PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Pikirkan secara matang


__ADS_3

Aarav


"Apa kamu memiliki cinta untuk aku seperti aku memilikinya untuk kamu, Rav?"


Pertanyaan Els membuatku tidak berkutik. Apa aku harus jujur dengan apa yang ku rasakan terhadapnya? Bukankah jika aku jujur justru akan membuatnya semakin berharap besar padaku?


Aku bisa bernafas lega karena pertanyaan gadis itu tidak perlu ku jawab, sebab kepulangan Om Jimmy dan Tante Nimas membuat perhatian Els terbagi.


"Mama, Papa..." Els menyalami tangan kedua orangtuanya dengan takzim.


"Eh, ada Aarav!" Tante Nimas tersenyum ramah. Aku segera mendorong kursi roda dan mendekat pada kedua orangtua Els itu dan menyalami mereka pula.


"Udah lama, Rav?" sapa Om Jimmy.


"Belum lama, Om."


Om Jimmy menganggukkan kepala. Kemudian beliau izin untuk mandi dan membersihkan diri.


"Om, apa boleh kita bicara setelah Om selesai dengan hal itu?" tanyaku memberanikan diri. Bagiamanapun aku harus menjadi lelaki gentle. Cukup menjadi lelaki lumpuh, tidak boleh ditambahi lagi dengan tittle pengecut.


"Oke." Om Jimmy menampilkan senyumnya yang jenaka.


Els menatapku, tatapan itu seolah menanyakan apa aku serius ingin bicara pada orangtuanya? Tentu aku sangat serius dengan hal itu.


Seperginya Tante Nimas dan Om Jimmy, Els kembali bersuara.


"Aku ke kamar dulu." Els pun berlari menuju tangga, tampaknya ia sangat sedih dengan keputusanku sampai ia menninggalkanku seorang diri diruang tamu kediamannya. Tak pernah sekalipun gadis itu meninggalkanku seperti ini, tapi ini bisa ku terima sebab sakit hatinya berasal dari diriku sendiri.


Aku menunggu beberapa saat sambil melihat-lihat keadaan rumah Om Jimmy, tak lama pria yang masih tampan diumurnya yang tak muda lagi itupun menemuiku di ruang tamu dengan penampilannya yang lebih santai.


"Rav... ada apa?"


Aku menatap Om Jimmy yang tersenyum tipis. Aku tahu jika Om Jimmy adalah cassanova pada zamannya dan aku juga tahu meski begitu Om Jimmy tak pernah mempermainkan Tante Nimas dulunya. Dari situ, aku mengambil kesimpulan bahwa setidaknya aku juga tidak mempermainkan Els dengan menyakitinya karena wanita lain. Jadi, ku harap Om Jimmy bisa mengerti posisiku.


"Aku ingin mengatakan sesuatu, Om."


"Mengenai?"

__ADS_1


"Tante Nimas dimana, Om?"


"Oh, tantemu sedang menyiapkan makan malam untuk kita. Kamu makan disini juga ya hari ini."


Aku mengangguk meski rasa sungkan mendadak hadir melingkupiku, terutama karena sesaat lagi aku akan memberitahukan hal yang akan mengencewakan keluarga Om Jimmy.


"Oh ya, apa tadi yang mau kamu bicarakan, Rav?"


"Mengenai pertunanganku dengan Els..." ucapku hati-hati.


"Ada apa? Kalian baik-baik saja, kan? Ah ya, mana Rahel?"


"Kami baik-baik saja, Om. Els sudah ke kamarnya," jawabku.


"Lalu? Hal apa ini?" Om Jimmy duduk dihadapanku dengan sikapnya yang santai.


"Sebelumnya, maaf om. Aku ingin mengatakan hal yang tidak mengenakkan. Dengan berat hati, aku ingin pertunanganku dan Els diputus. Pernikahan kami juga dibatalkan." Aku memberanikan diri menatap wajah Om Jimmy yang tiba-tiba berubah pias. Senyum jenaka yang sejak tadi dipasangnya, perlahan-lahan mulai lenyap.


Cukup lama kami terdiam dalam suasana hening. Sampai Om Jimmy bersuara kembali.


"Kenapa?" tanyanya dengan nada yang ku tangkap adalah intonasi kecewa.


Om Jimmy mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya tampak berpikir dan beberapa detik kemudian dia kembali tersenyum.


"Apa kamu yakin dengan hal ini? Hanya karena rasa ketidakpercayaan diri, kamu melepas Rahel? Apa kamu tidak akan menyesali hal ini nantinya?"


