PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
91 - Kedatangan Reka


__ADS_3

Nevan


Sehari setelah kejadian nahas yang menimpa Raya, istrinya itu sudah diperbolehkan untuk pulang dari Rumah Sakit.


Ia selalu mendampingi istrinya yang sedang dalam fase down dan terguncang. Tapi, sebenarnya ia juga merasakan hal yang hampir sama dengan Raya, terlebih lagi ia memiliki perasaan bersalah yang teramat dalam.


Andai ia bisa menjaga Raya lebih daripada yang selama ini ia lakukan?


Andai ia lebih teliti lagi dengan keselamatan Raya!


Bukankah selama ini ia sudah tahu jika Raya tidak dalam keadaan yang aman-aman saja?


Kenapa ia tak membekali Raya dengan penjagaannya yang lebih ketat?


Ia menyesal dan sangat merasa bahwa semua yang terjadi ini tak luput dari kesalahannya.


Ia berulang kali menyalahkan dirinya sendiri.


Ia berulang kali mengumpat dirinya sendiri.


Bahkan ia ingin sekali menghajar dan menghukum dirinya sendiri. Jika bisa!


Apalagi saat melihat Raya yang melewati hari dengan tangisan dan wajah sembab.


Menambah ngilu dilubuk hatinya yang terdalam.


Istrinya belum mengikhlaskan semua ini, ia tahu itu tidak mudah karena ia pun sama halnya dengan Raya.


Mungkin jika keguguran yang dialami Raya bukan karena Feli, ia tak begitu menyalahkan diri hingga merasa terpuruk seperti ini. Tapi kenyataannya, semua yang terjadi memanglah akibat dari seseorang yang menjadi masa lalunya.


Masa lalu yang seharusnya tidak mengusik kehidupan dan kebahagiaannya dimasa sekarang.


Masa lalu yang seharusnya sudah ia singkirkan sejak awal.


Feli!


Ia tahu pasti bahwa kapasitas perbuatan mantan istrinya itu selalu merambah ke arah kriminal yang patut diwaspadai.


Ah, kenapa ia tak memikirkan sampai disana jika Feli bisa melukai Raya seperti ini.


Ia terlalu naif karena berpikir setelah putusan sidang cerainya dengan Feli terjadi, maka wanita itupun berhenti mengganggu hidupnya.


Sayangnya, itu hanya ekspektasinya saja. Kenyataannya, nasi telah menjadi bubur yang diaduk kemudian ditumpahkan secara sengaja oleh Feli.


Perbuatan Feli membuatnya harus melihat kesedihan mendalam diwajah istrinya.


Perbuatan Feli membuatnya dan Raya kehilangan calon anak mereka.


Perbuatan Feli juga pasti menyisakan bekas dan trauma mendalam di hatinya terutama dihati Raya.


Dan yang paling membuatnya paling marah karena Feli adalah wanita dari masa lalunya!


Lagi-lagi ia menyesal karena tidak berpikir sejauh itu. Dan tidak memikirkan keselamatan Raya-nya.


Bukankah ia lelaki paling bo doh yang tidak bisa menjaga istri dan calon anak yang sudah dititipkan yang Maha Kuasa?


"Nev ..." suara seseorang menyadarkannya yang tengah melamun di beranda Rumah.


Ia pun melihat ada Reka disana. Mau apa dia?

__ADS_1


Ia berdiri dan menatap Reka yang mulai berjalan mendekat.


"Ada apa?" tanyanya dengan suara serak dan tak bersemangat.


"Maaf mengganggu waktumu. Kemarin aku sedang mengurus klien di Lapas, lalu bertemu Bian disana..." papar Reka.


"Lalu?" tanyanya tak begitu tertarik, karena ia pun tahu bahwa Bian ada disana karena tengah mengurus persoalan Feli dan Roro.


"Aku bertanya pada Bian apa yang dia lakukan disana, tapi Asistenmu itu tidak mau buka suara," terang Reka menipiskan bibirnya kemudian.


"Aku bertanya pada petugas yang berjaga dan ternyata ada kejadian yang menimpa Raya," imbuh Reka lagi.


Nev tahu, Reka memiliki relasi atau kekuatan sendiri menyangkut pekerjaannya sebagai pengacara, sehingga walaupun Bian tutup mulut, pria ini akan tetap mengetahui keadaan yang telah terjadi. Ia tak heran jika Reka dapat tahu sebuah informasi yang konkrit dan jelas dalam sekejap waktu.


"Lalu apa tujuanmu kesini? Ku rasa aku tidak pernah memanggilmu sebagai kuasa hukum untuk membantu menuntut Feli di pengadilan," sindirnya terus terang.


Reka tersenyum tipis. "Aku datang kesini bukan sebagai perwakilan dari Firma. Tapi sebagai teman, teman Raya," ucap Reka menekankan kata terakhirnya.


"Kau mau bertemu istriku?"


Reka mengangguk. "Bolehkah?"


"Kalau aku bilang gak, apa kau akan pulang?" sinisnya.


Reka terkekeh pelan. "Aku hanya ingin menghiburnya," papar Reka.


Nev mendengkus pelan. "Menghiburnya?" ulangnya.


"Maksudku, memberinya dukungan."


Ia masih berbaik hati menerima Reka dikediamannya tapi pria ini justru ingin meminta izinnya untuk memberi dukungan pada istrinya yang sedang terpuruk?


Saat mulutnya hendak mengusir Reka secara halus, tiba-tiba Raya sudah ada diantara mereka.


"Reka... " sapa Raya pada pria itu. Dan ia hanya bisa diam dan tak melanjutkan misinya untuk menyingkirkan Reka dari kediamannya.


