PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Datang Menjemput


__ADS_3

Apa yang harus Airish lakukan sekarang? Kembali masuk ke dalam lift Apartmen? Atau justru bersembunyi di lubang semut? Meski itu mustahil.


Abrine berdehem-dehem disisinya, sementara ia memejamkan mata sejenak demi menetralisir denyut nadinya yang mendadak terasa mendesirkan darah dengan hebat-- tatkala menatap sosok itu sedang duduk bersedekap sambil menyilangkan kaki-- di lobby gedung Apartmen yang ditempatinya.


"Pangeran berkuda putih, tiba...." bisik Abrine tepat ditelinganya, membuat kupingnya memanas.


Masalahnya, saat ia kecil dulu, ia begitu naif dan sering mengelu-elukan bakal dinikahi pangeran berkuda putih layaknya film princess favorit yang sering ia tonton. Bisa-bisanya sekarang kakaknya itu malah mengingatkannya dengan hal itu, lalu mengaitkan sosok didepannya sebagai sang pangeran.


Sosok yang sejak tadi bersedekap, mulai bergerak, berdiri dengan sigap kemudian menghampirinya yang mematung tak bisa bergerak.


"Abrine, apa kabar?" Rupanya sosok itu lebih dulu menyapa saudarinya.


"Gue?" Abrine terkekeh pelan sembari menunjuk diri sendiri. "Ya... sehat, seperti yang Lo lihat," kata Abrine cuek seperti biasanya.


Sosok yang mengenakan hoodie putih dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku celana itupun mengangguk, sembari mematut senyum tipis namun entah kenapa ada pesona yang tampak berlebihan, sebab sebuah lesung dipipi muncul bersamaan dengan senyuman itu.


Sebenarnya ini adalah pemandangan manis terhakiki sekaligus sebagai awal pagi yang luar biasa. Tapi ....


"Lo keliatan beda, ya!" celetuk Abrine pada sosok didepan mereka yang dibalas kekehan samar dari sosok tersebut. Sementara ia, masih diam membisu tanpa kata. Lagi-lagi hanya bisa memperhatikan interaksi antara dua orang yang ada didekatnya. Yang satu saudarinya, yang satu lagi.... ah, sudahlah.


"Rish, kakak duluan ya...." Tanpa menunggu jawabannya, Abrine melambaikan tangan sambil berlalu, menyisakan ia dengan sosok ber-hoodie putih dengan wajah bak pangeran impiannya.


Ah, perumpamaan yang diberikan Abrine, ternyata tak sepenuhnya salah sebab kini ia mengamini ucapan kakaknya beberapa saat lalu.


"Saya antar kuliah?" Kini sosok itu menatapnya sembari berbicara padanya. Dengan malu, akhirnya ia menganggukkan kepala tanda setuju.


Demi apapun, ia tidak menyangka jika Zio benar-benar menepati janji untuk menemui dan menjemputnya pagi ini.


Pantas saja dua kakaknya selalu betah menjaili serta mengoloknya, karena kini ia tidak meragukan kepolosannya. Atau lebih tepatnya kepandirannya. Entahlah, yang jelas ia tidak menolak saat jemari Zio justru menggenggam jemarinya, membawanya agar mengikuti langkah lebar pemuda itu.


Keadaan jantungnya saat ini? Jangan ditanya! Sebab, didalam sana seolah ada yang tengah menyalakan kembang api perayaan malam tahun baru. Rasanya meletup-letup meriah, kemudian mengeluarkan suara dentuman serta disinari percikan api.


Hatinya? Bersorak-sorai gembira, apalagi kini Zio membukakan pintu mobil untuknya.


Hah, bukan pangeran berkuda putih ternyata, tapi dia memang menggunakan mobil berwarna putih! Batinnya tergelak sukacita.


"Udah sarapan?" tanya Zio.

__ADS_1


Ia mengangguk pelan. Belum punya kata-kata atau lebih tepatnya bingung kini melandanya, tak tahu hendak menanyakan apa atau menjawab apa pada pemuda berwajah teduh itu.


"Good girl," ucap Zio mengusak rambutnya sekilas. Ia ternganga tanpa bisa dikendalikan. Zio tertawa pelan, lesung dipipinya kembali terlihat, membuatnya semakin terbengong saja.


"Untung di mobil ini gak ada lalat," goda Zio, membuat mulutnya seketika itu juga langsung terkatup rapat, menyadari ucapan pemuda itu mengarah kemana.


Malu? Ya begitulah, mau bagaimana lagi? Zio sudah melihatnya, bahkan menggodanya. Image nya tak lagi terjaga didepan pemuda penuh kharisma itu.