"Aku sudah memikirkannya, Om."


"Lalu?"


"Menyesal itu pasti, pasti aku akan menyesalinya. Apalagi jika nanti Els sampai menjadi milik oranglain. Bagaimanapun, aku mencintai dia, Om." kataku jujur, pada Om Jimmy aku bisa mengutarakannya namun pada Els aku tidak bisa karena aku tidak mau gadis itu kembali berharap pada lelaki sepertiku.


"Lalu? Kenapa kamu melakukan ini? Jika kamu melakukan ini, itu artinya mau gak mau kamu akan melihat Rahel bersama pria lain nantinya."


"Aku tahu, itu lebih baik. Aku lebih memilih melihat Els bersama lelaki lain asal dia bahagia, daripada bersamaku tapi kebahagiannya tergadaikan."


"Kamu terlalu naif, Aarav..." Om Jimmy berdecak lidah, tidak habis pikir dengan pilihan yang ku buat. Aku paham, sedikit banyak pilihanku terdengar naif tapi cinta terkadang memang sulit ditebak dan samar-samar.

__ADS_1


Aku ingin melihat Els bahagia meski bukan dengan aku. Terdengar seperti omong kosong tapi begitulah adanya.


"Putuskan baik-baik, Rav! Kamu bilang lebih memilih Rahelsa bahagia bersama orang lain daripada bersama kamu tapi gak bahagia, kan? Lalu... bagaimana jika bersama oranglain juga gak buat Rahel bahagia? Apa kamu bisa jamin dia akan bahagia jika hidup dengan oranglain nantinya?"


Pertanyaan Om Jimmy membuatku tersudut, aku tidak memikirkan ini sebelumnya. Yang selalu ku pikirkan adalah Els tak bahagia jika bersamaku, Els akan bahagia jika bersama orang lain.


Lalu, jika dengan oranglain pun Els tetap tak bahagia, bagaimana?


Ini yang belum ku temukan jawabannya.


"Aku tidak tahu kapan aku sembuh. Aku tidak akan bisa membahagiakan Els dalam jangka waktu yang lama, Om. Mungkin dengan oranglain, Els akan lebih bahagia daripada bersamaku." Aku mencoba mengutarakan hal yang ku pikirkan.


"Baiklah, Om memahami maksud kamu. Tapi, jika tiba-tiba kamu sembuh dan disaat itu Rahelsa akan menikah dengan orang lain, bagaimana?"


"Itu artinya aku gak berjodoh dengannya."


"Begitu, ya?"


Aku mengangguk meski aku tidak yakin apa yang akan aku lakukan jika seandainya itu benar-benar terjadi. Mungkin aku akan menggagalkan pernikahan Els jika sampai aku telah sembuh dan dia justru akan menikah dengan orang lain. Atau, mungkin aku akan pasrah menerima keadaan itu. Entahlah.


"Aarav..." Om Jimmy bangkit dari duduknya. "Kamu pikirkan ini secara matang lebih dulu. Kamu masih terlalu muda, kadang jiwa labilmu belum sepenuhnya hilang. Om memberi kamu waktu untuk berpikir." Om Jimmy menepuk pundakku kemudian.


"Waktu berpikir?"


"Ya, pikirkan dengan baik! Jika kamu tetap memutuskan pertunangan kalian, maka Om akan mengenalkan Rahelsa dengan anak rekan Om yang lain. Pastikan disaat itu tidak akan ada penyesalan dihati kamu."


Aku tertegun beberapa saat. Sampai Om Jimmy mengajakku untuk makan malam di meja makan rumah mereka.


Di meja makan, aku bertemu dengan Els. Dia duduk diseberangku. Sesekali dia tersenyum kecil padaku. Aku membalas senyumnya. Ah, aku sudah mengecewakannya dengan keputusan sepihak yang ku buat.


Benar kata Om Jimmy, hanya karena rasa ketidakpercayaan diri ku, aku berniat mengahancurkan semuanya.


"Aarav, ayo makan. Jangan lihatin Rahel terus, dia juga jadi gak berani makan karena grogi." Suara tawa Tante Nimas menyusul setelah ucapan itu keluar dari mulutnya.


"Mama apaan sih!" gerutu Els.


Aku segera tersadar, ku lirik Om Jimmy yang mengendikkan bahu seraya tersenyum penuh arti kepadaku.

__ADS_1


Apa aku benar-benar ikhlas jika nantinya Els akan dikenalkan pada lelaki lain?


*****


__ADS_2