"Raya, apa kabar?" sahut Reka ramah.


Ia memilih menjadi penonton saja kali ini dan kembali duduk di kursi beranda.


"Masuk, Ka..." kata Raya mempersilahkan Reka dengan ramah.


Ia memaklumi basa-basi Raya pada Reka, sebab pria itu sempat menolong tempo hari. Tapi entah kenapa ia menangkap nada riang istrinya saat menyambut kedatangan Reka.


Sabar...sabar... setidaknya mungkin mood Raya yang tengah buruk bisa membaik setelah kehadiran Reka.


Tapi, apa itu baik untuknya? Tentu saja tidak! Tapi ia menyingkirkan ego dan rasa tak sukanya karena kembalinya keceriaan Raya adalah prioritas utamanya saat ini.


Reka pun masuk kedalam kediamannya dan ia terpaksa harus bangkit lagi dari duduknya, mengikuti Raya dan Reka yang telah masuk kedalam rumah.


Reka duduk di sofa tamu dengan nyaman. Sementara ia hanya mengintimidasi pria itu lewat sorot mata, karena tak mau Raya merasa sedih sebab penolakan terang-terangannya terhadap pengacara muda itu.


"Mau minum apa, Ka?" Terdengar suara Raya menawarkan pria itu minuman.


"Kopi," sahut Reka dan diangguki Raya dan memanggil Bi Asih untuk menyajikan kopi.


Ia mengelus dagunya sendiri, ternyata pengacara ini ingin berlama-lama dengan meminta kopi, ya?


"Raya, aku turut berduka atas kejadian yang menimpa kalian." kata Reka, entah tulus atau ada maksud lain didalam kalimat itu, ia tak tahu tapi ia hanya mendengarkan tanpa berniat menyela.

__ADS_1


"Iya, makasih, Ka..." sahut Raya.


"Gimana keadaan kamu?"


"Aku ... tidak begitu baik."


"Sabar ya, semua ada hikmahnya. Bukankah semua akan indah pada waktunya? Mungkin waktunya bukan sekarang," papar Reka terdengar bijak yang membuat Raya mengangguk, sementara ia sendiri tersenyum miring ke arah Reka.


"Kebetulan aku tengah sibuk dengan bisnis baru didunia kuliner. Barangkali kamu mau mampir ke cafe ku," kata Reka menyerahkan sebuah card pada Raya. Ia melirik sekilas, ternyata itu undangan grand opening pembukaan cafe baru pria itu.


"Hitung-hitung buat menghibur kamu dari rasa sedih, konsep cafenya akan sering ada live music," kata Reka melanjutkan.


Lagi-lagi ia hanya diam dan memperhatikan saja interaksi antara Raya dengan mantan calon suami yang tak jadi itu.


"Mudah-mudahan aku bisa datang, ya, Ka..." sahut Raya akhirnya.


"Ya, jangan terlalu dipaksakan. Yang penting kondisi kamu sendiri, jika kamu dalam keadaan baik itu adalah hal yang utama." kata Reka tersenyum.


Ia melihat Raya menyunggingkan sebuah senyum tipis dan itu sukses membuat hatinya terbakar hingga tak kuasa untuk ikut menimpali ucapan Reka.


"Sepertinya kami gak bisa kesana, lagipula cafe Nenek juga ada kok jika hanya ingin melihat live music," ketusnya tak senang dan agak pongah.


Entah apa yang lucu dari kalimatnya, tapi Raya terkekeh kecil setelah mendengar penuturannya itu. Kekehan pertama dari bibir istrinya setelah kejadian buruk kemarin.


"Kenapa?" tanyanya pada Raya sembari menyatukan kedua alis.


Raya menyentuh pipinya. "Lucu kamu," kata wanita itu.


"Apanya yang lucu?"


"Reka ngundang kita ke cafenya bukan semata-mata untuk nonton live music--," kata Raya menggantung.


"Ya, aku tahu...dia ingin pamer usaha baru kan?" potongnya menyindir.


Reka tertawa kecil diseberang sana dan ia hanya menanggapi dengan senyuman miringnya.


"Kamu kalau jokes suka bener, ya..." kata Reka menimpali.


"Tuh kan, bener... dia mau pamer, Sayang!" sahutnya menanggapi ucapan Reka.


Raya makin terkekeh melihatnya dan Reka bergantian.


"Kalian kayak lagi main kuis gitu, sahut-sahutan tapi saling menyindir," ucap Raya ikut tertawa, padahal entah apa hal yang lucu.


Karena ia melihat mood Raya yang cukup membaik sekarang, akhirnya selama setengah jam kedepan perbincangan mereka hanya diisi dengan percakapan konyol antara ia dan Reka. Saling melempar sindiran satu sama lain yang membuat Raya terkekeh-kekeh.


Tak apalah disindir Reka dan menurunkan sedikit harga dirinya demi melihat istrinya kembali ceria, pikirnya.


"Aku undur diri dulu, ya..." Reka bangkit dari duduknya dan berpamitan.


Diambang pintu, Reka berbalik dan seperti mengucapkan sesuatu pada Raya, ia tak mendengar itu karena ada jarak diantara mereka dan sepertinya Reka sengaja berbisik pelan pada Raya agar ia tak mendengarnya.


Apa yang ia katakan pada Raya?- batinnya kesal bercampur rasa ingin tahu.


...Bersambung......


...Nanti disambung lagi ya....


...Jangan lupa like, komen, vote, favorit dan berikan hadiah♥️...

__ADS_1


__ADS_2