Kali ini Zio mengemudikan mobil tanpa sopir. Mengingatkannya pada momen masa lalu, dimana Zio pernah mengantarkannya pulang saat mereka selesai mengerjakan tugas kelompok. Itulah juga momen pertamanya mengenal Bunda Hana, Bundanya Zio. Jika mengingat momen itu, mungkin ia akan merutuk diri sendiri sebab sejak itulah pandangannya pada Zio jadi berbeda.


"Apa ada yang salah?" tanya Zio sembari meliriknya namun tetap fokus mengemudi.


"Maksudnya?"


"Kamu dari tadi diem, bengong... ngeliatin saya. Apa ada yang salah? Penampilan saya? Atau ada apa di wajah saya?" tanya Zio keheranan.


"Ehm... nggak, nggak ada," sanggahnya.


"Terus, kenapa diem? Nggak mau bilang apa gitu?"


"Kamu ganteng ...." ucapnya keceplosan. Otaknya, hatinya dan mulutnya sepertinya tidak sinkron, tidak bisa diajak berkompromi. Harusnya kata itu dalam hati saja, bukan untuk dilontarkan secara langsung seperti ini.


"Rish, kamu itu .... akh ...." Zio tak melanjutkan kalimatnya, terhenti, entah apa kata selanjutnya yang ingin Zio ucapkan, ia tak tahu. Yang jelas, Zio seperti tak sanggup mengutarakan ucapannya lagi, sebab pemuda itu terus saja terkekeh sendiri.


"Kamu ngetawain aku!" Ia protes, kesal juga melihat sikap Zio. Ia merengut dan menekuk wajah. Didetik itu juga, Zio menghentikan tawa dan bungkam seketika.


"Maaf, saya gak bermaksud ngetawain kamu."


"Terus tadi itu, apa?"


"Saya cuma merasa lucu karena kamu bilang saya ganteng. Padahal saya gak merasa begitu."


Ia mencebik. "Masa'?" tanyanya sarkasme.


Zio mengangguk. "Ganteng itu relatif, saya lebih suka dibilang pintar atau bertanggung jawab. Lebih mengarah pada sikap dan pilihan."


"Kata-kata kamu itu terlalu tinggi, otak aku enggak nyampek!" dengkusnya pelan.

__ADS_1


"Siapa bilang? Buktinya kamu paham maksud saya, kan?" tanya Zio.


"Enggak! Aku enggak paham maksud kamu. Sama seperti aku enggak paham, kenapa kamu masih ngedeketin aku padahal kamu udah bertunangan."


Seketika itu juga Zio mengerem mobil secara mendadak.


"Zi, apa-apaan, sih!" protesnya dengan jantung berdegup cepat karena aksi Zio yang tiba-tiba.


Zio tak menyahut, ia mulai menepikan mobil ke pinggiran jalan, namun mobil tetap bergerak secara perlahan.


"Kuliah kamu jam berapa?" tanya Zio dengan wajah mulai serius. Ia tak tahu kenapa perubahan ini terlihat begitu signifikan, padahal tadi mereka masih bisa bicara santai.


Tapi, ia menyadari sikap Zio berubah setelah tadi ia membahas masalah pertunangan pemuda itu.


"Kenapa memangnya?" tanyanya heran.


"Apa masih bisa kita bicara dulu? Atau saya tunggu kamu selesai kuliah dulu baru kita bisa bicara empat mata?" Zio menatapnya dengan tatapan setajam elang khas pemuda itu, membuatnya terintimidasi tak bisa berkutik.


Ia menelan saliva dengan berat. "Aku .... ada mata kuliah lima belas menit lagi. Bicara aja sekarang kalau memang penting banget," ujarnya.


"Gak, saya mau bicara serius, bukan di jalanan seperti ini. Saya mau kamu memahami semuanya, agar tidak ada kesalahpahaman lagi."


"Kesalahpahaman?"


"Ya, saya tidak mau ini berlarut-larut. Secepatnya kamu harus tahu semuanya."


Entah hal serius apa yang hendak Zio utarakan. Jika memang Zio nekat menjadikannya selingan, apa yang harus diperbuatnya?


Menolak? Kenapa rasanya tak ikhlas!


Menerima? Sebagai selingan? Oh, betapa kasihan nasibnya ini.


"Saya akan tunggu kamu selesai kuliah," putus Zio tanpa menunggu jawabannya.


Sepersekian detik berikutnya, Zio kembali memacu mobil dengan kecepatan normal, membawanya menuju gedung kampus-- yang entah kenapa Zio bisa mengetahui letaknya. Zio tahu bahwa disanalah ia menuntut ilmu. Bagaimana bisa?


Membuatnya jadi tersadar, sejak kemarin malam pun ia tak pernah memberitahu Zio alamat Apartmennya, namun pemuda itu tahu segalanya.

__ADS_1


Kenapa Zio tahu semua tentangnya?


*****


__ADS_2