka hanya tersenyum dan tak menjawab ucapan Raya.
"Kalau terlalu mahal saya tidak mungkin mengontrak di rumah ini, saya masih dalam tahap pengumpulan dana, terutama untuk membayar tarif lawyer seperti kamu." gumam Raya jujur-- membuat Reka terkekeh kecil.
"Kalau soal tarif saya, jangan terlalu kamu pikirkan." kata Reka menyahuti.
"Tapi tetap saja ..." kata Raya kembali sungkan.
"Papa saya dan Papa kamu itu sudah layaknya saudara. Jangan terlalu banyak sungkan, Raya." kata Reka semringah.
"Ayo kita turun, lihat keadaan didalam rumahnya," kata Reka menganjurkan.
Raya mengangguk dan mereka kembali turun dari mobil.
Reka menyapa seorang wanita paruh baya, kemudian wanita itu membantu membukakan pintu rumah dengan kunci yang ada padanya.
Raya memasuki rumah itu, ternyata didalamnya juga sudah ada perabot yang siap pakai.
"Aku pasti tidak mampu membayar biaya sewanya." gumam Raya bermonolog pada diri sendiri, tapi indera pendengaran Reka cukup bisa mendengar itu.
Berbekal pengalaman, gaya hidup, dan pembelajaran selama ini, Raya tahu jika perabot yang ada didalam rumah ini bukanlah perabot sembarangan.
Hampir sebagian besar perabotannya menggunakan bahan yang bagus, jepara berkelas, kualitas menengah ke atas. Raya cukup ahli dalam hal memindai perabot dan arsitektur, karena itu memang bidangnya, bukan?
"Gimana? Kamu suka?" tanya Reka.
Raya mengangguk sebagai ekspresi kejujurannya yang mengagumi isi rumah. Sederhana diluar, namun didalamnya dikemas dengan perabotan yang bernuansa etnis dan sangat apik. Terlihat balance dan serasi karena tak ada perabot yang tampak dipaksakan.
"Ya sudah, besok kamu boleh bawa Ibu Sahara tinggal disini." ujar Reka to the point.
"Tapi..." Raya ragu melanjutkan kalimatnya.
"Kenapa lagi?" tanya Reka penasaran.
"Saya ragu bisa membayar Dp untuk sewa rumah sebagus ini, kemungkinan gaji saya juga akan dapat diawal bulan depan." terang Raya tanpa maksud apapun.
"Memangnya sekarang kamu mampunya bayar berapa? Maaf jika kamu tersinggung..." kata Reka tersenyum, membuat lesung dipipinya terlihat.
"Li--ma ratus..." kata Raya ragu.
Reka terkekeh. "Apa itu uang terakhirmu?" terkanya.
Raya hanya tersenyum kecut sebagai jawaban untuk Reka.
"Simpan saja, biar ini menjadi urusanku." kata Reka yang tak lagi bicara dengan logat formal.
Raya mengibaskan tangan dengan cepat dan berulang. "Jangan...." katanya berusaha mencegah.
__ADS_1
...Bersambung ......
...Jangan lupa like, komentar, vote dan hadiah ya. Jadikan favorite juga💕...